TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
You are mine Adel, not temporarily, but forever.


__ADS_3

...Mempertahankanmu suatu kosekuensi. Namun melepaskanmu tak akan jadi pilihan pasti....


...Biar kuputuskan sendiri...


...Menahanmu tetap disini...


...Menjadi satu pilihan yang kusetujui dari berbagai opsi....


...🌜🌜🌜🌜...


Semburat orange tanpa malu menghias langit. Pelan tapi pasti, matahari dan kehangatannya semakin meredup. Angin sepoy-sepoy menggoyangkan beberapa anak rambut pemuda tampan dengan setelan kemejanya yang nampak rapi . Auksa memejamkan matanya sejenak. Merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya. Aneh, Auksa merasa gugup.


Apakah Adelia sudah bersiap-siap ?


Auksa mendongakkan kepalanya ke arah langit. Matanya secara pelan melirik  jam yang berada di pergelangan tangannya.


Ternyata sudah waktunya.


Batin Auksa tatkala menangkap jarum yang mengarah pada angka lima. Auksa meraih ponsel dalam sakunya, jarinya lincah mengetik pesan.



Auksa menyimpan ponsel ke tempatnya lagi. Langkah kakinya mantap menuju motor paling berharga di antara jajaran mobil-mobil dengan berbagai merek juga warna. Sigap, ia memasang helm ke kepalanya lantas tanpa menunggu lagi  bergegas menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.


.


.


.


Adelia menatap cermin beberapa kali. mengenai Ara, gadis cantik yang ia akui keberadaannya sekarang itu telah lama dijemput ayahnya, katanya mau kontrol kesehatan. Lagi dan lagi Adellia meneliti wajahnya.


"Kurang apaan ya ? Kok gue nggak pede sih. "


Adelia kembali meneliti wajahnya lebih detail. Perlahan, senyum Adellia terbit menghiasi bibirnya. Bukankah hari ini kencan pertamanya bersama Auksa?


Adelia menekan dadanya yang tengah berdegup kencang. Bagaimana rupa Auksa kali ini?


Tak elak, semburat merah muda mampir di pipinya, mau seperti apapun Auksa, pemuda itu tetap saja tampan di matanya.


Drrt!


Adelia menggapai ponselnya di atas meja. matanya melotot girang. Auksanya sudah sampai. Adelia berdehem kecil, mencoba mengatur suaranya agar terdengar lebih halus .


"Hallo,"


"Oh, lo udah sampai ya? "


"Bentar, gue turun sekarang. "


Brak!


Auksa berjengit kaget tatkala mendapati Adellia muncul di depan pintu. Adellia meringis kecil, sumpah demi apapun, ia tak berniat membuat pacarnya terkejut sampai seperti itu.


"Sorry Sa, nggak sengaja. Hehe."


Auksa diam tak menanggapi. Kedua netranya fokus menatap penampilan Adellia yang nampak manis. Gadis yang biasanya menggunakan hoodie itu kini tengah


menggenakan oversized sweater warna pink sebagai atasan, dengan ujung sweater dimasukkan ke dalam mini buttoned skirt . Dipadu sling bag, dan high heels warna pink di kakinya.


Rambutnya yang bergelombang di ikat setengah. Auksa mematung, jantungnya berdetak kala senyum Adellia tertuju ke arahnya.


"Gimana, udah cantik belum? "


Auksa berdehem lantas memalingkan wajahnya. Kedua matanya berkedip berkali-kali. Ia akui kalau Adellia benar-benar cantik. Namun bibirnya enggan memuji.


"Ya Allah Auksanya gue lagi salting ya? Uhh gemessh! "


Goda Adellia sembari menoel lengan Auksa. Auksa berdecak sebal, ia lekas meraih tangan Adellia untuk naik ke motornya.


"Naik!"


Titah Auksa mutlak. Mata Adellia berbinar riang.


"Lo niat banget ya Sa hari ini? Pake motor segala lagi. Biar dipeluk  sama gue kan di jalana? "


Auksa memutar bola matanya malas. Padahal Auksa sering menggunakan motor ini ketika sekolah. Tanggapan Adellia yang seperti kode itu tentu membuat Auksa jengah.


"Naik Adel,"


Adellia menahan senyumnya yang hendak merekah. Ia lekas menuruti perintah Auksa. Auksa mendengkus kecil, bisa-bisanya ia punya pacar semacam Adellia.


"Udah nih. Cepetan, udah nggak sabar gue."


Seloroh Adellia sembari menyeret tangan Auksa agar segera naik. Auksa menurut, sebelum menaiki motornya, Auksa meraih helm kecil yang berada tak jauh dari jangkauan Adellia. Auksa menghadap Adellia, jari-jarinya merapikan surai Adellia lantas memakaikan helm tersebut ke kepala gadisnya. Adellia mematung, jantungnya berpacu tak terkendali.


"Jangan ngelamun dijalan, entar jatuh."


Ujar Auksa sembari mencubit hidung Adellia, pria itu segera menaiki motornya agar tidak ketinggalan munculnya senja di atas cakrawala.


"Just so you know, if you always look beautiful in my eyes."


Ujar Auksa sembari meraih tangan Adellia agar melingkari pinggangnya. Auksa tersenyum kecil, tatapannya mengarah ke kaca spion yang menampilkan raut kebingungan Adellia.


"You are mine Adel, not temporarily, but forever."


Sayangnya, Adellia tetap tak mengerti arti dari kalimat romantis Auksa.

__ADS_1


.


.


.


PT Dewanta  Group.


"Sa, ini beneran berhenti disini? Lo nggak ngelindur kan? "


Tanya Adellia terheran tatkala netranya menangkap bangunan tinggi tak jauh disana. Auksa mengangguk menanggapi, tangannya segera melepas helm yang melekat di kepalanya, dan kepala Adellia.


"Turun,"


Adellia melongo tak habis pikir. Ia kira Auksa akan mengajaknya ke tempat yang lebih romantis dari ini. Nyatanya Adellia salah, Auksa bukanlah cowok semacam itu.


"Tapi Sa, ini kan kantor? "


"Emang kenapa? "


"Kok kenapa sih? Katanya mau jalan?"


"Ya ini lagi jalan Adel, liatin kaki lo, lagi jalan kan? "


Adellia menggeram tertahan. Rasanya ia ingin mengacak rambut Auksa. Kalau bisa menendang bokong laki-laki minim peka itu ke planet Saturnus.


"Tapi nggak gini juga Sa," Rengek Adellia memasang ekspresi memelas. Auksa terkekeh, tangannya teragkat mengusap wajah pacarnya yang menggemaskan.


"Lo belum tahu kantor gue kan? Sekalian gue kasih liat tempat kerja gue kayak gimana."


"Ck, lain kali kan bisa, "


Tanggap Adellia sebal. Auksa tak lagi menanggapi. Cowok itu malah mendekat ke arah Adellia semakin rapat lantas merangkul pinggangnya posesif. Alis Adellia mengerut heran, ada apa dengan pacarnya ini?


"Besok jangan dandan kek gini lagi."


Adellia menoleh terkejut. Didapatinya raut wajah Auksa yang masam.


"Emangnya kenapa? "


"Gue nggak suka."


"Lah, kok gitu sih Sa! Pake filter dong kalau mau jelekin gue."


Auksa berdecak, ia lekas mendekatkan bibirmya ke telinga Adellia.


"Gue nggak suka lo dilihatin cowok lain Adel."


Adellia tersentak, ia merasa geli sekaligus berdebar, ia bahkan tidak bisa menyembunyikan rona merah yang mampir di pipinya.


Bisik Adellia sembari menjauhkan kepala Auksa dari radarnya. Adellia mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, banyak karyawan yang meliriknya tanpa segan.


"Udah sadar? "


Alis Adellia tertekuk demi mendengar kalimat Auksa yang singkat. Otaknya dipaksa berpikir lebih keras. Maksudnya gimana?


Tanya Adellia dalam hati.


"Besok kalau mau jalan sama gue pake hoodie kayak biasanya aja. Enggak usah aneh-aneh."


Adellia tanpa sadar mengembangkan senyumnya. Ternyata yang dimaksud oleh Auksa adalah apakah Adellia sudah sadar akan banyaknya mata yang memandangnya. Adellia terkikik. jangan bilang kalau Auksanya tengah cemburu?


"Enggak cantik dong gue. Entar dikiranya pembantu lo lagi kalau penampilan gue lusuh kayak upik abu. Lagian bagus dong Sa kalau mereka mandangin gue mulu. Berarti gue beneran cantik hari ini. "


Auksa berdecak kesal. Ia merangkul Adellia semakin posesif. Jujur saja, ia tak suka miliknya diperhatikan sampai seperti itu. Auksa menatap karyawanya sinis, mereka yang mengerti lekas enyah sebelum kena amukan atasannya.


"Jangan galak-galak Sa,"


Auksa menoleh ke arah Adellia karena merasakan usapan gadis itu dilengannya. Pria itu melepas rangkulannya, lantas menggandeng tangan Adelia lembut.


"Gue nggak suka Adel,"


Ujarnya sembari membawa Adellia memasuki lift, setiap karyawan yang dilewati Auksa dan Adellia langsung menyingkir menjauh untuk memberi mereka jalan. adellia berdecak kagum.


Emang bukan main pacarnya ini.


"Gue ngajak lo kesini buat nekanin kalau lo itu pacar gue, bukannya sebagai ajang cuci mata."


Adellia tertawa mendengar kalimat Auksa. Ia baru tahu kalau Auksa juga punya sisi yang seperti ini. Posesif.


"Mereka kan punya mata. Wajar dong kalau kayak gitu. Gue orang asing, otomatis mereka bakal penasaran sama kedatangan gue."


"Ya nggak usah natep juga,"


"Terus gimana caranya mereka bisa tahu kalau gue pacar lo Sa? "


Auksa mendengus jengkel. Ia kehabisan kata-kata untuk menanggapi.


"Nggak usah posesif gitu. Gue nggak bakalan lirik yang lain karena udah ada eli Sa di hidup gue. "


Auksa mematung bersamaan bunyi lift yang menandakan pintu terbuka.


Atensi Adellia teralihkan, kedua matanya membola tatkala menagkap pemandangan menakjubkan di depan sana.


Apakah semua ini Auksanya yang merancang?


Hati adellia menghangat.

__ADS_1


"Semua ini lo yang buat Sa? "


Tanya Adellia takjub. Auksa melangkahkan kakinya keluar dari lift. Kedua netranya menyorot Adellia yang tersenyum sumringah.


"Ihh so sweet banget."


"Suka? "


Adellia mengangguk antusias. Tangannya yang kecil segera mengamit lengan Auksa lantas mengajak cowok itu untuk duduk berhadapan dengannya. Adellia tak menyangka kalau Auksa akan membuat hal semacam ini. Atap kantor yang luas disulap begitu indah dengan meja kursi yang begitu tertata rapi. Berbagai hidangan dilengkapi dua boba rasa vanila dan coklat kesukaan Adellia terpampang menjamu mata. Tak lupa langit berhias senja yang begitu syahdu kala tertangkap netra.


"Lo belin boba juga? "


"Iya."


"Sumpah, gue deg-degan Sa."


"Tahu, gue juga bisa lihat kalau lo masih hidup."


Adellia tak peduli dengan komentar Auksa. Untungnya ia kelewat bahagia sampai lupa untuk marah karena kalimat cowoknya.


"Sa, berdiri dong!"


Auksa menurut. Adellia lantas mendekat, ia segera memeluk Auksanya erat. Auksa sempat tersentak karena kaget, namun ia dengan pintar menyesuaikan situasi.


"Gue seneng banget Sa,"


Ungkap Adellia sumringah. Auksa memasang senyumnya, ia juga merasa bahagia kala melihat segurat senyum Adellia.


"Makasih Sa. Makasih karena lo mau jadi sumber bahagianya gue waktu Papa sama Mama malah milih nyakitin gue."


Auksa mengangguk kecil. Ia membalas pelukan Adellia juga mengecup puncak kepala gadis itu lembut. Hati Auksa menghangat, perutnya serasa dikerubungi oleh beragam kupu-kupu yang menggelitik.


"Adel,"


Adellia mendongak untuk menangkap wajah Auksa dalam netranya. Kedua mata mereka beradu pandang. Adellia tertegun, warna mata Auksa seakan menelannya begitu dalam, Adellia terperangkap jauh didalam sana.


"Adel, "


"Adellia, "


Adellia tersentak. Kedua matanya berkedip lucu.


"Eh, apa Sa? "


"Gue suka lo. "


"Hah! Apa Sa?"


"Gue cinta sama lo Adel. "


Auksa menaruh kepalanya dibahu Adellia yang tengah melongo. Adellia terkejut mendengar pengakuan itu. Namun tak elak kalau denyar aneh mengalir masuk ke nadinya.


"Gue suka sama lo Adel."


Adellia meraih kepala Auksa yang berada di atas bahu kirinya, lantas menangkup wajah pacarnya lembut. Senyum Adellia terbit lebih lebar di bibirnya.


"Aku tahu." Tanggap Adellia mengubah kosa kata gue menjadi aku.


"Aku tahu karena aku juga rasain hal yang sama kayak kamu Sa,"


Auksa terkejut, namun hatinya lekas menghangat tak terkira.


"Kamu mau kan jadi pelangi yang setia ngehias langit di setiap harinya Adel ?"


Dahi Adellia terlipat. Kenapa jadi tiba-tiba pelangi dan langit?


"Langit? "


"Iya adel. Aku langitnya. Dan kamu pelanginya. Sprektum warna yang bikin langit bangkit lagi dari kelamnya."


"Tapi kenapa malah pelangi dan bukan senja Sa? Bukannya senja lebih indah daripada pelangi yang cuma sekejab muncul itu?"


Auksa termenung dalam diam. Dadanya mencelos, bahkan lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab. Ia hanya mampu mendekap Adellia semakin erat. Bella senjanya, akan selamanya jadi luka. Ia tak mau Adellia menjadi seperti Bella. Seseorang yang hanya sekejab muncul lantas pergi tanpa meminta persetujuannya. Adellia mengernyit, ia merasa aneh dengan gerak-geriknya Auksa. Namun Adellia tak berani untuk bertanya lebih jauh, pelukan Auksa yang mengerat sewaktu Adellia mengucap kosa kata senja menjadi pertanyaan besar yang membayangi pikiranya. Ade tahu kalau Auksa terlalu misterius. Makanya ia akan bersabar, ada waktunya ia tahu kenapa Auksa bertingkah semacam ini.


Drtt !


Suara dering telepon membuat pelukan Adellia juga Auksa terlepas. Keduanya berdehem kecil untuk menetralkan rasa gugup yang menyerang. Auksa merogoh saku celananya, alisnya yang tebal langsung mengerut tajam, bibirnya menipis menahan geram. Laki-laki itu melirik Adellia sejenak, lantas kembali memandangi pesan singkat yang muncul di layar ponselnya.


"Kamu bisa tunggu aku disini dulu kan Adel? "


Tanya Auksa menyimpan ponselnya ke tempat semula. Aneh, tiba-tiba saja cowok itu mencium dahi Adellia lama. Seakan menyimpan wangi Adellia dalam benak. Adellia mencekal lengan Auksa yang hendak pergi. Auksa berbalik, tangannya mengacak surai Adellia lembut.


"Sebentar aja Adel."


"Kamu mau kemana? Udah mau gelap tahu."


Auksa tersenyum sendu. Sorot matanya meredup.


"Cuman sebentar Adel. Kalau satu jam aku nggak balik, kamu harus pulang yaa. Jangan tungguin aku. "


"tapi auksa,"


Adellia merengek. Tangannya enggan melepas Auksa.


"Sebentar aja ya sayang,"


Ucap Auksa lantas melepas genggaman Adellia yang melingkari pergelangan tangannya. Lalu pergi dengan cepat meninggalkan Adellia yang hanya mampu termenung di tempatnya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2