
Afandi berdehem pelan berusaha mengusir perasaan gugup yang menyelimuti dirinya tak lupa ia menghindari kontak mata yang bisa membuatnya itu terpaku dengan kencantikan yang terpancar dari mata hazel itu.
"bukan kah semua perempuan suka saat mereka menaiki bianglala"
mata onyxnya melirik sebentar kearah Yunita memastikan jika gadis bersurai cokelat muda itu percaya dengan omongannya.
"hmm.... bener juga sih...."
Afandi mendesah lega karena Yunita reaksi Yunita yang percaya dengan ucapannya itu.
tapi pertanyaan dari Yunita membuat Afandi diam tak bersuara.
"tapi apakah kita berdua pernah bertemu sebelumnya??"
tenggorokan Afandi tercekat mendengar pertanyaannya itu ia bingung harus mengatakan apa apakah ini adalah waktunya kebenaran itu terungkap?? apakah dia sanggup menerima kenyataan bahwa gadis kecilnya itu membencinya ketika dia menceritakan yang sebenarnya?? apakah Afandi sanggup membuka luka yang sudah lama tertutup rapat itu kembali menganga lebar di hati Yunita dan apakah dia sanggup melihat wajah Yunita yang biasanya menampilkan senyum manisnya itu sedih dan tersiksa secara bersamaan karena dia menceritakan masa lalu kelam itu??? Apak Afandi siap melihat semua itu jawabannya adalah tidak.
lelaki bermata onyx itu tak sanggup melihat gadis pujaan hatinya itu membuka luka lama yang telah menutup rapat ia tak sanggup melihat kesedihan di wajah cantik pujaan hatinya itu maka dari itu ia mungkin tak akan menceritakan masa lalu itu sekarang biarlah waktu yang mengungkapkan kejadian itu.
"tidak"
itulah yang hanya bisa dikeluarkan oleh mulut Afandi, ia tak bisa mengungkapkan masa lalu hadis itu lebih tepatnya tak mau padahal rencananya datang kembali kesini hanya untuk membuat Yunita ingat kembali masa lalu itu dan kemungkinan besar gadis itu juga akan mengingat dirinya lagi.
tapi, ia pikir tindakan itu adalah tindakan yang sangat egois karena dia lebih memilih gadis pujaan hatinya itu mengingat kejadian paling ia benci dari pada membiarkan Yunita hidup dengan selayaknya tanpa ada rasa takut dan kenangan buruk pada masa lalunya itu.
Yunita ber'oh'ria ia kembali menatap pemandangan di sekitar pasar malam itu dari atas sana.
indah fikirnya jika melihat pemandangan itu dari atas sana itu indah sudah lama ia tak menaiki bianglala dan melihat pemandangan kota dari atas.
"Lo tahu ngga ndi.. Lo itu orang ketiga yang yang ngajak gw kesini setelah ayah dan bang maul tahu ngga"
Yunita menatap Afandi yang juga tengah menatapnya untuk sesaat kedua mata itu saling mengagumi keindahannya masing-masing.
Yunita merasa mukanya telah memanas langsung mengalihkan pandangannya ke samping.
Afandi menyunggingkan senyum manisnya, walaupun dia mendengar kabar jika Yunita sudah pernah berpacaran dengan laki-laki lain tetapi hanya dirinyalah yang membawa Yunita kesini tempat yang paling Yunita sukai.
"benarkah itu??"
Yunita melirik Afandi pelan-pelan.
"mmm iya.... "
terlintas di kepala Yunita untuk menanyakan sesuatu yang sangat ia ingin ketahui tentang lelaki tampan dihadapannya itu.
"mmm Afandi ngomong-ngomong umur Lo berapa??"
Yunita menatap was-was kearah Afandi.
seketika semburat merah muda terlihat di kedua pipi lelaki tampan berwajah bak dewa-dewa Yunani itu ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Yunita.
kenapa gadis itu menanyakan hal itu dia merasa malu untuk mengungkapkan umurnya kepadanya.
"kalo Lo keberatan ngga usah di jawab kok ngga apa-apa"
"22"
__ADS_1
"hah??"
"umurku 22"
apa?! bedanya jauh banget sama gw?! hiks ngga ada harapan dia yang dewasa ini menyukai Lo yang kekanakan ini hiks ngga ada hancur semua angan-angan indah gw innernya berteriak.
"OOO begitu ya.... "
Yunita rasa ia seharusnya tidak menanyakan hal itu tapi untuk apa menyesalinya toh ia sudah menanyakannya kepada Afandi nasi sudah menjadi bubur ia harus menerima kenyataan bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
"lalu bagaimana denganmu?? berapa usiamu??"
dengan cengiran khasnya Yunita menatap wajah Afandi.
"15 tahun hehe"
"cukup muda untuk menjadi seorang pelajar SMA"
"Lo juga cukup muda untuk menjadi guru"
merak pun tertawa seakan beban hidupnya meluap seketika.
setelah itupun mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 20.00 pm.
Yunita langsung masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang lengket dengan keringat.
setelah beberapa saat akhirnya ia pun selesai dengan ritual mandinya dan iapun tengah duduk di depan rumahnya menantikan kedatangan Rifki.
"udah jam segini si Rifki ngga Dateng juga mana handphone gw kebawa dia lagi awas aja Lo ya Ki"
terdengar suara motor yang memasuki kawasan rumahnya dan Yunita pun berlari Muju ke gerbang untuk membukakan pintu gerbang guna melihat siapakah pengendara motor itu apakah dia adalah Rifki yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya.
Yunita mengambil tas miliknya dan menatap tajam Rifki yang datang menggunakan motor miliknya.
"bagus ya udah berani nyolong motor gw"
"gw juga terpaksa ta soalnya motor gw juga di colong sama Gilang karena dia kan ban motornya kempes jadi ya begitulah..."
"jadi motor Lo masih ada di Gilang nih???"
"ya gitu deh"
"nih"
Rifki menyodorkan helm ke Yunita.
"lah trus balapannya jadi ngga nih??"
Yunita menaiki motor itu.
"ya jadilah "
"kan motornya Gilang masih ada di bengkel kan??"
"udah diambil tadi..."
__ADS_1
"yaudah jangan banyak ngomong cepet jalan mereka ngga suka sama peserta yang telat"
tumben si Yunita ngga ngamuk batin Rifki bertanya-tanya.
"eh malah bengong cepet jalan"
"eh iya iya nih mau jalan"
mereka berdua pun pergi menuju ketempat balapan motor diadakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"wah wah wah ternyata yang datang adalah bos besar.... apa kabar??"
seorang cowok berambut mencuat kebelakang menghampiri Yunita yang tengah bercanda ria dengan Rifki dan Gilang.
Yunita menatap datar Jonatan selaku ketua geng motor yang mengadakan pertandingan ini.
"Lo punya mata kan?? jadi Lo bisa lihat sendiri bagaimana kabar gw"
Yunita kembali bercanda ria dengan kedua sahabatnya itu tanpa memperdulikan Jonatan yang masih berada di belakangnya.
"sifat Lo masih sama kaya dua tahun yang lalu galak"
"udah deh tujuan Lo kesini mau apa sih ngomong aja ngga usah basa nasi kaya gitu deh ngeselin banget jadi orang"
Yunita bangkit lalu menghampiri Jonatan, ia menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon yang lumayan besar.
"siapa yang ikut pertandingan kali ini??"
"tuh dua orang"
Yunita menunjuk Gilang dan Rifki yang sedang menatap nya dengan tatapan bertanya.
"mmmm baiklah"
"inget ya gw bakalan masukin Lo ke rumah sakit jika anak buah Lo ngelakuin hal yang membahayakan kedua sahabat gw apa lagi kalo gw lihat yang menyuruh mereka itu Lo siap-siap aja ngucapin selamat tinggal kepada dunia Lo tahu sendiri kan gw ngga pernah bercanda dengan omongan gw"
Yunita melayangkan tatapan tajamnya ke Jonatan ia sungguh benci berurusan dengan ketua geng motor tapi demi memiliki makanan gratis yang pastinya Yunita harus mau berurusan dengan ketua geng motor.
"mana mungkin gw ngelakuin hal itu Yun"
__ADS_1
"gw simpan baik-baik ucapan Lo tapi kalo sampe kedua sahabat gw kenapa-kenapa siap-siap aja nyawa Lo jadi taruhannya"
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini... karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap hari loh...