
" Udah, itu saja? Enggak mau mampir lagi? " Adellia meringis, kepalanya menoleh ke arah tempat duduk di mobil belakang. belanjaannya memenuhi tempat itu, ada baju, ada Skin Care, ada makanan minuman, snack, boneka, dan tetebengek yang lainnya. Padahal niat hatinya cuma membeli buku, eh, sekarang malah hal itu yang kelupaan .
"Hehe, udah. " Jawab Adellia menatap Auksa yang fokus menyetir, Auksa terkekeh kecil.
"Bukunya belum loh,"
Ingat Auksa membuat Adellia menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Adellia sudah sungkan, dompet Auksa pasti sudah menipis seperti kertas, nominal maha banyak menghilang begitu saja karena udah Adellia.
" Enggak usah terlalu dipikirin hal kayak gitu. Kamu mau minta apa saja bakal aku turutin selagi bisa. "
Adellia menoleh terkejut. Memang bukan main kemampuan pacarnya ini. Tanpa melihat pun, cowok itu bisa tahu apa yang tengah dipikirkannya.
" Enggak usah lah, lagian aku juga udah capek. " Jawab Adelia menolak. Sejujurnya, belanja ditemani Auksa tak membuatnya kelelahan sedikitpun. Dilain kantong belanjaannya Auksa yang akan bawa, cowok itu juga selalu siap siaga ketika matanya berbinar menatap makanan. Seperti beberapa menit yang lalu, saat Adellia melihat geprek di pinggir jalan, Auksa tanpa babibu langsung menghentikan mobilnya. Katanya mau mampir beli makanan. Alhasil, Adellia Sampai detik ini masih sehat hati, segar raga, perut kenyang. Lebih bangganya lagi ketika para cewek menatap ini ke arahnya. Mana ada cewek yang tak tergiur pesona Auksa, dia saja sampai ngiler.
" Adel, jangan jorok deh. "
" Eh? "
Adellia tersentak. Dia menatap Auksa dengan dua alis berkerut. Maksudnya?
"Kok jorok sih Sa?"
" Barusan kamu mikirin apa? "
" Idih, memang aku mikirin apa? "
Auksa mendesah. Tangan kirinya meraih tangan Adellia lantas menggenggamnya.
" Kenapa? "
" Beneran nggak mau mampir lagi? " Adellia menggeleng. Auksa menoleh sebentar lantas kembali fokus pada jalanan.
" Enggak mau beli Boba? Toppoki dulu, atau ke bioskop? "
Adellia menggeleng lagi. Kapan-kapan sajalah, kan bisa dia jadikan dalih buat ngedate nanti.
" Kapan-kapan saja. " Jawabnya sembari menatap Auksa yang entah mengapa terlihat begitu gelisah.
" Kamu kenapa Sa? "
Auksa tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada tangan Adellia. Adellia tertegun, ia lekas memposisikan diri lebih dekat dengan kekasihnya .
"Ada yang mau kamu sampaikan ke aku ya? "
Tanya Adellia perlahan, Auksa menggigit bibirnya gelisah. Hal itu semakin membuat Adellia kebingungan. Adellia menghembuskan nafasnya. Tangan yang semula digenggam oleh Auksa tadi dia lepas, sebagai gantinya, Adellia menangkup tangan kiri cowok itu dengan kedua tangannya.
" Kamu boleh cerita."
Hening beberapa saat. Adellia meneguk ludahnya. Dia yang biasanya bisa merangkai kata sampai berbusa, tiba-tiba saja kehilangan kalimatnya.
"Aku mau ajakin kamu ke suatu tempat."
Dahi Adellia terlipat, senyum Auksa yang tertera terlihat masam. kedua netra Auksa yang fokus pada jalanan juga nampak berkaca dalam pandangannya. Adellia menggangguk kecil.
" Boleh kok. Emangnya mau ke mana? " Jawab Adellia ceria. Auksa tertegun, rasa takut di hatinya perlahan memudar.
"Rumah Papa."
"Oh rumah pa- APA! PAPA! "
Jduak!
Adellia mengaduh. Tindakannya yang berdiri secara tiba-tiba membuat kepalanya bertabrakan dengan atap mobil.
"Kamu mau temuin aku sama calon mertua? Yang benar saja? "
"Aduh, kumel kayak gini lagi. "
Adellia merogoh tas berniat mengambil make up. Sialan! dia yang selalu percaya diri dengan penampilannya lupa membawa master bedak bermerek. Di tasnya hanya ada dompet, minyak telon, ponsel dan payahnya bedak bernama Cussons Baby.
"Tuh kan Sa, kamu nggak ngabarin dulu sih! kalau aku nggak cantik gimana dong?"
__ADS_1
"Mana baju aku udah kusut gini. "
" Pasti maskara aku udah melebar ke kantung mata?"
"Ishh, lipstiknya kan sudah hilang. Huuu gimana Sa? Kalau kesan mereka ke aku jelek gimana? "
Auksa menahan senyumnya. Dia menghentikan mobilnya untuk menghadap ke arah Adellia yang tengah uring-uringan.
"Adel, coba hadap sini."
Adellia mendadak terdiam. Tubuhnya dengan gestur kaku menyamping ke arah Auksa.
"Padahal pacar aku udah cantik gini, mananya sih yang kurang? "
Adellia mencubit pinggang Auksa lantas menggelayuti lengan cowok itu manja.
"Gimana dong Sa? Aku kan pengen tampil sempurna disepan camer nanti. Nggak mau jelek kayak gini. "
Rengek Adellia membuat Auksa mencubit hidungnya gemas.
" Siapa yang bilang kamu jelek, cuman orang katarak yang ledek kamu kayak gitu. "
" Lah, berarti kamu katarak dong Sa? Kan kamu pernah katain aku kayak gitu. "
Auksa langsung kicep. Dia lupa.
"Ekhem, intinya nggak usah ngrendahin diri kayak gitu. Kamu udah cantik, pake banget. "
Ujar Auksa menyembunyikan rasa malunya. Adellia mendengus mencoba percaya.
"Ck, terus aku kesananya bawa apaan? "
"Enggak usah bawa apa-apa. " Jawab Auksa lempeng sukses membuat Adellia menabok mulutnya.
"Huss! Kok bilang gitu? Aku kasih boneka itu aja kali ya? ih tapi masak boneka sih! Ya udah skincare nya aja, nanti kan bisa beli lagi. Emm tapi papa mertua nggak bisa gunain dong, kalau gitu, aku kasih snack aja kali ya? Kan bisa buat simpenan di kulkas? "
"Menurut kamu aku kasih apa Sa? "
"Atau mau mampir ketoko sebentar buat beli buah? "
"Enggak usah. "
"Ih gimana sih, "
"Nggak usah Adel, kehadiran kamu disana udah cukup. "
Ujar Auksa lirih membuat Adellia berhenti bertanya. Auksa menutup matanya rapat, sejujurnya dia masih belum siap datang ke tempat itu.
Adellia mendongak pelan, walaupun dia tak tahu apa yang dipikirkan oleh Auksa sekarang, Adellia sudah cukup mengerti tentang ekspresi itu. Auksa sepertinya merasa tidak nyaman dan gelisah pada suatu hal.
"Beneran boleh? "
Auksa menunduk menatap Adellia lantas mengangguk.
"Boleh. "
Adellia menghembuskan nafasnya. Dia mengusap lengan Auksa lembut.
" Ya udah ayo berangkat Jangan lupa ada aku Auksa. Aku bakal selalu dipihak kamu. "
Ujar Adellia secara tiba-tiba membuat perasaan Auksa menghangat.
.
.
.
Juanda tak sekalipun menahan tangisnya. Kedua bola matanya yang kerap sekali melayangkan tajam kini meredup. Dewanta Rios Alfadiaraga. Dialah alasan Juanda kembali menelan egonya bulat-bulat.
" Juanda di sini Pa. "
__ADS_1
" Auksa mana Juan? Dia ada di mana? "
Juanda mengatupkan bibirnya. Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya nyeri. Pelan, dia membawa tangan Dewanta dalam tangkupan kedua tangannya.
" Auksa lagi sibuk. Papa sama Juan dulu ya, "
Pria paruh baya dengan surai hitam memutih itu menatap langit-langit kamar. Auksa tak akan sudi menemuinya. Dia tahu, dia juga sepenuhnya sadar. Perlahan, isak yang tampak tertahan keluar dari kerongkongannya. Juanda tertegun. Selalu seperti ini, setiap membahas Auksa, Dewanta akan bersedih.
" Udah Pa, ada Juan. "
Dewanta menggeleng lemah. Dia harus menjelaskan semuanya Sebelum terlambat.
" Papa harus jelasin semuanya sama adik kamu Juan. Dia nggak bersalah. "
Juanda menahan amarahnya. Ayah selalu saja membalas perkataanya. Juanda benci, tak ada sedikitkah secuil perasaan untuk dirinya?
" Dia salah Pa, " Dewanta menggeleng pelan. Seharusnya dia tak memperlakukan Auksa sebagaimana perlakuannya dahulu. Tangisnya pecah, betapa takutnya Auksa kecil yang ia paksa melihatnya mengeksekusi musuh.
" Dia nggak salah Juan. Papa harus selesaikan semuanya. "
" Pa! Dia yang salah disini! Dia udah tega tinggalin Papa kayak gini. Dia juga udah tega rebut semuanya dari Juan. "
Dewanta tersenyum kecut. Dia brengsek. Dialah penyebab Juanda membenci adiknya sendiri. Dewanta memegang dadanya yang terasa nyeri, kedua matanya menatap Juanda lekat.
" Kamu nggak boleh gitu Juan. Auksa adik kamu. "
"Dia salah Pa. "
" Kamu yang salah paham. Maafin Papa Juan." ujar Dewanta lemah.
"Arggh! Bisa nggak sih Pa! sekali saja, Juan mau papa nggak sebut nama dia di hadapan Juanda. Juan pengen Papa nggak cariin dia sewaktu Juan ada di sini. Pa, lihat Juan Pa, apa kehadiran Juan selam ini disamping Papa nggak berarti apa-apa."
Dewanta mengalihkan pandangannya. Juan memang sangat menyayanginya. anwak pertamanya itu selalu meluangkan waktu untuk merawatnya.
" Pa, jangan cari dia. Dia nggak mau datang ke sini, ada Juan Pa, ada Juan. "
" Papa -cuma -mau jelasin - semuanya Juan."
Ujar Dewanta, entah mengapa tiba-tiba saja rasanya berat untuk sekedar mengucap sederet kalimat. kedua matanya menatap Juanda penuh harap.
" Bawa-Auksa-ke sini-Juan. "
" Papa pikirin kesehatan Papa dulu. Jangan pikirin dia Pa. Papa harus sembuh. "
Ujar Juanda lekas khawatir. Nafas Dewanta terlihat tersendat.
Dewanta menggeleng. Dia tak mau rasa penyesalan terus saja menghantuinya.
" Pa, "
Dewanta meremas dadanya yang nyilu, kedua matanya terpejam karena dilanda sakit.
"Ukh! Juan, "
Juanda kelabakan. Wajah Dewanta menunjukkan kesakitan yang teramat sangat. Tentu saja Agatha yang sedari tadi memilih diam seribu bahasa segera berlari menghampiri.
"Mas, Mas! "
"Ssa-kit. "
Juanda segera mengaktifkan alat canggih yang mirip dengan jam di pergelangan tangannya. Sontak, ia memencet benda merah di ujung paling atas. Tanda darurat. beberapa menit kemudian lima orang berpakaian putih datang tergopoh-gopoh. Satu diantaranya dengan baik-baik menyuruh Juanda dan Agatha keluar dari ruangan. Aganta sempat berteriak, tangisnya pecah bagai lagu pilu, namun ia bisa apa! Juanda lebih dulu menariknya pergi, Agatha menjerit. Jangan ambil suaminya Tuhan, jangan ambil dia. Setidaknya jangan sekarang, Agatha masih belum siap.
Juanda memeluk Agatha erat. Dia sama hancurnya juga sama takutnya. Papa tak akan pergi cepat ini kan?! Juanda menggigit bibirnya.
" Papa nggak boleh pergi Juan, "
Juanda mengangguk lemah. Dia memeluk Agatha semakin erat. Mencoba menenangkan wanita itu. Padahal, dia juga mengalami kondisi yang sama. Dia butuh seseorang yang mampu menenangkannya.
" Tuhan nggak bakal jemput Papa secepat ini kan Juan, Mama takut. "
" Enggak Ma. Papa bakal baik-baik saja. "
__ADS_1
Agatha menyembunyikan kepalanya di dada Juan. Ya Tuhan, dia bahkan belum sempat membawa Auksa hadapan suaminya.
" kalian, kenapa? "