
...Teruntuk kamu yang berhasil meraihku dalam naungan kelamku....
...Teruntuk kamu juga yang mampu membuatku kembali merasakan cinta yang awalnya semu....
...Satu pintaku......
...Jangan hilang semacam senjaku dulu....
...Auksa legarvan alfadiaraga...
...🌜🌜🌜🌜...
"ara, dia adek kamu"
Adellia menarik nafasnya dalam dalam. Mau dihempas berkali kalipun, perkataan alve terus saja membayanginya. Adellia masih tak mau percaya, sayangnya, alve sendirilah yang telah memberi kepastian, ara, dia kakak angkat adellia, wanita cantik yang tak sekalipun diinginkan adellia muncul di kehidupanya. Adellia memejamkan kedua netranya, pantas saja sinta marah, pantas saja mamanya memutuskan untuk mengakhiri segalanya, perbuatan alve terlalu keterlaluan.
"kenapa lagi"
Suara auksa menginterupsi, sejenak adellia bergeming, ia siam tak tahu ingin menjawab apa.
"cuma capek"
Jawab adellia berbohong setelah berkali kali memutar otak.
"mau Tteokbokki?"
Adellia menggeleng tak mau, dia sudah memakan tteokbokki bersama auksa sebelum ke minimarket. Yha, tentunya sebelum tragedi itu menimpanya.
"gue mau pulang sa"
Auksa menatap adellia yang memejamkan kedua matanya. Tampak bekas airmata yang terdapat di sudutnya,berkali kali gadis itu menarik nafas lantas membuangmya secara kasar. Auksa tak mampu mengelak, ia khawatir, hatinya tiba tiba gelisah,kalau ia tahu akan jadi seperti ini ujungnya, sudah pasti auksa akan membuang ego dan menemani adellia membeli pembalut. Gadis itu berubah semenjak keluar dari supermarket, senyum yang tadinya mengembang karena auksa mengajak makan dan jalan jalan, tiba tiba saja menghilang. Adellia tampak murung, dan auksa tak menyukai hal itu.
"ya udah gue anterin pulang yaa"
Ujar auksa halus, memang seharusnya adellia ia pulangkan kerumah, hari sudah menginjak malam sedari tadi,walaupun auksa mendengar kalau ayah adellia tak pulang, tentunya tak baik bagi seorang gadis untuk tinggal satu atap bersamanya. Lagipula, hujan sudah lama berhenti,langit hanya menyisakan mendung yang enggan menaruh gemintang, bulan nampak bersinar redup tertutup semarak awan.
"gue nggak mau pulang ke rumah sa"
Auksa tersentak. Lagi?
"kenapa? "
Auksa menepikan mobilnya, ia menyamping untuk sekedar menatap adellia yang memilih tak peduli. Gadis itu masih setia pada pejaman matanya, suara bising mobil, juga deru motor bahkan tak sekalipun mengganggunya.
"cerita adel"
Mata adellia terbuka. Netranya menatap auksa sendu. Auksa tercenggang, ia melihat luka juga perih di mata kelam itu.
"jangan paksa gue sa, gue udah capek nangis mulu"
"gue bukan cenayang ,gue nggak bisa tebak apa yang lo pikirin"
Adellia memalingkan wajahnya keluar jendela. Lampu lampu yng menghias jalanan menjamu panglihatanya.
"adel"
Adellia terdiam bisu. Bukanya ia tak mendengar, tapi adellia tak mau menjawabnya. Ia takut kalau lukanya bertambah parah dan semakin lebar.
"adellia alexa agantara "
__ADS_1
Adellia menggigit bibir. Bisakah auksa mengerti dirinya untuk sekarang ini saja?
"terserah lo adel, gue bakal tetep anterin lo pulang sekarang"
Putus auksa pada akhirnya, adellia tersentak. Tubuhnya kaku karena ketakutan,tanpa permisi air matanya merembes lagi. Adellia menyentuh lengan auksa, kedua netranya menyorot penuh harap,
"jangan sa, gue mohon,jangan bawa gue kerumah"
Auksa terkejut menangkap adellia yang tengah menangis. Ia lantas mencengkeram kedua bahu adellia erat.
"jelasin ke gue kenapa lo nggak mau"
Adellia semakin terisak, ia menunduk karena tetap saja tak mau menceritakan semuanya. Tanganya yang menyentuh lengan aulsa bergetar, ia tak mau, ia belum siap, walau alve tak akan berada dirumah karena tengah mengurus kakak angkatnya, adellia tetap saja tak akan kuat.
"jangan sa, jangan bawa gue kerumah"
Auksa mengusap rambutnya kasar, ia benar benar tak mengerti dengan permintaan adellia. Lantas, auksa melepas pegangan adellia pada lenganya dengan lembut. Ia menatap adellia sejenak, mencoba membuat keputusan yang semoga saja tak akan pernah disesali olehnya.
"gue mohon sa, kali ini aja"lirih adellia meohon. Auksa menarik nafasnya dalam dalam.
"pulang ke rumah gue"
Ujarnya kemudian lantas tanpa berlama lama lagi ia menjalankan mobilnya membelah jalanan kota.
******
Zrassssss
Tiba tiba saja hujan turun berlarian, anak airnya susul menyusul menyentuh jalanan. Auksa menghela nafasnya lelah. Untungnya dia sudah sampai di rumah sebelum hujan kembali mengguyur kota jakarta.
Auksa menatap anak air yang menampar jendela, tanganya menenteng secangkir cappuccino yang masih mengepul,auksa mangangkatnya ke arah mulut lantas menyeruputnya. Perlahan tapi pasti, rasa cappuccino kopi itu berhasil menenangkanya dari gelisah.
Jduarr
Eughhh
Auksa menatap adellia yang berganti posisi, adellia sepertinya terlalu lelah menghadapi lika liku permasalahan yang menimpanya. Gadis itu nampak rapuh untuk melawan kejamnya semesta. Auksa melangkah mendekat, tanganya menaikkan selimut adellia lembut.
"lo masih ada gue adel"
Ujarnya lirih sembari meletakkan cangkir kopinya di atas nakas. Auksa berjongkok, tanganya mengusap surai adellia lembut. Tak elak, hatinya serasa menghangat.
"lo udah berhasil raih gue del. Walau belum sepenuhnya sih. Tapi lo udah berhasil buat gue lebih perhatiin lo ketimbang yang lainnya"
Ujar auksa mencetak senyum di bibirnya. Auksa tak akan serta merta dengan gegabah mengklaim rasa ini sebagai suka,auksa hanya tahu kalau ia semakin peduli.
"jangan kayak dia ya adel"
Dahi adellia terlipat, mungkin saja gadis itu terganggu dengan suara auksa . Auksa terkekeh kecil, jempolnya mengusap lembut dahi adellia.
"jangan kayak senja yang ninggalin langit sendirian. Jangan buat gue terpuruk setelah gue putusin mau peduliin lo"
Sejenak, auksa meletakkan kepalanya tepat di depan wajah adellia, netranya meneliti wajah adellia yang cantik, dia adellia dan bukan bellanya lagi.
"gue takut kehilangan lagi"
Ucap auksa lirih, hatinya berdenyut nyeri. Ia masih mengingat betapa sakitnya ditinggalkan. Padahal auksa sudah menyerahkan segala rasanya dan terlalu bergantung pada sosok bella.
"sa"
__ADS_1
Auksa tersentak, suara adellia mengejutkanya. Refleks, auksa berniat menjauhkan kepalanya dari adellia, namun tak disangka,adellia malah mengelus surai hitam legamnya lembut. Auksa mematung, bola matanya menatap penuh sosok adellia yang cantik tiada cela. Dadanya bergemuruh, untuk pertama kalinya ia gugup, tentunya setelah sekian lama terasa mati karena kehilangan bella. Auksa menahan nafasnya tatkala air mata adellia meluncur mulus sampai menembus bantal, usapan adellia yang semula membuatnya salah tingkah berubah menjadi lautan iba. Seakan akan auksa ikut merasai kesedihan yang tersimpan dalam diri adellia. Refleks auksa mengusap air mata adellia lembut, hatinya sakit tak terperi.
"gue salah sa"
Gerakan auksa yang tengah mengusap air mata adellia terhenti. Auksa terdiam bisu, kedua netranya menyorot adellia yang lagi dan lagi menangis tersedu.
"gue salah,hiks gue salah sa"
Auksa mengusap kepala adellia berulang kali,ia kebingungan dengan kata yang dimaksud adellia.
" Gue kehilangan dua orang sekaligus sa. Orang terpenting yang gue pertahanin biar tetap utuh "
"hiks, gue kira mama yang buat Papa pergi. Mama yang buat gue kehilangan impian punya keluarga lengkap.hiks,sa, gue salah sangka, Mama udah pergi sa, entah ke mana yang pasti gue nggak bisa hubungin dia. "
"sttt, gue udah bilangkan sama lo. entah itu bokap lo atau nyokap lo, mereka semua bakal kembali ke lo lagi "
" semua milik lo bakal balik ke pemiliknya. lo cuman tinggal nunggu Adel "
"nggak bakalan sa, Papa punya keluarga baru lagi. "
Adelia menggigit bibirnya. air matanya meluncur lagi secara bersusunan.
" Siapa ara sa? "
" dia siapa, gue nggak punya kakak "
" gue anak pertama Sa, satu-satunya di keluarga alfadiaraga "
" dia rebut Papa gue"
"saaaaa, dia rebut semuanya dari gue. sekarang gue tahu kenapa Mama milih pergi "Adelia Meraung perih, auksa mengusap surai Adelia begitu lembut. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menenangkan Adelia. Ia juga merasakannya, bedanya, auksa merasa kalau kasih sayang orang tuanya benar-benar telah lenyap. Tak ada lagi yang tersisa. Mereka hanya mementingkan kakaknya dan tak pernah meliriknya sedikitpun. Auksa hanya bisa diam sambil memandangi Adelia yang tengah menangis. Tangannya masih saja mengusap lembut surai gadis itu. Ia tahu Adelia butuh sandaran. Ia juga tahu kalau Adelia juga butuh sosok yang menenangkannya, karena auksa begitu mengerti mengenai rasa sakitnya. Perlahan tapi pasti, tangis Adelia mereda. kedua matanya yang basah karena tangisan tertutup rapat. Auksa menarik nafasnya lantas mengusap kedua mata Adelia lembut.
" jangan nangis lagi Adel "
Ujarnya lirih lantas berdiri. Tak baik untuknya kalau tetap di sini, dilain jantungnya yang tak sehat karena wajah tenang Adelia yang bak malaikat, auksa juga merasa tak enak dengan gadis itu nantinya.
" semoga mimpi indah"
Pamit auksa hendak beranjak, namun tangannya tiba-tiba saja dicekal oleh Adelia.
" Jangan Pergi"
Auksa terkejut, refleks, kepalanya menoleh menatap adellia yang tertidur.
Auksa berjongkok ke posisinya semula. Kedua netranya kembali menetap Adelia yang masih memejamkan kedua mata.
"kenapa? "
" Jangan tinggalin gue sa, Jangan pergi kayak mereka"
Mohon Adelia sembari menarik tangan auksa dan menjadikan telapak tangan pria tersebut sebagai bantalan.
" gue mau keluar sebentar Adel, nggak akan lama "jelas auksa lembut. Adellia tetap saja menggeleng
" nggak boleh. "
Hah, auksa mendudukkan tubuhnya di lantai lantas menempatkan kepalanya seperti tadi. tangannya kembali mengusap surai Adelia lembut.
" Iya, gue nggak bakal pergi. sekarang lo harus tidur "
__ADS_1
Ujar auksa mengusap kepala Adelia berulang kali agar gadis itu tertidur. Auksa menatap Adelia dalam-dalam .
Sepertinya lo beneran udah berhasil lengserin senja lama di hati gue Adel, gue nggak pernah ngerasa sepeduli ini selain sama bella, tapi di hadapan lo sekarang, gue jadi sosok yang berbeda.