
"NGGA!!!!!!!!"
Yunita terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi dahinya dan rambutnya membuat rambut yang biasa tertata rapi menjadi lepek dan basah. Ia berusaha mengatur nafasnya yang masih memburu, ia pun mendudukkan dirinya di atas ranjangnya mengamati seluruh sudut kamarnya. Ia kebingungan apakah tadi itu mimpi buruk fikirnya.
"tadi itu bukan nyatakan??... tapi kenapa gw ngerasa Dejavu?? "ucapnya lirih.
tiba-tiba ia teringat dengan wajah gadis kecil yang ada di dalam mimpinya itu, dirinya merasa familiar dengan wajah gadis itu. ketika ia terus memikirkan gadis kecil itu Entah kenapa dadanya sakit melihat gadis itu di perlakukan kurang ngajar oleh orang-orang bre***ek tadi.
mata berwarna cokelat muda itu tiba-tiba mengeluarkan cairan bening yang hangat mengalir membasahi pipinya yang tirus "hiks... hiks... hiks... kenapa gw nangis sih hiks hiks.... kenapa dada gw sakit ngeliat gadis kecil tadi disiksa hiks.... kenapa sakit banget ****! kenapa bisa kaya gini sih hiks......
Yunita mengingat kembali wajah gadis kecil itu tapi ketika dia telah mengingat wajah gadis bermata hazel itu tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit ia pun memegangi kepalanya yang sangat sakit itu.
"arghhhh sakit....... hah.... sakit... sakit banget... Abang!!!!!!!! ... bang maul kepala aku sakit!!!!!" ucapnya kesakitan.
BRAK!
Maulana melebarkan matanya ketika melihat adik satu-satunya itu tengah kesakitan memegangi kepalanya dengan kuat iapun langsung menghampiri Yunita bertanya apa yang terjadi namun bukannya menjawab pertanyaan Maulana Yunita malah berteriak kesakitan.
"ta sebenarnya apa yang terjadi??" tanya Maulana khawatir.
"SAKIT BANG SAKIT!!!!!!!!!!" rintih Yunita.
Maulana yang melihat adiknya terus mengeluh kesakitan pun langsung menghubungi dokter yang ia kenal.
setelah panggilan terhubung Maulana langsung berbicara kepada dokter itu.
__ADS_1
"dok!... dok!.. adik saya mengeluh kesakitan di bagian kepalanya dok!.... saya harus bagaimana....?!!" tanya Maulana frustasi.
"Maulana... tenangkan dirimu jika kau panik siapa yang akan menolong adikmu hmm.... aku kan masih berada di luar negri mana mungkin bisa langsung memesan tiket pesawat ke sana.... begini saja kau harus tenangkan adikmu"
"tapi dok bagiamana bisa saya menenangkan adik saya jika saya tidak tahu caranya dok!. dokter mendengar sendiri kan dari ponselmu itu adik saya tengah berteriak kesakitan dok?! harusnya dokter sebagai dokter kepercayaan keluarga Anderson harus menuruti perintah dari keluarga Anderson dok!" bentak maulana.
Ia sangat panik melihat adiknya yang masih berteriak kesakitan sekarang dirinya sangat sulit untuk berfikir otaknya tiba-tiba menjadi konslet gara-gara melihat keadaan adiknya yang mengenaskan seperti itu.
"kau harus melepaskan tangan adikmu yang menjambak rambutnya dan.... tenangkan dia menggunakan kata-kata yang sayang yang biasa kau gunakan untuk memanggil adikmu itu.... aku tidak bisa memberikannya obat penghilang rasa sakit tapi kau harus berbicara kepada adikmu untuk tidak memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu adikmu kau tahu sendiri kan apa yang terjadi dengan adikmu di masa lampau maka dari itu berusahalah untuk berbicara kepada jangan biarkan dia mengingat memori ingatan masa lalu itu" jelas dokter itu panjang lebar.
Maulana menjambak rambutnya frustasi ia baru ingat jika adiknya itu memiliki kenangan yang buruk di masa lalu. Tanpa mengucapkan terimakasih Maulana langsung memutus panggilan telepon itu dan berjalan ke arah Yunita.
"Ita... Ita..... Ita dengerin Abang dengerin apa kata Abang oke!" Maulana memegang bahu mungil adiknya sedikit menekannya supaya adiknya dapat menyadari keberadaannya.
Tak perduli rontaan dari adiknya ia malah mengencangkan pelukannya ia memeluk adiknya erat layaknya dirinya takut jika adiknya itu akan pergi meninggalkannya. lelaki itu pun tak lupa membisikan kata-kata sayang untuk menenangkan adiknya.
"Sttttt..... adik Abang yang cantik jangan khawatir oke ada Abang di sampingmu Abang selalu di samping yunita jangan khawatir...." ucap maulana sambil mengelus-elus rambut Yunita yang lepek.
"sakit bang sakit!" ucap Yunita lirih karena sudah sedikit merasa tenang.
"kamu jangan mikirin apa yang tadi kamu pikirin buang aja kenangan buruk itu buang aja ingatan mimpi buruk yang kamu lihat tadi buang aja itu ngga penting buat di ingat itu kenangan buruk jangan di pikirin oke jangan di pikirin itu cuma mimpi itu cuma mimpi" Maulana terus memeluk adiknya erat dan membisikan kata-kata pemenang untuk adiknya supaya cewek bermarga Anderson itu tidak memikirkan mimpi yang ia alami tadi.
"tapi sakit bang kepala aku sakit banget bang " ucap Yunita lemah.
"udah jangan mikirin mimpi tadi.... mikirin aja hal-hal yang lain pokoknya kamu ngga boleh mikirin kejadian tadi..... " Maulana terus menenangkan adiknya ia tak ingin kejadian di masa lampau itu teringat lagi di ingatan adiknya ia tak mau minat adiknya mengingat kenangan yang buruk itu. cukup ia dan kedua orang tuanya saja yang mengingat kejadian mengerikan di masa lalu itu jangan sampai adiknya juga mengingatnya kembali. lelaki bermarga Anderson itu tak ingin adiknya itu tersiksa dengan masa lalu yang buruk itu.
__ADS_1
"tarik nafas yang panjang keluarkan.... tenagin pikiran kamu ta..... jangan sampai kamu tersiksa gara-gara mimpi buruk buruk itu. mimpi itu cuma bunga tidur jangan di dipikirin jangan dipikirin ta....." tangan kirinya mengusap-usap punggung mungil adiknya dan tangan kanannya mengelus-elus rambut adiknya dengan sayang.
Yunita pun mengikuti perintah yang di ucapkan oleh sang kakak. dia berusaha tak mengingat tentang mimpi tadi perempuan itupun tak lupa untuk mengatur nafasnya yang masih memburu.
"sttttt ... tenang Abang ada di sini jangan takut tenang..." Maulana terus mengelus rambut cokelat muda adiknya dengan lembut sambil mengucapkan kata-kata penenang untuk membuat adiknya itu tenang.
"bang....." panggil Yunita dengan suara yang serak.
"hmmm.... kenapa ta masih sakit kepalanya?" ucap Maulana memandang adiknya yang masih berada di dekapannya.
"ngga kok" jawab Yunita lirih.
"trus kenapa hmm??..."
"kenapa kepala gw bisa sakit sih??"
Maulana memandang sendu Yunita. Ia bingung harus menjawab apa karena ceritanya juga sangatlah panjang apa lagi lelaki itu tidak ingin adiknya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu yang membuat dirinya naik pitam. Lelaki itu tak ingin adiknya mengingat kenangan buruk itu.
Selama ini tak pernah terbesit sedikitpun di otaknya untuk menyuruh dirinya mengatakan kejadian masa lalu itu. Mungkin selamanya aku akan menyimpan rahasia ini. Itupun demi kebaikan adikku batinnya berucap.
"kamu kan lagi kecapean jadi mungkin karena hal itu"ucap Maulana.
tapi kan gw cuma jatoh aja tadi pagi mana mungkin bisa sampai kesakitan kaya tadi coba batin Yunita berucap.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya...... dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini.....
__ADS_1