
dengan kesal cewek bermarga Anderson itu berjalan memasuki rumah mewah minimalis itu tanpa memperdulikan sang pemilik rumah yang ia tinggalkan begitu saja.
Afandi yang melihat Yunita pergi pun segera menyusulnya.
greb.
"hey... kau mau kemana?!"
lelaki tampan itu mencekal tangan Yunita dan juga tak lupa dengan tatapan bertanya yang ia perlihatkan.
Yunita berusaha tidak membentak Afandi yang seenak jidatnya mengagetkan dirinya.
jantung gw yaallah batinnya berucap.
dengan sekali hentakkan ia melepaskan cekalan tangan Afandi dari tangannya.
"gw mau nyari Thomas "
setelah mengatakan itu Yunita langsung berlari memasuki rumah bergaya modern itu.
tanpa disadari dari kejauhan Afandi memandang Yunita dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Thomas!.... Thomas ......" teriak Yunita.
gadis itu berteriak keras memanggil nama Thomas setalah dia masuk kedalam rumah milik Afandi itu.
matanya melihat kesana-kemari berharap menemukan orang yang ia cari.
"awas aja kalo Thomas sampai kenapa-kenapa... Lo bakalan gw hajar!" desis Yunita marah.
gadis bermarga Anderson itu menghampiri wanita berpakaian pelayan berniat bertanya keberadaan Thomas.
"mm.. permisi " ucap yunita sesopan mungkin.
wanita itu menoleh kesamping, dan menatap Yunita dengan tatapan bertanya.
"iya nona.... ada yang bisa saya bantu??" tanyanya sambil membungkuk hormat.
Yunita menggaruk pelan pipinya "aaa apa bibi mengetahui Thomas dimana??"
ketika wanita itu akan memberitahu keberadaan Thomas dia di kejutkan dengan kedatangan tuanya, bukan hanya itu saja ia juga mendapatkan tatapan tajam dari tuannya itu. tatapan itu seolah-olah berkata jika kau memberitahukan kepada dia maka aku akan memulangkan mu. dengan cepat ia memberi alasan jika dia tidak tahu karena dia hanyalah pembantu disini dan dia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"maaf nona saya hanya pembantu disini... saya undur diri ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu"
"tunggu..." ucap Yunita terpotong.
"jika kau ingin tahu keberadaan Thomas tanyakan saja kepadaku kenapa malah menanyakan kepada orang lain" ucap Afandi melangkahkan kakinya menghampiri Yunita yang tengah menatapnya kesal.
"kalo gw tanya ke Lo gw yakin 100% Lo ngga bakalan jawab pertanyaan gw kan?? jadi percuma aja gw nanya ke Lo mending gw nyari sendiri aja"
"rumah ini memiliki banyak ruangan di dalamnya jika kau mencarinya sendiri aku yakin kau tidak akan menemukan Thomas" Afandi memasukkan tangannya ke dalam saku celananya menatap Yunita datar.
Yunita menatap Afandi dengan alis yang menukik tajam. nih orang kenapa tiba-tiba kek gini sih?? aneh banget sih? kalo di lihat-lihat kok dia kaya psikopat gitu sih ih ngeri mending gw pergi aja ah mungkin tuh cowok salah minum obat kali batin Yunita berucap.
tak memperdulikan Afandi yang menatapnya datar Yunita lebih memilih untuk mencari Thomas saja ketimbang menggubris omongan Afandi yang akan membuang-buang waktunya, ia yakin Afandi tidak akan menyakiti Thomas karena Thomas adalah keponakannya sendiri.
"dasar aneh kok gw bisa naksir sama cowok begitu sih " gumamnya lirih.
Yunita berjalan melewati beberapa ruangan berpintu kayu berwarna cokelat dengan tenang suasana yang hening membuat dirinya bisa berfikir dengan jernih dan ia berniat membuka pintu yang berada di sebelah kanannya ketika dia akan membuka pintu itu Yunita mendengar suara seseorang yang ia kenal.
ia pun langsung membuka pintu itu dan..
dia melihat Thomas yang tengah asik bermain PS sambil memakan beberapa cemilan khusus untuk anak-anak.
__ADS_1
"Thomas" panggil Yunita.
merasa ada yang memanggil namanya Thomas pun menoleh ke samping dan dia melihat Yunita yang berjalan menghampirinya.
anak berusia sekitar lima tahun itu tersenyum lebar ia meletakkan PS nya begitu saja dan berlari memeluk yunita.
"kak cantik aku kangen banget sama kakak" ucapnya bahagia.
"kakak juga kangen sama Thomas " balas Yunita sambil mengelus-elus punggung mungil Thomas.
mereka melepaskan pelukannya.
Yunita menatap Thomas lalu mengecek apakah ada luka di tubuh Thomas sedikit pun.
Thomas menatap Yunita bingung. "kak ada apa??"
"Thomas pamanmu itu tidak menyakitimu kan??" tanya Yunita khawatir.
untuk sementara waktu Thomas berusaha mencerna pertanyaan yang Yunita lontarkan...
1 detik ..
2 detik..
3 detik...
4 detik..
5 oke cukup...
"hahaha... kakak cantik ini ada-ada saja tentu saja paman ku tidak akan menyakiti ku kan aku adalah keponakannya yang paling ia sayangi" ucap Thomas sambil tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang sakit.
Yunita terdiam sebentar, ia seperti orang bodoh sekarang tentu saja Afandi tidak akan menyakiti Thomas dasar bodoh! aduh malunya batinnya berucap.
Yunita menggaruk-garuk pipinya pelan.
"aa... tapi kenapa tadi pamanmu itu seperti akan menghukum mu "tanya sambil tersenyum masam.
"oo itu karena aku melanggar janji dengan paman jadinya dia seperti itu deh" ucap Thomas santai dia berjalan menghampiri sofa dan duduk di sofa itu tak lupa ia menyuruh Yunita untuk duduk di sampingnya.
"kak imut sini duduk bareng sama aku hehehe" ucap Thomas tersenyum imut.
Yunita pun berjalan menghampiri Thomas dan ia pun duduk di samping Thomas yang sedari tadi tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lebar miliknya.
Thomas menatap Yunita tanpa berkedip.
kata ayah jika ada seorang perempuan yang mengkhawatirkan mu itu artinya dia menyukaimu apakah kak cantik itu suka sama aku yah ?? kak imut menghawatirkan aku jadi apakah dia ada rasa sama aku aduh gimana ini?? batin Thomas berucap.
"Thomas.. Thomas..." panggil Yunita membuyarkan lamunan Thomas.
"aaa ya kenapa ??"
"kamu tadi kenapa senyum-senyum sendiri??"tanya Yunita sambil terkekeh pelan.
"tidak apa-apa" balas Thomas mengalihkan pandangannya kearah layar ponsel miliknya yang menyala menandakan ada pesan masuk.
Thomas pun langsung mengambil ponselnya. ia melihat satu pesan dari pamannya, tanpa menunggu lama Thomas langsung membuka pesan itu dan membaca pesan yang dikirimkan oleh pamannya itu.
"dari siapa??" tanya Yunita tiba-tiba membuat Thomas kaget.
"kakak ini aku kaget tahu..." ucap Thomas sambil mengelus dadanya pelan.
Yunita nyengir kuda "hehe maaf"
"dari siapa "tanyanya sekali lagi.
"dari paman" ucap Thomas menoleh sebentar ke arah Yunita.
"dia mengirim pesan apa??" tanya Yunita kepo.
"kata paman dia sedang masak di dapur kalo kakak ngga sibuk paman minta kakak ke sana buat nyicil masakannya" ucap Thomas meletakkan ponselnya.
"lah masak??"
bukannya tadi si Afandi masih ada di ruang tamu kok cepet banget sih?? batinnya bertanya.
"eh maksud aku itu paman lagi di dapur mau buat makanan bukannya lagi masak aja gimana sih Tah pokoknya itu deh "
Yunita terkekeh geli ketika melihat Thomas yang bicaranya berbelit-belit.
"iya iya kakak ngerti yaudah kakak mau pergi dulu ya"
__ADS_1
"kakak mau kemana??"
"mau bantu paman kamu masak lah kasihan dia kerepotan"
"ngga usah di bantuin kak tenang aja paman aku itu jago masak dia malahan ngga senang kalo ada yang ngebantuin dia"
Thomas duduk tenang sambil memejamkan matanya.
"masa sih??" tanya Yunita tak percaya.
"iya. soalnya aku pernah melihat teman paman itu mau membantu dia masak tapi ujung-ujungnya temannya paman malah kena omel sama paman karena bukannya bantuin malah ngerepotin dia"
Thomas melirik sebentar kearah Yunita berharap Yunita percaya dengan ucapannya dan tetap disini menemaninya bermain game.
sebenarnya Thomas berbohong mengenai pamannya itu adalah orang yang akan marah jika ada seseorang yang membantunya masak malahan dia akan senang jika ada seseorang yang membantunya memasak.
tapi Thomas juga tak sebenarnya berbohong karena memang ada teman pamannya itu yang berniat membantu pamannya malah mendapatkan Omelan dari pamannya itu karena temannya itu menumpahkan masakan yang baru saja Meraka masak dan hal itu yang membuat pamannya murka.
jadi intinya dia hanya tidak ingin Yunita pergi meninggalkannya biarlah dia menjadi keponakan yang durhaka kepada pamannya toh lagi pula pamannya itu ahli dalam bidang masak jadi ia tidak perlu bantuan Yunita lagi.
"tapi kan kasihan kalau paman kamu ngga ada yang ngebantuin ntar dia kerepotan yaudah deh kakak ke sana aja deh kamu disini aja ya jangan kemana-mana bye bye..."
Yunita pun langsung pergi menuju ke dapur
"aaa kakak!.."
"huft menyebalkan!" ucap Thomas kesal
.
.
.
.
.
.
.
tak... tak... tak...
lelaki berambut emo itu tengah memotong-motong wortel dengan cepat seperti cheff yang ahli.
terdapat beberapa bahan-bahan makanan yang tergeletak di meja, Afandi berniat memaksakan makanan untuk Thomas dan Yunita.
apron berwarna hitam yang melekat di tubuh atletisnya menambah ketampanan dari sekarang Afandi Miller.
lelaki bermata onyx itu tengah fokus dengan masakannya yang sedang ia masak saking fokusnya dia bahkan tak menyadari kedatangan Yunita yang sedari tadi menatapnya dengan penuh damba.
"ekhem!" Yunita berdehem keras membuat lelaki berambut emo itu menoleh ke arahnya.
"Hay..." sapa Yunita.
Afandi melirik sekilas Yunita lalu ia kembali fokus dengan kegiatannya.
"lagi masakan apa?? boleh gw bantu ngga??" tanya Yunita.
"bukankah kau sedang bersama dengan Thomas??" tanya Afandi tanpa mengalihkan pandangannya.
"iya itu tadi tapi Thomas bilang dia dapet pesan dari Lo jadi gw kesini deh siapa tahu Lo butuh bantu gw gitu kalo ngga ya ngga apa-apa ngga masalah"
"kau duduk saja itu sudah cukup membantuku" ucap Afandi.
"itu malah ngeropotin ayolah masa ngga ada yang bisa gw kerjain sih gw walaupun kek gini jangan salah ya gw itu jago masak asal Lo tahu" ucap Yunita membanggakan diri sendiri.
Afandi menghentikan kegiatan memotong sayurannya sebentar, ia menoleh ke Yunita "benarkah??" tanyanya dengan sebelah alis yang yang terangkat.
"hump... iya kalo Lo ngga percaya gw bisa buktiin sini mana yang perlu gw masakin??" tanya Yunita melihat-lihat bahan-bahan yang tergelar di meja marmer di hadapannya.
"terserah dengan mu saja tapi buatlah masakannya lebih sedikit asin karena Thomas menyukai masakan yang asin" ucap Afandi Kemabli melanjutkan kegiatan memotong sayuran yang ia tunda tadi.
"oke dengan senang hati kebetulan sekali gw suka makanan yang asin"
Yunita pun mengambil bahan-bahan itu dan mengambil beberapa sayuran yang akan ia cuci bersih.
"pakai ini supaya bajumu tidak kotor" ucap Afandi menyerahkan apron berwarna biru tua kepada Yunita.
"makasih" ucap Yunita.
__ADS_1
mereka berdua pun bersiap-siap untuk memasak makanan yang akan mereka makan.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini...