TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
flashback on


__ADS_3

akhirnya setelah lima jam menempuh perjalanan yang melelahkan itu Maulana dan teman-temannya telah sampai di sebuah gedung yang telah terbengkalai.


Maulana dan teman-temannya langsung berpencar untuk mengepung para orang-orang yang berada di dalam gedung.


tim di bagi menjadi dua yaitu yang diketuai oleh Maulana sendiri dan juga yang satunya diketuai oleh temannya Revan.


"kau pergi ke seluruh tempat yang berada di atas aku yang ada di bawah"ucap Maulana.


"baiklah kalau seperti itu kita tidak boleh membuang waktu lagi kita harus bergegas"


Tim Maulana dan maulana sendiri langsung pergi ke semua tempat yang berada di atas gedung sedangkan tim Revan serta Revan sendiri pergi ke semua tempat yang berada di bawah.


tak lupa mereka juga menyiapkan alat komunikasi untuk terhubung satu sama lain.


karena keadaan gedung yang gelap menjadikan mereka tak lupa menyalakan senter yang berada di senjata mereka masing-masing.


lorong demi lorong di lewati oleh Maulana dengan sigap anak sulung keluarga Anderson itu mengamati ruangan-ruangan yang kosongĀ  karena ruangan-ruangan itu tidak memiliki pintu membuat maulana dan teman-temannya mudah mengecek satu-persatu Rungan disitu.


"hey apa kau menemukan adikmu??"


ketika dirinya sedang fokus dengan kegiatan mengecek satu-persatu ruangan yang tak memiliki pintu itu tiba-tiba dia di dikejutkan oleh suara Revan yang tiba-tiba muncul di..... miliknya.


"astagfirullah kau mengagetkanku saja!"ucap Maulana kesal.


"hey yang aku inginkan itu kau menjawab pertanyaan ku bukan malahan berucap dengan nada kesal seperti itu"ucap Revan dari ....


"jika aku sudah menemukan adikku pasti aku akan langsung memberitahumu dan teman-teman yang lainnya jika aku belum berarti artinya aku belum menemukan Yunita "


"aku hanya bertanya kau perlu jawab iya atau belum tau kau malah menjawabnya panjang dan lebar"


"apa mau mu Revan?!"


"mau ku adalah kau dan teman-teman langsung pergi ke tempatku berada"


"memangnya kenapa??"


"karena aku telah menemukan adikmu"


Maulana menghentikan langkahnya dan teman-temannya yang minat hal itu juga ikut menghentikan langkahnya karena Maulana adalah ketua tim mereka jadi mereka semua akan mengikuti apapun yang maulana lakukan dan juga perintahkan.

__ADS_1


"Revan apa kau tahu resiko membuatku marah hah?!"


"hey hey tenang... aku tidak berbohong asal kau tahu aku benar-benar menemukan adikmu tapi dia dikurung di sebuah ruangan yang ada beberapa orang di dalamnya mungkin orang-orang itu adalah orang-orang yang menculik Yunita jadi .... aku menginginkan kau untuk segara pergi kesini lantai tujuh tempatnya dan jangan lupa untuk mengajak anak buah mu itu kurasa kita sebentar lagi akan berperang"


"baiklah kau tetap berada disana aku dan teman-teman akan segara pergi kesitu"


"baiklah tapi aku harap kau tidak menghubungi ku dulu saat di perjalanan karena orang-orang itu sepertinya telah mengetahui keberadaan ku dan anak-anak"


"iya iya aku tahu"


Maulana dan teman-temannya pun langsung bergegas ketempat Revan yang perintahkan.


ketika didalam perjalanan menuju ke tempat Revan berada telinga Maulana mendengar suara tembakan yang. berasal dari lantai tujuh.


s**l pasti mereka sedang berkelahi!.


sesampainya mereka ditempat yang Revan perintahkan maulana melihat jelas Revan dan juga temannya tengah mencoba melumpuhkan beberapa orang yang menjadi dalang penculikan itu, Maulana langsung melayangkan serangannya dan satu musuh pun tumbang seketika.


Maulana pun memberi arahan kepada teman-temannya untuk mengepung orang-orang yang berani menculik adiknya itu.


Revan yang melihat Maulana yang datang tepat waktu menepuk pundak maulana pelan.


"dimana adikku??"


tak ingin membuang waktu lagi Maulana langsung melayangkan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan.


Revan berjalan mendahului Maulana membuat anak sulung dari keluarga Anderson itu menarik belakang hoddie milik Revan.


"kau mau kemana?!"


Revan menatap malas Maulana. dasar temannya itu tidak bisakah dia bersikap keren jika seperti ini Revan tidak akan berterimakasih kepadanya.


"kau ingin tahu dimana adikmu bukan??"


"iya"


"maka dari itu ikuti saja langkahku!"


Meraka berdua diikut oleh teman-temannya berjalan kesebuah ruangan yang satu-satunya terdapat pintu di sana.

__ADS_1


"di dalam ruangan itu adalah tempat dimana adikmu berada"


flashback off.


setalah itu yang Rifki tahu adalah maulana serta teman-temannya berhasil membawa Yunita pulang dan meringkus para penjahat itu untuk masuk kedalam jeruji besi.


ketika Rifki sedang asik mengkhayal kejadian penculikan yang terjadi beberapa tahun itu tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh suara Gilang yang tepat di samping telinganya.


"Rifki! astagfirullah kok Lo budeg banget sih jadi orang hah?!!!" Gilang menatap kesal Rifki yang tengah menatapnya bertanya.


"apa!?"


Gilang memutar bola matanya jengah lalu dengan dagunya Gilang mengkodekan kepada Rifki untuk melihat dua orang yang tengah mengobrol membuat cowok bernama panjang Rifki Prasetyo itu menatapnya tak percaya.


"hah kok bisa sih??"ucap Rifki ketika melihat Yunita yang tengah berbicara dengan Reza seperti biasanya.


perasaan tadi Yunita ngga mau jawab omongan gw yah??? tapi kenapa pas di deketin sama Reza dia langsung mau curhat?? gumam Rifki.


"Lo sih ngelamun jadinya si Yunita curhatnya sama Reza" Gilang menopang dagunya memandang Yunita dan Reza yang tengah berbincang-bincang. Sebenarnya ada sedikit rasa iri karena Reza selalu saja bisa membuat Yunita yang tadinya ketakutan menjadi tenang dan Reza adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi orang yang Yunita percayai.


oke gw cemburu walaupun gw udah ngga suka sama si Yunita tapi gimana ya.. ya sedikit iri aja sih bodo amat lah kok gw malah mikirin mereka sih gw kan ganteng banyak cewek-cewek luar sana yang suka sama gw jadi ngga udahlah peduliin mereka berdua batinnya berucap.


"males gw debat Ama Lo Ki"


Rifki pun berjalan menghampiri Reza dan duduk disebelahnya.


"gw harap kedatangan gw kesini ngga ngebuat Lo berhenti cerita lagi ta" ucap Rifki.


mata sipit milik Rifki menatap wajah Yunita yang menyunggingkan senyum tipisnya.


"ngga Ki untung Reza menyemangati gw jadi gw ya sedikit lebih baik dari yang sebelumnya"


"ta kalo Lo ngga kuat gw bakalan ngomong sama pak Karen gimana??"


Yunita menggelengkan kepalanya"ngga malu-maluin aja Lo Ki "


sudut bibir Rifki berkedut pelan mendengar perkataan Yunita bahwa dia akan mempermalukan Yunita jika dia memberitahukan kepada guru bermata pelajaran sejarah itu bahwa Yunita mengidap fobia terhadap cewek yang menjadi teman sebangku Yunita sendiri.


"malu-maluin? yang bener aja ta padahal itu juga demi kebaikan Lo sendiri ta"

__ADS_1


jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini...karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap hari loh...


__ADS_2