TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
she


__ADS_3

"udahlah bang gw pergi dulu dah ngantuk banget nih hoammmm ngantuk banget " Yunita menutupi mulutnya yang menguap lebar karena rasa kantuk yang tak terhingga.


"oke" Maulana bangkit dari sofa yang ia duduki tadi. Tanpa persetujuan dari adiknya Maulana langsung menggendong Yunita membuat cewek bermata berwarna cokelat muda itu memekik kaget karena ulah kakaknya itu.


"ABANG!!!" pekik Yunita kaget.


"TURUNIN BANG TURUN GW!!! GW BISA JALAN SENDIRI CEPET TURUNIN GW" teriak Yunita memukul pelan dada Maulana.


Maulana tertawa terpingkal-pingkal. Mata hazelnya menatap adiknya yang berusaha keras untuk turun dari gendongan Maulana.


"udahlah kaki Lo masih sakit mana tega gw ngebiarin Adek gw yang kakinya masih sakit jalan ke kamarnya yang jaraknya sedikit jauh dari ruang tamu" ucap Maulana terus melanjutkan jalannya ia tak menghiraukan suara cempreng adiknya yang berteriak keras tepat di samping telinganya.


"NGGA CEPETAN TURUNIN GW BANG!!!! GW BISA JALAN SENDIRI BANG CEPET TURUNIN GW CEPET BANG!!!!" teriak Yunita untuk kesekian kalinya. Dia hanya tak mau di gendong oleh kakaknya itu karena itu membuatnya terlihat lemah. Hanya keselo saja dirinya sudah di perlakukan seperti ini oleh kakaknya dirinya tak ingin di cap adik manja oleh abangnya itu.


"udah kicep aja simpen suara Lo buat di sekolahan. Siapa tahu Lo berangkatnya telat ntar kan bisa teriak yang kenceng ke pas satpam" goda Maulana. Tak terasa mereka sudah berada di kamar yunita, ia meletakkan Yunita di atas kasur itu. namun ketika dia akan pergi dari kamar Yunita. Yunita malah menarik belakang kaos milik Maulana sehingga membuat Maulana jatuh di atas kasur dengan posisi tengkurap.


"Astagfirullah!!!! dasar Adek laknat ya loh!" ucap Maulana memandang adiknya kesal. gara-gara ulah adiknya itu yang menarik paksa tubuhnya membuat hidung mancungnya terbentur sangat keras membuat hidungnya terasa sakit seketika. ia membalikan badannya dan memandang kesal Yunita.


"itu belum seberapa bang! tunggu aja kalo kaki gw udah sembuh" Yunita tersenyum misterius membuat Maulana ingin menjatuhkan wajah adiknya itu ke dalam bantal agar dia Taru rasa betapa sakitnya ketika hidung yang mancung terbentur sangat keras.


"seharusnya Lo itu berterima kasih ama gw ta.... Gw udah berinisiatif gendong Lo supaya kaki Lo ngga sakit lagi..."ucap Maulana melotot melihat Yunita kesal.


"lagian siapa yang minta bantuan ke Lo.... gw juga bisa jalan sendiri kelez emang gw anak manja apah!" jawab Yunita tak mau kalah.

__ADS_1


"Lo itu emmmmmmm.... ( Maulana menghembuskan nafasnya kasar)" " sabar Maulana Anderson jangan kebawa esmosi eh emosi maksudnya" gumam maulana.


"gw apa?!" tanya Yunita sewot.


Maulana memandang adiknya greget yaallah kenapa adikku yang dulunya imut dan polos menjadi liar dan selalu durhaka kepada kakaknya sendiri kenapa yallah batin Maulana nelangsa.


"ngga jadi... Udahlah tidur besok kan Lo pengin berangkat sekolah jadi cepet tidur biar bangunnya ngga kesiangan" Maulana pun berjalan meninggalkan kamar adiknya itu. Ia sungguh lelah sekarang lelah raganya dan otaknya dia tak mau menyakiti adiknya gara-gara masalah sesepele itu dia tipikal kakak yang sangat menyayangi adiknya sendiri.


"tumben tuh orang ngga ngamuk??" gumam Yunita menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


"auah gelap... Tunggu kucing gw mana yah?? ( sambil mengamati ruang kamarnya) katanya ada disini tapi kok ngga kelihatan yah?? ah bodo Ahmad ah ngantuk hoammm tidur dulu besok baru nyari kucingnya" Yunita pun membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga sebatas dagu dan memejamkan matanya.


di sebuah kamar yang mewah terdapat seorang laki-laki yang berparas tampan memakai setelan tuxedo tengah menatap ke arah kaca yang tembus pandang. Kaca yang besar memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang indah dari atas sana.


"galih Carikan info mengenai 'dia' setelah kau menemukannya langsung bawa saja kerumahku"


"baik tuan akan saya kerjakan"


"hn... Ingat seluruh informasi mengenai dia jangan sampai ada yang terlewatkan" setelah mengucapkan hal itu lelaki itupun meletakkan handsfree miliknya di atas meja nakas dekat tempat tidurnya.


lelaki berparas rupawan itu berjalan ke arah ranjangnya iapun duduk di samping ranjangnya. Di ambilnya bingkai foto yang ada di meja nakas di dekatnya itu.


"kenapa dari dulu hingga sekarang aku masih memiliki perasaan terhadap mu?? kenapa kau malah melupakanku"ucapnya memandang bingkai foto seorang gadis kecil bermata cokelat muda bersurai cokelat muda tengah tersenyum manis menghadap ke kamera.

__ADS_1


lelaki bermata onyx itu mendudukan dirinya di pinggiran ranjangnya.


"huh aku ingin sekali memelukmu menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan pikiranku" ucapnya lirih kepala menunduk menatap tangannya yang ia takutkan.


"tapi aku masih merasa bersalah atas kejadian dua belas tahun yang lalu" ucapnya dengan nada kesedihan yang sangat ketara di dengar.


suara dering telepon terdengar memenuhi ruang kamar mewah itu. Tertera nama Nathan. lelaki tampan itu pun mengangkat panggilan telfon dari sahabatnya itu.


"Yoo bagaimana suasana hatimu?? apakah sudah membaik??" tanya Nathan di sebrang sana.


lelaki berwajah bak jelmaan dewa-dewa Yunani itu berdecak sebal " ck! untuk apa kau menghubungiku?? kalau tidak ada yang penting lebih baik ku matikan saja panggilan ini membuang waktu saja" ucapnya kesal suasana hatinya masihlah sangat kacau dirinya perlu menyendiri untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau itu.


"haish kau ini galak sekali. Aku meneleponmu karena ada hal yang sangat penting sekaligus kabar bahagia untukmu" ucap Nathan serius.


mendengar ucapan Nathan yang serius membuatnya ingin mengetahui apa yang akan di sampaikan oleh lelaki blasteran Jepang itu "langsung saja ke intinya" ucapnya datar.


"ini mengenai 'gadismu' itu"


lelaki bermata onyx itu melebarkan matanya mendengar perkataan nathan yang mengarahkan ke 'dia'.


"langsung saja ke intinya" ucapnya penasaran.


"kau ini kebiasaan tidak suka berbasa basi baiklah karena aku juga sedang sibuk akan ku beritahu padamu. Aku dan Janson sudah mengetahui dimana tempat dia bersekolah sekarang" tidak ada guyonan yang terdapat dalam nada bicaranya itu membuktikan bahwa apa yang di bicarakan oleh Nathan adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


mata sekelam langit malam yang indah itu membulatkan matanya sempurna. Ia tak menyangka bahwa temannya itu bisa mencari sekolah yang di tempati oleh gadisnya dengan waktu yang sangat singkat. Tapi ia sedikit tak heran pasalnya Nathan dan Janson adalah seorang polisi yang selalu di manfaatkan untuk mencari informasi mengenai keberadaan buronan penjahat ataupun orang-orang yang terlibat dalam jual beli narkoba. Karena kecerdasan Nathan dan Julio membuatnya naik pangkat menjadi detektif ya memang aneh sangat jarang hal itu di temui di dunia ini. Julio dan Nathan memiliki nilai yang sangat besar sewaktu kuliah dulu apa lagi mereka sangat pandai dalam bidan bela diri dan menembak mereka ahli dalam bidang itu, tak heran banyak kepolisian yang mau bekerja sama dengan dua orang itu.


jangan lupa untuk like share and coment cerita ini dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini...


__ADS_2