
Kamu..
Adalah satu alasan terbesar yang membuat aku tetap bertahan. Jangan ragu.
Karena aku dan kamu,
Dengan serentak melawan takdir semesta
Juga memberontak pada permainannya.
🌜🌜🌜🌜🌜
Sudah beberapa jam berlalu, senja yang awalnya berkuasa kita berganti malam gelap gulita. Bintang kecil menabur angkasa dilengkapi oleh sepotong bulan sabit yang menambah kecantikan alam raya. Sayangnya, nereka tak srkalipun mampu mengobati tangis seorang gadis mungil benama Adellia alexa Agantara. Netranya yang berwarna kecoklatan penuh dengan kesedihan, wajahnya yang bertopeng ceria meluruh dalam sekejab mata. Adellia menepuk dadanya yang terasa sesak.
Ya tuhan!apa yang kau rencanakan kali ini?
Adellia terisak, ia butuh auksa sekarang. Ia butuh sandaran yang mampu menampung segala pedihnya, ia butuh wadah dalam menumpah berbagai cerita karena banyaknya derita. Adellia meraih ponselnya hendak menghubungi auksa. Sejenak, ia mengusap air mata yang berani menjamah pipinya.
Adellia menunggu. Bayangan sinta kembali berkelebat dalam pikirannya.ia salah, tak seharusnya ia mengusir mamanya waktu itu. Tak seperti biasa, auksa membalas cepat. Suara denting ponsel memecah lamunan adellia.
Adellia memejamkan kedua matanya. Ia tengah menahan isakan tangisnya yang merebak.
Adellia meremas ponselnya. Tidak auksa, papa, atau mama, semuanya sama. mereka sibuk dengan kegiatannya masing-maising tanpa memperhatikan keadaannya. Ponsel adellia berdering, adellia lantas meraihnya dengan setengah hati.
"ngapain! Udah sibuknya hah!? "
Adellia terisak, perih menghinggapi dadanya.
"lo kenapa elah? "tanya auksa diseberang sana dengan nada terheran.
"kenapa? Mobilnya belum dateng? Nggak suka modelnya atau warnanya? Mau ganti atau gimana? "
"kenapa semua orang nggak ada yang peduli sama gue. Nggak papa, nggak mama, nggak elo. Lo juga kayak mereka sa!! "
"kok jadi gue sih"
"lo sama kayak mereka! Lo sibuk sama urusan lo sendiri. Hiks, gue butuh lo sa, siapa yang sekarang bisa buat gue sandaran. Siapa yang sekarang bisa gue percaya kalau kalian sama aja?! "
Auksa terdiam bisu. Ia masih tak mengerti. Tiba-tiba saja adellia menyalahkannya. Hening menyapa keduannya. Adellia masih sibuk mengelap air matanya juga melepaskan isakannya. Auksa menghela nafasnya, kenapa ia juga merasa sakit?
"gue butuh lo sa"
"dimana? "
"hiks, gue pengen lo disini, sakit sa, sesak, hiks hiks, gue nggak bisa terima semua ini"
Adellia memeluk kakinya. Ia menunduk. Membiarkan air matanya tumpah ruah.
"sa tolongin gue. Sakit banget"
Auksa tak menyahut. Dalam ponselnya hanya terdengar suara berisik.
"sa"
"dimana adel? "
__ADS_1
"hiks, balikin mama ke gue sa. Please"
"jangan nangis adel. "
"sesak sa. "
"jangan nangis . Tunggu gue kesana. "
"nggak bisa sa"
Auksa lagi-lagi tak menjawab. Adellia mengingat mamanya lagi. Ia yang salah.
"sa? "
Adellia mengusap air matanya. Suara auksa tak terdengar ,hal itu membuat hati adellia semakin nyilu.
"lo juga acuhin gue sa? "
"iya kan? Lo juga sama kayak mereka"
"pada akhirnya lo juga bakal ninggalin gue kan? "
"sa? "
"sa"
"SA!! "
Argghh!!adellia melempar ponselnya asal. Ia benci pada semua orang yang berani menyakitinya, ia juga membenci pada semesta yang terus saja mempermainkannya.
*****
Tuk! tuk! tuk!
Adellia mendongak. Netranya menangkap sosok cowok tegap bersetelan kemeja lengkap. Cowok itu membenarkan topinya sejenak, lantas membalas tatapan adellia yang mengarah padanya. Dada adellia bergemuruh, auksa benar-benar mendatanginya. Buka, gerakan bibir auksa jelas terbaca, membuat adellia yang masih terpana segera berdiri dari posisi awalnya.
Adellia menggeser pintu plus jendela miliknya,menampilkan sosok auksa yang melempar tatapan datar. Auksa mendekat, ia menepuk kepala adellia berirama.
"mobil lo udah dateng semua di depan. Satu warna pink, satu warna item, satu lagi warna silver. Lo minta maserati, porsche, sama lamborghini kan?
Kalok ada yang nggak cocok bilang aja.Sekarang gue balik dulu, masih sibuk soalnya"
Adellia melongo, bukan hanya kalimat auksa yang membuatnya begitu terkejut, tapi juga niat awal auks yang hanya ingin memberi tahunya hal unfaedah semacam itu.
Adellia mendengus kesal, memang tak seharusnya dia berharap. Auksa yang melihat ekspresi adellia segera terkekeh kecil, ia berinisiatif menyentil bibir adellia yang monyong beberapa senti.
"gue emang sibuk. Tapi gue masih punya waktu buat nemenin lo. Lo nggak sendiri del, masih ada gue. "
Bibir adellia menyungging senyum tipis. Iya benar, masih ada auks di hidupmya. Tak sepantasnya adellia terus terpuruk.
"semesta jahat ya sa? "
Tanya adellia lirih sembari menerawang langit luas. Auksa mengangguk samar. Benar!semesta emang jahat. Dia ambil hati papanya,dia ambil rasa peduli dari agatha mamanya, dia juga mengambil kasih sayang juanda untuknya, bahkan dia juga mengambil bella dari sisinya. Semesta emang jahat, dia nggak pernah liat gimana kondisi komponennya yang teramat lelah karena begitu seringnya dipermainkan.
Isakan adellia terdengar pelan sehingga merusak lamunn auksa. Auks menoleh, ditatapnya adellia yang begitu rapuh, adellia memang berlagak kuat, namun di matanya dia hanya cewek terlemah yang ia punya adellia yang kecil dan adellia yang begitu kerdil, dipaksa patuh pada tatanan rencana semesta. Adellia menunduk dalam, ia mencoba menyembunyikan lukanya juga tangisnya yang tak lagi mampu dibendung.
"nangis aja"
Adellia mendongak pelan, gadis itu megelap bulir air mata yang mengalir di pipinya.
"tadi lo bilang ke gue nggak boleh nangis sa"
"iya"
Jawabnya singkat. Auksa menatap retina adellia lekat. Tanganya mengusap air mata gadisnya lembut.
"itu karena gue nggak ada disini adel. Gue nggak mau lo ambil semua kesedihan itu buat lo sendiri. Gue nggak mau lo nangis tanpa gue, gue nggak mau jadi cowok yang nggak guna"
__ADS_1
"sekarang ada gue adel, lo boleh nangis, lo boleh tumpahin semuanya ke gue, lo boleh ambil ketenangan sebanyak apapun itu"
Dada adellia berdegup, ia menggigit bibirnya.
Bolehkah kalau ia menaruh rasa pada cowok didepanya ini tuhan?
Adellia menghentikan ibu jari auksa yang masih mengelap air matanya
Ia membuka telapak tangan auksa lembut lantas mendekatkanya ke pipi. Tempat yang benar-benar pas untuknya bersandar.
"makasih sa"
"makasoh karna lo udah mau repot-repot kesini buat jengukin dan tenangin gue"
"pasti gue lagi jelek banget kan sekarang hehehe?"
"jangan ditahan adel. Kuat boleh tapi lo nggak harus tetep maksain tegak di depan gue"
Pecahlah sudah. Bulir air mata yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga, meluncur deras hingga membasahi telapak tangan auksa.
Adellia memeluk auksa. Auksa jelas terkejut, namun ia lekas mengerti. Tangannya dengan ragu balas memeluk adellia yang rapuh. Ia butuh melihat adellia yang nyebelin dan galak ketimbang yang seperti ini. Auksa tak mampu mengelaknya lagi, sosok bella ternyata telah bergeser dan terganti. Hanya ada adellia di hatinya ,hanya ada adellia yang mampu mengisi rasa dan melengserkan senja yang lama.
"gue mau nyalahin senja sa"
Auksa bergeming. Kenapa?
"dia biarin semsesta nyakitin gue sa"
"sttt, tuhan nggak salah adel"
Adelia mengeratkan pelukannya. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang auksa.
"sa"
"hm"
"lo udah janji kan? "
"apa? "
Adellia mendomgak. Mempertemukan netranya dengan bola mata auksa yang menatapnya teduh.
"lo janji nggak bakal ninggalin gue sa"
Auksa mengangguk. Hatinya sedikit ragu. Entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa gelisah.
Adellia menyodorkan kelingking tepat didepan wajah auksa.
"janji? "
Auks mematung, rasa ragu masih mendominasinya.
"sa, lo harus janji biar tetep bertahan dan nggak oergi dari sisi gue. Karna apa? Karna lo udah terlanjur jadi satu komponen yang bikin adelllia bangkit lagi. Lo berhasil jadi satu-satunya cowok yang bisa porak -porandain hati gue sa. "
Auksa menyatukan kelingkingnya pada kelingking adellia.senyumnya terukir setipis kertas.
"bolehkan sa kalau gue suka sama lo?"
Auksa tersentak. Namun tak elak kalau hatinya berdetak tak karuan. Auksa menarik nafasnya lantas mengangguk. Senyum adellia mengembang lebar.
"makasih sa, makasih"
Ujarnya senang sembari menghambur memeluk auksa. Auksa membalas pelukan adellia erat, dagunya menumpu pada puncak keala adellia, sedang kedua netranya menutup.
Lo juga harus tahu del, udah lama banget lo gantiin posisi senja.
Batin auksa sembari menghirup dalam dalam wangi adellia yang ia yakin akan menjadi candu untuknya.
__ADS_1