
Afandi terkekeh pelan melihat tingkah Yunita yang menurutnya lucu itu membuat anak bungsu keluarga Anderson itu menyeritkan dahinya. apakah ada hal yang lucu?? fikirnya.
"kenapa malah ketawa sih? ini itu berita buruk bukan berita bahagia yah jadi jangan ketawa dong Lo mah kaya gitu"
Afandi berdehem pelan sebelum wajahnya kembali dalam mode datar.
Afandi memasukkan Keuda tangannya kedalam celana jeans miliknya dan menatap wajah ayu yunita.
"apa kau lupa?? tas itu ada di mobilku"
"mobil?? bukannya Lo itu kesini pake motor ya"ucap Yunita kebingungan.
"hn... ceritanya panjang"
"yaudah deh kalo kaya gitu cepet anterin gw ke mobil Lo gw ngga ada waktu yang banyak"ucap Yunita langsung menggeret lengan Afandi. Tidak ada perlawanan dari Afandi ia malah menikmati tangan Yunita yang menyentuh lengannya lembut seperti dulu batinnya berucap.
ketika mereka berdua sudah berada di samping mobil milik Afandi Yunita langsung melepas tangannya dari lengan Afandi membuat lelaki bermarga Miller itu mendesah kecewa.
Yunita menghampiri mobil itu dan mencoba membuka pintu depan mobil itu. Tapi ternyata pintu itu terkunci mau tak mau Yunita harus meminta Afandi untuk membukakan pintu mobil itu.
"kok dikunci sih??"
Yunita menoleh kebelakang guna meminta agar membukakan pintu mobil yang terkunci itu tapi sepertinya Afandi mengetahui niatnya itu mata hazelnya yang indah minat Afandi berjalan mendekat kearahnya.
"eh Afandi tolong dong ambilin tas gw yang ada di dalam please yah ....."ucap Yunita memasang wajah memelasnya.
apa dia lupa dengan janji kita tadi??batin Afandi kesal.
dengan sangat malas Afandi pun mengambil kunci mobil yang ada di saku celananya lalu diarahkannya kunci itu untuk membuka pintu mobil miliknya, dan tanpa disuruh Afandi langsung mengambil tas ransel milik cewek bernama panjang Yunita Anderson itu dan langsung menyerahkannya kepada sang pemilik tas itu sendiri.
Yunita menyunggingkan senyum manisnya"ahehe... makasih " Yunita menerima tas yang disodorkan oleh Afandi itu dengan senyuman manis yang ia miliki.
"hn.." jawab Afandi.
wajah Yunita menunduk matanya melihat kearah jam tangannya berada. Oh s**l udah segini lagi umpatnya didalam hati.
"apakah kau butuh tumpangan??"
apa?? batinnya berucap
__ADS_1
Yunita melihat Afandi yang tengah menyenderkan tubuhnya di mobil berwarna putih itu.
"ngga usah deh gw naik taksi aja"tolak Yunita.
"hari mulai sore taksi-taksi sangat jarang melewati tempat ini jadi aku yang akan mengantarmu pulang Yunita tenang saja aku akan mengantarmu sampai ke depan rumahmu lagipula kau datang ketempat ini denganku jadi aku akan mengantarmu pulang"
baru saja Yunita akan menolak lagi tawaran Afandi namun dengan cepat Afandi menyela ucapannya membuat bungsu Anderson itu mau tak mau mengikuti keinginan dari Afandi.
"aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun Yunita jadi jika kau menolaknya itu akan percuma saja" itulah yang dikatakan oleh Afandi yang membuat Yunita pasrah dan masuk kedalam mobil di ikuti oleh Afandi.
kok ada ya laki-laki model kayak si Afandi sumpah nyebelin banget batinnya berteriak kesal.
Afandi menoleh kearah Yunita "pasang sabuk denganmu Yunita"tegurnya.
dengan malas Yunita memasang sabuk pengaman itu "iya iya"
setelah melihat sabuk pengaman itu telah dipasang di tubuh Yunita Afandi pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan menancapkan gas pergi meninggalkan tempat futsal itu.
yunita yang merasa bosan karena suasana di dalam mobil sangatlah sunyi memilih untuk mengambil ponsel pintarnya dan mengirimkan sederet pesan ke kakak sepupunya itu.
to Rifki
belum satu menit lamanya ponsel Yunita bergetar menandakan ada pesan masuk dan ternyata pesan itu dari kakak sepupunya Rifki Prasetyo.
from Rifki
emang ketemu dimana ya??
jari milik Yunita dengan lincah mengetikkan beberapa kalimat dan setelah itu dia langsung mengirimkannya kepada Rifki.
to Rifki
ternyata ada di mobilnya Afandi ngga tahu deh kenapa tas gw tiba-tiba ada disana.
belum ada lima menit setelah Yunita mengirimkan pesan itu kepada Rifki tiba-tiba satu motif pesan muncul Yunita langsung membuka pesan itu dan membacanya.
form Rifki
cie cie yang lagi berduaan ihir pjnya ditunggu ya ta.
__ADS_1
mata Yunita langsung melotot setelah membaca isi pesan yang Rifki kirimkan.
dasar Rifki!.
dengan lincah jari jempol Yunita mengetikkan beberapa kalimat dan setelah selesai yunita pun langsung mengirimkan pesan itu kepada Rifki.
to Rifki
apaan sih Ki orang kita berdua ngga ngapa-ngapain kok.
entah sejak kapan Rifki menjadi orang yang membalas pesannya itu cepat tak biasanya cowok bermarga Prasetyo membalas pesan pasalnya Rifki adalah orang yang malas untuk membalas sebuah pesan jika bukan dari aplikasi yang biasanya dia gunakan Rifki membalas pesannya cepat hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Yunita.
from Rifki
jangan bilang Lo lupa ta... lokan dah janji buat pergi kerumahnya pak Afandi gimana sih ta kalo mau pikun tuh disaat yang tepat bukannya Lo itu suka ya sama pak Afandi kenapa malah lupa sih kalo dia marah gimana coba.
setalah membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh Rifki Prasetyo itu mata Yunita langsung melirik kearah sampingannya dimana dia melihat Afandi yang tengah fokus dengan kegiatan mengemudinya.
aduh kenapa gw bisa lupa sih pasti Afandi marah deh dasar otak berkapasitas kecil umatnya dalam hati.
dengan perasaan yang bersalah Yunita pun meletakkan ponselnya kedalam tas ransel miliknya cewek bersurai cokelat muda itu tak berniat untuk membalas pesan dari Rifki itu karena saat ini tujuannya adalah meminta maaf kepada Afandi karena kebiasaan dirinya yang mudah sekali melupakan hal-hal yang ada di dalam otaknya.
duh kenapa gw jadi ketakutan kaya gini ya. aduh mukanya Afandi kaya gitu jangan-jangan dia itu marah Ama gw batinnya berteriak keras.
Yunita berdehem pelan berusaha menyingkirkan rasa takut akan mendapatkan tatapan tak mengenakan dari Afandi karena dirinya telah melupakan janjinya untuk datang ke rumah laki-laki berwajah tampan itu.
matanya masih fokus melihat Afandi yang tengah menyetir di telitinya wajah Afandi dari samping hidung yang mancung, bola mata yang sekelam langit malam, alis yang tebal dan rapi, rahang yang tegas, dan lesung pipi yang akan muncul ketika siempunya tersenyum menambah nilai perfect tersendiri dari wajah lelaki itu.
dia manusia bukan sih?! kok mukanya bisa ganteng banget kaya gitu sih. pantes aja pak Afandi jadi incaran kaum hawa di sekolahan yang gw tempati sekarang huft kenapa kau itu begitu sempurna pak?? kan aku susah dapetin hati bapak kalo mukanya pak Afandi ngga seganteng ini pasti kesempatan dapetin hatinya pak Afandi lebih besar deh batin Yunita berucap.
oke oke Lo harus minta maaf ke pak Afandi.
Yunita menarik nafasnya pelan dan membuangnya kasar.
jika tadi Yunita hanya sembunyi-sembunyi melihat muka Afandi sekarang Yunita tak sungkan-sungkan untuk menolehkan wajahnya kesamping.
Yunita menghembuskan nafasnya kasar. oke ini waktunya.
"Afandi..." panggil Yunita.
__ADS_1
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini... karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap hari loh...