
suasana di kantin sekolah yang ramai dikarenakan waktu istirahat telah dimulai.
Yunita dan kawan-kawan sedang duduk manis menunggu pesanan meraka sambil berbincang-bincang tentang masalah dikelas yang membuat bos mereka Yunita Anderson dipaksa untuk pindah tempat duduk dan juga dipaksa untuk duduk bersama anak baru yang bernama irene itu membuat Yunita menjadi pendiam tak seperti biasanya.
Gilang dan kawan-kawan menghela nafas pelan melihat Yunita yang menjadi pendiam sejak kejadian perpindahan tempat duduk itu.
"ta..." panggil Rifki.
bukannya merespon Rifki Yunita malah tetap asik dengan lamunannya yang lebih menarik ketimbang para sahabatnya itu.
"Ki apa kita bilang aja yah ke pak Karen biar ngga maksa Yunita buat pindah tempat duduk ya??"bisik Gilang pelan.
Rifki melirik sebentar kearah Gilang"coba kita tanya langsung aja ke yunita siapa tahu dia mau jawab pertanyaan kita"
Gilang menatap datar Rifki" Lo tahukan dia aja ngga ngerespon ucapan Lo tadi Ki dia itu masih keinget masa lalu yang itu (Gilang melihat teman-temannya yang kepo ingin tahu apa yang dimaksud oleh Gilang) Lo semua pindah tempat duduk sekarang juga! jangan sampai gw marah cepet cepet cepet!" perintahnya mutlak.
merekapun menuruti perintah Gilang karena jika playboy tampan itu marah bisa bisa mereka akan masuk ke rumah sakit karena babak belur.
setelah melihat teman-temannya telah pindah meja Gilang langsung melanjutkan perkataannya yang tertunda.
"Lo tahu sendirikan kalo si Yunita itu punya masalah sama temen sebangkunya yang cewek pas SMP... jadi, menurut gw mending bilang aja ke pak Karen biar mindahin Yunita lagi .... (Gilang melirik kearah Yunita yang masih asik dengan lamunannya) gw ngga tega ngeliat dia kaya gitu yang biasanya paling cerita diantara kita tapi tiba-tiba aja jadi pendiem banget kaya bukan dia banget"
"tapi apa kalo kita ngasih tahu ke pak Karen dia bakalan percaya sama omongan kita lang, selagikan kita udah dicap sebagai murid yang rewel padahal kita baru satu bulan disini mana mungkin dia percaya sama omongan berandalan macam kita ini"
sungguh mereka berdua itu bingung harus bagaimana mereka sangat benci melihat Yunita yang seperti ini menjadi pendiam dan suka sekali melamun ini seperti ketika cewek bermata hazel itu mendapatkan berita tentang kematian teman sebangkunya sekaligus sahabat cewek yang satu-satunya dia punya.
kejadian itu berlangsung hampir dua tahun yang lalu, ketika cewek bermarga Anderson itu menginjak dikelas dua SMP. saat itu Yunita sangat merasa tergoncang sekali ketika mendengar berita kematian sahabatnya itu, Yura cantika Ekawati itulah nama teman sebangku serta sahabat satu-satunya cewek yang pernah Yunita miliki.
Kematian sahabatnya itu ada keterkaitan dengan guru bermata pelajaran fisika dan hal itulah yang membuat seorang Yunita Anderson membenci guru mapel itu bahkan sejak kejadian itu Yunita enggan untuk masuk kedalam kelas jika pelajaran fisika berlangsung bahkan dia juga akan membenci guru yang mengajar itu tak kenal mereka itu sekarang bergender perempuan adalah lelaki.
Gilang dan Fikri menghela nafasnya kasar entah mengapa otaknya tidak bisa untuk diandalkan saat ini masalah ini terlalu rumit sahabatnya itu memiliki fobia bukan hanya satu fobia saja melainkan tiga fobia sekaligus dan hal itu membuat mereka berdua kebingungan jika dibiarkan saja ketakutan Yunita yang telah terkubur dalam-dalam akan muncul lagi kepermukaan.
"kalo kaya gini terus gw takut lama-lama si Yunita bakalan jadi paranoid Ki! kita kudu ngomong ke pak Karen bodo amat dengan tuh orang mau dengerin omongan kita atau ngga yang penting kita ngomong dulu....sejak kejadian kematiannya Yura Yunita jadi punya dua fobia tambahan dan keduanya itu udah terkubur dalam tapi gara-gara pak Karen nyuruh dia duduk bareng Irene mungkin fobia yang terkubur itu bakalan muncul lagi..." desis Gilang dengan alis yang menukik tajam.
Rifki setuju dengan omongan Gilang karena dia juga tahu masa lalu kelam adik sepupunya itu tapi bukan hanya sewaktu SMP yang membuat cewek bernama panjang Yunita Anderson itu memiliki sebuah ketakutan terbesar terhadap suatu hal tapi, ketika Yunita menginjak usia sekitar lima tahun dia diculik oleh orang yang tak dikenal membuat orangtuanya Yunita menjadi kalang kabut Rifki mengetahui hal itu karena dia pernah diceritakan oleh Maulana Anderson sendiri selaku kakak kandung Yunita Anderson.
Rifki pun menjadi tahu mengapa cewek yang dia rasa tak memiliki rasa takut terhadap apapun ternyata memiliki fobia yang sangat berdampak bagi diri Yunita sendiri.
flashback on.
hujan mengguyur kota yang indah ini. Disaat seperti ini pasti orang-orang akan berdiam diri didalam kamar mereka untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa kedinginan namun tidak dengan anggota keluarga Anderson.
Mereka bahkan tak akan merasakan kehangatan itu sejak anak bungsunya hilang entah kemana. sudah tiga hari lamanya anak perempuannya itu hilang dan sudah tiga hari juga pihak kepolisian mencari keberadaan putrinya itu tapi tetap saja belum ada berita mengenai Yunita.
satira menjadi lesu dan tak banyak bicara sejak mendengar putri semata wayangnya hilang diculik oleh seseorang yang tidak dikenal, wajahnya menjadi pucat serta badannya yang menjadi kurus karena tidak memberi asupan yang benar terhadap tubuhnya. Dia bahkan tidak bisa tertidur nyenyak sejak tiga hari yang lalu.
bahkan nyonya keluarga Anderson itu tidak henti-hentinya melamun di kamarnya dia tidak akan keluar dari kamarnya jika tidak ada berita perkembangan mengenai anaknya itu, dan hal itu membuat suaminya Ega Anderson menjadi bingung harus melakukan apa pasalnya dirinya sudah menggerakkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya dibantu oleh para polisi .
__ADS_1
tapi, hasilnya nihil tidak ada perkembangan sama sekali tidak ada berita mengenai keberadaan putrinya sekarang.
sudah beberapa kali ega mencoba untuk membujuk istrinya turun untuk makan tapi, yang ia dapatkan adalah bentakan dari istrinya yang hanya akan makan jika anaknya sudah pulang dengan selamat dan hal itu membuat kepalanya menjadi semakin sakit karena akhir-akhir ini terlalu banyak pikiran.
Ega berjalan menuju kamar putranya karena bukan hanya dirinya dan istrinya yang terguncang karena Yunita hilang bahkan putranya Maulana Anderson juga merasakan hal yang sama bahkan dia selalu menyalahkan dirinya karena dia bukan cerminan kakak yang baik bagi adiknya itu.
membiarkan adiknya diculik oleh orang yang tak dikenal adalah kesalahannya karena dia tidak menemani adiknya pergi ke rumah adik dari sahabatnya itu.
Yunita pergi menuju ke kediaman temannya itu hanya diantar oleh supir pribadinya dan kejadian penculikan itu tepat ketika Yunita menuju ke rumah temannya saat mereka memerlukan sebuah informasi mengenai kejadian itu supir yang mengantar Yunita terbaring lemah di ranjang rumah sakit supir itu Koma karena terkena beberapa luka di tubuh serta kepalanya terlihat sekali jika dia mencoba untuk membuat para penculik itu mengincar Yunita teralihkan. tapi, nasib berkata lain Meraka berhasil mengalahkannya dan membawa Yunita pergi.
CEKKLEK.
Ega membuka kenop pintu kamar putranya dengan perlahan karena takut membangunkan putra sulungnya itu karena baru malam ini Maulana bisa tertidur pulas seperti sekarang ini pasalnya dua hari yang lalu Maulana terus saja memimpikan adiknya yang tengah meminta bantuannya untuk pergi menyelamatkan dirinya.
tangan besarnya terulur mengelus pelan Surai hitam Maulana dengan pelan. Ega menatap sendu anak pertamanya itu jika biasanya Maulana tidak akan mengalah jika sedang beradu argumen dengan adiknya Yunita kini menjadi pendiam dan pemurung.
jika Ega disuruh untuk memilih dia akan memilih kedua anaknya itu berkelahi setiap hari dari pada seperti ini yang satunya menjadi pendiam dan yang satunya hilang entah kemana.
"Maulana jangan menyalahkan dirimu nak ini semua bukan salahmu ini salah ayah yang seharusnya bisa menjaga Yunita dengan baik... ayah berjanji akan membawa pulang adikmu dengan keadaan baik-baik saja secepat mungkin"
walaupun anaknya itu telah berusia 15 tahun tapi Maulana masihlah anak-anak baginya masih memerlukan arahan yang baik untuknya dan masih memiliki sifat yang kekanakan.
mata hazel Ega nampak lelah karena sudah tiga hari lamanya dirinya tidak bisa tertidur tidak akan bisa jika anak perempuannya belum ia temukan.
Ega merapihkan selimut yang terjatuh dilantai dan diapun pergi dari kamar putra sulungnya itu dengan kekosongan hati yang tambah menjadi-jadi Yunita yang menghilang bak ketelan bumi berdampak besar bagi suasana hati keluarganya.
tanpa diketahui oleh Ega Maulana sedari Ega masuk kedalam kamarnya ternyata cowok berumur 15 tahun itu belum tertidur dan mengambil ponselnya yang berada di nakas dekat tempat tidurnya itu.
dia mencari kontak seseorang yang ia sangat kenal dan seseorang itu adalah sahabat karibnya.
"halo Revan bagiamana?? apakah kau sudah menemukan keberadaan adikku??"tanya Maulana dingin.
"aku sudah menemukannya kita bertemu ditempat biasa jangan beritahu ayahmu terlebih dahulu karena ini masih dalam pengamatan kita semua untuk mengetahui apakah tempat itu adalah tempat yang menjadikan tempat adikmu diculik"
"baiklah aku akan datang lima belas menit lagi tunggu aku disana"
"baiklah"
dengan cepat Maulana mengambil hoddie hitam miliknya untuk menghangatkan tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk dimalam hari, Maulana juga tak lupa untuk mengambil kunci motornya yang ada di meja belajarnya dan tanpa menunggu lama anak sulung keluarga Anderson itu pergi dari kamarnya untuk menuju ke garansi untuk mengambil motor miliknya.
Maulana berjalan pelan menelusuri ruang tamu yang luas itu dan tak lupa kepala menoleh kesana-kemariĀ untuk menyakinkan bahwa tidak ada orang yang minat dirinya pergi.
sesampainya di garansi Maulana langsung menyalakan mesin motornya itu dan dengan kecepatan tinggi dia menjalankan mobilnya membelah jalanan yang dingin dan sepi itu.
"Yunita Abang datang"
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"lihat itu plat nomornya sama dengan plat nomor kendaraan yang menculik Yunita tapi tempat ini sangatlah jauh dari sini mungkin akan membutuhkan waktu lima jam untuk menuju ketempat itu dan juga Meraka itu sudah dewasa sedangkan kita hanya anak remaja yang masih bau kencur Meraka bahkan memiliki senjata api bagaimana kita akan melawan mereka"
Maulana berfikir sejenak tiba-tiba terlintas satu ide di dalam kepalanya itu.
"ayahku memiliki barang seperti itu di sebuah ruangan yang hanya aku dan dia yang mengetahui keberadaannya" Maulana memasang wajah datarnya.
"sungguh?? lalu dimana itu??"
"ruangan terpencil yang ada di belakang rumahku"
"baiklah teman-teman kita akan berperang, siapkan diri kalian untuk hal ini karena tenaga kita akan terkuras cukup banyak, ini bahkan akan lebih menengangkan ketimbang perkelahian saat di tawuran"
"baiklah sepertinya ini akan menjadi kenangan yang menegangkan dan tak bisa terlupakan maka dari itu kita harus segera pergi ketempat itu"
mereka pun bergegas untuk pergi kekediaman Anderson untuk mengambil beberapa senjata guna melumpuhkan lawan, karena jika mereka pergi ketempat itu hanya sebatas tangan kosong bukannya menolong Yunita Mereka pasti akan ikut juga menjadi korban selanjutnya dari orang-orang itu.
Maulana dan kawan-kawan mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata-rata karena merak tak ingin membuang-buang waktu yang ada Mereka itu adalah geng motor yang terkenal di kompleknya itu maka dari itu mereka mahir mengendarai motor ninja mereka dengan kecepatan diatas rata-rata.
sesampainya mereka dikediaman Anderson mereka langsung mematikan mesin motor mereka masing-masing dan tim dibagi menjadi dua.
Tim pertama diketuai oleh Revan dan tim kedua diketuai oleh Maulana.
Tim kedua adalah tim yang akan mengambil senjata itu dan tim kedua adalah tim yang menjaga motor mereka bukan hanya menjaga mereka juga ditugaskan untuk menjaga apakah kawasan rumah Anderson itu aman tidak ada yang bangun ataupun melihat kegiatan mereka.
setalah kedua tim mengerti apa tugasnya Maulana selaku tim kedua langsung melesat ke tempat tujuan mereka tempat rahasia yang menyimpan banyak senjata.
"baiklah semuanya ambil senjata yang kalian memang bisa menggunakannya!"
setalah mereka mengambil senjata itu Maulana dan anak buahnya langsung melesat ketempat dimana adiknya itu berada tempat yang menjadi saksi bisu adiknya itu diculik.
"ayah ....bunda aku akan membawa Yunita pulang... doakan aku agar bisa pulang dengan selamat maafkan aku tidak memberitahu kepada kalian berdua jika aku akan membawa adikku pulang dengan tanganku sendiri aku akan bertanggung karena kelalaian ku Yunita diculik oleh orang yang tak dikenal. aku berjanji ayah bunda aku akan membawa pulang Yunita Anderson kita walaupun nyawaku sebagai taruhannya aku berjanji akan membawa Yunita kita pulang dengan selamat" ucap Maulana di dalam hatinya.
motor itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah dinginnya udara malam dan juga jalanan yang sepi.
Maulana tak memperdulikan tentang dia akan terkena tilang nantinya ataupun yang lebih parah lagi dia mungkin akan mengalami kejadian tak mengenakan yang berdampak buruk bagi dirinya tapi ia tak memperdulikan itu yang ia perdulikan adalah keselamatan adik tercintanya Yunita Andesron.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini karena novel tak akan melepaskan akan update setiap hari loh..
__ADS_1