
"assalamualaikum! ta Abang dah pulang nih bukain pintunya dong... Eh tunggu bentar kakinya Adek gwkan lagi sakit mm ... bibi sum bukain pintunya dong aku udah pulang nih" teriak Maulana sambil mengetuk pintu besar berwarna hitam itu dengan keras.
"kok ngga ada jawaban yah.... apa jangan-jangan bibi sum udah tidur kali ... hmm.. ck! masa gw manjat lagi sih ya Allah" Maulana memutar bola matanya kesal. Selalu saja jika bunda dan ayahnya tidak ada di rumah dirinya harus terpaksa memanjat tembok karena ia malas membawa kunci rumah bisa- saking sibuknya mengurus pekerjaan kantor membuat dirinya lupa dimana ia meletakkan kunci rumahnya.
Tek.
Tek.
Tek.
Maulana menghentakkan kakinya kesal dirinya sangat lelah seharian mengurus dokumen-dokumen penting. Dan di saat ia pulang malahan tidak ada yang menjawab dan membukakan pintu untuknya. Dia sangat ingin membaringkan tubuhnya yang sangat pegal ke ranjang yang empuk miliknya sambil mendengarkan lagu untuk mereflesingkan pikirannya.
"lama banget sih buka pintunya jangan-jangan beneran deh bibi sum udah tidur huh mana gw udah ngantuk banget lagi"
"auah gelap" iapun membalikan badannya berniat mencari tangga untuk ia naiki. Namun niatnya ia urungkan karena ia mendengar suara pintu terbuka ia pun membalikan lagi badannya dan hal pertama yang dia liat adalah Rifki yang tengah nyengir kuda sambil membawa ponsel di tangannya.
"hehe maaf telat bukanya soalnya tadi kudu bujuk si Yuni biar ngga jalan ke sini... Silahkan masuk bang maul hehe" ucap Rifki cengengesan.
Maulana menatap sengit Rifki "untung gw lagi capek jadi Lo ngga bakalan diapa-apain Ama gw udahlah Adek gw dimana??" tanya Maulana sambil melepaskan jasnya dan ia sampirkan ke tangan kanannya.
"ada kok di ruang tamu"
"sama siapa??" tanya Maulana menatap malas Rifki.
"sama Gilang Reza bang"
"ooh... Eh tunggu bentar( Maulana melihat ke arah jam tangan miliknya) Lo ngga pulang Ki?? udah jam setengah dua belas loh" maulana menunjukkan jam bermerek Louis Vuitton ke wajah Rifki membuat cowok berumur 16 tahun itu membelalak matanya terkejut bukan main.
"astagfirullah bang gw mau balik dulu ..... eh mau ke ruang tamu dulu ngabari si Reza Ama Gilang duluan ya bang " ucap Rifki panik dan segera menuju ke ruang tamu untuk memneritahukan kepada kedua temannya itu untuk segera pulang.
"iya gw tahu besok gw berangkat bawel banget Lo pada" ucap Yunita.
"namanya aja temen ya saling mengingatkan satu sama lain dong ta ya ngga za" ucap Gilang menyenggol lengan Reza.
"hmm"
mereka bertiga di kaget kan oleh kedatangan Rifki yang tiba-tiba berlari dan mengambil helmnya yang terletak di sofa tepatnya di samping sofa yang Yunita duduki.
"astagfirullah Ki Lo tuh ya suka banget bikin orang jantungan. kenapa coba lari-larian segala kaya orang kesetanan aja" ucapnya kesal memandang tajam Rifki.
__ADS_1
"sorry ta gw lagi buru-buru nih (Rifki menoleh kearah Reza dan Gilang berada). oy balik skuy" ucap Rifki berjalan mendekat kearah Gilang dan Reza.
"balik?? emang sekarang jam berapa Ki?.. Perasaan ini masih jam sepuluhan deh ya kan za??" tanya Gilang.
"hmm iya tuh bener" balas Reza mengiyakan ucapan Gilang tadi.
"masih jam sepuluh malam waduknya! sekarang tuh jam setengah dua belas malam cuy!" Reza dan Gilang kaget tak percaya apa yang di ucapkan Rifki itu benar pasalnya mereka berdua berfikir sekarang masihlah jam sepuluh malam tapi eh tapi... ternyata sekarang sudah memasuki jam setengah dua belas malam. tanpa berfikir panjang Gilang dan Reza langsung mengambil helm Meraka dan tak lupa berpamitan dengan Yunita.
"ta gw balik dulu yah dah " Gilang berjalan keluar terlebih dahulu di ikuti oleh Reza di belakangnya. Reza hanya melambaikan tangan kanannya.
"ta kita bertiga balik dulu yah..... inget jangan paksain jalan terlalu lama Lo pengin sembuhkan?? jadi nurut apa kata gw lagian Lo bosen kan kalo di rumah sendirian. Udahlah gw balik dulu hati-hati di rumah yah"
"iya bawel banget sih Lo ki udah Sono pergi ntar papi Lo marah loh" ucap Yunita.
"enak aja Lo bilang papi ayahlah jijik gw manggil bokap gw papi hiii jijik"ucap Maulana menggendikkan bahunya jijik dan berjalan menuju pintu keluar.
"kita bertiga pergi dulu yah assalamualaikum" ucap Meraka bertiga bersama-sama.
"waalaikumsalam hati-hati di jalan dah malem banget nih jangan ngebut kalo masih pengin liat dunia" teriak Yunita sambil terkekeh pelan.
"bang maul?? ngapain kesini bukannya tadi Abang udah tidur yah??" tanya Yunita yang melihat kakaknya yang berjalan ke arahnya dan ikut duduk di sampingnya. lelaki itu memakai kaos oblong berwarna hitam dan memakai celana pendek berwarna pendek.
"orang Abang tadi cuma mandi doang belum mandi kok" balas maulana.
Yunita ber'oh'ria.
"kok Lo belum tidur sih ta?? jam segini masih aja melek" tanya Maulana.
"tadi sih niatnya mau tidur tapi si trio Gantar Dateng kesini jadi ngga jadi deh tidur" jelas Yunita.
"mereka Dateng jam berapa emangnya??"
"sekitar jam sembilan lewat sepuluh menit doang"
"ngga takut apa mereka di omelin nantinya karena pulangnya malem banget"
"mereka ngga nyadar udah jam segitu jadi mereka santuy aja deh tapi kayaknya si Rifki tidur di ruang tamu lagi deh??" ucap Yunita sambil terkekeh geli.
"kok bisa gitu sih??" tanya Maulana.
__ADS_1
"ya bisalah kan bibi Tina bakalan berubah jadi iblis yang kejam kalo Rifki buat kesalahan yang ngebuat bibi tina marah besar"
"oh iya iya Abang baru inget" Maulana menggeleng-gelengkan kepalanya ia teringat adik sepupunya itu selalu di hukum oleh ibunya sendiri karena selalu berbuat onar bersama dengan adiknya itu bahkan dulu sewaktu sekolah menengah pertama, Rifki di kurung di kamarnya sendiri gara-gara dirinya terkena skorsing karena membuat onar untuk kesekian kalinya dengan teman segengnya yaitu Gilang , Reza dan siapa lagi jika bukan adiknya yang rewelnya minta ampun itu.
"gw kasihan banget sumpah sama Rifki ngga bisa bayangin pas masuk ke dalam rumah, bibi Tina bawa banyak guling buat Rifki tidur di ruang tamu lagi hahaha ngga bisa bayangin wajah Rifki nantinya" Yunita memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu banyak karena menggibahi tentang kakak sepupunya itu.
"udah lah jangan ngegibahin kakak sepupu Lo sendiri kena karma baru tahu rasa" tegur Maulana.
"iya iya kan gw cuma bercanda doang"
"sama aja ngga boleh"
"iya iya ngga lagi deh" Yunita tersenyum sebentar lalu dirinya teringat permintaannya tadi pagi kepada Maulana.
"bang kucing yang aku minta mana??" tanya Yunita memandang Maulana.
"ada diruang musik" balas maulana.
"hah?? kok di taruh di ruang musik sih bang??" aneh Lo bang masa kucing di taruh di sana sih bang batinnya kebingungan.
"biar dia bisa musik" jawab Maulana santai ia mengambil kopi miliknya yang ada di meja dan dia menyeruput kopi hitam kesukaannya dengan hikmat.
Yunita memandang Maulana dengan tatapan tidak percaya.
"yaallah bang yang bener aja masa kucing di suruh latihan musik. Otak Lo geser lagi nih pasti" Yunita menggelengkan kepalanya tak percaya.
Maulana terkekeh geli mau aja di booingin Ama gw batin Maulana berucap. "ngga ngga tuh kucing udah Abang taruh di kamar Lo kok"
Yunita memandang Maulana kesal. awas aja kalo gw udah sembuh bang innernya berteriak kencang.
"doyan banget sih Lo ngerjain gw" ucapnya kesal.
"hahahaha......jangan marahlah kan Abang cuma bercanda doang" ucap Maulana sambil tertawa kecil melijat adiknya yang sudah kesal kepadanya.
mumpung Yunita lagi sakit gw bisa kerjain lagian.... kerjainnya ngga parah-parah banget deh batinnya berucap.
"bodo ah gw mau ke atas dulu dah ngantuk"
jangan lupa untuk like share and coment dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini....
__ADS_1