TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Kebenaran mama


__ADS_3

"Dari sekian banyaknya orang. Mungkin, hanya aku dan hatiku yang bersikap menolak. Rumah bukanlah tempat bercerita dan melepas lelah.


Karena rumahku,


Berubah jadi sarang kesedihan dari banyaknya kumpulan kerapuhan."


🌜🌜🌜🌜


Adellia benar, rumah bukanlah tempatnya melepas penat. Rumah juga bukan tempat Adellia bisa melepaskan semua beban di pundaknya. Karena, segala pusat penderitaan dan beratnya beban yang dipikulnya berada di sini.


"Adel,"


Adellia termenung di tempatnya berdiri, namun ia tetap memaksakan senyum kecil pada bibirnya. Hatinya berdenyut ngilu dan tubuhnya mendadak bergetar tanpa diminta.


"Kamu udah pulang nak? "


Adellia terdiam. Kedua netranya menatap sengit Sinta yang tengah memasang senyum manis.


"Adel, gimana sekolahnya? "


Adellia mengepalkan kedua tanganya kuat. Ia menyeringai, Mamanya bahkan masih sempat menampakkan wajah tidak bersalah.


"Basi!"


"Adel?"


"Nggak usah urusin hidup saya,"


Sinta mematung, ia terkejut dengan bahasa yang digunakan anaknya.


"Adel kenapa? Ada masalah di sekolah? "


Adellia menggeram. Sinta masih pura-pura tak mengerti. Ia merasa dibohongi oleh Mamanya sendiri.


"Muka dua."


"Adel! "

__ADS_1


"Kenapa? Nggak suka? Saya lebih nggak suka lihat anda disini! Nggak punya muka banget ya udah umbar kemesraan di depan mata anaknya sendiri?"


Adellia berniat beranjak meninggalkan tempat, sedang Sinta tergugu. Tangannya refleks melepas tautan jari yang menggenggamnya begitu erat. Sinta baru menyadari, kalau Adellia telah melihat perbuatannya.


"Adel, Mama bisa jelasin."


Adellia diam, dia tidak butuh penjelasan dari seorang pendusta.


Sinta mengejar langkah Adellia. Tangannya pas memegang pergelangan tangan anaknya. Jantung Sinta juga berdetak tak kalah cepat. Ia takut Adellia akan semakin membencinya.


Adellia berhenti, ia menatap pergelangan tangannya dengan ekspresi jijik.


"Dengerin Mama dulu Adel. "


Adellia berdecih. Jangan harap!


"Del,"


"Adellia muak sama tingkah Mama! "


Langkah Sinta terhenti. Hatinya semakin nyeri tatkala mengingat Adellia yang akhir-akhir ini kerap membentaknya.


"Adel,"


Brak!


Adellia menutup pintu kamarnya kuat. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Adellia ingin menumpahkan semua deritanya. Ia ingin mencoba mengeluarkan berbagai macam rasa sakitnya. Apakah Adellia tak pantas bahagia?


Adellia berteriak, ia mengacak rambutnya yang tidak lagi beraturan.


Kenapa harus aku Tuhan? Kenapa harus aku yang semesta permainkan?


Adellia menekuk kedua kakinya lantas menenggelamkan kapala di antara keduanya. Sekali saja, biarkan Adellia menikmati kesendiriannya.


.


.

__ADS_1


.


Seorang pemuda berkaos hitam menyandarkan punggungnya lelah. Ia tengah mencoba meredam berbagai kekesalan yang mampir pada benaknya. Dia menyesal karena memilih opsi pergi dan meninggalkan gadis yang dicintainya. Ia kira menyerahkan Bella ke Auksa menjadi pilihan terbaik. Namun ia salah, kehadiran Auksa yang ia kira mampu menumbuhkan rasa bahagia pada Bella, ternyata malah membuat gadis itu menderita. Bukanya suka yang tiba namun malapetaka yang menghampiri.


"Argh!"


      Suara nyaring memantul dalam ruangan. Lebih tepatnya, si pemuda melempar vas berisi bunga plastik dari atas meja, pemuda itu mengacak rambutnya frustasi, lantas berdiri hanya untuk memporandakan segala benda yang berada dalam ruang lingkupnya.


"Bodoh banget sih lo! Kenapa lo malah pergi sih? Ish! Harusnya lo jagain Bella saja." Teriaknya menyalahkan diri sendiri. Ia tak bohong kalau rasa bersalah juga kecewa mendominasi hatinya.


"Sial!"


Pemuda itu melempar pisau buah sembarang.


Tepat! Pisau berujung runcing itu pas mengenai gambar seorang cowok berparas tampan. Senyumnya kecil namun nampak tulus.


"Lo, lo harus bayar semua perbuatan lo bro,"


Ujar si pemuda lantas tertawa keras. Ia menepuk foto itu berulang kali, lantas menyobeknya menjadi beberapa bagian.


"Lo harus lebih menderita daripada Bella. Lo nggak pantes dapet bahagia."


Kutuknya emosi. Pemuda itu terduduk lemas, kedua matanya menggulirkan air.


"I'm sorry Bell, I failed to be your friend,"


Gumamnya lirih, suara isakan pemuda itu bergaung dalam senyap.


"Maafin gue udah tinggalin lo Bel, maafin gue. Gue baru tahu, kalau aja gue udah tahu hal ini dari dulu, gue nggak bakal menetap di sini, gue bakal kembali ke Jakarta buat tenangin lo dari kecamuk masalah. Maafin gue Bel,"


Pemuda itu menangis, ia tak peduli dengan harga dirinya yang menurun karena tangisanya. Bella adalah pusatnya, dan ketiadaan Bella sama saja membunuhnya. Pemuda itu menggerang, kedua matanya memicing bercampur luapan emosi. Ia berjanji, bagaimanapun caranya, ia akan berusaha membuat hidup cowok yang telah membuat Bella menderita menjadi lebih menderita, ia bahkan bersumpah, akan membuat cowok itu dihantui rasa penyesalan mengenai perbuatannya.


"Lo tinggal tunggu bro, gue pastiin hidup lo bakal berantakan selepas ini."


Tekadnya bulat, lantas meraih ponsel untuk menghubungi anak buahnya.


"Clear my schedule for the next two days, prepare plane tickets, I'm going to Jakarta soon."

__ADS_1


"wait for me bel, I will return your lost happiness,"


Gumamnya lirih sembari melirik foto gadis cantik yang memenuhi layar ponselnya.


__ADS_2