TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Alzheimer


__ADS_3

...Lari!...


...Adellia bukan cewek kuat yang dalam sekejab mampu menerima realita....


...Papa.......


...Jangan paksa Adellia terima Ara...


...Kalau kehadirannya saja sebuah malapetaka....


...๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ...


"Adel,"


Hari minggu yang ia kira bakal indah kini berubah. Pagi yang begitu ia nantikan pada malamnya mendadak tak ia sukai. Mengapa sosok ara Bisa ada disini? Dihadapannya?


"Adellia,"


Adellia berdehem menanggapi sembari memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat gadis cantik dengan satu kepangan rambut itu. Bi Sumi sedari tadi hanya berdiri terdiam, tak cerewet seperti biasanya, nampaknya tahu situasi.


"Del, "


"Diem deh lo! "


Ara tersentak. Gadis itu memejamkan kedua matanya secara refleks karena terkejut. Dua tangannya memegang gagang kursi roda dengan erat.


"Kakak minta maaf sama kamu."


"Lo nggak ada salah,"


Tanggap Adelia ketus. Adellia tahu kalau Ara pasti juga korban dari semua ini.


"Adel, papa-"


"Oh, lo kesini gegara dia? Iya? Bilangin, enggak usah urusin hidup gue lagi. Gue nggak bakal ma'afin dia sebelum bisa bawa Mama balek ke rumah."


"Jangan gitu Adel. "


"Nggak usah ikut campur!"


"Kakak-"


"Denger ya Ara. Gue, belum mutusin mau nerima elo di hidup gue atau enggak. Lo kira gue bakal gampang banget anggep lo bagian dari keluarga gue ha? "


Ara menunduk. Setumpuk air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Ma'afin gue."


Adellia mendengkus. Ia berdiri dari duduknya, lebih baik Adellia segera meninggalkan Ara, dia tak yakin bisa menahan amarahnya lebih lanjut.


"Pulang Ara. Tempat lo bukan disini."


Ara terisak. Dadanya nyilu. Sebait kalimat yang ia dengar dari ibunya entah mengapa secara tak sengaja masih saja membayangi pikirannya. Ara mendongak, mencoba menghalau air matanya yang hendak terjatuh. Tawa sengau keluar tanpa ia minta.


"Tempat gue emang bukan disini. Tapi...

__ADS_1


di sana, tempat yang sangat jauh untuk lo gapai nantinya. Sebentar lagi gue bakal mati Del. "


Niat Adellia yang hendak menjauh terhenti. Apa maksudnya?


"Gue bakal mati Adel, nggak lama lagi."


Ujar Ara sembari membebaskan bulir air matanya.


"Gue tahu, lo emang bukan adek gue Del. Tapi gue pengen lo pura-pura jadi adek gue. "


"Tahu darimana lo? "


Bola mata Ara berbinar walau sedikit. Adellia menanggapinya, dan hal itu sudah tentu menunjukkan kalau cewek itu masih peduli terhadapnya.


"Lo bisa pura-pura kan Del,"


Ara memilih mengabaikan pertanyaan Adellia. Dia malah meraih tangan Adellia lantas menggenggamnya lembut.


"Jadi adek gue ya Adel,"


Mohon Ara dengan suara lirih yang mampu membuat sudut hati Adellia tersentuh. Adellia menghempas tangan Ara yang melingkari pergelangan tangannya. Dia tidak boleh luluh secepat itu.ย Mana mungkin Adellia dengan mudah menerima Ara yang telah merusak tatanan keluarganya?


"Lo nggak punya malu ya? Jelas-jelas lo udah ngerusak keluarga gue Ara, tapi lo masih punya muka buat bilang kayak gitu ke gue? Cih! Lo itu cuma benalu, mana mau gue anggep lo sebagai kakak?"


Ara meremas dadanya yang berdenyut nyeri. Dia tak menginginkan semua itu terjadi. Tapi keadaan memaksanya untuk menjadi pihak yang paling pas untuk disalahkan. Adellia melirik Ara yang menunduk sembari menangis tersedu. Mati-matian dia menahan rasa tak tega yang menggerogoti hatinya.


"Gue sakit Alzheimer Adel. "


Nafas Adellia tercekat. Telinganya masih cukup normal untuk menangkap perkataan Ara walaupun ia berusaha terlihat tidak peduli. Ara menatap buku berwarna kehitaman yang berada di pangkuannya. Senyum kecil perlahan terbit menghiasi bibirnya.


"Penyakit ini yang bikin gue lupa semuanya. Gue menderita Alzheimer hampir lima tahun Adel, "


"Gue emang pelupa. Tapi gue punya buku ini yang selalu ngingetin gue sama semua hal yang gue lakuin. Tentang Galaksi gue, tentang Mama, tentang semuanya. Tapi nggak ada lo disini Adel, enggak ada Papa Alve. Kita nggak punya cerita sedari dulu."


"Hiks, Mama bohongin gue. Pak Alve bukan Papa gue Adel. Terus Papa gue kemana? Kenapa catatannya nggak ada di buku ini?! Dia dimana Adel? Gue butuh Papa,"


Tubuh Ara bergetar, pundaknya naik turun karena cewek itu tengah menangis tersedu.


"Lo emang berhak benci sama gue Adel. Mana ada seorang anak yang bisa berlagak baik-baik saja sewaktu Papanya memperlakukan orang lain selayaknya anak sendiri? Lo berhak marah sama gue. Lo berhak maki gue Adel. "


"Hiks, hidup gue tinggal sebulan lagi. Gue nggak nglarang lo buat benci gue. Tapi gue mohon, untuk kali ini saja, anggep gue sebagai kakak lo. "


"Gue nggak mau liat Papa Alve nangis mulu di rumah sakit. Dia ngerasa bersalah Adel. Gue pengen papa bahagia karena udah baik hati nampung gue di hidup dia."


"Gimana sama lo Ara? "


Ara tersenyum sendu.


"Gue? "


Adellia mengepalkan kedua tangannya.


Ia tengah menahan egonya kuat-kuat.


"Gimana sama kebahagiaan lo ?"

__ADS_1


Ara melebarkan senyumnya. Adellia khawatir terhadapnya.


"Lo nggak perlu peduliin itu. Lo cukup pura-pura jadi adek gue. Perlakuin gue selayaknya kakak yang sebenarnya. "


Adellia menggigit bibir dalamnya.


"Ara,"


"Lo nggak perlu khawatir Adel. Gue nggak papa. Dengan lo nerima gue aja, gue udah seneng banget. Gue bisa dapetin keluarga gue secara utuh Adel. "


"Setidaknya kisah tentang lo sama Papa Alve bisa gantiin kisah Papa gue yang menghilang. Gue juga nggak perlu sedih lagi karena udah ada elo yang bisa gantiin Galaksi,"


"Galaksi? "


Ara menunduk lebih dalam. Dia bahkan tidak mengingat bagaimana rupa galaksinya.


"Iya, cowok gue yang udah hilang . "


Adellia berjongkok lantas mendongak untuk menatap Ara yang tengah menunduk.


"Lo bisa temuin Galaksi lo lagi Ara"


"Nggak perlu. Sisa waktu gue tinggal sebulan Adel. Gue emang pengen ketemu sama cowok yang selama ini bikin gue semangat pengen sembuh. Tapi setelah dipikir lagi, hal itu nggak berguna. "


"Karena pada akhirnya, gue bakal mati kan? "


Adellia tidak tahan lagi. Biarlah ia menyingkirkan rasa bencinya terhadap Ara sejauh mungkin. Gadis ini terlalu baik untuk ia salahkan. Adellia membawa dua tangan Ara pada tangkupan tangannya. Dua netranya menyorot serius.


"Tuhan yang punya kehendak Ara. Jangan ngeduluin takdir sama kata-kata lo itu."


"Tapi dokter udah vonis gue Adel!"


"Lo harus percaya kalau lo bisa bertahan. Banyak penderita alzheimer yang sembuh kan? "


"Lo nggak perlu nenangin gue pake kalimat itu. Jangan bikin gue berpikir kalau hidup gue seakan masih panjang. Gue nggak mau kecewa Adel. Gue nggak mau serakah,"


"Lo mau kan Del jadi adek gue untuk sementara waktu? "


Tanya Ara untuk kesekian kalinya. Adellia tersentak, ia lekas membawa Ara dalam pelukannya.


"Eh! Adel!"


Ara terkejut dengan pelukan Adellia yang tiba-tiba. Dia tak menyangka kalau Adellia akan merengkuhnya seperti ini.


"Gue bakal jadi adek lo untuk selamanya Ara. Makanya lo harus berusaha untuk sembuh."


Ara membalas pelukan Adellia erat. Tangisnya merebak tak terkendali. Dadanya yang semula seperti terhimpit mulai lenggang. Ia merasa lega karena Adellia sudah mau menerima kehadirannya.


"Makasih Adel, makasih."


Ujar Ara berulang kali. Adellia memasang senyum disela tangisnya. Ia melepas pelukannya, lantas menatap kakaknya lembut.


"Lo berhak dapetin itu Ara. Makanya lo harus sembuh, bukan cuma Papa yang harepin itu,ย  tapi gue,ย juga mama lo."


"Dan tentunya Galaksi yang lo maksud itu. Gue yakin, dia pasti nggak bisa lupain cewek tegar kayak lo. Makanya semangat. Ada cowok yang nunggu lo buat kembali lagi"

__ADS_1


__ADS_2