
"arghhhh!!!!! kenapa paman belum datang juga sih?!!.. aku kan lapar sekali"
Thomas melempar bantal ke lantai dengan sangat keras, dengan kesal anak berusia 4 setengah tahun itu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil susu cokelat miliknya.
"katanya tidak akan lama tapi sudah dua puluh menit aku menunggu paman tak datang-datang dasar menyebalkan!"
Thomas meneguk habis susu cokelat miliknya dengan cepat.
matanya menatap malas jam tangan mahal miliknya.
"jika sampai lima menit lagi paman tidak datang aku akan pergi saja dari sini.."
Thomas pun berjalan menuju ruang tv ia berniat mengambil tasnya yang masih berada di sana.
"dasar paman padahal dia sangat tidak suka dengan orang yang telat tapi dia sendiri sering telat menyebalkan sekali..."
tangan mungilnya meraih gagang pintu dan membukanya.
"sepi sekali..." gumamnya ketika melihat halaman depan rumah mewah itu sangatlah sepi.
seperti tidak biasanya saja.. batinnya berucap.
"aku akan menelpon ayah saja menunggu paman pulang itu adalah hal yang paling tidak berguna membuang-buang waktu ku saja"
Thomas menekan beberapa dikit nomer telpon dan langsung menghubunginya.
"ayah..."
"Thomas ?? ada apa??"
"bisakah kau menjemput ku??"
"kenapa?? bukankah kau ingin bermalam dengan pamanmu itu??"
"ayah paman itu tidak akan pulang sudah setengah jam aku menunggu tapi dia belum pulang jadi karena itu aku tidak jadi menginap disini aku ingin kau menjemput ku ayah"
Thomas mengerucutkan bibirnya lucu.
"apa?! kenapa dia begitu tega dengan keponakannya... ambillah ayah akan segera ke sana Thomas kau jangan kemana-mana dulu tetaplah di situ sebelum ayah datang oke"
__ADS_1
"iya ayah hati-hati di jalan.."
setelah panggilan terputus Thomas berjalan menelusuri taman kecil yang berada di depan halaman rumah pamannya itu.
lalu ia berjalan kearah tempat duduk kayu dekat pohon mangga.
Thomas mendudukkan dirinya di tempat itu, ia cukup malas menunggu di depan rumah karena itu ia lebih memilih untuk duduk di samping pohon mangga selain tempat itu adalah favoritnya ia juga bisa mengambil salah satu mangga dari situ untuk ia makan.
padahal di dalam rumah sudah di sediakan buah-buahan yang sudah di kupas khusus untuk Thomas tetapi entah kenapa Thomas enggan untuk memakannya karena menurutnya memakan buah itu langsung dari pohonnya adalah hal yang menantang.
kakinya berjinjit untuk lebih mempermudah dirinya mengambil mangga yang berada beberapa centi di atas kepalanya.
hup.
tangannya berhasil mengambil mangga itu, setelah itu ia langsung duduk, dan memperbaiki bajunya yang sedikit keluar dari celananya.
"apa kubilang makan buah langsung dari pohonnya adalah hal yang paling menantang"
ketika Thomas sedang asik memakan buah mangga yang tadi ia ambil, terdengar suara klakson mobil dari arah depan.
Thomas memperhatikan pintu mobil yang terbuka.
"paman...."
matanya seketika melebar melihat paman tampannya yang baru keluar dari mobil mewah berwarna hitam.
ia lalu melihat tangannya yang terdapat buah mangga yang sudah ia makan setengah.
"bagaimana ini?!!! jika paman mengetahui aku memakan buah langsung dari pohonnya aku akan kena amuk oleh paman huweee bagaimana ini...."
matanya melihat kesana-kemari guna menemukan tong sampah namun nihil tidak ada satupun tong sampah yang terdapat disana.
"kenapa tong sampah disini tidak ada?! padahal biasanya ada 3 tong sampah disini arghhhh bagaimana ini??"
dirinya semakin merasakan ketakutan yang sangat besar ketika pamannya melirik kearahnya.
"bagaimana ini??? tamatlah riwayat ku" Thomas memasang wajah takut.
keringat dingin mulai menyelimuti tubuhnya. tangan yang tengah memegang buah mangga itu menjadi gemetar, ekspresi wajahnya seperti akan menangis.
__ADS_1
Thomas merasakan ketakutan yang sangat besar ketika melihat ekspresi wajah pamannya yang menyorotkan tatapan tajam kepadanya, berbeda ketika Thomas membuat kesalahan kepada sang ayah ia tak akan merasakan ketakutan yang besar seperti itu karena sang ayah tidak akan memarahinya ketika dia berbuat salah dia hanya akan marah dia hanya akan menegurnya dengan suara yang lembut berbeda dengan sang paman yang akan memarahinya ketika dia berbuat salah baik kesalahan kecil ataupun besar bahkan pamannya itu tak segan-segan memberinya sebuah hukuman untuknya.
Thomas tak bisa berfikir bagaimana nasib anak dari pamannya nanti?? dia saja yang menyandang gelar sebagi keponakannya saja di perlakukan seperti ini apa lagi anak pamannya sendiri??.
Thomas menggelengkan kepalanya tujuan utamanya kali ini adalah lari sejauh mungkin dari sang paman karena ia tahu setelah ini Thomas pasti akan mendapatkan hukuman serta amukan dari sang paman maka dari itu ia harus segera pergi dari pamannya.
kaki kecil Thomas pun bersiap untuk pergi menuju ketempat yang menurutnya tidak bisa pamannya itu masuki.
tetapi ketika dia bersiap untuk lari suara yang berasal dari pamannya itu membuat dirinya tak bisa berkutik sedikit pun.
"jika kau sampai berani lari dari masalah ini aku akan melaporkan hal ini kepada ibumu dan kita lihat saja hukuman yang akan kau dapatkan"
dengan gerakan slow motion Thomas membalikkan badannya melihat sang paman yang tengah berjalan kearahnya dengan gaya stay cool.
si**an! umpatnya didalam hati.
dengan malas ia menatap sang paman yang juga tengah menatapnya tajam.
"kenapa kau makan mangga itu?? bukankah di dalam juga banya mangga yang sudah di kupas bahkan lebih enak dari pada yang kau makan itu?"
Afandi memandang rendah keponakannya yang tengah bingung mencari jawaban dari pertanyaannya itu.
"mmm.. a.. itu karena aku hanya ingin makan mangga yang di sini lebih enak dan menantang ketimbang yang di dalam ya aku tidak bilang jika mangga di dalam itu tidak enak hanya saja memakan mangga yang baru saja di ketik itu lebih enak ketimbang yang paman beli di supermarket"
Thomas tersenyum menatap pamannya.
Afandi memijat pangkal hidungnya pelan ia tak tahu mengapa tingkah keponakannya sangatlah bar-bar seperti itu padahal kakak dan juga kakak iparnya tidak ada yang memiliki sifat seperti itu.
sebenarnya kau itu anaknya siapa??!.
"Thomas kurasa kau masih ingat penyebab kau masuk ke rumah sakit dua Minggu yang lalu"
afandi masih setia memandang tajam sang keponakannya itu seolah-olah keponakannya adalah mangsa yang ia incar.
s**l kenapa dia masih mengingatnya?! batinnya kesal.
"hmm" Thomas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya.
"lalu kenapa kau mengulangnya lagi?? apa kau ingin masuk kerumah sakit lagi??"
__ADS_1
dengan cepat Thomas menggelengkan kepalanya. Thomas paling benci masuk kedalam rumah sakit karena ia tak suka dengan bau obat-obatan yang sangat menusuk itu.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini karena cerita tak akan melepaskan akan update setiap hari lohh