TAK AKAN MELEPASKAN

TAK AKAN MELEPASKAN
penyemangat


__ADS_3

cewek yang notabennya itu orang yang telmi alias telat mikir hanya ber "oh" ria saja mendengar penjelasan dari Gilang.


"ohh begitu" gumam Yunita sambil menganggukkan kepalanya.


"iya.. begitu deh" ucap Gilang keringet dingin. Untung si bos telmi jadi kali ini gw bakalan selamat tapi gw ngga tahu besok apakah gw masih bisa liat dunia ini batin Gilang meraung-raung.


"lah ya kenapa Lo bawa toa segala??" Gilang yang melihat Yunita membawa toa di tangan kanannya. Yunita menoleh sekilas ke arah gilang.


"dari dulu kan kalo lo lo pada tanding kek gini gw selalu bawa toa... Masa lo baru nyadar sih"ia melihat Gilang dengan ekor matanya.


"eh iya... Lokan selalu bawa toa ya kok gw lupa sih"ucapnya cengengesan dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"mungkin efek sakit perut "jawab Yunita memencet tombol on di toa itu.


"iya kalinya"ucap Gilang menatap Yunita dengan pandangan merasa masalah dan takut merasa bersalah karena dia menipu Yunita takut karena dia pasti akan kena Bogeman mentah dari cewek bermarga Anderson itu.


"Lang kan Lo jadi pemain cadangan mending lo ikut gw memberi semangat buat mereka"seru Yunita menyuruh Gilang untuk ikutan teriak-teriak ngga jelas buat nyemangati mereka.


"lah tapi..... ucapannya berhenti ketika dirinya mendapatkan tatapan tajam dari cewek di sebelahnya itu membuat siapa saja yang melihat tatapan itu merinding dibuatnya.


"oh oke... oke"ucap Gilang pasrah. she's the bos


"oke kita mulai!"seru Yunita.


"SEMANGAT PELITA HARAPAN PASTI BISA NGALAHIN PARA PECUNDANG KELAS KAKAP ITU!!!"teriak Yunita membuat teman-temannya terkekeh geli melihat tingkah Yunita yang kelewatan gila.


"oy Lang ikutan teriak dong! gimana sih lo!"ucapnya kesal melihat Gilang masih diem diem wae.


"eh iya iya..."ucap Gilang kaget.

__ADS_1


"iya... Iya emang Lo denger apa yang gw omongin tadi hah?!" tanyanya mencodongkan badannya ke Gilang.


"ya... Gitu.. nyuruh gw buat teriak-teriak menyemangati mereka."


"kurang tepat sih tapi ngga apa-apa... Cepet teriak mereka butuh dukungan kita!" Yunita menarik-narik baju Gilang supaya cowok itu ikutan teriak-teriak.


"satu... dua...tiga..." ucap mereka bersamaan.


"semangat !!!.. semangat!!!! semangat!!!!"teriak Yunita dan Gilang menyemangati temannya yang tengah bertanding dengan devano cs.


dari kejauhan Afandi memandang Yunita dengan tatapan yang sulit di artikan...


pertandingan pun telah berakhir dengan skor 1-3 tim devano hanya meraih 1 poin sedangkan tim pelita harapan meraih 3 poin yang berarti pertandingan itu di menangkan oleh tim pelita harapan.


setalah mendengar timnya menang Yunita langsung menelpon pemilik salah satu tempat makan kesukaannya menyuruh salah satu karyawannya untuk mengantarkan pesanan itu ke tempat ini.


"selamat atas kemenangan kalian bro!" devano tersenyum miring dan menaruh kedua tangannya di depan dadanya.


"haha... Untung Yunita sedang di sini jika tidak gw mungkin nyuruh temen-temen gw buat adu jotos ama lo lo pada"


"yaelah jangan kekanakan kek gitu Dev! Kalah menang itu sudah biasa" entah kenapa Rifki yang notabennya gobloknya minta ampun tiba-tiba memiliki sifat yang sedewasa ini author juga ngga tahu.


"iya tuh ... Eh Ki kok Lo bisa bijak kek gini sih?" Reza menatap Rifki dengan tatapan tak percaya sekaligus takjub karena temennya yang satu ini tiba-tiba mendapatkan Hidayat dari Allah membuat Rifki menjadi sangat bijak seperti ini.


Rifki menonyor kepala Reza gemas." Gw dari dulu emang dah bijak kelez Lo aja yang baru nyadar hal itu"


Reza memegangi kepala yang sedikit sakit akibat ulah Rifki dia menatap Rifki sengit. "Ya ngga usah nonyor kepala gw dong!" balas Reza sewot.


"eh.. hehehe... " Rifki memasang wajah tak bersalahnya dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Gedeg gw ama Lo Ki!" Reza memutar bola matanya kesal.


"hehehe... Ya maaf" Rifki nyengir kuda.


"auah gelap!." Reza mengamati di sekelilingnya kerutan di dahinya muncul karena tak menemukan batang hidung Yunita ya Reza tengah mencari keberadaan Yunita " oy si Yunita mana nih??"


"Yunita??" Rifki menyipitkan matanya mencoba mengingat di mana keberadaan sepupunya itu "oh ya tadi dia ini keluar sebentar paling bentar lagi balik dianya."


"emang tuh bocah mau apa sih??"


"i don't know. Dia cuma bilang ada urusan penting ya kek gitu lah"Rifki memasang wajah sok membuat Reza eneg melihatnya.


plak!


"ngga usah masang wajah kek gitu dong cuy eneg gw ngeliatnya!" Reza memukul kepala Rifki membuat si empunya mengaduh kesakitan.


"aduh sakit ****!" teriak Rifki spontan.


"udah impas" Reza nyengir kuda.


devano yang merasa di cuekin dari tadi memilih untuk pergi dari situ dari pada mendengar ocehan ria dari para teman SMP-nya itu.


"err... Ki Za gw cabut dulu yah" ucap devano melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Rifki dan Reza yang menatapnya datar.


"ya kalo pengin pergi ya tinggal pergi ngga udah bilang-bilang kelez cih sok akrab banget ya kan za?" Reza mengangguk sebagai balasan iya.


"Eh tadi kita lagi bahas apa yah" Rifki memasang ekspresi berfikir keras untuk mengingat topik pembicaraan tadi.


Reza menepuk jidatnya pelan ya lord kenapa gw punya temen model kek beginian sih innernya berteriak kencang.

__ADS_1


jangan lupa untuk like share and coment ya guys dan jangan lupa untuk klik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini... see you next time


__ADS_2