
terlihat dua orang lelaki tampan yang berbeda usia tengah berbincang-bincang mengenai suatu hal yang sangat serius.
"apa kau sudah bertemu dengannya??"tanya seorang laki-laki paruh baya yang berwajah rupawan itu.
"iya bahkan kita berdua sudah saling mengenal"jawab laki-laki yang berwajah bak dewa-dewa Yunani yang memakai kaos lengan pendek berwarna hitam yang memperlihatkan lengannya yang kekar dan juga dipadukan dengan celana jeans berwarna biru tua yang panjang membuat kakinya yang jenjang terlihat dan hal itu membuat dirinya menambah nilai plus tersendiri.
"apakah dia tidak mengenalimu??"
"tidak kurasa dia tidak akan pernah mengingatku lagi"jawab pemuda tampan itu.
laki-laki paruh baya di hadapannya menepuk-nepuk bahunya berusaha memberi semangat kepada dirinya.
"sudahlah lambat laut pasti dia akan mengingatmu kembali.... tapi bagaimana kau tahu dimana dia bersekolah??"
"kau ingat aku memiliki teman yang bisa melacak apapun dengan cepat jadi tak heran aku bisa menemukan keberadaannya dengan mudah" ucap lelaki tampan itu dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya yang rupawan itu.
"oohh... iya aku lupa temanmu saat kau menginjak di kelas satu SMP itu yang bernama Nathan dan julion apa aku benar"
"hmm... walaupun kau sudah tua tapi... ingatanmu kuat juga"
"ingatan yang kuat memang sedari dulu diwarisi oleh keluarga Miller tak heran semua anggota keluarga Miller sebelumnya menjabat sebagai pengusaha "
"hn.. bukan hanya kuat diingatan tapi juga Meraka memiliki kapasitas otak yang cerdas yang mampu melumpuhkan lawan dalam dunia perbisnisan...."
"hey... sudahlah jangan membahas itu kita tadi membahas tentang dia okeh... Harus kuakui kau itu terlalu menanggung rasa bersalah yang besar bukan sampai-sampai kau melakukan hal yang seperti ini kau tahu lambat laut dia pasti akan mengetahui dirimu itu dan ayah tidak ingin kau dan dia saling menyakiti satu sama lain..."
"aku akan menerima konsenkuensi apapun ayah asalkan aku selalu berada di sampingnya aku tak bisa tinggal diam saja ketika dia didekati oleh laki-laki hidung belang diluar sana rasanya aku ingin langsung mengirimkan mereka ke neraka yang dibuat sendiri"ucap laki-laki yang bernama Afandi .. Yap laki-laki yang tengah berbincang-bincang dengan seorang laki-laki paruh baya yang diketahui adalah ayahnya sendiri adalah Afandi lebih tepatnya afandi Miller.
lelaki itu menyenderkan tubuh tegapnya ke mobil miliknya yang berwarna putih. Mata onyx sekelam langit malam itu menatap kembaran dirinya versi lebih tuanya dengan tatapan tajam miliknya.
"kau ini mengingatkan ku dengan sifat ayah dulu saat sedang kasmaran dengan ibumu hah anak muda jaman sekarang memang rumit hubungan percintaannya.... ah sudahlah lagi pula kau sudah dewasa kau pasti bisa menyelesaikan masalah percintaan mu sendiri kan aku datang kesini hanya ingin memberitahukan kepada mu bahwa cucuku ingin bermain bersamamu"ucap laki-laki paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis andalannya.
"aku tidak bisa mungkin lain kali saja" ucap Afandi.
__ADS_1
"apakah urusan itu lebih penting dari keponakanmu sendiri Afandi??"
"yahh mungkin"
Chris memandang anaknya datar.
"hmm.. yasudah aku akan pulang terlebih dahulu ibumu pasti akan mencari ku kau harus menjaga kesehatan tubuhmu jangan sampai masuk ke rumah sakit hanya karena meminum kopi terlalu banyak karena bukan hanya kau yang akan terkena amarah Jane aku juga akan terkena marah Jane bahkan dia juga mengusirku dari kamar alhasil aku harus tidur di kamar tamu" Chris berjalan menuju mobil miliknya.
Afandi menyunggingkan senyum tipisnya. dari dulu sampai sekarang kebiasaan ibunya itu masih sama selalu mengusir ayahnya ketika dirinya masuk rumah sakit padahal itu bukan salah ayahnya ia sungguh miris melihat nasib ayahnya yang dengan terpaksalah tidur di kamar tamu.
"tenang saja aku akan baik-baik saja kali ini"
"semoga saja perkataan yang kau lontarkan benar supaya aku tak tidur di kamar tamu lagi... yasudah aku tak ada urusan lagi jika kau merasa kesepian pintu mansion selalu terbuka untukmu"
setalah mengucapkan itu Chris pun menancapkan gasnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"jika aku sekarang berada di new York jawabanku pasti iya tapi sekarang aku sudah berada di tempat asal ku aku tak akan pernah merasakan kesepian karena pujaan hatiku selalu di sisiku" ucap Afandi disertai senyumnya yang sangat jarang lelaki itu perlihatkan kepada orang lain hanya satu orang yang akan bisa melihat senyumnya yang indah ini yaitu pujaan hatinya yang telah ia temukan.
"sudah pukul 04.45 kurasa aku harus menghampirinya" ucap Afandi berjalan menuju tempat futsal.
.
.
.
.
.
"iya iya bang aku lagi jalan nih sabar kek napa "
"dah sore ta ya wajar gw ngga sabar Lo masih lama ngga kalo masih lama sih Abang aja yang jemput gimana??"tawar Maulana.
__ADS_1
"ngga lama kok ini lagi nungguin taksi" bohong Yunita saja baru keluar dari tempat futsal itu dia bahkan tidak langsung pergi dia menyenderkan tubuhnya di depan pintu.
"beneran ngga lama??"
"iya beneran udah lah gw matiin dulu sambungannya jangan nelfon gw lagi batere handphone gw dah nipis" ucap Yunita melihat baterai ponselnya yang tinggal 20% saja.
"oke oke ntar kalo dah sampe di depan rumah kabari Abang yah soalnya Abang bakalan pulang telat"
"iya iya" Yunita mematikan sambungan telepon itu secara sepihak setalah itu ia memasukan ponselnya ke dalam saku roknya.
"duh kok gw lupa ya naroh tas gw dimana haish nyebelin banget sih"
ketika Yunita tengah asik memikirkan dimana keberadaan tasnya itu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan membuat si empunya langsung menolehkan wajahnya ke samping.
mata Yunita melebar "Afandi??"
"apa yang kau lakukan disini Yunita??"tanya afandi.
karena jarak mereka terlalu dekat Yunita langsung berjalan ke arah sampingnya agar jarak mereka tidak terlalu dekat.
"ngga tahu deh bingung" jawab Yunita.
Afandi mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia itu kenapa?? batin Afandi berucap.
"apa kau sedang mencari sesuatu??"tebak Afandi.
Yunita menoleh ke arah Afandi. "kok Lo tahu sih??"
"dari raut wajahmu yang seperti itu sudah sangat ketara sekali kau mencari sesuatu milikmu yang hilang... jadi apa yang kau cari??" tanya Afandi sedikit menundukkan kepalanya guna minat wajah Yunita.
"huft Lo tahu ngga tas gw itu ilang dan gw ngga tahu tuh tas ilang dimana!"ucap Yunita frustasi.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini..... karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap harinya lohhh.. makannya jangan lupa untuk mengklik tombol favorit ya....
__ADS_1