TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Bingung mau pilih yang mana


__ADS_3

Tersenyum berselimut luka itu sudah biasa, apalagi aku yang sedari kecil ditempa tanpa adanya cinta


...    🌜🌜🌜🌜 ...


"papa udah, pa, jangan lakuin kayak gitu"


Seorang bocah berumur sekitar tujuh tahun mengusap air matanya yang mengalir ke pipi. Tangisanya sedari tadi tak berhenti. Rasa takut menyelinap cepat menjamah tubuhnya.


Sretttt


Suara ringisan terdengar memasuki telinga auksa. Auksa kecil menggigil, bola matanya bergetar hebat. Berkali kali batinya tak membenarkan sosok tinggi yang berada di depanya, dia bukan papa, iya, dia bukan papanya. Namun saat itu juga auksa kembali tertampar, karena sekuat apapun auksa mengelak, wajah itu adalah wajah  yang selalu ia klaim sebagai raja pelindung di tengah keluarganya.


Sretttt


Mata bulat auksa tertutup rapat, ia masih tak mempercayai apa yang dilakukan ayahnya saat ini. Ia bahkan masih tak mengerti dengan maksud dewanta mengajaknya ke tempat semacam ini. Auksa jelas merasa dibohongi, bukanya papa tadi bilang ingin mengajaknya ke taman bermain hingga berjanji membelikan es krim coklat untuknya? .auksa menutup kedua netranya dengan tangan mungilnya, tidak!! Ayahnya bukanlah sosok yang kini nampak mengerikan di matanya.


Klatak!


Auksa mengiris ngilu, suara tulang patah bagai nyanyian buruk yang memenuhi lubang telinganya.


"auksa!! "


Auksa berjengit , badanya yang sedari tadi bergetar bertambah dua kali lipat, ia merasakan bahunya disentak keras, auksa merapatkan bibirnya. Ia tak berani membuka matanya hanya sekedar menilik situasi.


"auksa, jangan lemah.buka mata kamu nak"


Nafas dewanta menampar punggung tangan auksa. Auksa kecil menggeleng. Ia bukan lemah namun  takut.


"auksa"suara dewanta melembut. telapak tanganya mengusap lembut pipi gembul auksa yang hanya terlihat setengah.


"kamu mau mama pergi"


"enggak pa"


"kamu mau papa pergi dari sini? "


"enggak pa, auksa nggak mau. Papa sama mama nggak boleh tinggalin auksa. "


"auksa mau kalau kakak kamu sakit, nggak ada yang bisa nanganin terus ninggalin auksa sendirian? "


"nggak bolehh!! Entar auksa main sama siapa!"


Dewanta menurunkan tangan auksa pelan. Auksa kecil mengerjab, sosok lembut dewanta yang seperti biasanya mengisi penuh netra auksa.


"kamu nggak mau semua orang pergi kan? "


"enggak pa"


Dewanta tersenyum  kecil, kedua tanganya menangkup pipi auksa lembut.


"kalau auksa nggak mau mereka pergi, auksa nggak boleh jadi orang lemah"


"auksa harus jadi anak kuat biar bisa lindungin semua orang, katanya mau jadi iron man"


Sejenak auksa menggangguk namun setelahnya ia menggeleng.


"iron man nggak jahat papa,iron man nggak lukain orang "


"siapa bilang iron man jahat? Auksa liat paman itu? "


auksa kecil refleks melirik sosok pria yang tengah tertuduk lemas di atas kursi, sontak saja badanya hampir limbung tatkala dilihatnya pria paruh baya seumuran ayahnya menatapnya tajam. Bukan itu saja, hal yang lebih mengerikan ialah kaki kiri si pria yang masih menggelantung bergoyang karena belum sepenuhnya terpotong, darah tercecer di mana mana. Sayatan memanjang di sekitar perutnya. Mulut pria itu robek. Seakan tak cukup dengan hal tersebut, satu matanya terlihat menutup penuh darah, wajahnya tak selayaknya manusia, penuh mengelupas disana sini.


"pa"


"auksa liat kan, dia monster. Iron man lawan monster . "


"papa"


"sekarang auksa harus jadi lebih kuat lagi biar bisa lindungan kakak dari orang itu"


"papa!!! Orang itu nggak monster. Pa, bawa paman itu ke rumah sakit biar diobati pak dokter, kasihan. "

__ADS_1


Dewanta rios alfadiaraga mendengus kasar. Ia meraih katana panjang yang tergeletak di samping kakinya.


"hah,auksa papa mau kamu gantiin posisi papa di perusahaan. Kamu harus jadi anak kuat biar bisa penuhin permintaan papa"


"tapi auksa nggak mau perusahaan. Auksa mau main aja sama kakak"


"gantiin papa sa. Papa memberi perintah bukan menawari. Kamu harus siap"


"kenapa auksa pa!? "


"auksa mau main, auksa nggak mau ngerjain soal banyak kayak dimejanya papa. Kan ada kakak, kakak bisa gantiin papa, dia udah besar ketimbang auksa"


Timpal auksa dengan berani. Dewanta menggeram, ia menggulung lengan kemejanya lantas mengarahkan ujung katananya ke leher pria yang sedari tadi tak lepas memandangi auksa.


"papa!! "


"auksa, papa nggak terima penolakan.kamu harus gantiin posisi papa. "


"nggak mau pa,auksa nggak mau"


"berani ya kamu sama papa"


Auksa mendekat ke arah pria dewasa yang terus menatapnya. Bola mata auksa menyorot pria itu nanar,


"pa, jangan siksa orang kayak gini"


"papa butuh informasi "


Auksa menggeleng, ada cara yang lebih baik selain menyiksa. Auksa kerap melihat ibundanya menanyainya mau makan apa, bukankah informasi bisa didapat dengan cara baik baik?


"papa bisa nanya"


Dewanta mengusap wajahnya kasar.anak sekecil auksa pasti tak tahu hal serumit apa yang tengah dihadapinya.


"kalau kamu janji gantiin papa, papa nghk bakal siksa paman ini lagi"


"tapi auksa kan udah bilang nggak mau"


"gimana auksa, kamu mau kan gantiin papa? "


"tapi papa harus janji dulu nggk buat paman ini sakit lagi"


"iya"


Sontak auksa mengangguk, dewanta yang melihat anggukan auksa menyerigai, lantas ia menurunkan katananya. Sejenak dewanta mengusap puncak kepala auksa penuh bangga.


"papa udah janji nggak bakal bikin paman azril sakit lagi sama auksa. Hari ini papa bakal tepatin janji itu"


Auksa tersenyum bahagia. Benar! Keputusan nya sudah tepat.


"makasih pa"


Tepat saat auksa berkata seperti itu, katana dewanta melayang memenggal kepala azril dean dari tubuhnya. Suara jeritan menjadi penutup, azril dean tewas, dan auksa baru menyadari di usianya yang menginjak dua belas tahun. Dewanta membunuh azril karena telah berjanji tak ingin menyakitinya lagi.


Nafas auksa memburu. Sudah lama sekali ia tak memimpikan hal tersebut, mungkin auksa terlalu memikirkan aldino frans akhir akhir ini.


"arvan"


Arvan yang berada tepat disamping auksa, dengan sigap menyodorkan air minum. Auksa meraih benda tersebut lantas menenggaknya hingga tandas tak bersisa.


"selidiki Aldino frans sampai ke akarnya"


"lacak posisi Raynond, Kamis mendatang kita atur ulang strategi"


Arvan mengangguk menanggapi perintah auksa. Lantas pria jangkung itu lekas pergi bermaksud melaksanakan perintah auksa.


Auksa mendesah berat, jari telunjuk nya menekan tombol kecil di sudut meja kerjanya. Layar transparan muncul di detik selanjutnya, mengambang  tepat di depan wajah auksa. Disana, terpampang wajah pria dengan rambut botak,telinganya bertindik hitam, namun tatapanya menyiratkan betapa tunduknya ia dihadapan auksa.


"laporan"


"konfirmasi selesai, anak buah Raynond dengan jumlah 254 meninggal di tempat. Kami sudah mengurusnya hingga tak meninggalkan sedikitpun jejak. Kerusakan perusahaan sudah diperbaiki secara cepat, sandi ruangan yang anda perintahkan masih aman terkendali. Sepuluh dari anggota kita meninggal pak, satu diantaranya yaitu ametta julian, atau biasa disebut dalam pasukan s25.pasukan inti sekaligus anak dari pak julian tewas akibat tembakan pistol musuh tepat di dahi hingga menembus belakang kepalanya. Kami sudah menyampaikan hal tersebut ke pak julian, dan beliau memberi syarat agar anaknya dikebumikan di makam keluarga "

__ADS_1


"lakukan sesuai yang diinginkan pak julian,"


Si pria mengangguk takzim.


"laporan kedua berasal dari kelompok  s37 beserta 25 orang lainnya. Mereka berhasil menyakinkan duaratus dua puluh keluarga dengan alasan logis, mereka berusaha menerima. Namun, tiga puluh empat sisanya terpaksa kami berantas , dengan total seratus tujuh puluh jiwa ,karena mereka bermaksud memberontak dan menggali kasus ini lebih dalam. "


Auksa mengangguk, sejenak ia menatap foto azril dean yang ikut menumpuk diantara berkas perusahaanya.auksa baru mengetahui kalau ternyata pria yang kerap menghantui pikiranya tersebut adalah ayah dari sosok aldino frans.


"aldino frans "


Pria di layar hologram menelan ludah dengan susah payah.


"kami telah menyatukan seluruh bagian tubuhnya dan menguburnya dengan layak. Mengenai tempat kejadian sudah kami bersihkan sampai tak meninggalkan jejak. "


Bagaimanapun Aldino frans adalah anggota inti yang begitu berjasa karena ikut andil dalam beberapa kasus penyerangan. Penghianat itu selalu jadi barisan terdepan untuk menangani beberapa permasalahan rumit yang mengekang perusahaanya. Sebenarnya, mengenai penguburan secara layak Aldino frans, menuai berbagai kontra. Namun auksa telah memutuskan, walau aldino telah berkhianat, namun tak mampu menutup kemungkinan kalau aldino adalah sekertaris terbaiknya.


"media"


"kami sudah menutup mulut mereka pak"


Auksa mengangguk, sebelum mematikan layar hologramnya, sejenak auksa berucap terimakasih dahulu. Auksa menatap berkas lelah, bagaimana mungkin ia bisa tenang kalau lagi dan lagi bayangan azril dean kembali menghantui pikirannya. Sungguh, mengingat tragedi tsb hanya membuat auksa menggali lukanya lebih dalam. Sejak kapan aldino frans mengetahiu peristiwa sebelas silam tersebut?


Pertanyaan itu hanya mampu ia simpan sendiri. Aldino telah tewas, dan ia begitu tahu kalau dirinyalah penyebabnya.


Hah...


Jika saja ia mampu memilih,  Ia ingin memutuskan  tak hadir di tengah-tengah keluarga alfadiaraga dan hidup selayaknya tanpa dihantui penyesalan.


"Arvan" Arvan mendekat, kedua netranya menatap serius.


"batalkan acara dinas, atur ulang jadwal pertemuan kolega bisnis, untuk hari ini dan besok. Kosongkan semua aktivitas" arvan mengangguk lantas pamit undur diri.


Auksa memijat pangkal hidungnya, kepalanya nyeri. Ck, auksa ingin beristirahat, untuk sebentar saja.


Ting!!!


Auksa berjengit, tanganya dengan malas meraih ponsel yang tergeletak diam sedari tadi.



Auksa menaikkan satu alisnya. Tak sadar ia terkekeh kecil. Tak pernah berkumis katanya, ada ada aja ni cewek. Batin auksa sembari menggelengkan kepalanya. Sejenak ia melupakan bayangan dewanta yang menelusup ruang pikirnya. Eh satu lagi, auksa kan putih semriwing -- kata bu diana, cewek katarak mana yang mengatai wajahnya dengan semboyan hitam selain adellia.



Yang nggak pernah tahu diri kan adelia, jangan bilang kalau cewek minim malu itu lupa dengan kebaikannya. Bukanya baru beberapa hari lalu auksa membiarkan adellia menaiki motornya. Lagian, darimana sih adellia mendapatkan foto fotonya?



Auksa refleks berdecak,foto juanda mengotori ponselnya.








Auksa mendesah berat. Ia sampai berpikir, sebenarnya dosa apa sih yang diperbuatnya selama ini! Bagaimana mungkin hidupnya yang tenang tenang ada dimasuki sosok menggemaskan semacam adellia,ah ralat, sosok menyeramkan semacam adellia!



Jangan harap auksa akan menggantinya. Palingan besok nomor adellia sudah musnah dalam ruang chatnya.



Ck, auksa pastikan besok adellia tak mampu menemuinya. Bisa runyam nanti hari harinya kalau seperti ini terus. Auksa suruh ganti nama di nomer adellia, hahahaha, ngimpi!! Auksa tak akan dengan senang hati melakukanya. Lantas, auksa menaruh ponselnya sembarang di atas meja, punggungnya bersandar lelah, ah sudahlah, hari ini auksa hanya butuh istirahat, hanya sebentar, sebelum hari besok menyapanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2