TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
canggung


__ADS_3

Yunita berniat mengambil novel itu namun letak novel itu sangatlah tinggi dan sulit di jangkau jika tidak menggunakan kursi.


karena Yunita sangat menyukai novel tersebut dengan cepat dia mengambil kursi kayu yang berada di dekatnya dan ia pun naik ke atas kursi untuk mengambil novel favoritnya itu.


"yaampun ini beneran novel itu... inikan edisi tahun 1859. gw aja bacanya lewat situ web tapi kenapa Afandi punya nih novel ya.. auah gelap gw mau minjem nih novel buat di baca di rumah"


ketika dia akan turun dari kursi itu tiba-tiba kakinya sakit dan dia hilang keseimbangan dan kursi yang ia naiki pun terjatuh tetapi untunglah sebelum dirinya dirinya ikut terjatuh bersama dengan kursi itu ada sebuah tangan yang menangkap tubuhnya agar dirinya tidak jatuh ke lantai.


Yunita memejamkan matanya erat menunggu dimana rasa sakit karena terjatuh menyerangnya namun, bukannya merasakan sakit Yunita malah merasakan tangan yang melingkari pinggangnya dengan nafas yang masih tidak beraturan karena takut terjatuh ke lantai ia memberanikan diri untuk membuka matanya.


deg! seketika jantungnya berdegup kencang ketika mata cantiknya melihat wajahnya dan juga wajah Afandi sangat dekat, saking dekatnya wajah mereka Yunita bahkan bisa merasakan hembusan nafas Afandi yang menerpa wajahnya.


"a...afandi..."


"kenapa kau ceroboh sekali Yunita?! jika saja aku tidak datang tadi mungkin kau sudah terjatuh... aku kan sudah bilang jangan kemana-mana kenapa kau suka sekali membuatku khawatir hah?" ucap Afandi dengan tatapan yang campur aduk antara marah kesal dan khawatir.


tunggu?? dia bilang apa??


khawatir?? .


"gw... gw minta maaf... gw.." ucap Yunita merasa bersalah.


di sisi lain Thomas tengah mencari Yunita dan Afandi yang masih berada di perpustakaan.


"Thomas biarkan mereka berduaan oke jangan mengganggu mereka" ucap ayah Thomas di sebrang sana.


"tidak tidak tidak... mereka tidak boleh bersama kakak imut itu milikku ayah suruh pan mencari perempuan yang lain saja kan dia tampan dia pasti tidak akan di tolak oleh perempuan jadi biarlah paman yang mengalah kali ini" ucap Thomas dengan nada kesal.


dia kini tengah menelfon ayahnya karena ayahnya yang memintanya dengan alasan dia ingin mendengarkan suara putranya itu saja.


Thomas menggerutu sebal kenapa ayahnya lebih memihak pamannya ketimbang dirinya yang sudah jelas adalah anak kandungnya sendiri.


"Thomas kamu itu masih kecil mana mungkin kakak cantik kamu itu suka sama anak kecil seperti mu itu"


anak bermata onyx itu menatap kesal telfon genggamannya seolah-olah itu adalah sang ayah.


"yang benar saja ayah kau sungguh menyakiti hatiku.. aku ini anakmu bukan sih kenapa kau lebih memihak kepada paman ketimbang aku... " ucapnya kesal.


menyebalkan!.


"Thomas bukan seperti itu maksud ku adalah kau masih sangat kecil. jika sampai ibumu mengetahui hal ini dia pasti akan mengurungmu di kamar.. kau tahu sendiri ibumu seperti apa kan?? lebih baik mendapatkan nasehat dari ku yang seperti ini ketimbang di kurung oleh ibumu bukan??"

__ADS_1


Thomas menghentikan langkahnya sebentar, dia memasang wajah datar.


"memangnya kak Yunita suka dengan paman yang notabennya sudah tua itu" ucap Thomas kesal.


Revan yang mendengar omongan pedas sang anak menatap tak percaya handphonenya.


dia memang anakku batinnya berucap.


"tentu saja dia menyukai pamanmu karena memang mereka sudah di takdirkan bersama"


"ayah ..."


"hmmm ya kenapa??"


"sejak kapan kau menjadi seorang cenayang??" tanya Thomas kembali berjalan menuju ke perpustakaan pribadi milik pamannya.


"haduh... sudahlah intinya jika kau ingin melepaskan kakak cantikmu itu ayah berjanji akan memberikan mu mainan baru lagi apa yang kau mau ayah akan belikan.."


"sungguh??" ucap Thomas senang.


"iya tetapi kau harus membiarkan mereka bersama oke.."


maaf kak cantik mainan-mainan baru itu lebih penting ketimbang dirimu batin Thomas berucap.


"yasudah aku tutup dulu telponnya bye ayah" Thomas langsung menutup panggilnya itu sepihak tanpa menunggu sang ayah mengiyakannya.


"huh tenang masih banyak perempuan lain di luar sana Thomas dan kau itu masih kecil mana mungkin berpacaran dengan seorang yang lebih tua darimu mau dimana muka ayah ibumu di taruh haduh..."


Thomas menyipitkan matanya ketika melihat ruang perpustakaan pribadi pamannya yang terbuka lebar.


"tumben paman membiarkan pintunya di buka begitu saja ... (dia melirik kesana-kemari memastikan tidak ada orang di situ selain dirinya) sepertinya ada yang janggal lebih baik aku masuk saja ke dalam"


dengan cepat Thomas berlari menuju ke perpustakaan itu.


"paman! apa yang terjadi-......"


seketika mulutnya terbuka membentuk huruf o ketika melihat pemandangan di depannya yang tidak sebenarnya tidak boleh di lihat oleh anak kecil sepertinya.


mata onyx nya menangkap pemandangan pamannya dan juga Yunita yang tengah berpelukan dengan jarak yang begitu dekat.


ternyata bukan hanya Thomas yang terkejut Afandi dan juga Yunita juga terkejut dengan kedatangan Thomas yang datang dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Afandi dan Yunita saling menatap sebentar sebelum Yunita mendorong tubuh Afandi menjauh.


Thomas mengedip-ngedipkan matanya ia seakan sadar dengan keadaan canggung seperti ini yang terjadi karena ulahnya anak bermata onyx itupun langsung pergi dengan alasan sang ayah tengah menelfonnya.


"apa ayah... apa suaramu tidak jelas... paman kak Yunita aku sebentar silahkan lanjutkan yang tadi dah..."


Thomas pun pergi begitu saja membiarkan dua sejoli yang tengah saling canggung satu sama lain.


"Thomas kenapa kau berteriak-teriak?? telinga ayah sampai sakit banget jadinya"


"ayah ayah maafkan aku tadi itu aku sedang mengalihkan perhatian.."


Thomas tak henti-hentinya terkekeh geli ketika mengingat kejadian tadi.


"mengalihkan perhatian apa maksudmu??"


"ayah tadi itu aku melihat paman sedang memeluk kak Yunita dengan eratnya"


"hah?? kau jangan membual Thomas "


"tidak ayah itu memang benar terjadi jika kau tidak percaya silahkan cek cctv yang ada di dalam ruang perpustakaan pribadi milik paman" ucap Thomas kesal karena sang ayah tidak percaya dengan omongannya.


"tapi kenapa kau tidak memotretnya ??"


"mana sempat ayah aku sedang shock saat itu.. sebenarnya adegan itu juga tidak boleh di lihat oleh anak kecil seperti aku ini karena mereka berpelukan dengan jarak yang sangat dekat wajah mereka saja hanya terpaut beberapa inci saja.."


"oo begitu... tunggu! kau bilang apa?! "ucap Revan shock.


Thomas menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. sepertinya aku salah bicara batinnya berucap.


"bilang ke pamanmu untuk datang ke mansion malam ini! aku akan memanggil kepalanya karena telah berani mengotori matamu itu!"


Thomas menatap takut kearah handphonenya. sepertinya akan terjadi perang dunia ketiga....


"mmm ayah.. aku tidak bisa mendengar mu apa ... apa... oh tidak jaringannya "


Tut! dengan cepat Thomas mengatur nafasnya yang memburu. Thomas mengelus dadanya pelan.


seharusnya aku tidak mengatakan itu ... pasti ayah akan mengamuk di mansion haduh dasar mulut kurang kerjaan sukanya membuat masalah saja.


jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2