
...Dunia tak pernah membeberkan rencana tentang semestanya yang masih saja gemar membuat adellia menderita....
...Juga tentang beberapa komponennya yang masih mencangkup rahasia....
...Yang jelas......
...Adellia telah merasa setitik bahagia berpendar dalam cahaya....
...Karna permainanya.....
...Dengan baik hati mempertemukan kita....
...🌜🌜🌜🌜...
Adellia memberenggut kesal,bagaimana tidak! Dua balok es duduk di samping kanan kirinya denagn ekspresiyang sama sama tak enak dipandang. Lebih menyebalkan lagi tatkala keduanya selalu melarang adellia turun, padahal sudah ke lima kalinya bus berputar dalam rute yang sama. Adellia mendengus,seandainya saja kalau tak ada kronologi aneh yang menimpanya, adellia tak akan terjebak di posisi seperti ini. Posisi yang membuatnya mau tak mau harus menurut. Adellia menyenderkan punggungnya malas, ia lelah seharian ini, sudah seharusnya kasur pink kebanggaanya menghibur tubuhnya yang begitu butuh pijitan.
Ah iya, mengenai mobilnya, sepertinya untuk kali ini adellia tak perlu menservisnya lagi, kerusakanya terlalu parah, lebih baik ia membeli yang baru,
emm kayaknya BMW M4 Coupe warna merah boleh juga.
Adellia menganggukkan kepala meyetujui pemikiran yang baru saja melintas di benaknya. Lagian juga ia sudah bosan dengan mobilnya yang dulu.
"****"
Adellia tersentak, tiba tiba saja umpatan auksa beberapa waktu lalu membayangi pikiranya. Dahi adellia mengernyit, menurutnya, teror yang didapat olehnya juga terlalu aneh, untuk seorang anak SMA yang iri terhadap posisinya, teror tersebut terlalu ekstrem. Iya benar! Mobilnya terkena teror .Jendela samping kanan kirinya pecah berkeping sampai serpihanya menghambur mengotori kursi kemudi. Coretan coretan memenuhi jendela depan, ban mobilnya kempes, sedangkan body mobilnya penyok sana sini. Aneh! Jika seorang siswi yang melakukanya, dia akan dengan mudah ditangkap pak joko si penjaga gerbang sekolah. Untuk makian dengan coretan pilok masih wajar, karena mungkin hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk membuat kerusuhan tersebut, namun untuk body mobilnya yang tak berbentuk, hal itu terlalu mustahil,harus ada benda keras yang membentur mobilnya, akan dibutuhkan waktu lama untuk membuat mobil adellia dalam keadaan semenggenaskan itu, kecuali kalau ada kecelakaan sih. Cctv sekolah juga tak memberi bukti,semuanya terlalu rapi seakan sudah terencana.lebih mengejutkan lagi ialah tatkala kedua netra adellia menemukan tiga potong foto yang menempel diantara coretan pilox. Yang pertama,foto adellia yang tengah dipeluk oleh auksa, adellia masih ingat kalau kejadian itu dialaminya tadi malam, sewaktu adellia menangis tentunya.kedua,foto adellia yang tengah berada dalam mobil juanda,diambil dari jarak yang lumayan jauh. Ah,kejadian ini terjadi tatkala adellia merasa berhutang budi karena juanda telah mempertemukanya dengan ayahnya.Dan yang ketiga, foto adellia dan dion dibawah rimbunnya pohon pagi tadi, padahal adellia sudah memastikan kalau sekolah masih sepi. Aneh! Peneror seakan sudah menarget adellia jauh jauh hari.
Adellia merinding, bulu kuduknya terasa berdiri tanpa diminta, apalagi sewaktu adellia menemukan satu potong jari telunjuk dengan darah yang masih tercecer di bangku kemudi, hiiiih,adellia mengusap lenganya, ia takut.
Flashback.
Akhhhhh!!
Adellia menutup mulutnya dengan dua yang melebar, dadanya berdentum tak terkendali. Para siswa berbisik riuh di belakangnya, tapi adellia tak mengkhawartirkan hal tersebut, atensinya teralih bukan karen coretan pilox, bukan juga karena kodisi menggenaskan yang dialami mobilnya, namun sepotong jari yang terpampang jelas disana.
Seseorang mengambil amplop hitam yang berada di smpingnya. Sejenak pria itu terdiam, juanda legarvin fernandita, entah kapan dan bagaimana bisa pemuda itu muncul di sanpingnya saat ini. Adellia sungguh tk peduli, ia ketakutan, semua ini terlalu keterlaluan.
Juanda membuka amplop hitam tersebut, lantas mengelurkan sepucuk surat yang sudah lepek penuh bau amis, bunga kamboja yang tak lagi putih terjatuh dr dalamnya. Rahang juanda mengeras ,
"siapa yang lakuin hal kayak gini! "
Semua siswi terdiam bisu, mereka hanya menonton tanpa sekalipun membantu.juanda menggeram, ia menatap adellia lekat.
"lo harus jauhin auksa adel, lo bisa dalam bahaya"
Belum sempat adellia menjawab, desisan lain terdengar.
"siapa lo larang larang adel? "
Adellia tak perlu menoleh, ia sudah tahu, pastinya auksa pacarnya, adellia sudah memahami intonasi dari suara auksa yang selalu saja dingin.
"adellia bisa celaka kalau deket deket lo"
Auksa menyerobot kertas kecil yang berada pada genggaman juanda.
... Jauhi auksa atau lo bakal terima akibatnya....
Auksa menggeram , ia sudah memperkirakanya.
"so, udah siap serahin adellia buat gue"
Auksa menatap juanda nyalang. Laki laki di didepanya ini semakin menumbuhkan amarah yang bergejolak pada batinya.
" gue nggk bakal lakuin itu"
"adellia bisa celaka. "
"adellia udah terlanjur masuk, mau dia keluar atau menetap hal itu nggak ada artinya sama sekali,"
Benar! Mau adellia menetap atau tidak hal itu tak mampu mengubah kalau adellia sudah tercatat sebagai orang penting yang ada di hidup auksa. Mereka-musuh auksa, tak akan membiarkan adellia begitu saja. Kalau auksa melepaskan adellia, bukanya keselamatan yang didapat gadis itu, karna musuhnya akan semakin gencar mengganggu jikalau auksa melepaskan sedikit saja pengawasan. Yang dibutuhkan adellia sekarang ini adellah perlindungan darinya,
"lo nggak boleh egois,adellia lebih aman sama gue"
Tiba tiba saja juanda menyeret tangan adellia untuk menuju mobil silver milik juanda. Tentu saja auksa tak membiarkan hal itu terjadi. Adellia pacarnya, dan keselamatan gadis itu menjadi tanggung jawabnya. Lantas, Auksa mencengkeram kerah seragam adellia, membuat langkah gadis itu terhenti.
__ADS_1
"sa, ngapain?"
Auksa tak menjawab, netranya malah menyorot juanda yang juga tengah melempar tatapan nyalang. Adellia menatap bingung keduanya, para siswa juga semakin berkerubung karena penasaran.
"adellia sama gue "
Ajakan auksa memutus kebingungan adellia begitu saja. Kedua alis adelkia menyatu tak mengerti.
" gue anter pulang " Adelia hendak menjawab, namun terhenti ketika Juanda menyela tak sabaran.
" dia ikut gue " auksa menggeram tertahan, ia berganti memegang tangan adellia,lantas menautkan jari-jarinya dengan milik Adelia. Tanpa berbicara lagi, auksa menarik Adelia menjauh dari Juanda. Ia merangkul bahu adellia posesif, Adelia ingin berontak namun lekas terhenti, karena perkataan auksa selanjutnya membuatnya tak mampu menggerakkan otot sendinya lagi.
"adellia pacar gue , gue lebih berhak lindungi dia daripada lo "
Salahkah adellia jika jantungnya berdetak dua kali lipat, walau ia enggan mengakui, namun ia tahu, ada satu tunas yang rela tumbuh di hatinya, hingga membuat perkataan adellia di perpustakaan minggu lalu terasa terijabah oleh Yang Maha Kuasa. Iya, mungkin saja ia mulai mencintai auksa.
Ting!!
Adelia terkejut dalam lamunannya, sopir bus mungkin bosan dan lelah karena ia dan dua balok es di sampingnya tak lekas turun. Yha, pilihan terakhir Adelia adalah memilih bus sebagai alat transportasi pulang. Namun sialnya Juanda menyerobot masuk.,dan auksa? Ah... entah karena gengsi atau tak mau kalah cowok itu menyusul dengan ekspresi khasnya. Adelia menghembuskan nafasnya lelah, tangannya kembali menyamankan posisi tas punggung kesekian kalinya. Ia berdiri berniat keluar dari bus yang sudah lumayan sepi penumpang ini, namun dengan sigap uuksa dan Juanda kompak menariknya untuk duduk kembali. Adellia mengacak rambutnya sebal, matanya melirik jam tangan yang menunjuk angka 05.00, Adelia menggerutu, punggungnya pegal serta bokongnya berdenyut karena terlalu lelah diajak duduk. Meladeni kelakuan absurd bos dan pacar yang tepat berada di sampingnya ternyata melelahkan juga.
" gue mau turun"
Auksa menggeleng sedang juanda berpura-pura sibuk dengan ponselnya, adellia mencibir, Sekali lagi ia berniat beranjak namun kembali ditarik kasar. Adelia mengepalkan tangannya, meski rumah sering ia sebut neraka baru-baru ini, namun hari ini tidak. Ia berharap untuk segera pulang dan melepas rasa kantuknya.
Ting!!
Greeeek
Bunyi pintu otomatis bus memasuki telinga Adelia. Entah untuk kelima atau ketujuh kalinya pintu itu kembali tertutup tanpa adellia yang berhasil keluar. Ia gagal lagi, mungkin kasurnya akan segera ia sambut lepas satu putaran rute lagi. Lemas adelia menyandarkan punggungnya.ia matanya menatap langit yang mulai menginjak antara senja dan malam. bulan tampak samar berpijak, suara dering telepon Juanda tiba-tiba terdengar.
"iya "
" sebentar "
"hm "
Sejenak Juanda menatap Adelia yang juga tengah menatapnya. Auksa malah nampak tak peduli. Cowok berjaket coklat mahal itu malah asik memandangi gelang yang baru dikembalikan Adelia sewaktu di sekolah.
" iya, besok "
" Atur jadwal "
"hm "
Begitulah isi pembicaraan juanda yang terkesan sama saja menurut Adelia. kalimat singkat yang kerap ia dengar belakangan ini. Juanda menutup teleponnya. Cowok tersebut juga meniru gaya Adelia, yaitu menyandarkan punggungnya santai. Bedanya, ia menatap sang sopir yang fokus menyetir.
" Kenapa lo jadi pacarnya auksa ? "
Adelia tersentak, refleks ia menoleh terkejut ke arah Juanda dengan bola mata mengerjab heran, sejenak Adelia melirik auksa yang hanya diam, Adelia tak tahu, kalau dari tadi pun auksa telah memasang pendengarannya lekat-lekat.
" karena auksa ganteng , mungkin " Adelia menjawab tak yakin, hal tersebut tanpa diketahui mampu membuat sudut bibir auksa tertarik walau sedikit.
" gue juga ganteng "
"emmm ,iya juga sih , mungkin karena dia tajir "
Juanda mencibir, ia tak menyangka tertarik dengan cewek materialis yang terkesan mantre semacam Adelia.
" Lo butuh berapa gue juga punya. mau minta apa bakal gue turutin. "
Adelia menatap Juanda dengan tatapan berbinar. juanda akan menuruti semua kemauannya? Bagaimana mungkin ia bisa menolak?!
"bener?"
Jawab Adelia antusias , Juanda mengangguk bangga. Ia sudah menyuruh reza untuk menghandle semua jadwalnya dari hari ini. Sebagai gantinya ia mampu menatap raut wajah Adelia yang beragam. Lucu,
"walaupun gue minta berhenti kerja?"
"iya,"
Adelia melongo takjub. Bola matanya berpindah menatap Juanda yang nampak baik hati semacam malaikat.
" lo nggak bohong? "
__ADS_1
"gue nggak pernah bohong"
Refleks Adelia menepuk tangannya menimbulkan suara keras. Auksa menoleh, di matanya adellia tak lebih semacam anak kecil yang menemukan apa yang diinginkannya.
" berarti gue salah dong selama ini jadian sama auksa? emang ganteng sih, tajir juga, tapi pelit, gue nggak suka yang kayak gitu "
Auksa mendelik, padahal siapa coba yang dengan tak tahu malu mengklaimnya sebagai pacar! tiba-tiba saja Adelia mendekat ke arah Juanda, tangannya menelusup ke lengan Juanda lekat.
" Kayaknya pacaran sama lo lebih asik deh juan "ujarnya sembari menaikturunkan kedua alisnya.
Sreeeet
Eh! Adelia berteriak kaget, auksa tanpa aba-aba menariknya menjauh dari Juanda. Cowok itu mengapit wajahnya dengan ketiak. Adelia berontak karena sesak, ia kesulitan bernafas.
"ughh !bau! "
Auksa lantas melepaskan Adelia dari ketiaknya, namun sebagai gantinya ia merangkul Adelia agar lebih mendekat ke arahnya, auksa menyentil dahi Adelia tanpa belas kasihan, tentu saja hal itu membuat Adelia mengaduh sakit .
" ada pacar kenapa minta sama yang laen? " Adelia mengerjab, ia dengan cepat menatap auksa.
"lo kan pelit "
"lo mau apa? Mobil buat ganti punya lo yang rusak? atau mall?apartemen?"
Adelia menggeleng. Ia malah menanggapi penawaran auksa yang tanpa jeda dengan senyum mencurigakan.
"Terus apa?"
Auksa menatap Adelia bingung, giliran ditawari malah nggak mau.
"nggak mau yang kayak gitu, adelnya cuman mau yang kayak gini"
Ujar Adelia menunjuk pipinya dengan tatapan mata tengil,bibirnya pun dimoncong beberapa senti.
"maksudnya?"
"itung-itung gantian sewaktu di lapangan"
Auksa mengumpat keras-keras, Ia Jadi menyesal karena telah menawari.
"kalau itu pengecualian."
Adelia memberenggut, ia memaksa auksa melepaskan rangkulannya lantas berniat untuk kembali menghampiri Juanda lagi.
"ya udah deh minta sama Juan aja,kali aja dia mau"
Auksa mendelik, mana boleh adiknya berbuat seperti itu?!
"nggak boleh "
"ya makanya cepetan"
Auksa tetap saja menggeleng, Ia tentu saja tak mau menuruti keinginan Adelia.
"emang kayaknya gue salah pilih pacar deh " cibir adellia sebal, Persetan dengan larangan auksa, Ia tetap akan menghampiri Juanda.
Cup.
Eh! Kedua mata Adelia melebar. Tubuhnya mematung di tempat. Adelia menoleh ke arah Kausa yang tengah memalingkan wajahnya. Telinga cowok itu terlihat merah.
" apaan yang tadi sa? "
"cium" tanggap auksa cepat.
"khikhikhi , lagi dong"
Auksa menoleh ganas, dasar tidak mau berterimakasih. Adellia menahan senyumnya yang hendak meledak, dadanya berdetak cepat, ia merasa ada sensasi menyenangkan yang melingkupi tubuhnya. Lantas adellia menghambur memeluk auksa, auksa terkejut, tubuhnya sama sekali tak mampu ia gerakkan.
"Ya udah deh, nggak jadi pindah ke Juan "
Ujar adellia sembari mendongak menatap auksa yang masih saja tak mau menatapnya. Adelia bahkan tak mengubris kalau bukan hanya mereka berdualah yang berada di dalam bus tersebut.
"soalnya adel udah punya pacar yang gemesinnya kebangetan."
__ADS_1