TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
Playboy yang cemburu


__ADS_3

"oy ta dari tadi liatin pak Afandi Mulu.... naksir ya Lo" ucap Rifki di samping Yunita.


Yunita menggibas-nggibaskan rambutnya dan menoleh ke samping " hah kepo banget sih Lo jadi cowok"


"idih gw nanya baik-baik kok dasar adik sepupu lucnut Lo "


Rifki menatap kesal Yunita.


Yunita memutar bola matanya bosan dan kemudian dia kembali mengamati Afandi yang tengah bermain basket dengan para murid kelas X IPS 2.


Rifki mengamati perubahan wajah Yunita yang cepat berubah ketika melihat dirinya dan melihat Afandi.


gw yakin 100% si Yunita naksir sama pak Afandi tapi kenapa harus sama yang lebih tua banget sih... padahal banyak yang suka sama si Yunita bahkan semua cowok itu bisa terbilang tampan yaa walaupun ketampanannya itu tidak bisa mengalahkan ketampanan pak Afandi tapi ya lumayan lah tapi kenapa si Yunita naksir ya sama yang lebih tua *****... emang dia ngga tahu yah hubungan murid dengan guru itu di larang ucap Rifki di dalam hatinya.


kini mereka berada di lapangan basket karena kelas X ips 2 hari ini pelajaran olah raga dengan materi bola besar yaitu basket. Dan kebetulan guru yang biasa mengajar mereka tengah masuk ke rumah sakit karena terkena serangan jantung jadi Afandi yang kebetulan juga mengajar di bidang olah raga itu pun harus menggantikan pak Ifan yang masuk ke rumah sakit itu.


sudah hampir bel istirahat lebih tepatnya sudah setengah jam lebih Yunita duduk di bawah pohon mangga sambil mengamati lelaki tampan berambut emo bermata onyx yang bernama Afandi dengan tatapan penuh kagum damba dan memuja.


padahal tidak biasanya gadis itu melewatkan waktu beberapa sebelum istirahat ia gunakan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu karena gadis bermarga Anderson itu termasuk orang yang gila makan jadi dia akan memesan banyak makanan terlebih dahulu karena pasti jika dia telat sedikit pun makanan di kantin akan ludes seketika jadi dia harus datang ke kantin lebih awal dari yang lainnya.


Rifki selaku orang yang sedari tadi di samping Yunita yang tidak menggubris kedatangannya di sini menjadi ingin pergi ke lapangan basket karena ingin ikut bermain basket dengan para temannya tapi, ia Pati akan mendapatkan pukulan dari Yunita karena beraninya meninggalkan dirinya sendirian di sini.


ya lord apa yang harus aku lakukan hiks batin Rifki sedih.


pergi salah tidak pergi salah itu lah yang terucap di hati Rifki.


"kok gw kaya orang cupu sih jadinya ish!" ucapnya kesal.


Rifki menepuk jidatnya pelan kenapa sedari tadi dia tidak memainkan ponselnya saja ketimbang ikut melamun seperti yang dilakukan Yunita.


Rifki menaikkan kedua bahunya acuh, ia pun mengambil ponselnya dan memasang handset ke telinganya.


"auah gw mau main game " gumam Rifki.


jika Rifki yang kesal dengan Yunita karena gadis itu sedari tadi tak menganggap dirinya ada di sampingnya beda dengan Yunita yang kini menatap Afandi penuh dengan damba.


mata hazel itu fokus mengamati Afandi yang berlarian mengoper bola basket kearah ring basket dan memasukkan bola itu untuk kesekian kalinya kedalam ring yang tinggi itu.


rambut hitam yang basah karena keringat, wajah yang terkena sinar matahari, dan juga baju olahraga berwarna hitam yang basah terkena keringat membuat nilai plus tersendiri bagi seorang Afandi Miller.


"yallah kenapa dia begitu ganteng sih" gumamnya terpana kepada guru tampan bernama Afandi.


"ah! coba kalo kita berdua pacaran pasti cocok banget kita berdua bakalan jadi pasangan couple goals yang serasi banget hmmm" gadis bermarga Anderson itu tersenyum mengkhayal jika dirinya dan guru tampan itu menjalin hubungan asmara yang akan membuat para guru ataupun murid di sekolah ini menjadi iri dengan mereka berdua.


"tapi ngga mungkin deh... gw yang kek gini begitu bar bar ngga mungkin jadi ceweknya pak Afandi yang kalem pinter dewasa gw bukan tipenya dia" ucap Yunita insekyur.


"ya mau bagaimana lagi namanya juga berharap, toh ngga ada yang ngelarang kok" ucapnya kepada dirinya sendiri.


prit!..


suara peluit membuat murid kelas x IPS 2 yang asik mengadem di bawah pohon mangga menjadi masuk ke dalam lapangan basket.


"ya anak-anak pelajaran olahraga kali ini saya akhiri karena waktu istirahat akan segera dimulai..."


"yah pak lanjut dong main basketnya " ucap para murid laki-laki bersamaan memotong ucapan Afandi.


"saya masih ada urusan penting lainnya jadi kita lanjut Minggu depan materi bola besar... jadi yang ingin kembali ke kelas silahkan" ucapnya singkat padat dan jelas.


para murid pun mendesah kecewa bukan hanya murid laki-laki yang kesal murid perempuan juga kesal karena mereka tidak bisa melihat sosok malaikat yang berwujud manusia itu bermain basket.


setelah itu para murid kelas x ips 2 pun pergi meninggalkan lapangan basket dan berlarian menuju ke arah kantin karena ingin membeli makanan untuk memenuhi kebutuhan perutnya yang kelaparan.


bukannya pergi dari tempat itu Yunita malah mendekat ke arah Afandi.


"hai pak Afandi" panggil Yunita dengan senyum centilnya.


"kamu ngga ikut yang lain??" tanya Afandi mengambil buku nilai yang tergelak di bangku di pojok lapangan basket.


"malas mending aku bantuin pak Afandi aja sini pak aku yang bawain bukunya hehehe"


Yunita tersenyum lebar dan mengambil buku nilai yang berada di tangan Afandi dengan cepat.


"kamu mendingan belajar bukannya nanti ada ulangan geografi ya??"


"aaa itu mah gampang tadi malem aku udah belajar kok"


Afandi memandang Yunita sebentar "lalu setelah ini kamu mau kemana??"


"ngga tahu mungkin kantin... gimana kalo kita makan siang bareng udah lama ngga ngobrol-ngobrol gitu gimana??"


"hn... oke"


"oke kita ke kantin Bu Susi"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"eh Andhika tuh liat mantan Lo deket-deket sama guru baru itu..."


cowok yang bernama Andhika itu menatap sejoli yang tengah asik mengobrol bersama tanpa memperdulikan tatapan tajam yang ia lontarkan untuk kedua anak Adam itu.


"apa hubungannya sama gw.." ucapnya kesal.


"ck.. Andhika Andhika jangan sok jual mahal Lo gw tahu Lo tuh cemburu kan sama kedekatan mereka berdua "


"kita udah jadi mantan mana mungkin gw cemburu"


"sumpah gw Gedeg banget sama Lo an hp gw di jadiin tumbal buat nyeltangkingin si Yunita Lo malah sok sok an kek gitu gw tampol baru tahu rasa!" ucap Juno kesal.


"emang bener Jun??" tanya Husen kepo.


"iya lah nih kalo ngga percaya liat aja sendiri... Ig yang tadinya isinya ciwi² Korea jadinya isinya si Yunita beserta gengnya di kira gw yang naksir sama si Yunita kalo kek gini terus" ucapnya kesal. Juno berusaha tidak memukul kepala Andhika dengan buku paket yang baru saja ia pinjam dari perpus.


kalo rusak gw yang tanggung jawab enak aja batinnya berucap.


"eh iya ini isinya si Yunita sama gengnya semua wah wah kok gw baru tahu yah si playboy ini ternyata masih ada rasa sama mantannya" ucap Husen menatap Andhika tak percaya.


"apaan sih... udah ah gw mau cabut ke dalam dulu kumpul sama Lo berdua yang sukanya gibahin orang jadi tambah bikin gw gedeg" ucap Andhika berjalan masuk kedalam kelasnya tanpa memperdulikan tatapan kesal dari Juni dan Husen.


"kaya Lo ngga suka gibah aja he!" ucap juno kesal.


"iya emang si Andhika sok polos kek dia tuh ngga pernah gibahin orang padahal apa dia yang suka gibahin orang paling banyak dari sewaktu SMP hemm emang temen lucnut tuh orang"


"auah gelap... kantin yuk gw mau ambil fotonya si Yunita sekali-kali buat si Andhika cemburu gitu" ucap Husen.


"oh oke boleh juga ayok"


.


.


.


.


.


.


.


"Lo mau pesan apa??" tanya Yunita yang berada di ambang pintu kantin.


"kopi"


"udah itu aja??"


"hmm"


gadis berambut cokelat muda itu berjalan masuk kedalam kantin guna memesan makanan dan minuman yang akan ia dan Afandi santap.


setelah kepergian Yunita Afandi menggelengkan kepalanya pelan "dasar" ucapnya sambil terkekeh pelan.


.


.


.


.


.


"Lo pesen apa sen??" tanya Juno.


"tumben Lo mau mesenin makanan gw Kesambet apa Lo??" ucap Husen sambil bermain ponsel miliknya.


"udah lah jangan banyak b***t" ucap juno kesal.


"yaelah ngga usah ngegas juga kelez... nasi bakar sama jus jambu"


"udah itu aja ngga nambah nih biar sekalian gitu"


"yaudah puyam sama gorengan tempe"


"berapa??"


"lima ribu aja gw lagi kere soalnya" ucap Husen nyengir kuda.


"yaudah gw ke dalam dulu Lo amati tuh si pak Afandi jangan kemana-mana" ucap Juno.


"iya iya bawel sana cepet keburu habis"


"hmm"


Juno pun masuk kedalam kantin dan memesan makanan untuk dirinya dan Husen.


"Bu kopi satu, nasgornya satu terus jus jeruknya satu"


"tumben ta pesen kopi" ucap ibu Susi.


"iya itu buat pak Afandi hehehe.."


"ngga di kasih gula kan??" tanya ibu Susi.


"iya ngga terus itu jus jeruknya es batunya di banyakin biar dingin ngga kek kemarin itu si Ela "

__ADS_1


"si Ela mah sering kek gitu ta katanya sih biar irit es batu tapikan es batunya berjimbun-jimbun di kulkas"


"iya Bu omongin tuh sama si Ela biar ngga pelit nanti pada komplen kan parah"


"iya nanti ibu bilang ke Ela tenang aja"


"yaudah Bu itu aja nanti di kirim ke meja biasa yah"


"siap "


Juno berdehem pelan membuat Yunita menatapnya datar.


"apa kabar ta" ucapnya sambil tersenyum lebar.


Yunita menatap tajam Juno sebentar "apaan sih!"


setelah itu gadis berusia 15 tahun itu melenggos pergi meninggalkan Juno yang menatapnya kaget.


"yaelah masih aja galak kek dulu" ucap Juno kesal.


"eh Juno mau pesen apa??" tanya ibu Susi ramah.


"itu nasi bakar satu, nasi uduknya satu, jus jambunya satu, jus naganya satu.."


"jus naga?? mana ada Juno adanya jus buah naga"


"ck iya Bu maksudnya itu trus puyam sama gorengan tempenya lima ribu"


"oh oke oke..."


"eh tumben pesennya dikit amat Juno??" tanya ibu susi.


"iya itu si Andhika ngga ikut jadinya dikit deh pesennya"


"lah emang Andhika kenapa lagi tuh anak??"


"itu biasa galau gara-gara mantannya deket-deket sama pak Afandi" jawab Juno.


"OOO begitu ya... yaudah nanti ibu suruh Obi buat nganterin pesanannya udah kamu pergi dulu"


"ngga mau... aku mau ngamati dua sejoli Yunita sama pak Afandi aja sambil menunggu pesanan aku siap Bu"


"udah sana pergi banyak yang ngantri oy!" dari belakang terlihat perempuan berambut pendek memukul kepala Juno menggunakan centong kayu.


"yaelah galak banget Lo la" ucap Juno kesal sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena terkena pukulan dari Ela.


"dasar cengeng... udah Sono pergi masih banyak yang ngantri oy" ucap Ela galak.


"ya ya bawel!" ucap Juno kesal.


lelaki bertubuh tinggi berkulit putih itu pun pergi menuju ketempat duduknya.


"kenapa Lo Jun??" tanya Husen yang melihat Juno datang dengan wajah yang di tekuk sambil mengusap-usap kepalanya.


"dipukul sama Ela gara-gara gw ngga mau pergi dari dalam" ucapnya kesal.


"lagian Lo b**o lo Kan tahu sendiri yang kesini itu banyak Jun ya wajar aja si Ela mukul kepala Lo... pasti mukulnya pake centong yang buat sayur itu kan??"


"kan gw cuma mau ngamati si Yunita dari jarak yang begitu dekat... iya udah 5.... 12... 20 udah 20 kali kayaknya kepala gw di pukul sama centong sayur yang Ela lelang itu... ***** untung gw masih pinter"


"yaelah kan ngamatin dari sini aja udah lumayan deket kok ..... pinter sih iya tapi tapi sekali ngeblank masyaallah... dungunya minta ampun" ucap Husen terkekeh geli minat ekspresi Juno yang kesal.


"dasar temen lucnut Lo sen...."


"sorry...sorry bercanda..."


Juno menatap sebentar kearah depan lebih tepatnya mengamati dua sejoli yang tengah berduaan di depannya itu.


"gimana sen" tanya Juno menunjuk  ke arah Yunita dan Afandi.


"ya biasa aja mereka cuma ngobrol biasa aja"


"OOO... eh sen ini mata gw yang salah atau gimana sih ... kok gw ngerasa mereka berdua cocok yah??" ucap Juno menatap Yunita dan Afandi dari kejauhan.


"eh iya ya soalnya pak Afandi itu pendiem pake banget sedangkan si Yunita itu cerewetnya minta ampun "


"iya jadi serasi gitu ngga kaya pas si Yunita masih sama si Andhika udah si andhikanya cerewet si yunitanya cerewet sumpah ya sen gw kalo di deket mereka berdua gw ngerasa kaya di sekeliling gw itu ada banyak nyamuk gitu ngung.... ngung... telinga gw sakit jadinya"


"eh gw tahunya cuman gw yang ngerasain kek gitu ternyata Lo juga toh...." ucap Husen terkekeh geli.


"heh Lo mending sen jarang kumpul bareng sama si Andhika dulu gw nih yang sukanya ngumpul bareng sama tuh orang sumpah telinga gw seharian bisa sakit terus suara nguwng... ngung.... masih terngiang jelas si telinga gw *****...."


"sumpah humor abis"


mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal membuat para pengunjung kantin menatap aneh ke arah mereka berdua.


"hahaha ngakak banget sumpah.... tapi.. menurut Lo si Yunita itu masih ada rasa ngga yah sama Andhika??"


"gw rasa masih ada deh tapi rasa kekecewaan Yunita itu lebih besar ketimbang perasaannya terhadap Andhika "


"iya gw juga kalo ada di posisinya si Yunita gw demi apapun ogah banget maafin si Andhika dia itu udah keterlaluan banget jadi cowok"


"tapi Adhika sekarang kayaknya ngerasa amat bersalah dengan perbuatannya di masa lampau itu malahan sekarang dia jadi ngebucin banget sama si Yunita sampai nyetalkingin Ig nya si Yunita segala kan"


"Lo tahu sendiri karma itu bakalan ada buat orang-orang kek Andhika "


"ya... emang seharusnya kek gitu kan??"


jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2