
setalah kejadian Yunita yang terjatuh dari motornya cewek bermarga Anderson itu langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan lebih lanjut.
sekarang Gilang dan Rifki tengah duduk di bangku depan ruangan Yunita dengan perasaan yang khawatir.
Rifki mencoba untuk menghubungi Reza yang masih ada di resepsionis karena mengurus administrasi yunita. Ya tadi yang menghubungi ambulance adalah Reza yang datang terlambat ke tempat kejadian karena ada urusan yang penting.
sudah sepuluh kali Rifki menelfon Reza tapi tak ada satupun yang dibalas oleh cowok bermarga tanjung itu.
"***** si Reza dari tadi gw telfon tapi ngga ada yang diangkat Lang. Gimana nih?? jangan-jangan dia udah ketemu sama bang maul..."
"ish Lo jangan ngomong kaya gitu dong"
"aduh gawat nih kalo bang maul tahu habislah kita" ucap Rifki nelangsa.
"iya nih semua gara-gara devano yang ngajak si Yunita bakalan awas aja Lo devano"ucap Gilang kesal.
tiba-tiba mata hitam Rifki melotot melihat sederet pesan dari orang yang membuatnya keringat dingin ketakutan. "***** ..... ternyata bang maul udah ada di rumah sakit ini Lang astagfirullah tamatlah kita berdua!!!" ucap Rifki berjalan ke sana kemari ketakutan.
"jangan bercanda Lo Ki ngga lucu tahu!" ucap Gilang khawatir.
"ngga suer gw ngga bercanda kalo Lo ngga percaya nih liat aja sendiri" Rifki menyerahkan handphone miliknya ke Gilang. Cowok yang memiliki julukan playboy itu langsung merebut handphone Rifki dan benar saja apa yang di katakan oleh kakak sepupu Yunita itu 100% benar.
matanya melihat sederet pesan dari kakaknya Yunita tak lupa bibirnya membaca sederet pesan singkat itu. pesan yang singkat tapi bisa membuat Gilang dan Rifki sangat ketakutan.
"Lo berdua udah bikin Adek gw masuk rumah sakit terimalah akibatnya" itulah pesan yang Maulana Anderson kirim ke handphone milik adik sepupunya.
Gilang meneguk ludahnya kasar lalu ia menatap Rifki yang masih mondar mandir kebingungan.
"Ki ini beneran deh detik-detik terakhir kita di bumi deh" ucap Gilang dengan wajah yang nelangsa.
Rifki memandang Gilang tak kalah nelangsanya. "s****n di devano gara-gara dia Yunita masuk ke rumah sakit dan bang maul marah awas aja besok" ucap Rifki kesal.
"besok?? yang bener aja inikan detik-detik terakhir kita Ki"
"kita ngomong aja yang sebenarnya ke bang maul pasti dia marahnya bukan ama kita tapi kita harus nungguin si Yunita bangun dulu" ucap Rifki membuat Gilang menatapnya malas.
__ADS_1
"kalo Lo mau bang maul marah sok atuh lokan tahu sendiri kita yang nemenin yunita ke sana pasti kita yang bakalan diincar sama bang maul bukan si devano"
"tapikan gara-gara di Devano yang curang si bos jadi masuk ke rumah sakit ya berarti dia yang salah Lang"
"iya sih tapikan kita di amantin sana bang maul supaya jagain si Yunita jangan sampe kenapa-kenapa tapi malah kita ngebuat Yunita masuk ke rumah sakit coba aja kita ngga ngebiarin si Yunita Nerima tantangan dari devano pasti si bos ngga bakalan masuk ke rumah sakit ini dan kita ngga bakalan ketakutan kaya gini Ki.... apa lagi Lo sebagai kakak sepupunya si Yunita yang udah di percaya sama bang maul buat jagain adiknya " ucap Gilang membuat Rifki menghentikan aksi mondar-mandir nya.
baru kali ini otak gw jadi ngga bener batin Rifki berucap.
"iya.... perkataan Lo ada benernya juga ini semua salah kita yang seharusnya ngga ijinin Yunita buat ikut pertandingan balapan itu" Rifki menundukkan kepalanya menghadap ke sepatu hitam miliknya. Ia sangat bingung harus bagaimana ini adalah kesalahannya bukannya melarang Yunita agar tidak mengikuti balapan liar Fikri malah membiarkan adik sepupunya itu tanding dengan devano yang notabennya dari dulu sangat membenci yunita.
awas aja Lo devano berani-beraninya Lo ngebuat si Yunita terluka siap-siap aja ngadepin gw batin Rifki berucap.
ceklek.
pintu ruangan Yunita akhirnya terbuka Rifki dan Gilang tanpa Elama langsung menghampiri dokter yang baru saja akan meninggalkan tempat itu.
"dok dok bagaimana keadaan adik sepupu saya dok??" tanya Rifki dengan ekspresi wajah yang cemas.
"iya dok bagaimana keadaan Yunita??" tanya Gilang tak kalah cemasnya.
"Yunita tidak apa-apa hanya mengalami benturan sedikit di kepalanya yang membuatnya pingsan seketika sebentar lagi Yunita pasti akan bangun bersabarlah" ucap dokter itu ramah.
mendengar pernyataan dari sang dokter membuat Rifki dan Gilang bisa bernafas lega.
"tapi dok apa kita boleh masuk kedalam??" tanya Rifki.
"silahkan saja tapi jangan jangan membuat pasien tak nyaman ketika sudah bangun"
dengan semangat 45 Rifki dan Gilang langsung mengangguk-angguk kepalanya.
"iya dok tenang aja" ucap mereka berdua.
"baiklah jika ada sesuatu yang perlu ditanyakan kalian berdua boleh datang keruangan ku saya permisi dulu"
dokter itupun pergi meninggalkan Gilang dan Rifki yang tengah tersenyum lega.
__ADS_1
"jadi gimana nih mau masuk ke dalam ngga??" tanya Gilang.
"ya masuklah emang kita mau ngapain di laut sini"balas Rifki.
"yaudah yuk masuk"
mereka berdua pun langsung masuk kedalam ruangan inap Yunita.
pertama kali yang menyambut mereka adalah bau antiseptik yang menyengat khas rumah sakit.
"mau apa Lo berdua kesini?"
Rifki dan Gilang menoleh ke sumber suara seketika mata mereka melotot karena melihat Yunita yang tengah menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang rumah sakit itu dan tak lupa ekspresi wajah yang datar itu menyambut mereka berdua.
"Lo udah bangun ta Alhamdulillah gw kira Lo bakalan bangun besok" Rifki langsung memeluk adik sepupunya itu dengan erat saking eratnya membuat Yunita tak bisa bernafas.
"Ki astagfirullah gw ngga bisa nafas b**o!" ucap Yunita berusaha melepaskan dirinya dari Rifki.
mendengar bahwa Yunita tidak biasa bernafas karenanya ralat karena pelukan mematikannya membuat cowok bermarga Prasetyo itu langsung melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyum manisnya.
"ahehehe.... maaf maaf"
Gilang menggelengkan kepalanya. "kebiasaan Lo Ki dari dulu... Ya gimana?? ada yang sakit ngga??" tanya Gilang sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana jeans-nya.
"ada badan gw rasanya kayak remuk semua sama kepala gw sakit ya walaupun cuma sakitnya sedikit tapi tetap aja sakit" ucap Yunita.
"ya itu wajar kan Lo abis jatoh dari motor"
"selain itu ada lagi ngga??" tanya Rifki.
Yunita menggelengkan kepalanya. "eh btw kepala gw luka ngga atau cuma ke bentur doang??"
"luka sih tapi cuma sedikit"
"OOO pantes aja sakit..."
__ADS_1
jangan lupa untuk like share and coment ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini....