TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Salah alamat


__ADS_3

"takut? "


Kata tepat untuk menggambarkan hatiku yang melihatmu jauh dari radarku. Apalagi perasaan nyaman yang terlanjur mampir karena perlakuanmu.


🌜🌜🌜🌜


Lelaki tampan dengan topi bertuliskan  A besar dan simbol bergambar singa, tengah menatap orang berkuncir kuda dengan intens. Alis tebalnya nampak berkerut tajam,  bibirnya tertutup yang masker hitam mengeluarkan nafasnya berat. sejenak sang pria menata letak maskernya lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


" ngapain? "


Gadis yang ditanya malah  mengedarkan pandangannya, ekspresi heran jelas terpampang dalam mimik wajahnya.di depan matanya, terpampang ruangan besar namun hanya sedikit perabot, meja, kursi, juga beberapa alat pemotong yang menempel pada dinding, entah untuk apa adelia pun tak tahu. Rak-rak buku nampak berjajar panjang menempel dinding,


Sreeet


Terpaksa adelia menoleh waktu terdengan deheman singkat yang memasuki telinganya. Wajah yang  ia tahu tampan dari bentuknya walau tertutup masker itu jelas terlihat dalam retinanya. Apalagi jaraknya terbilang tipis kali ini.


"Ngapain lo ke sini? "


Bibir adellia berkedut, masih nanya juga ni bocah!


"jangan pura-pura nggak tahu deh lo"


Ujar adelia sambil menatap si pria sengit. Adelia mengingat kembali pesan yang membuatnya berakhir diseret juanda di tempat semacam ini. Sebenarnya, sehabis kejadian kentut adelia berlari ke menuju kamar mandi . Bukan untuk  BAB seperti yang diucapkan bibirnya, namun ia memilih membuka kotak pesan dalam ruang pesannya.


"apaan ini?"


Jelas Adelia heran dengan gambar yang tiba-tiba saja mampir dalam ponselnya. lengkap dengan rekaman CCTV. ibu jari Adelia bergerak memencet pesan suara dari nomor tanpa nama.


"temui gue di gedung xxxx. kerja lo nggak pecus "


Adellia menggeram sebal, sekarang adelia tahu orang dibalik semua ini. juanda si kutub. Pastilah dia!!


Kenapa juga juanda menggunakan nomor berbeda?



Adellia membalas malas. Matanya berpindah ke cermin. Sejenak, ditatapnya pantulan wajahnya yang nampak lelah, apalagi kedua matanya masih terlihat bengkak sehabis menangis.



Adellia berdecak kesal. Ditatapnya kalimat yang berada dalam ruang pesanya.


Ck, jadi es mah nggak papa, tapi jangan gini juga kali.



Nafas adellia tercekat, dadanya berdentum. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan ancaman semacam ini. Adellia menggigit bibirnya lantas mengirim pesan ke kontak sahabatnya.





Adellia menghembuskan napasnya kasar. Kali ini ia harus mampu membujuk Pak Joko agar satpam hobi marah itu mau membukakan pintu gerbang untuknya.


"sialan"


Desis adelia spontan. Sontak, si pria di depannya menaikkan satu alisnya heran. Lantas mengibaskan tangan menyuruh beberapa orang berbadan kekar untuk keluar dari ruangan.


"pura-pura?"


ujarnya membeo perkataan Adelia.


"ck. Pura-pura bego ya lo?gue terpaksa harus tahan malu tau gara-gara kentut di kelas. "

__ADS_1


"pake nomer beda lagi. Mau pamer ya? "


Si pria nampak menyatukan alisnya tak mengerti. seingatnya gadis minim malu berkuncir kuda itulah yang tiba-tiba muncul di depan ruangannya dengan gerakan mencurigakan. Sontak saja anak buahnya menyergap dan membawa gadis yang masih memakai seragam tersebut ke hadapannya.


"gue nggak pernah ngirim pesan"


ujar si pemuda mengelak. Tangannya bersedekap dada dengan pandangan menyelidik. Seringai nampak dibibir adellia. Gadis itu merogoh saku lantas mengeluarkan ponsel di dalamnya. Adellia memencet pesan suara yang dikirim kepadanya.


"Lo nggak bakalan ngelak waktu denger ini"


Sepenggal kalimat segera terdengar memasuki telinga auksa. Auksa paham itu adalah suaranya, dan ancaman tersebut serta nada perintah itu jelas dia yang mengucapkanya.


Auksa berjengit kaget, jangan bilang kalau ia salah mengirim pesan. Pelan, ia mengecek nama kontaknya.Astaga!! pantas saja, mungkin karena ia terlalu lalai dan terburu-buru jadi lupa kalau tak sengaja mengirim pesan ke nomor yang salah. Auksa baru ingat kalau dia sempat menyuruh anak buahnya untuk meretas nomor kontak Adelia, bukannya apa-apa , ia hanya ingin mengembalikan kotak bekal yang dengan berani-beraninya Adelia tinggalkan di atas pahanya waktu itu.


" lo masih nggak percaya? "


auksa menatap gadis di depannya yang tengah memasang ekspresi angkuh. Sejenak, ia mengusap wajahnya yang tampan tanpa cacat.


"ck, keras kepala banget"


"eh, ngomong-ngomong reza ada di mana sih? tumben dia nggak main"


"biasanya kan dia ngitilin lo mulu."


Kerutan di dahi auksa bertambah lagi. Seingatnya, orang yang selalu mengikutinya yaitu sekretaris yang tak lain adalah Aldino Frans. Reza? siapa? Bahkan ia tak ingat bahwa ada salah satu anak buahnya yang bernama Reza.


"Siapa? "


"lagi main akting ya lo?  itu loh reza yang sukanya nyerocos mulu sampai liurnya nyembur-nyembur "


"anak buah gue dilarang bawa hujan ke ruangan"


"ngelawak?"


" suer nggak lucu "tambah adellia sembari menaruh tas punggungnya. ia menyandarkan tubuhnya berniat mencari posisi nyaman.adellia menatap auksa ,wajahnya nampak serius kali ini.


"gue boleh ngomong nggak?"


"udah dari tadi"


"dengerin dulu elah. "


Auksa hanya berdehem singkat, adellia mendongak, netranya menangkap bayang atap berwarna putih bersih.


"gue mau berhenti kerja"


Auksa sempat mau menyela, namun adelia lebih dulu menyusul kata-katanya.


"gue tahu biaya rumah sakit nggak sedikit. Gue bakal ganti kok. Suer gue nggak bakalan pergi sebelum ganti rugi"


Ujar adelia menatap auksa penuh yakin.


"Lagian nyokap gue juga kaya. bokap juga nggak kalah kayanya. Lo sih jadi cowok nggak ikhlasan banget.harusnya gue juga berhak marah dong karena lo seenak jidatnya halangin gue waktu mau bunuh diri "


"lo nggak masuk kriteria kalau mau jadi anak buah gue. Badan lo kecil banget"


"Sekali tendang aja bisa terbang "ujar auksa tak habis pikir. Perlu diketahui kalau semua anak buah auksa harus lulus eliminasi dan semua tantangan darinya. Cewek semacam adellia tak akan mampu melewati semua ijian itu tentunya.


" lo kok aneh sih "


Auksa menarik sudut alisnya. Dimana letak keanehannya? bukannya gadis di depannya ini yang nampak lebih aneh?


"lu juanda kan?" auksa tersentak, refleks matanya mencari kebenaran dari perkataan Adelia lewat retina gadis itu.


"lo juanda itu kan? yang kata reza jebolan kutub utara?"

__ADS_1


   Auksa bungkam, apalagi kini wajah Adelia dan tatapan matanya yang menyelidik tepat berada di depan wajahnya. Bahkan ia mampu melihat bengkak mata seperti habis menangis dari kantung mata gadis tersebut.


" bukan gue , jadi jangan samain gue dengan orang yang lo sebut es batu itu" ujar auksa penuh penekanan. Tangan kanannya membuka topi yang menutupi kepalanya juga melepas masker yang menutupi bibirnya.


"a... Auksa!!! " pekik adelia tertahan


.


" Jadi lo bukan Juanda? "


refleks Adelia mengundurkan badannya. matanya menatap tak percaya.


"lo..denger... semuanya.... lo.. "


Nafas Adelia tercekat. Ia tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya. Jelas ia tak menyangka kalau di depannya ini adalah Auksa Legarvan alfadiaraga  bukanya bosnya si juanda.


Drrrk


Akh!!


Adellia terhuyung, karena terkejut dan gerakan refleksnya memundurkan badan, alhasil, kursi yang didudukinya hampir saja oleng dan terjatuh. Untung auksa lebih peka, tangan kananya lebih dulu meraih kerah seragam adellia, hingga hanya kursinya saja yang menumbruk lantai. Adellia terbatuk, cekalan auksa pada kerah bajunya membuat nafas adellia terhenti. Auksa lekas mengerti, lantas tanpa dikomando lagi ia melepaskan cekalanya gugup. Auksa berdehem singkat, wajahnya berpaling sejenak ke samping. adelia menggaruk surainya yang tak gatal, anehnya ia merasa perutnya mual tapi terkesan menyenangkan. Keduanya sama sama memalingkan wajah. Rasa malu dan gugup mendominasi ruangan .


"ekhm pulang"


Hanya kata itu yang pertama kali keluar dari bibir auksa setelah beberapa menit berada dalam kecanggungan tak berarti. Adellia menoleh gugup, matanya mengerjab masih tak mengerti.


"pulang"


"eh, ha, apa?! lo ngusir?"


"gue temenin lo pulang"


"emang lu tahu rumah gue?"


"enggak" jawab auksa enteng membuat Adelia mendengus.


"Terus kalau enggak letak rumah gue gimana dong?"


" lo yang nyetir "


"bentar bentar gue kayaknya lupa deh  ngorek telinga"


Ujar adelia sembari menggosok telinganya beberapa kali.


"Apa sa ulangin"


Auksa mendengus kecil, Ia memakai masker dan topinya kembali.


"lo yang nyetir"


"Kok gitu sih ! "


"gue kan cuma bilang nemenin bukan nganterin"


"nggak usah, nggak butuh gue"


Auksa tak mengubris. Ia meraih tangan adelia lantas menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya.


"nggak boleh! Lo nggak boleh ngintilin gue. Gue bisa sendiri, nggak usah dianterin segala"


"nggak ada penolakan"


"yeeeeee! Bilang aja lo mau nebeng. Dasar cowok kere. Nggak berani modal. Jauh jauh sana lo dari gue, huh!!! Kuman! "


Pekik adellia tepat di telinga auksa lantas pergi meninggalkan auksa yang masih sibuk menggosok telinganya karena berdenging nyaring. Auksa terkekeh kecil, ia tak menyangka kalau mengganggu cewek semacam adellia akan semenyenangkan ini.

__ADS_1


__ADS_2