
...Benar,...
...Apa benar semesta menukar wanita selembut mamaku dengan sesosok iblis semacam kamu?...
...Pergi,...
...Jangan lagi kau kotori ruang kosong pikiranku hanya untuk mengurusi kelakuanmu....
...Adellia alexa agantara...
...🌜🌜🌜🌜...
Plakkkk!!!
Sinta tergugu, netranya menatap telapak tangan yang barusan melayang. Adellia terpental, pipinya memerah terasa perih. Ia tak akan membiarkan sinta menyakiti papanya untuk kesekian kali.
"adell! "
Adellia bangit, sudut bibirnya mengeluarkan darah karena robek. Hatinya sakit tak terperi. Papa dan mamanya sama sama dalam keadaan yang berantakan. Apalafi retakan dan pecahan hatinya yang semakin sulit ia rekatkan lagi.
"adel, mama, mama nggak sengaja adel, maafin mama"
Adellia terkekeh, sejenak ia mengusap pipinya lantas menatap sinta nyalang. Emosinya memuncak.
"kenapa bukan anda saja yang pergi! "
Sentak adellia mendorong sinta agar menjauh dari radarnya, ia marah karena mamanya yang kelewat batas. Papanya hanya ingin menemui adellia dan sinta dengan gelap mama malah menghancurkan segalanya.
"adel, jangan kayak gitu"
Sinta bersimpuh lemah, air matanya meluruh begitu saja. Ia tak percaya jika tanganya dengan tega menampar wajah cantik putrinya, adellia.
Ia hanya marah karena alve dengan tak tahu malu kembali menampakkan wajahnya. Namun betapa kejamnya seorang sinta, karena dengan kejamnya malah melampiaskan amarah itu ke adellia.
"kayak gitu gimana maksud anda? "
Pertanyaan sarkas adellia membuat sinta mematung, rasa sakit menguasai hatinya, perih menggerogoti nya teramat dalam. Ia bahkan melupakan kalau niat awal kedatanganya adalah untuk meminta ijin ke adellia terkait kepergianya ke paris.
"adel"sinta memanggil nama anaknya lembut, adellia berdecih sinis, ia muak!
"pergi!! Saya muak lihat muka anda. Entah kenapa tuhan tega mengambil mama saya dan menukarnya dengan sosok iblis semacam anda! "
Nafas sinta tercekat, begitupun dengan alve yang nampak terkejut.
"adellia jaga omongan kamu!dia mama kamu adel! "
"pa! Dia bukan mama! "sanggah adellia cepat, kembali ia melayangkan tatapan tajamnya ke arah sinta yang menangis tersedu. Adellia menggigit bibirnya mencoba tak membiarkan rasa iba menguasainya.
"jangan pernah muncul di hadapan saya lagi"
Peringatnya dingin, lantas tanpa pamit, adellia melangkahkan kakinya menuju undakan tangga berniat memasuki kamarnya.
******
__ADS_1
Tak!
...Nangis lagi?...
Adellia menoleh, netranya kini menangkap kertas yang menempel pada jendela kamarnya. Ia terkekeh kecil, jarinya mengusap lembut kertas tersebut dibalik jendelanya.
"he'em"
Jawabnya singkat.
"lo kehabisan kertas origami ya? Apa karena hal itu lo akhir akhir ini nggak pernah muncul di jendela gue? "
"kenapa lo baru muncul sekarang? Gue udah nungguin lo berulang kali. "
Adellia melihat kertas di jendelanya diambil oleh sang pemilik. Sejenak ia menunggu, lantas beberapa detik kemudian tulisan yang baru kembali muncul.
Tak!
...Lo aja yang nggak tahu. Gue sering kesini kok....
Adellia membaca baris kedua pada tulisan di atas kertas,lantas menghembuskan nafasnya yang terasa berat, kepala adellia menunduk dalam,diam diam ia mengutuk. Bohong! Adellia tak pernah tahu kalau orang di balik jendela sering menghampiri kamarnya, adellia tak mudah percaya. Setiap kali ia memanggil saja seperti tak ada tanda tanda orang tersebut memang benar adanya.
"lo nggak perlu bohong sama gue,hahaha,lo seneng ya permainin gue kayak gini"
Ucap adellia sarkas namun lirih,nafasnya terasa terhimpit membuatnya sesak.
Tak!!
...Siap cerita?...
Tak!
...Kayaknya gue pernah bilang kalok lo jelek baget waktu nangis....
Adellia bersandar pada jendela kamarnya. Kedua bola matanya menatap yang langit langit kamar dalam diam.
"pernah"
Jawabnya kemudian setelah beberapa menit terdiam bisu.
"emang kenapa?"tambahnya lagi.
Tak!
...Gue tarik deh kata-katanya.lo cantik dalam leadaan apapun nangis aja nggak papa....
Adellia tersenyum lemah. Air matanya telah lama mengering, isakanya juga telah lama mereda. Walau ia kecewa, ia tak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihannya.
" enggak, gue nggak mau nangis. udah cukup gue keluarin air mata buat orang yang gak nyata "
" jangan paksa hati lo tetap kuat kalau nyatanya lo butuh sesuatu sebagai tumpahan rasa sakit. "
Adelia tercekat, dadanya berdentum kala mendengar suara familiar memasuki telinganya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Mata Adelia memicing, menatap seorang pria dengan wajah dan pakaian tertutup. Noda darah jelas terpampang di setiap sudut kain yang dikenakan pemuda tersebut, bahkan lengan baju bagian atas nampak robek berantakan. Adelia gemetar, sosok di balik jendela benar-benar keluar dari ekspektasinya.
"lo siapa? "
Suara Adelia bergetar, tak mampu lagi ia menahan getaran retina akibat rasa takut yang begitu besar.
Tak!
...Gue orang yang punya nasib sama kayak lo. Kita komponen tepat yang sering dipermainin semesta....
Adelia menatap tak percaya pada pemuda yang kini sibuk menulis sesuatu di atas kertas, lantas menempelkan kertas tersebet ke jendela kamarnya lagi.
...Jangan pendem semuanya sendiri. Semua orang punya alasan dibalik tindakannya. Begitupun mama lo....
"tahu apa lo! "
Adelia berdiri ,jari telunjuknya mengacungi si pemuda dengan garang. Perasaan belum sekalipun Adelia bercerita mengenai kisahnya.
"gue tahu apa yang lo takutin, gue denger tanpa lo beritahu"
Adelia tertegun, air matanya meluncur mulus. Lemah adalah kata tepat untuknya, ia terisak, pundaknya naik turun menggambar kesediaannya.
Srekkk
Jendela yang mirip pintu milik Adelia tergeser, memunculkan sosok lelaki tegap bermasker yang menatapnya penuh kasihan. Adelia menggeleng, ia tak mau hanya karena Sinta ia lantas menghabiskan air matanya.
"Nggak! gue nggak lemah" teriaknya sesenggukan, Adelia bersimpuh. Memaki air matanya yang tak mau berhenti.
"huhuhu, Gue nggak lemah, bilangin ke gue, gue nggak lemah kan?"
Ujarnya menguatkan diri sendiri. Adelia memeluk kedua lututnya sambil menyembunyikan kepalanya di sana. berkali-kali ia bergumam bahwasanya ia bukanlah sosok wanita lemah hanya karena sinta.adellia hanya kecewa, yha, ia hanya kecewa pada takdir yang mempermainkannya.
Pluk
"Diem, jangan buat hati gue sakit lebih dari ini"
Tangis Adelia bertambah keras. pelukan laki-laki misterius membuatnya menjadikan kesempatan itu sebagai sandaran kerapuhannya.
"gue nggak lemah"
" iya, lo nggak lemah "
Ujar si laki-laki mengangkat wajah Adelia, kedua tangannya menangkup wajah Adelia yang bersimbah air mata.
" Mama jahat "
"sttt, iya, gue tahu"
Si pria mengusap air mata Adelia lembut, lantas mengarahkan kepala adellia ke dadanya. Menenangkan gadis itulah yang kini mengisi pikirannya.
"Mama jahat, dia halangin gue buat ketemu papa. dia tampar gue, dia--"
__ADS_1
Adelia tak mampu meneruskan kalimatnya. Tangisnya pecah begitu keras. Hatinya sakit. Adellia memeluk si lelaki begitu erat, bahkan tak menghiraukan bercak darah yang mungkin saja akan mengotori bajunya.
"gue nggak mau nangisin perilaku dia, gue nggak selemah itu" si lelaki mengusap surai adellia lembut. Tangan kanannya yang terluka menarik Adelia lebih dalam kepelukannya.