TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Lo penyebab semuanya Adel


__ADS_3

...Ketakutan akan gelap juga kesepian kerap menghantuiku....


...Tapi ketakutan yang sebenarnya adalah ketika aku merasa kehilanganmu....


...🌜🌜🌜🌜🌜...


Adellia menatap jam yang melekat cantik di lengan kirinya. Langit yang tak lagi menampilkan senja dan berubah gelap semakin membuatnya was-was. Adellia menggigit kuku jarinya. Makanan dan boba yang tadi sempat membuatnya tergiur bahkan tak tersentuh. Ia benar-benar takut,satu jam berlalu, dan Auksa belum menunjukkan batang hidungnya.


"Cuman sebentar. Kalau satu jam aku enggak balik, kamu harus pulang Adel."


Peringatan Auksa bergaung memenuhi telinga Adellia. Adellia meremas ponselnya kuat, nama batu alias Auksa masih terpampang dalam mode panggilan. Namun tak sekalipun cowok itu menjawab.


"Sa! Kamu ngerjain aku ya. Udah ah, nggak usah pake kek ginian segala. Balik sini!"


Hening..


Adellia meneguk ludahnya. Ia berharap Auksa muncul dengan segera.


"Ish nggak lucu tahu."


"Sa?"


Adellia meremas ujung gaunnya. Apakah ia harus turun?


"Sa! balik nggak?! Kalau enggak cepetan balik aku ngambek nih yaa. Nggak usah ngumpet dong. Kejutannya udahan aja. "


Adellia menggigit bibir dalamnya. Hatinya berdenyut tak tenang. Lantas, Adellia berdiri dengan ragu. Ia mengedarkan matanya sejenak untuk mengelilingi atap kantor yang tentu saja hanya ada dirinya seorang.


"Sa,"


Panggil Adellia lirih untuk kesekian kali. Apa yang terjadi dengan Auksanya?


Reaksi Auksa dibeberapa jam lalu membuat Adellia ketakutan. Sepertinya ada hal gawat yang mengharuskan cowok itu untuk meninggalkannya di atas sini.


"Lo dimana sih Sa? Gue khawatir tahu." Ujar Adellia sembari melangkahkan kakinya menuju lift. Adellia harus turun untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Harus!.


"Kamu baik-baik aja kan? "


Suara lift yang bergerak turun ke lantai dasar mengisi pendengarannya. Adellia menunduk lesu.


"Sa, apa yang terjadi sebenarnya? "


Adellia menggeleng . Ia harus berusaha menyingkirkan bayangan juga prasangka buruk yang muncul di benaknya.


Ting!


Lift terbuka pelan, Adellia menegakkan tubuhnya untuk bersegera keluar. Namun, seonggok tubuh tak berdaya di depan sana membuat niat gadis itu terhenti. Adellia menyipitkan kedua matanya, samar-samar, bola matanya menangkap sosok gadis yang terbaring lemah tepat di depan pintu lift. Nafas Adellia tercekat, ia dengan sigap berlari menghampiri sosok itu.


"Mbak! Mbak!"


Adellia menggoyang paksa tubuh lunglai di depannya. Sejenak tubuh itu bergerak, kepalanya menoleh pelan kearah Adellia sehingga membuat gadis itu tersentak.


"ASTAGA!!! TARII!! "

__ADS_1


"Adel," Bibir Tari bergetar. Ia meraih tangan sahabatnya dengan tenaga yang masih tersisa.


"Adel. Auksa Del,"


"Lo kenapa Tar, kenapa juga sama Auksa? "


"Hiks maafin gue Adel,"


"Kalau ngomong yang jelas dong Tar! Lo kenapa ha!? Siapa yang berani buat lo kayak gini?! "


Bagaimana Adellia tak takut. Tari dan tubuh lemasnya membuatnya begitu gelisah. Apalagi perut gadis itu nampak mengeluarkan darah .


" Sakit Del, sakit banget,"


" Maafin gue Adel."


Adelia menangis. Tari tak pernah terlihat selemah ini.


"Siapa yang lakuin ini sama lo Tar? Bilang sama gue!"


Tari malah merintih kesakitan. Adellia menggigit bibirnya, ia tak tahu harus berbuat apa.


"Siapa yang lakuin ini sama lo Tar? "


Tanya Adellia lagi sembari menangis. Ia tak tega melihat kondisi sahabatnya yang seperti ini.


"Auksa."


Adelia tersentak. Kedua matanya membola.


"Auksa, uhukkk!!!  "


Adellia menggenggam tangan Tari erat. Ia tak mau menyetujui pemikirannya yang menyalahkan Auksa.


"Auksa suruh gue buat jemput lo kesini untuk--"


Sejenak Tari mengatur nafasnya lantas melanjutkan perkataan yang sempat tertunda.


"Buat bawa lo pergi. Per-gi -Del. Maafin gue. Maaf. "


"Gue nggak mau pergi. Hiks! Nanti kalau gue pergi, gimana sama lo Tar?"


"Jan-gan pe-du-liin gu-e. Per-gi Adel gu-e moh-on. Hah-hah-hah. Gu-e udah ng-gak ku-at."


"Jangan buat gue takut Tar!"


"Per-gi ba-ha-ya. Uhukkk!!! "


Adelia menggeleng. Ia memeluk Tari erat. Tidak!!! Ia tak mau meninggalkan sahabatnya di sini sendirian.


"Jan-gan ke-ce-wa-in Auk-sa Del. Per-gi. Di-a di si-ni"


"Siapa Tar? Siapa yang di sini! Auksa mana Tar?"

__ADS_1


Adellia menangis. Ia tak menyangka Hidupnya akan seperti ini.


"Dia-"


Akh!


Adellia tersentak ketika ada seseorang yang menyeretnya berdiri dengan paksa.


"Kenapa belum pergi sih? "


Adellia tak mengubris pertanyaan cowok bersetelan kemeja di sampingnya. Ia malah mencoba melepaskan cekalan yang melingkari pergelangan tangannya. Adellia meronta, mata Tari secara perlahan tertutup rapat, cewek itu sudah tak berbicara lagi. Tidak!! Tidak!! Tari apa yang terjadi sama lo!!?


"Ck, pergi bego!! Lo malah ngapain sih?"


Adellia menangis, sahabatnya pingsan tepat di depan matanya. Mana mungkin ia berpura- pura seakan tak peduli.


"Hiks, Tariii huhuhu Tar,"


Cowok di depan Adellia memegang bahu Adellia erat. Adellia terpaku seakan terkunci oleh bola mata berwarna hitam itu.


"Jangan sia-sia in mereka yang udah berkorban demi elo Adel. Bisa nggak lo singkirin ego lo itu? . "


Adellia menangis tersedu. Ia tak mengerti apa yang dimaksud pemuda di depannya ini.


"Semua orang di sini rela nyerahin nyawa mereka biar lo bisa selamat. And see, apa yang lo lakuin sekarang ini? "


Adellia menangis lagi. Ia ketakutan. Sangat, apalagi, ternyata disekelilingnya banyak karyawan yang terbaring penuh darah. Sebagian dari mereka meringis kesakitan bahkan ada yang merintih. Adellia memejamkan kedua matanya. Kenapa ia tak menyadari itu sedari tadi?


"Adel, denger."


"Lo harus pergi dari sini, kalau bisa lari sejauh mungkin sampe mereka nggak bisa temuin lo."


Adellia menggeleng, ia tak bisa.


"Apa yang terjadi Huhuhu, Auksa mana? "


Pemuda di depannya hendak menjawab, namun lekas terhenti ketika sebuah suara dari alat yang terpasang di telinganya terdengar.


Ia mengumpat keras. Tangannya yang berada di pundak Adellia mencengkeram lebih erat.


"Sial! lo bener-bener harus pergi Adel. Auksa pengen lo selamat. Gue bakal segera kirim orang kesini buat jagain lo. "


"Dengerin gue, lo harus lari. "


Ujarnya memperingati lantas berlari meninggalkan Adellia yang termenung kaku. Adellia berjongkok, ia memeluk kedua kakinya erat.


Sa lo kemana sih ? Gue takut.


Tiba-tiba saja, di tengah ketakutannya, sebuah tangan besar mencekal pergelangan kakinya. Adellia yang terkejut lantas mendongak, matanya yang bulat membola tatkala menatap pemandangan di depannya.


"Ketemu."


Ujar seorang pria sembari memasang senyum devil. Badan Adellia merinding, nafasnya tercekat.

__ADS_1


"Ternyata lo ya Del, penyebab semua ini."


__ADS_2