TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Auksa


__ADS_3

Flashback


" kalian, kenapa?"


Juanda Legarvin Fernandita selaku kakaknya berjengit kaget, begitupun dengan Agatha yang masih terisak.


" Lo-"


Rahang Juanda mengeras, buku-buku jarinya memutih karena kepalan tangannya yang begitu erat.


" Semua ini gara-gara lo brengsek! " Juanda melayangkan tinjunya tanpa aba-aba. Tentu saja Auksa sigap menghindar. Satu tangannya menahan tinju Juan begitu kuat.


" Udah Juan. Kasihan Papa di dalam. "


Bisik Agatha menenangkan, namun yang didapat malah tangkisan lengan Juan pada tangannya.


"Semua ini gara-gara lo cowok sialan! Brengsek lo!"


Juanda hendak meninju lagi, namun Auksa dengan lihainya menghindar. Auksa menggertakkan giginya, dia tak tahu apa-apa, dan tanpa permisi, Juanda langsung melayangkan tinjunya ketika ia masuk.


Bugh!


"Auksa!"


Adellia menutup mulutnya. Auksa tampak buas dan menakutkan di matanya. Cowok itu meninju wajah Juanda sampai membuat si empu limbung.


"Sialan." desis Juanda sengit. Auksa mencengkeram kerah Juanda. Dia butuh sebuah penjelasan bukannya tinjuan tanpa jawaban. Auksa jelas marah, siapa yang tak terkejut dengan sebuah sambutan yang jauh dari kata baik?!


"Apa maksud lo?"


tanya Auksa sekuat tenaga menahan amarahnya yang mencuat.


" Semua ini gara-gara lo. Lo tahu! Papa sekarat di dalam dan lo malah -! Heh, lo lihat apa yang bisa lo lakuin sekarang buat dia!? you don't care about him!"


Auksa menggeram, dia sungguh tidak tahu apa yang dimaksud oleh Juanda saat ini.


"Bilang yang bener bangsat. "


"Brengsek! "


Bugh!


Agatha dan Adellia menjerit, Auksa mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Luka itu tak sebanding dengan rasa bingung yang melandanya saat ini.


"Papa sekarat gara-gara lo bodoh! "


Auksa mematung di tempat, kedua netranya yang semua berkobar penuh benci berganti tatapan kosong.


"Sekarat? "


Tanya Auksa terpaku di tempatnya. Dia tak salah dengarkan? Seorang Dewanta Rios, sekarat?


" Lo bercanda Juan. Ha - ha - ha, lo juga benci sama dia sampai lo harepin dia mati lebih awal? "


"Sialan lo! "


Bugh!


Lagi dan lagi Juanda melayangkan tinju. Auksa tersenyum miris, dia memang membenci Dewanta, namun entah mengapa Auksa merasa dunianya runtuh tatkala mendengar hal tersebut.


"Lo bohong kan? "


Auksa jatuh terduduk, tangannya mengusap wajah dengan kasar.


"Adel, Juanda bohong kan sama aku? "


Adellia tak bisa menahan tangisnya melihat Auksa yang berada dalam kondisi seperti itu. Gadis itu lekas mendekat lantas membawa Auksa dalam pelukannya. Adellia bahkan mengabaikan tatapan terkejut yang dilayangkan oleh Juanda karena baru menyadari keberadaannya.


Auksa menyandarkan kepalanya di bahu kanan Adellia, tangisnya merebak tanpa malu.


"Adel, Papa nggak mungkin sekarat. "


Adellia terdiam, dia tak tahu hendak menjawab seperti apa.


"Lo bohong kan Juan? Lo sekongkol sama orang itu buat jatuhin gue lagi. "


"Jaga omongan lo! "

__ADS_1


Juanda hendak melayangkan tinjunya lagi, namun gelengan kepala Adellia membuat niatnya berhenti. Juanda mengepalkan Tangan, tak elak kalau hatinya teramat sakit melihat hal itu.


"Dia nggak selemah itu Adel, dunia terlalu baik hati kalau ambil dia sekarang, orang yang udah nyiksa aku nggak mungkin pergi segampang itu kan? Aku belum balas dendam Adel, aku belum puas lampiasin semua penderitaan aku ke dia. "


"Auksa-"


"Papa yang selalu lukain aku nggak boleh sekarat. Dia yang selalu nyiksa aku nggak boleh mati. "


Juanda tercenggang. Dia yang selalu nyiksa aku? Apa maksudnya? Adellia menggigit bibirnya, tangisannya merebak. Ia tak menyangka hidup Auksa begitu memilukan.


"Ma, Papa nggak bakal mati kan? "


Agatha berjalan pelan menghampiri Auksa, Adellia yang mengetahui hal itu lekas menyingkir digantikan oleh Agatha.


"Dia nggak boleh mati Ma, "


Ujar Auksa lirih membuat hati Agatha teriris.


"Dia nggak boleh pergi. "


"Maa-"


"Stt, udah Auksa, Dad is not going to leave us. trust Mom."


"Papa harus bangun Ma, dia belum minta maaf sama Auksa. "


"Dia bakal bangun buat kita. "


"Ma, "


"Doain Papa Auksa. "


Tangis Auksa kembali tumpah, hatinya sakit. Dia terlambat menyadari kalau seberapapun jahatnya Dewanta, pria itu tetaplah orang berarti di hidupnya.


Auksa mengusap wajahnya gusar tatkala bayangan pertengkaran kemarin mampir dalam ruang pikirnya. Kejadian itu benar-benar mengguncangnya sepanjang waktu. Dia tak bisa leluasa menenangkan pikirannya barang sejenak. Untungnya tadi malam Adellia dengan baik hati segera menghiburnya lewat pesan dalam chat. bayangkan saja kalau Adellia tidak melakukan hal tersebut, akan jadi seperti apa dirinya nanti? Bisa-bisa dia dikira panda kurang tidur yang lagi keluyuran.


"Hoamm, bangun pagi ,gosok gigi, cuci muka, terus mandi, temuin do'i, yang kayak sapi, hoamm, ujungnya ngantuk lagi. "


Auksa mengedipkan matanya beberapa kali tatkala suara Adellia yang cempreng bin ajaib menyadarkan lamunannya. Kepala cowok itu menoleh ke arah Adellia, ternyata keadaan Adellia lebih buruk dari dirinya sendiri.


Keluh Adellia sembari mengucek kedua matanya dengan ekspresi menggemaskan. Auksa mendekat, jarinya membuka kelopak mata Adellia agar terbuka lebih lebar.


"Kamu nggak tidur Adel, mata kamu merah gini? " Tanya Auksa khawatir. Adellia mengangguk lantas menarik lengan Auksa tanpa malu.


"Pinjam buat bantal. "


Izin Adellia tanpa menunggu jawaban dari yang punya lengan. Auksa menghembuskan nafasnya, dia mengusap kepala Adellia lembut.


"Kemarin malam lupa ya? "


Tanya Auksa ambigu membuat dua alis Adellia mengerut dalam. Adellia berdehem bermaksud menanyakan kalimat Auksa, otaknya mendadak lambat cara kerjanya.


"Hoamm, Sa? "


Pandangan Adellia mengabur. Dia memanggil Auksa dengan suara yang timbul tenggelam. Antara sadar dan tidak. Kedua matanya juga ia tutup saking pedasnya.


"Sa, "


"Hm?"


"Tadi Bu Ningsih kasih pengumuman, katanya beberapa minggu lagi aku udah ulangan, hoamm, eh UKK maksudnya. "


"Terus kenapa? jangan bilang kamu baru tahu Adel? Bukannya kemarin kamu ajak aku beli buku karena kamu udah tahu kapan UKK bakal dilaksanakan? "


" Ih enggak, aku kan ajak kamu karena aku pengen aja. kalau nggak pake alasan itu pasti kamu nggak mau aku ajakin keluar. "


Auksa dibuat melongo dengan jawaban Adellia.


" Sa, kalau aku udah mau UKK, berarti kamu udah mau lulus dong? "


ujar Adellia membuka sebelah matanya yang berat. Auksa berdehem menanggapi, lantas meletakkan kepalanya di atas meja, kedua netranya menyorot Adellia yang kembali pada posisi awalnya. Mata tertutup dengan mulut bergumam kurang jelas.


" Kamu mau ambil kuliah di mana Sa? "


"Belum tahu."


"Jangan jauh-jauh ya, soalnya aku nggak mau LDR, hoamm, kata orang, LDR itu berat, kita nggak akan kuat. "

__ADS_1


"Kan baru kata orang, bukan kata kita. "


"Hish, makanya aku nggak mau. Kalau orang aja kayak gitu apalagi kita nanti. "


seloroh Adellia menyamankan posisi bersandarnya. Auksa menahan senyum, Adellia nampak lucu kala alisnya berkerut ketika berbicara lantas mengendur lagi.


"Sa, "


"Apa? "


"Aku kok baru tahu kalau Juanda itu kakak kamu?"


Auksa terbungkam. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dari pertanyaan Adellia.


" Kamu nggak pernah cerita soal itu Sasa, "


Auksa mendesah, topik itu masih terlalu sensitif untuknya.


"Pulang sekolah nanti mau jengukin om mertua enggak? "


Auksa tersentak, dia memang hendak kesana lagi. Dewanta berkata ingin meluruskan semua permasalahan yang menyangkut padanya.


" Aku diajakin loh, sekalian kenalan sama keluarga kamu. "


" kamu mau?"


Adellia membuka matanya dengan sorot heran, lantas menepuk pipi Auksa sampai membuat cowok itu mengaduh kecil.


" Mau lah, kamu itu gimana sih, aku seneng dong bisa ketemu camer, lagian Tante Agatha juga kelihatan baik. "


Auksa menggigit bibirnya menahan tawa melihat Adellia yang tampak bersemangat, gadis itu bahkan susah-susah mau menegakkan kepala yang semula lunglai di atas lengan Auksa.


" Kamu udah nggak ngantuk? "


"Ya, ya, emm-masih ngantuk. "


Auksa terkekeh, dia membawa kepala Adellia pelan untuk berbantal dengan lengannya lagi.


"Nanti aku ajakin ketemu Papa, nggak usah ribut bawain buah tangan. "


"iya, "


"Ngomong-ngomong kamu lupa ngucapin mantra ya sebelum tidur? "


"Ha? "


"Mantra yang aku kasih. "


Alis Adellia mengerut sedangkan Auksa masih menunggu dengan tenang. Adellia membuka sedikit kelopak matanya, hanya sekedar menilik wajah Auksa yang berada tepat di depannya.


"Oh yang itu ya, udah aku coba kok tapi nggak mempan. "


"Udah? Beneran? kok masih ngantuk gini? "


"Udah Sasa sayang, berkali-kali palahan, tapi masih aja nggak bisa tidur, yang ada aku malah tambah salting karena keinget kamu. "


Auksa menghembuskan nafasnya lantas mengusap surai Adellia.


" Ya udah, sekarang kamu tidur dulu ."


" Diusap-usap lagi dong, "


" Ck, kan ini lagi diusap-usap. "


Ujar Adellia manja. Auksa menurut. Tangannya kembali mengusap surai Adellia penuh sayang.


"Ditunggu sampai aku bangun loh, jangan ditinggalin. "


"Iya, "


Auksa menatap Adellia lembut, batinya bergemuruh gelisah.


Adel, satu fakta saja berhasil buat kamu kaget kayak gini? bagaimana kalau kamu nemuin banyak kejutan tentang masa kelam aku nantinya?


Auksa menelisipkan anak rambut Adellia dengan hati-hati. Nafas Adellia mulai berhembus secara teratur.


Kamu udah terlalu jauh masukin dunia aku Adellia. Aku nggak sanggup kalau kamu pergi kayak senja yang dulu. Aku harap, kamu bisa bertahan ngadepin semuanya. Jangan bikin aku kehilangan orang berarti untuk kedua kalinya ya Adel?

__ADS_1


__ADS_2