TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
bingung


__ADS_3

Afandi yang merasa namanya dipanggil oleh Yunita pun la gaung menoleh kesamping dan ternyata benar Yunita memanggil namanya Afandi kembali fokus menyetir karena Afandi tak ingin hal yang tidak mengenakan akan menimpa dirinya dan juga Yunita jika dirinya tidak fokuskan pandangannya terhadap jalan di hadapannya itu.


"hn?? ada apa??" tanya Afandi tanpa mengalihkan pandangannya.


Yunita meremas jemarinya yang tiba-tiba saja terasa dingin. tuh kan dia kayaknya marah beneran deh Ama gw buktinya Afandi ngga mau liat muka gw tuh dia malahan langsung buang muka kedepan yah... kenapa harus kaya gini sih gw merasa bersalah banget a***r batin yunita sedih.


"mmm .. Afandi gw... minta maaf sumpah tadi gw ngga inget kalo gw udah janji buat kerumah Lo jadi jangan marah ya sumpah demi apapun gw itu lupa"ucap Yunita merasa bersalah.


mendengar perkataan Yunita afandi pun langsung menoleh kesamping dan seketika mata yang sekelam langit malam itu melihat Yunita yang memasang wajah bersalah.


"hn tidak apa-apa jangan memasang wajah seperti itu"ucap Afandi masih fokus dengan kegiatan menyetirnya.


"memangnya kenapa??" tanya Yunita.


"aku akan merasa bersalah jika kau memasang wajah seperti itu"


Yunita mengalihkan pandangannya ke jendela mobil "dan gw juga minta maaf gw ngga bisa pergi ke rumah Lo .... mungkin lain kali aja gimana??


"sudah kubilang jangan meminta maaf seperti itu.. hn... lagi pula aku sedang ada urusan penting"


"sekali gw minta maaf yah..."


"kau tak bersalah jadi buat apa meminta maaf sudahlah selama setengah jam kita hanya berdiam dan membahas hal seperti ini kita seperti orang yang baru kenal.. (Afandi memandang Yunita sejenak lalu fokusnya kembali ke jalan di depannya) jangan bahas itu lagi"


"mm... baiklah"


suasana menjadi hening kembali karena Yunita merasa sedikit tidak enak jika harus semobil dengan orang yang ia sukai agak terasa canggung fikirnya tapi disisi lain dia merasa bahagia karena bisa diantar pulang oleh orang yang disukainya.


tanpa disadari mobil BMW berwarna putih itu berhenti di sebuah rumah mewah yang modern dan juga indah untuk dipandang.



Yunita langsung mencopot sabuk pengaman yang menempel di tubuhnya dan keluar dari mobil di ikuti oleh laki-laki bermata onyx itu entah kenapa dia mengikuti Yunita turun mungkin afandi hanya ingin melihat wajah Yunita karena sedari tadi fokusnya beralih ke jalanan yang dilaluinya.

__ADS_1


dengan gaya yang cool Afandi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan memandang lembut Yunita.


"mmm... makasih ya udah mau nganterin gw... aaa.... gw janji kok lain kali pasti gw bakalan ngunjungi rumah Lo"ucap Yunita menyunggingkan senyum manisnya.


"pintu rumahku selalu terbuka untukmu ada banyak novel yang sudah lama menganggur mungkin kau akan menyukai beberapa novel yang aku punya" entah apa yang merasuki tubuh Afandi Miller lelaki yang terkenal dengan ciri khasnya yang dingin dan irit bicara itu sekarang bukanlah seperti yang dikatakan oleh orang-orang diluar sana seolah afandi memliki dua kepribadian ganda jika bersama dengan Yunita.


"ya... gw pasti suka salah satu novel punya Lo itu "


"sudahlah cepat masuk kedalam diluar sini dingin kau akan kedinginan nantinya"


"mmm baiklah... gw masuk dulu" Yunita akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumahnya tapi sesekali kepala menoleh kebelakang guna melihat wajah Afandi yang ternyata tanpa diketahui olehnya tengah menyunggingkan senyum yang sangat tipis untuknya.


"Afandi hati-hati di jalan... jangan ngebut bahaya" teriak Yunita ketika sudah berada di gerbang tak lupa Yunita menyunggingkan senyumnya dan tak lupa juga tangannya berdadah-dadah ria.


dari kejauhan Afandi hanya menyunggingkan senyumannya tapi kali ini berbeda karena lelaki bersurai hitam pekat itu tersenyum lebih lebar dari tadi yang dia perlihatkan bahkan saking lebar senyum Afandi sampai-sampai lesung di kedua pipinya itu terlihat dan hal itu membuat Yunita terpaku oleh ketampanan Afandi.


kenapa pas gw disana ngga senyum selebar itu sih ih nyebelin banget deh innernya berteriak kencang.


"masuklah kedalam udara malam tak baik untuk remaja sepertimu" teriak Afandi.


setelah mengantarkan Yunita pulang Afandi langsung pergi menuju ketempat mansion milik keluarganya berada karena Yunita tidak jadi datang kerumahnya lelaki itupun memilih menuruti perintah ayahnya tadi sore untuk datang ke mansion karena keponakannya merindukan dirinya.


"mungkin ini terlalu cepat untuk dia berkunjung ke rumahku"


.


.


.


.


.

__ADS_1


"bibi Sumi adik saya udah pulang belum??"


"oh nona sudah pulang sedari tadi dia menunggu tuan muda pulang tapi nona muda terlihat lelah jadi saya menyuruhnya untuk pergi ke kamarnya sepertinya nona Yunita sudah tertidur biarkan saya menyiapkan air hangat untuk tuan muda saya permisi dulu"


Maulana melepaskan dasi yang terikat di kerahnya dengan asal kaki jenjangnya berjalan menaiki anak tangga satu persatu niatnya untuk makan malam ia urungkan terlebih dahulu karena Maulana sangat ingin menghampiri adik semata wayangnya itu.


CEKKLEK


Maulana membuka pintu kayu itu perlahan-lahan takut jika adiknya itu sudah tertidur dan ia akan membangunkannya, dan ternyata benar adiknya tengah tertidur dengan posisi menghadap ke kanan.


seulas senyum terukir di wajah imut Maulana entah kapan terakhir kali dirinya minat adiknya yang damai seperti ini mungkin itu sudah sangat lama fikirnya.


tangan Maulana terulur merapihkan suraian cokelat muda milik Yunita yang menutupi wajah cantiknya.


"huft... Abang kangen banget sama sifat kamu yang penurut ta, sejak kejadian itu.... kamu jadi berandalan yang ngga bisa di beri peringatan... Tapi, ngga apa-apa deh dari pada kamu jadi pendiem itu malah akan berdampak bahaya bagi kamu sendiri. tapi, Yunita Anderson Adek Abang yang paling berharga dari pada apapun di dunia ini jangan sampe nyakitin diri sendiri ya Abang ngga bakalan tega kalo kamu ngelakuin hal itu..."


Maulana menghela nafas panjang matanya nampak lelah karena terlalu lama menatap layar komputer.


mulutnya menguap lebar dengan sigap telapak tangan kanannya menutup mulutnya yang menguap. Sudut matanya berair menandakan bahwa sulung Anderson itu di Landa rasa kantuk yang besar.


Maulana meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat pegal karena seharian ini dirinya hanya duduk menandatangani dokumen-dokumen penting yang telah menggunung-gunung di ruang kerjanya mau tak mau sebagai anak dari perusahaan itu Maulana harus bersikap profesional maka dari itu ia bisa memiliki badan yang sangat pegal seperti itu.


setalah melakukan peregangan otot Maulana menatap jam tangan mahal yang terpasang di tangan kirinya. 23.58 malam pantes aja Yunita udah tidur gumam Maulana.


"hoammm..."Maulana mengusap kembali untuk kedua kalinya, sepertinya lelaki berusia dua puluh lima tahun itu harus mengistirahatkan badannya agar keesokan harinya bisa melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh dirinya.


Maulana merasa rasa kantuk telah menghantui dirinya iapun memilih untuk segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dengan keringat.


Maulana merapihkan selimut adiknya yang sedikit lagi akan terjatuh kelantai, ia menarik selimut itu hingga batas dagu dan sebelum Maulana benar-benar pergi dari ruangan itu laki-laki yang menjabat sebagai peneduh perusahaan Anderson itu mengecup puncuk kepala cokelat muda adiknya dengan sayang.


"tidur yang nyenyak ya semoga kamu ngga mimpi buruk itu lagi"


Maulana pun berjalan pergi meninggalkan kamar Yunita dan langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya yang lengket di penuhi oleh keringat.

__ADS_1


jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini..... karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap hari loh....


__ADS_2