
Afandi terdiam matanya masih memandang kosong ke arah depannya. mata sekelam langit malam itu yang biasanya hanya menunjukkan tatapan tajam dan dingin kini menunjukan kesedihan yang mungkin jika di biarkan lebih lama lagi membuatnya tersiksa.
pria bermata onyx itu menghela nafasnya berat. "aku bertemu dengannya" tiga kata yang keluar dari mulutnya membuat ketiga sahabatnya itu terkejut tak percaya apa yang baru saja di katakan oleh Afandi.
"kau... bertemu dengannya??.. Apa aku tak salah dengar!?" Nathan menatap tak percaya Afandi penantian sahabatnya itu akhirnya berakhir di sini syukurlah fikirnya.
"lalu?? bagaimana dimana kalian bertemu??" janson melayangkan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia lontarkan.
Afandi tak mengalihkan pandangannya matanya masih menatap tembok bercat putih di depannya seakan tembok itu lebih menarik untuk di lihat ketimbang ketiga temannya itu. "Nathan kau masih ingat tempat yang kau datangi kemarin??" tanya Afandi tanpa mengalihkan pandangannya.
Nathan berfikir sejenak pasalnya kemarin ia banyak mengunjungi tempat tempat yang menurutnya nyaman untuk bersantai sejenak.
Tempat yang sepi jauh dari keramaian adalah pilihannya.
"tempat yang mana??"
"tempat yang membuat mobilmu mogok"
"tempat yang membuat mobilku mogok? hmmm??" Nathan mengingat-ingat tempat manakah yang membuat mobilnya mogok, matanya berbinar seketika ia mengingat tempat apa yang di maksud Afandi.
"iya aku mengingatnya tapi.... kenapa kau malah menanyakan hal itu??" tanyanya penasaran.
Kenny dan Janson hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata karena mereka terlalu kepo apa yang akan di jawab oleh iceman di depannya itu.
"aku bertemu dengannya di tempat itu" Afandi melirik sekilas ke samping guna melihat reaksi dari ketiga sahabatnya itu.
__ADS_1
mereka bertiga terdiam berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari Afandi. janson yang notabennya terkenal jenius otaknya langsung mencerna kata-kata itu dengan cepat.
janson menatap Afandi . bukannya dia sangat merindukannya tapi kenapa setelah bertemu dengannya Afandi malah seperti ini?? apakah ..... dia masih merasa bersalah kah?? batin janson bertanya.
"bagaimana bisa kalian bertemu??" tanya julion penasaran.
"entahlah mungkin sudah takdir. Aku hanya iseng-iseng lewat di tempat itu tapi aku malah bertemu dengannya entah kenapa aku merasa kejadian itu adalah mimpi" janson menatap Afandi sedih Afandi adalah laki-laki yang sangat jarang menunjukkan kelemahannya kepada orang lain tapi... kali ini dia menunjukannya di depan ketiga sobat karibnya. Janson sangat tahu Afandi dia sangat menyangi gadis itu ralat dia sangat mencintai gadisnya itu gadis itulah satu-satunya perempuan yang bisa membuat Afandi merasakan kesedihan yang mendalam, entah kenapa janson merasa ia tergerak untuk membantu sahabatnya ini dalam masalah percintaan.
Walaupun, Afandi terkenal dengan kejeniusannya yang melebihi orang-orang kebanyakan tapi dia adalah orang yang bodoh mengenai hubungan romansa percintaan lawan jenis dia tak berpengalaman akan hal itu.
janson menghela nafas berat selama ini Afandi yang terkenal dingin dan tak tersentuh seakan berbeda dengan apa yang kebanyakan orang katakan.
Afandi adalah laki-laki dengan seribu rasa penyesalan di hatinya. sebenarnya janson pun bingung harus membantu apa pasalnya dirinya pun sampai sekarang masih belum memilki kekasih tapi, entahlah ia ingin membantu permasalahan yang di hadapi oleh Afandi.
"mungkin Tuhan memang sudah mengikatkan benang merah di antara kalian berdua" Nathan yang biasanya bertingkah konyol entah kenapa bisa mengucapkan kata-kata yang sangat tidak mungkin akan keluar dari mulutnya.
Kenny yang berada di samping Nathan melototkan matanya takjub karena bisanya ia hanya mendengar perkataan konyol yang selalu keluar dari mulut Nathan tapi kali ini entah setan apa yang merasuki Nathan sehingga ia bisa mengucapkan kata-kata itu.
"ck jangan menatapku seperti itu aku masih normal!" Nathan menatap sebal Kenny yang terus menatapnya tanpa berkedip itu membuatnya ingin muntah seketika.
sadar apa yang di katakan oleh Nathan Kenny pun membalas perkataan nathan tak kalah sebalnya.
"hey apa yang kau fikirkan aku hanya menatapmu takjub karena biasanya kata-kata yang keluar dari mulutmu itu tak berguna baru lain ini aku mendengar perkataan yang bijak keluar dari mulutmu itu" Kenny memutar bola matanya bosan dasar sahabat yang aneh fikirnya.
"kalian ini jangan seperti anak kecil begitu!" janson meninggikan nada bicaranya. Ia sebal melihat kedua temannya yang satu ini Kenny dan Nathan mereka itu tak pernah akur dari dulu membuatnya harus turun tangan langsung untuk mengomeli mereka berdua.
__ADS_1
"hmm" gumam mereka berdua.
janson hanya memutar bola matanya dan menghela nafas panjang. Ia melihat Afandi yang masih seperti tapi tatapan kosong memandang ke arah tembok sungguh bukan Miller sekali pikirnya karena yang ia tahu, Afandi itu dingin tak tersentuh apa lagi dia sangat anti dengan yang namanya wanita.
Baru kali ini dia melihat sisi lain Afandi ya walaupun beberapa tahun lalu Afandi juga menunjukan sisi lemah yang dia punya tapi cuma kali ini Afandi terlihat sangat rapuh kejadian masa lalu yang membuat pria bermata onyx itu terus merasa bersalah menyalahkan dirinya adalah yang sering ia lakukan ketika dirinya terbuang dengan kenangan masa lalu yang buruk itu.
"kurasa kita akan mengadakan truth or dare"
"YAH! GW MATIKAN! CK GARA-GARA LO SIH ZA GW JADI MATI PARAH LO AH!"
terlihat diruang tamu terdapat beberapa orang yang tengah asik memainkan game. Lebih tepatnya tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan yang tengah asik memainkan game di ponsel milik mereka masing-masing.
"Lah kok salah gw sih harusnya Lo salahin diri Lo sendiri karena Lo itu noob "Reza melihat Gilang yang menggerutu menyalahkan dirinya yang membuat gilang harus mengulang game itu dari awal karena di ganggu olehnya.
"enak aja Lo bilang gw noob. Lo kan tahu sendiri gw itu rajanya game semua game udah gw coba dan ujung-ujungnya gw menangin semua game itu padahal bentar lagi gw menang gara-gara Lo sih za ck harus ngulang dari awal lagi dong!"
Yunita dan Rifki saling memandang satu sama lain lalu menatap perdebatan kecil yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"kenapa Lo bawa mereka sih Ki nyebelin banget deh.. untung nyokap bokap gw lagi di luar kota" Yunita menatap sebal Gilang yang tengah mencak-mencak menyalakan Reza yang telah membuatnya kalah dalam permainan itu.
"katanya mau jengukin gw tapi malahan berantem hadeh... bukannya sembuh malahan tambah deh penyakit gw" Yunita menepuk jidatnya pelan.
Rifki yang duduk di samping Yunita hanya bisa meringis dan menasehati Yunita agar tidak berbuat yang tidak-tidak kepada Gilang yang mulutnya seperti toa masjid.
hai guys jangan lupa like vote and coment ya
__ADS_1
bagaimana pendapat anda tentang cerita "tak akan melepaskan" ini?? tolong coment ya di bawah tentang pendapat kalian semua yang membaca cerita ini.