
"oy gw titip Yunita yah!!... Inget jangan sampe dia kenapa-kenapa kalo Yunita kena masalah lapor aja ke gw langsung jangan sampe dia yang turun tangan..." teriak Maulana dari dalam mobilnya.
"oke bang tenang aja Yunita ada di tangan yang tepat!" teriak trio Gantar secara bersamaan.
"oke gw pergi dulu ya ntar Abang jemput jangan pergi dari sekolah dulu sebelum Abang dateng kesini oke!"ucap Maulana.
Yunita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya. Cewek itu pun masuk ke dalam sekolahan meninggalkan trio Gantar yang masih berdadah-dadah ria kepada Maulana yang sudah melesatkan mobilnya dari kawasan sekolah.
"dadah bang maul hati-hati di jalan!" teriak Rifki sambil melambaikan tangannya seperti anak kecil yang mengucapkan
kini Yunita tengah berjalan bersama teman-temannya Gilang Rifki dan Reza berjalan menuju ke ruang kelas mereka x IPS 2.
Tapi Gilang Rifki dan Reza merasa aneh dengan sikap bosnya yang sedikit aneh pasalnya sejak mereka bertemu di parkiran Yunita tak banyak bicara mereka sedikit takut jika Yunita menjadi cewek yang pendiam lagi seperti dulu pernah terjadi sewaktu sekolah menengah pertama lebih tepatnya ketika Yunita baru saja mendengar kabar yang tidak mengenakan untuk di dengar dari sahabat karibnya teman sebangkunya.
tidak mereka tidak akan menceritakan kejadian itu terlebih dahulu karena belum waktunya telah tiba.
Yunita masih berjalan dengan tatapan kosong memandang ke depan. Entahlah sejak kejadian tadi malam dirinya terus saja memikirkan siapakah gerangan gadis kecil yang ada di mimpinya itu.
sebenernya gadis itu siapa sih?! kok gw ngerasa kaya pernah lihat yah tapi dimana?!!!! batinnya penuh tanda tanya.
Rifki mengkodekan kepada kedua temannya untuk berjalan di belakang yunita karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada kedua sahabatnya itu.
"kenapa Ki??" tanya Gilang menatap wajah Rifki bingung.
"iya tumben Lo nyuruh kita jalan di belakang Yunita" tanya Reza.
Rifki melirik ke kanan dan kiri "gw mau tanya sama kalian.."
"tanya apaan??" sela Gilang membuat Rifki berdecak kesal.
"gw belum selesai nging usah maen serobot aja bagus bagus.." ucap Rifki kesal.
"hehehehe ya maaf gw kan pengin tahu aja" ucap Gilang nyengir kuda.
Rifki memutar bola matanya malas. "Lo berdua tahu ngga kenapa si Yunita jadi agak aneh kayak gini??" tanya Rifki sambil menatap Gilang dan Reza secara bergantian.
"ngga??" jawab Gilang.
"kalo Lo za??"
__ADS_1
"ngga juga sih??" jawab Reza.
"trus kalo gitu berarti kita tanya aja ke orangnya gimana??" tanya Rifki meminta persetujuan dari Gilang dan Reza.
"kalo Lo udah ngga sayang ama nyawa Lo sok atuh tapi kalo Lo masih sayang sama nyawa mending jangan deh" ucap Reza.
"emang kenapa??"
"kan Lo tahu Yunita gimana dia itu orangnya gampang banget berubah-ubah moodnya"
"iya juga sih.... Tapi kalo kita biarin aja ntar Yunita kaya dulu lagi gimana diem ngga buat onar ntar kita berempat jadi anak alim gimana mau Lo??"tanya
"ih amit-amit jabang bayi jangan nyampe itu terjadi oke oke kita tanya aja ke yunita." ucap Gilang dengan semangat 45.
"eh ntar aja kalo udah ada di kelas.." ucap Reza menarik belakang tas ransel yang tengah di bawa oleh Gilang membuat lelaki yang sering mendapatkan julukan play boy cap badak pun berjalan lagi ke belakang dan menatap Reza kesal.
"jangan di tarik tas gw b**o!" ucap Gilang kesal.
Reza hanya menatap datar Gilang dan berjalan bersama Rifki meninggalkan Gilang yang tengah mencak-mencak kesal menyalahkan dirinya.
"asyu kau Reza!!!!!!" teriak Gilang dari kejauhan.
"kenapa kalian meninggalkan sahabatmu yang tampan ini hey!!!!" Gilang berlari menghampiri Rifki dan Reza yang tengah berbincang-bincang asik tidak menggubris teriakan dari gilang.
"oy Lo berdua sejak jadi tuli heh?!" Gilang dengan tiba-tiba menjadi selulit diantara Reza dan Rifki dan tak lupa cowok berumur 16 tahun itu merangkul pundak Rifki dan Reza secara bersamaan.
"ih apaan sih Lo alayrs!" ucap Rifki memandang Gilang jijik.
"eh eh eh Lo bilang apa tadi heh?! gw alayrs?? yang bener aja kelez!" Gilang menarik kembali tangannya yang tadi merangkul Reza dan Rifki lalu dia berkacak pinggang menatap Rifki tak percaya berani-beraninya si Rifki bilang gw sekarang alayrs batinnya berucap.
"lagian Lo teriak-teriak ngga jelas ini tuh kawasan sekolah kalo bapak gw denger yang teriak tuh temen gw pasti gw ngga di bolehin berteman ama orang yang modelnya kayak Lo" ucap Rifki.
"emangnya kenapa??" tanya Gilang.
"ngerusak masa depan tahu ngga" setelah mengucapkan itu Rifki langsung mengajak Reza berjalan meninggalkan Gilang yang mematung mendengar perkataan yang ia lontarkan barusan.
"ya lord apa salahku?!!!!"
.
__ADS_1
.
.
.
.
di sisi lain saat teman-temannya tengah bercanda ria Yunita malah termenung memikirkan kejadian tadi malam yang membuat kepalanya sangat sakit.
"sebenarnya itu cuma mimpi bunga tidur atau mimpi tadi malem berhubungan dengan gw di masa lalu sih??? kok bang maul kaya ngga mau nyeritain kenapa gw bisa kaya orang gila tadi malem hmm.... kayaknya gw harus cari tahu sendiri deh" gumam Yunita dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya.
yunita tanpa sadar telah memasuki ruangan kelas yang sudah di padati oleh murid-murid yang tengah belajar di dalamnya.
ia langsung meletakkan tasnya di meja paling pojok karena sedari dulu dia memang duduknya selalu berada di paling pojok menurutnya itu mengenakan karena dia bisa memakan jajan tanpa ketahuan guru.
Yunita pun duduk di kursinya dan mata hazelnya mengamati seluruh ruangan kelas tersebut dia merasa ada yang mengganjal karena tempat ini terlihat sangat asing di matanya. dan ia pun teringat dengan trio Gantar yang tidak ada di ruang kelas itu.
"kok Reza Rifki Ama Gilang ngga ada sih?!!" tanyanya kepada dirinya sendiri.
tiba-tiba ada seseorang yang ia kenal menatapnya kaget ia pun langsung menghampiri Yunita.
"eh ta kok Lo masuk kesini sih. kelas Lo kan ada di depan kelas ini" ucap lelaki berperawakan tinggi dan mata yang sipit seperti orang cina.
"lah emang iya?!?" tanya Yunita terkejut.
"iya ta Kitakan kelas x ips 2 ini tuh x MIPA 2 gimana sih" jelas lelaki itu.
"tapi ke apa Lo ada disini Fik??" tanya Yunita kebingungan.
"gw lagi mau manggil si yoga dia di panggil sama Bu yasi tadi gw di suruh Bu yasi buat manggil ketua kelas MIPA 2"mendengar pernyataan dari Fikri membuat Yunita kaget dan malu secara bersamaan.
"jadi gw salah kelas gitu???" tanya Yunita sambil melihat suasana kelas yang menjadi ramai karena kedatangan Yunita yang menggemparkan mereka.
"iya ta.... (Fikri melihat keluar jendela tepatnya ia melihat Rifki Gilang dan Reza yang tengah kebingungan mencari bos mereka yang hilang entah kemana) tuh anak buah Lo lagi kebingungan nyariin keberadaan Lo samperin gih sana gw kasihan lihat muka si Rifki yang panik gitu" ucap Fikri.
Yunita dengan malu-malu ia mengambil tas ransel berwarna cokelat miliknya dan langsung berlari meninggalkan ruang kelas MIPA 2.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini....
__ADS_1