TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
dalam bahaya


__ADS_3

karena pintu besi itu berkarat menimbulkan suara yang berisik sehingga dua orang yang tengah bermain kartu itu langsung menghampiri ke arah pintu besi itu.


"kau dengar apa yang kudengar bukan??" tanya Fin .


"iya sepertinya ada seseorang yang menyelinap masuk ke markas kita"


"baiklah kau duluan melihat siapa pelakunya" ucap Fin mendorong bahu Yonatan membuat Yonatan menatap Fin jengah.


"kenapa harus aku kau saja yang melihatnya badanmu kan besar jadi orang itu pasti akan langsung takut kepadamu"


"ck! kenapa kau sangat susah di atur hah dasar bocah ingusan begini saja kita akan melihat pelakunya bersama-sama kita hitung bersama-sama satu sampai tiga lalu kita langsung membuka pintu itu"


"baiklah"


disisi lain Yunita tengah kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi karena tindakan cerobohnya nyawanya sekarang akan menjadi taruhannya.


"aduhhhh gimana nih?!!!!... gw gw ... gw mau ngumpet dimana??... aduh di mana ya??" gumam Yunita panik. Ia berjalan cepat melihat tempat disekitar itu yang aman untuk bersembunyi.


mata hazelnya menangkap ruangan yang memilki pintu kayu yang masih kokoh yang sepertinya Ama untuk ia gunakan bersembunyi.


"tuh ruangan kayaknya aman deh buat bersembunyi ( Yunita menoleh ke belakang melihat apakah ada seseorang yang menguntit nya). oke ngga ada pilihan lain lagi nyawa gw sedang dalam bahaya mau ngga mau gw harus masuk ke dalam" Yunita pun bergegas masuk ke dalam ruangan itu dan langsung bersembunyi di samping lemari yang cukup besar itu.


"aduh aduh.... yallah tolong hamba..... bang maul tolong hiks!" batin Yunita memohon.


.


.


.


.


"satu"


"dua"


"tiga" mereka berdua pun langsung membuka pintu besi itu dan mengecek apakah ada orang di luar sana namun mereka tak menemukan orang yang ada di sana.


"kenapa tidak ada orang?? perasaan tadikan ada yang ingin membuka pintu besi itu hmmmm atau jangan-jangan itu bukan manusia Fin itu adalah hantu penghuni gedung terbengkalai ini" Yonatan menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah takut dengan apa yang tadi ia lontarkan.


Fin menatap Yonatan malas "seharusnya ketua tidak mengajakmu ikut dalam misi ini. Dasar kekanakan, seharusnya kau itu mengganti buku yang kau baca dengan buku yang mempelajari tentang senjata agar kau bisa menggunakan senjata dasar" ucap Fin kesal.


"heh aku memang sudah bisa memakai senjata tak perlu di pelajari lagi" ucap Yonatan .

__ADS_1


"kau hanya bisa memakai pisau kau tak tahu cara memakai hangun shotgun dan panahan kau hanya bisa menyerang jarak dekat ketimbang jarak jauh"


"hey aku mahir melempar pisau dan tak pernah sekalipun lemparan ku itu meleset jadi aku juga bisa bertarung jarak jauh" ucap Yonatan tak terima.


"tapi pisau disini jadi habis gara-gara kau melemparkannya begitu saja dan kau malah tidak mengambil kembali pisau yang kau lemparkan itu"


Yonatan memandang Fin kesal orang tua ini selalu saja membuat dirinya kesal entah kenapa ia ingin memberi pelajaran kepada orang tua ini karena selama ia bekerja disini Yonatan selalu di salahkan oleh Fin itu membuat yonatan sedikit terbesit rasa benci terhadap lelaki bernama Fin itu.


"kau selalu saja membuatku marah apa yang kau inginkan hah?!" ucap Yonatan muak.


"beraninya kau membentak ku apa kau tahu aku ini siapa hah?!" bentak Fin penuh emosi.


"aku tahu siapa dirimu kau adalah orang tua yang bawel dan menyusahkan badan sebesar itu sangat sulit untuk berlari kau selalu saja tertinggal oleh kami bertiga karena larimu yang lambat cih menyusahkan saja kau" Yonatan mengeluarkan semua unek-uneknya yang ia pendam sejak lama ia sungguh muak bekerja bersama si tua  Fin itu.


Fin menatap tajam Yonatan.


"berani kau!" Fin berjalan cepat menghampiri Yonatan saat ia ingin melayangkan serangannya tiba-tiba Yonatan mendorong tubuhnya hingga ia sedikit terjungkal kebelakang.


"apa yang kau yang barusan hah?!" bentak Fin murka.


"sudah lah aku tidak ingin berkelahi denganmu itu membuang waktu berhargaku saja sebaiknya kita cari siapa tahu jika tadi itu adalah orang" Yonatan pun berjalan mendahului Fin yang masih berdiri di belakangnya menatapnya tajam.


"cih bocah tengik" umpat Fin.


"Sepertinya dia tidak jauh dari tempat ini" gumam yonatan.


"hey bocah tengik" panggil Fin.


dengan malas Yonatan membalikkan badannya. Matanya menangkap Fin yang tengah berdiri di depan pintu kayu bercat berwarna hitam itu.


"apa?" tanyanya malas.


"kurasa ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini" ucap Fin.


"apa katamu??"


"ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini" ucap Fin menempelkan telinganya di depan pintu kayu itu.


"apa yang sedang kau lakukan hah??" Yonatan menghampiri Fin dan menatap Fin dengan pandangan bertanya.


"diam lah! jangan menggangguku" bisik Fin.


di sisi lain Yunita tengah ketakutan karena ada seseorang Yang ada di depan pintu tempat ia bersembunyi.

__ADS_1


gawat! mereka udah ada di depan pintu lagi gimana nih?! batin Yunita ketakutan.


aduh gw harus gimana nih?? ( ia mencari benda yang memungkinkannya untuk melawan orang-orang yang ada di depan pintu itu. ketika dia mencari ke dalam lemari ternyata ia melihat satu buah shotgun yang kelihatannya masih berfungsi ia pun mengambil shotgun itu dan ia mencari amunisi dari shotgun itu yang ada di bawah tempat shotgun itu di letakkan. ia pun memasukan amunisi itu kedalam shotgun itu sehingga menimbulkan suara yang bersisik membuat dua orang di luar sana bersiap untuk mendobrak paksa pintu kayu itu) okeh gw siap bertempur ya.... walaupun gw sama sekali ngga tahu cara menembak tapikan gw udah sering main game tembak menembak"


Yunita berjalan ke arah pintu dan mengarahkan shotgunnya tepat di tengah-tengah pintu itu.


"maafin aku yallah tapi ini kepepet banget sumpah" batinnya meminta ampun.


"bismillahirrahmanirrahim"


dor!


.


.


.


.


.


.


.


.


*di tempat lain dua orang laki-laki yang tengah berada di balkon menerima telepon dari bos mereka terkejut karena mendengar suara tembakan.


"apa yang terjadi di sana!" ucap orang di telfon.


"ah mungkin itu ulah Fin dan Yonatan pasti mereka sedang bertengkar aaa.... kalau begitu kita akan menghampiri mereka sebelum perkelahian mereka tambah tak terkendali"


"baiklah " panggilan telfon itupun terputus Jack menghampiri temannya yang sudah mempersiapkan handgun miliknya.


"hey tadi itu suara apa??" tanya Jack.


"entahlah kurasa itu suara shotgun"


"baiklah kita langsung saja menghampiri mereka*"


jangan lupa like share vote and coment ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini ya.....

__ADS_1


__ADS_2