TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
Thomas


__ADS_3

"Thomas !"seorang laki-laki menerobos kerumunan orang yang histeris karena melihat seorang anak kecil di selamatkan oleh seorang remaja.


"Thomas!" ucap lelaki itu menarik anak kecil itu kedalam pelukannya.


"ayah.... huweeee.... hiks kenapa ayah tidak mencaliku tadi hiks.."ucap anak kecil yang di ketahui bernama Thomas.


"maafin ayah.... kamu ngga apa-apa??"tanya pria itu mengamati ujung kalau hingga ujung kepala anak kecil itu mengamati apakah tubuh anaknya itu tidak terluka.


"tidak apa ayah.... tapi kakak itu kakinya sakit nyenggol batu"


pria itu menghampiri Yunita yang masih terduduk karena lemas plus sakit di area pergelangan kakinya.


lemas gara-gara ia hampir saja menyerahkan nyawanya kepada malaikat pencabut nyawa. sungguh jika dia tadi larinya sedikit lambat nyawanya pasti detik itu juga langsung melayang.


"dek mana yang sakit??"tanya pria itu.


Yunita menggelengkan kepalanya. ia tak mau merepotkan orang lain.. hanya luka kecil seperti ini tak akan membuatnya mati seketika.


"jangan bohong anakku tadi bilang kakimu sakit?? tunjukan mana yang sakit mungkin kakimu terkilir."


dengan ragu-ragu Yunita memperlihatkan pergelangan kaki bagian kirinya yang sedikit merah.


pria itu langsung menangani masalah itu karena jika tidak pasti besok gadis ini akan sulit berjalan.


"tahan sedikit. ini cuma sebentar"


Yunita menganggukkan kepalanya pasrah. Thomas ikut berjongkok di samping ayahnya melihat kedua orang itu tengah.


Yunita memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya supaya tidak mengeluarkan suaranya.


"yah... kasihan kakaknya kesakitan udah yah jangan di lanjutin"tangan kecil Thomas menyentuh lengan ayahnya.


"lagian udah kok"


Thomas menatap Yunita dengan muka yang menggemaskan. Yunita yang tak tahan melihat muka menggemaskan Thomas langsung mencubit gemas pipi chubby anak laki-laki itu. bukannya menangis karena di cubit Thomas malahan memeluk Yunita erat seolah thomas sudah mengenal lama Yunita.


ayahnya yang melihat Thomas seperti itu kepada orang yang tak di kenal menjadi bingung pasalnya anaknya itu tipe orang yang sangat tidak perduli dengan sekitarnya sifatnya bahkan hampir mirip dengan adiknya yang berbeda empat tahun dari dirinya.


"kak masih sakit??"tanya Thomas dengan mata yang berkaca-kaca.


"ngga kok kaki kakak udah mendingan"balas Yunita menunjukkan senyum lembutnya.


"yah gimana kalo kita bawa kakak ke rumah aja kasihan kakak kan habis nolongin aku"ucap Thomas.


Yunita melotot dan menggelengkan kepalanya ketika ayah dari anak kecil itu mengalihkan pandangannya kearahnya.

__ADS_1


mengerti dengan isyarat dari perempuan itu ayah Thomas pun langsung berjongkok di hadapan Thomas dan berbicara dengan anaknya itu.


"Thomas kakak ini udah baikkan lagi pula jika kita mengajaknya ke rumah, keluarganya Pasti khawatir"


"kan kakak pasti bawa handphone kan"


aduh Thomas anakku yang paling imut kenapa kau sangat sulit untuk di manipulasi sih batinnya nelangsa melihat anaknya menjiwai dirinya yang pandai dan tak dapat di bohongi.


"kakak ngga bawa handphone jadi lebih baik kakak biarkan kakak ini pulang yah"bujuknya .


Thomas memandang ke arah Yunita.


"tapi kakak janji yah kapan-kapan kakak bakalan pergi ke rumah"ucap Thomas memohon.


"kakak janji" merekapun melingkarkan jari kelingking Meraka berdua menandakan bahwa ia sudah berjanji dan harus di tepati.


"baiklah kakak pergi dulu yah dah" Yunita pun langsung menyebrang jalanan karena sepedanya berada di sebrang sana. mungkin ia akan langsung pulang saja sungguh kakinya sakit sekali.


"jangan sampai masalah ini sampai ke publik"


"ia tuan"


"semuanya pada bubar!" kerumunan orang-orang itupun meninggalkan tempat kejadian perkara itu karena tangan kanan pria tadi yang membubarkan Meraka.


beberapa menit kemudian.....


"yaampun..... kalo tadi gw ngga cepet bisa-bisa gw mati dan bukan hanya gw yang mati tapi anak kecil tadi juga bakalan mati... untung dulu gw sempet juara lomba lari sekelas hehehe"


Maulana masuk ke dalam kamar Yunita pasalnya saat Yunita pulang. adiknya itu tak menyapa dirinya dan langsung melenggang masuk ke dalam rumah. mungkin Yunita lagi ada masalah pikirnya.


"ta Lo ada masalah ya??"Maulana duduk di kursi belajar dekat kasur itu.


"ngga kok"jawab Yunita singkat.


"lah kenapa mukanya lesu banget??"


"cuma capek aja..."


"bang beliin es krim dong gw haus"Yunita tiba-tiba mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasurnya dan memasang ekspresi wajah memelas.


"kan masih ada di kulkas"


"itukan eskrim kesukaannya Abang bukan aku"ucap Yunita melototkan matanya.


"eh emang iya yah??"ucap Maulana menggaruk-garuk belakang kepalanya tak gatal.

__ADS_1


"makannya beliin dong biar aku ngga lesu lagi"buku Yunita.


"oke... oke..."


"yey makasih abang ku yang mukanya imut"ucap Yunita cengengesan.


"imut lagi... imut lagi kapan muka gw jadi dewasa.... "gumam Maulana pergi meninggalkan kamar Yunita.


"ah ngantuk banget tidur bentar ah"...


di tempat lain...


"apa?! Thomas tadi hampir di tabrak?!" suara yang hampir terdengar seperti bentakan itu membuat gaduh seisi rumah mewah itu.


"ceritanya gimana kok Thomas bisa kek gitu"tanya nyonya Miller.


"ceritanya panjang banget nek tapi untungnya ada kakak cantik yang nolongin aku"Thomas tersenyum-senyum sendiri mengingat Yunita yang rela menolongnya tanpa berpikir panjang.


"tapi kamu ngga apa-apa kan??"tanya Jane Miller.


"aku tidak apa-apa kok nek"


cetak!


Sifa menjitak kepala suaminya dengan keras. ia marah karena sang suami tidak bisa menjaga anaknya dengan baik padahal belum satu jam dirinya menyuruh Rifan untuk menjaga Thomas kejadian ini langsung menimpa anaknya itu.


"aduh! "pekik Rifan.


"kau ini belum ada satu jam aku menyuruhmu untuk menjaga Thomas kejadian ini menimpanya apa lagi jika aku meninggalkannya selama satu Minggu bisa-bisa anakku nanti masuk ke rumah sakit"


"maaf sayang. aku juga saat itu sedang menerima telepon dari kantor aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjaga Thomas tapi mereka lalai nanti akan ku pecat Meraka "Rifan berlutut di hadapan Sifa meminta permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Sang istri tercintanya.


"huh.. minta maaflah pada orang kantormu yang lebih penting ketimbang anak sendiri"Sifa memalingkan wajahnya ke samping tangannya ia taruh di depan dadanya.


"sayang jangan seperti itu Thomas lebih penting dari pada orang-orang kantorku jangan marah yah"


Thomas dan Jane yang melihat istri dan suami yang sedang bertengkar langsung pergi ke taman yang ada di dalam rumah mewah keluarga Miller.


"Thomas tadi siapa yang menolongmu??"


Meraka duduk di salah satu bangku taman yang ada di dalam rumah keluarga Miller itu.jane bertanya sambil mengelus rambut cucunya dengan sayang.


"kakak cantik nek. dia dengan sigap langsung menolongku walaupun kakak cantik sudah ada di sebrang jalan jalaknya jauh dengan Thomas tapi kakak cantik itu langsung lali nolongin Thomas.... baik banget kan kakak cantik"Thomas merasa bahagia karena dirinya di tolong oleh kakak cantik.


jangan lupa like share and coment ya guys.

__ADS_1


and jangan lupa untuk klik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini.....


__ADS_2