
"ah kalian mengganggu acara makan ku" Nathan berdecak sebal mengerucutkan bibirnya dengan kerutan di dahinya yang muncul.
"bodo Ahmad! aku pusing kenapa aku bisa berteman dengan maniak ramen seperti mu Nat" Kenny menepuk dahinya. menghadapi kelakuan dari Nathan yang aneh seperti ini membuatnya setetes tujuh keliling.
"whatever" Nathan membalas ucapan Kenny sambil menyeruput kuah ramennya.
"hey Nat kenapa si Iceman itu belum datang juga?"
Nathan hanya melirik sekilas ke arah janson ia mengunyah mie ramen itu sebentar.
"tadi dia bilang akan datang terlambat ada urusan penting katanya" ucap Nathan.
"padahal dia sangat benci kepada orang yang datang terlambat" gumam janson.
"arhhhh kenapa si Afandi belum datang-datang sih sampai kapan kita harus menunggu satu orang itu!!!" Kenny berteriak frustasi pasalnya dia sudah menunggu Afandi di sini selama dua jam karena ini adalah apartemen miliknya, jadi ia malas menunggu orang selama itu ia ingin segera pergi dari apartemennya karena ia sudah ada janji dengan salah satu kliennya.
tepat beberapa menit Kenny berteriak seorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya pun memasuki apartemennya.
Nathan yang tengah sibuk dengan cara mainnya merasa aneh karena janson dan Kenny tidak mengeluarkan sepatah katapun lalu ia menengadahkan kepalanya. bibirnya menyunggingkan senyumnya sahabatnya itu sudah datang seketika iapun melupakan ramennya yang ia anggap sebagai jiwanya itu.
"yo panpen kenapa kau datang terlambat dattebayo??" Nathan menghampiri lelaki berwajah datar bermata onyx yang berparas tampan itu.
terlihat lelaki itu menatap tak suka Nathan yang seenak jidatnya memanggilnya dengan panggilan 'panpen' itu membuat dirinya ingin muntah seketika.
ia berdecak sebal memandang sengit sahabat karibnya "jika aku mendengarmu memanggilku dengan julukan itu akan ku penggal kepalamu!"
__ADS_1
lelaki bermata onyx itu segera menjauh dari Nathan dan berjalan ke salah satu sofa single di situ. Ia meletakan jaketnya di sandaran sofa single tersebut dan ia mendudukkan dirinya di sofa berwarna cokelat itu.
nathan mengaduh kesakitan karena janson menyikutnya keras. Nathan melayangkan tatapan tajam kepada janson.
"hey jangan menatapku seperti itu aku masih normal oke." ucap janson berkacak pinggang.
"cih kau pikir aku sudah tak normal apa?! asal kau tahu aku juga masih mencintai kekasihku!" balas Nathan kesal.
"aku menghampirimu bukan untuk berkelahi tapi aku menghampirimu untuk menanyakan suatu hal yang mengganjal " ucap janson serius.
Nathan menatap janson dengan ekspresi wajah kebingungan. "tentang apa??"
Janson mengisyaratkan dari tatapan matanya mengarah ke Afandi yang menatap kosong ke arah depannya ." Tentang kenapa Afandi memasang ekspresi wajah seperti itu"
nathan memutar bola matanya malas "hey dari dulu dia memang sering memasang wajah seperti itu dari mana saja kau ini teman sendiri saja tak tahu kebiasaannya ck ck ck" Nathan menggelengkan kepalanya sambil berdecak sebal.
mendengar perkataan Janson Nathan pun mengamati wajah Afandi dan benar apa yang di katakan oleh janson tatapan Afandi yang biasanya datar dan tajam kali ini ada sedikit kesedihan di mata sekelam langit malam itu.
"benar juga tatapannya menyiratkan kesedihan yang mendalam..... mungkin dia sedang ada masalah" ucap Nathan.
Afandi POV.
setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengannya aku... sangat merindukannya apakah dia tak mengingatku?? licik sekali aku mati-matian untuk terus mengingatmu apapun yang terjadi tapi kau malah melupakanku.
Aku bahkan menjaga diriku agar tidak mengalami kecelakaan ataupun berurusan dengan hal hal yang akan menyebabkan hilang ingatan tapi kau dengan mudahnya melupakanku.
__ADS_1
perasaan ini masih sama seperti dulu cintaku masih sama seperti dulu. Kau masih ada di dalam hatiku kau masih menjadi pemilik hati ini hanya kau yang bisa melelehkan benteng es tebal yang ada di hatiku. sudah sepuluh tahun lamanya kita tak bertemu kau masih sama ceroboh dan.... cantik.. kau malah bertambah cantik pasti banyak lelaki yang mendekatimu ck! hanya memikirkan hal ini saja membuatku marah.
apakah dia sudah pernah pacaran ?? apakah dia mencintai lelaki lain?? pertanyaan itulah yang menghinggap di otakku selama sepuluh tahun ini... berputar terus di kepalaku membuat diriku ingin segera menemuimu dan mengurungmu di dalam ruangan supaya kau tidak dekat-dekat dengan lelaki hidung belang diluar sana.
huft!.. aku ingin memelukmu dan menumpahkan segala kerinduanku yang ku pendam selama beberapa tahun ini tapi... rasa bersalah itu masih menghinggap di hatiku aku tak bermaksud membuatmu terluka aku... minta maaf andai waktu dapat di ulang pasti aku tak akan membuatmu terluka aku seharusnya menjagamu bukannya membiarkanmu terluka aku ... aku sungguh minta maaf kau mungkin seharusnya aku yang di culik bukannya kau seharusnya aku yang terluka bukan kau seharus aku! aku! bukan kau kenangan pahit ini membuatku mengurungkan niatku untuk mendekatimu lagi... tapi, aku masih sangat mencintaimu aku tak bisa melihatmu di dekati lelaki lain selain diriku hanya aku yang boleh menjadi pasanganmu sehidup semati bukan lelaki lain tapi... aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri.
Tapi di sisi lain aku ingin bersamamu aku akan melakukan apapun agar kau dapat memaafkan ku bahkan jika kau ingin meminta nyawaku sebagai gantinya aku siap.
Aku menyayanginya sangat menyayanginya bahkan lebih dari yang aku kira. kuharap kita bisa bersama lagi seperti dulu aku akan berusaha sekuat tenaga agar kau dapat menyukaiku lagi .. tunggulah aku aku akan mengambil milikku yang sudah aku tinggalkan begitu lama.
Afandi POV end.
"sepertinya tuan Miller ini sedang banyak masalah yah??" Nathan mendudukkan dirinya di sebelah Afandi ia memandang Afandi yang masih memasang tatapan kosong.
"itu bukan urusanmu" balas Afandi tanpa mengalihkan pandangannya.
Nathan berdecak sebal temannya ini! padahal dia berniat untuk menjadi teman yang pengertian mendengarkan curhatan Afandi dan mencari solusi untuknya tapi Afandi malah mengucapkan hal yang sangat ketus.
"hey itu akan menjadi urusan kami kau adalah sahabat kami sudah senang kita alami bersama bagaimana kita bisa berdiam saja sedangkan salah satu sahabat kita ada yang sedang dalam masalah yang besar" Janson meninggikan suaranya membalas ucapan afandi. ia hanya ingin menjadi teman yang baik itu saja tak lebih.
Afandi memandang julion sekilas lalu kembali melayangkan tatapan datar ke hadapannya.
"ini masalah pribadiku kalian tak perlu ikut campur" balas Afandi.
"jikapun itu masalah pribadi seharusnya kau cerita siapa tahu kita bisa membantumu mencarikan jalan keluar permasalahan itu!" Nathan menatap sebal sobat karibnya itu Afandi dari dulu adalah orang yang jarang sekali menceritakan masalahnya dan itu membuatnya jengah, sepuluh tahun mereka berteman tapi Afandi tak pernah bercerita apapun mengenai masalah yang ia hadapi. itu membuat ia tak berguna menjadi sahabatnya karena hanya bisa melihat Afandi yang beberapa tahun ini selalu memasang tatapan kosong itu membuatnya ingin mengambil toa masjid untuk berteriak tepat di depan telinga Afandi jika dia adalah temannya bukan orang asing yang akan membocorkan segala sesuatu yang di cetitakannya! tapi jika pun ia berani maka pasti besok ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia karena telah membuat bungsu keluarga Miller itu mengidap tuli karenanya.
__ADS_1
jangan lupa vote like and coment ya
dan jangan lupa bagi para pembaca untuk meninggalkan jejak dengan cara mengomentari cerita ini bagaimana penda kalian mengenai cerita ini tolong komentarnya ya