
suasana pun menjadi canggung seketika setelah Thomas pergi dari ruangan itu.
Yunita melirik Afandi yang tengah menutup pintu perpustakaan.
aduh canggung banget... batin Yunita berucap.
Yunita pun lebih memilih duduk di kursi yang terjatuh tadi.
dia menggit bibirnya karena rasa canggung yang menyerangnya.
Afandi berjalan kearahnya dengan membawa kotak obat di tangannya.
lelaki itu berjongkok di depan Yunita dan tak lupa ia membuka kotak obat itu, tanpa persetujuan Yunita lelaki itu langsung mengoleskan salep kearah lutut Yunita yang membiru karena terjatuh tadi.
"aww..!" ringis yunita.
"tahan ini cuma sebentar.." ucap afandi mengambil mengoleskan salep itu dengan lembut dan setelah dia selesai mengoleskan salep ke lutut Yunita dia menatap Yunita dengan tatapan tajam khas-nya.
"jangan melakukan tindakan ceroboh seperti tadi oke itu sungguh membuatku khawatir" ucap Afandi menatap Yunita lembut.
deg!.
entah kenapa melihat ekspresi Afandi dan mendengarkan ucapan lelaki itu tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan juga seketika kepalanya berdenyut sakit membuat Afandi menatapnya cemas.
dengan cepat lelaki itu menghubungi dokter pribadinya.
"aku membutuhkan bantuan mu.. cepat datang ke rumahku!" ucap Afandi langsung memutuskan panggilannya dan mencoba membantu agar rasa sakit itu hilang walaupun kemungkinan tidak tapi dia terus mencoba karena dia tidak tega melihat wajah kesakitan yang Yunita perlihatkan kepadanya.
"tunggulah sebentar oke.. dokter akan segera kesini.." ucap Afandi mencoba menggenggam
Entah kenapa dirinya merasa nyaman dengan sentuhan yang di berikan oleh lelaki bermata onyx itu dan perlahan-lahan sakit yang ia rasakan di bagian kepalanya kini hilang begitu saja karena sentuhan yang afandi berikan.
Mata hazel milik yunita menatap lekat onyx yang berada di depannya.
Onyx yang berwarna hitam seperti gelapnya langit malam itu membuat dirinya seolah-olah tenggelam di kegelapan langit malam yang abadi.
Mata onyx itu terasa tidak asing di penglihatannya, seolah dia pernah bertemu dengan mata itu di masa lampau.
Tetapi entah mengapa ketika dia berusaha mengingatnya ia tidak bisa, seakan ada tembok besar yang menghalangi ingatannya pada masa lalu.
Untuk sesaat yunita terpana oleh kecantikan mata sekelam langit malam itu.
Begitu juga afandi yang juga terpana oleh mata oleh mata hazel milik yunita yang menyejukkan.
__ADS_1
Mata itu adalah mata yang membuat dirinya merasa nyaman, tenang dan damai secara bersamaan.
Afandi sangat merindukan mata itu. Mata yang bisa membuat seoarang afandi miller menjadi uring-uringan dibuatnya.
Dia sangat merindukan mata itu. Sudah sangat lama dia tidak melihat mata hazel yang cantik itu dari jarak yang sedekat ini sejak kejadian yang membuatnya merasa bersalah kepada sosok gadis di depannya itu.
Seakan tahu jika dirinya dan afandi **** dekat, gadis bermarga anderson itu langsung mendorng dada bidang lelaki berambut emo itu dengan kedua tangan mungilnya.
"Ekehm!.... gw rasa ini udah terlalu sore buat gw menerap disini" ucapnya langsung berdiri dan berjalan menuju ke pintu besar perpustakaan pribadi milik afandi.
Afandi melihat jam di pergelangan tangannya dan benar apa yang di katakan oleh yunita, sekarang waktu menunjukkan pukul setengah enam sore dan tidak baik remaja seusai yunita masih berada di dalam rumah seorang pria dewasa seperti dirinya ini.
"Kau pergilah terlebih dahulu aku akan menyusul"
"Aa... ngga usah ngga usah gw lebih baik naik taksi aja kalo ngga gw nelfon abang gw buat kesini jemput gw lo di sini aja jagain thomas gw ngga mau ngerepotin lo mulu" ucapnya sambil tersenyum.
"Aku tak merasa direpotkan. Lagi pula aku kan yang membawamu kesini, jadi aku yang bertanggung jawab untuk mengantarmu pulang kerumah dengan selamat" ucapnya melangkahkan kakinya menghampiri yunita.
"Mmm... soalnya gw juga udah janjian sama abang gw buat makan malam bareng sama pacarnya di rumah jadi pasti abang gw yang bakalan jemput gw maka dari itu lo ngga usah repot-repot bhat nganter gw pulang" tolak yunita secara halus.
Yunita rasa dia perlu waktu untuk menjernihkan pikirannya karena kejadian tadi.
Afandi menatap yunita dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya.
"Baiklah jika itu maumu tapi, kau harus tetap disini sebelum kakakmu tiba"
"Mmm iya" yunita menganggukkan kepalanya.
Afandi melirik sekilas buku yang di bawa oleh yunita.
"Tidak ingin meminjam buku yang lainnya??" Tawarnya.
Yunita menatap buku yang ia pegang.
"Mmm lain kali aja deh, soalnya gw penasaran sama buku ini" ucapnya disertai senyuman gang manis.
"Mmm.. jika kau ingin menemui thomas silahkan dia pasti ada di ruang tv aku ada urusan penting yang harus ku kerjakan sekarang"
"Mmm... baiklah gw pergi dulu "
Yunita pun pergi menuju ke tempat yang afandi bilang tadi.
.
__ADS_1
.
.
lampu jalan berkelap-kelip menerangi jalanan yang gelap. lelaki berwajah tampan dengan potongan rambut poni lempar itu terduduk di motor ninjanya dengan bekam yang masih berada di kepalanya.
Andhika herman namanya, lelaki itu dengan santai mengabaikan ocehan para temannya mengenai perubahan dirinya akhir-akhir ini.
matanya dengan fokus menatap jalanan yang sepi itu seakan jalanan yang sepi lebih menarik di penglihatannya ketimbang kedua temannya itu.
Adhika menghembuskan nafasnya kasar entah sudah berapa kalinya hari ini, niatnya untuk balapan malam ini kandas seketika mendengar bahwa mantannya itu tengah berada di rumah guru yang sangat ia benci.
ya Yunita Anderson mantannya itu kini tengah berada di rumah guru tampan yang baru beberapa bulan ini mengajar di sekolahannya.
hal itu membuat otak dan hatinya gusar. bohong jika dia bilang dia sudah tidak memiliki rasa apapun kepada sang mantan. ego yang terlalu tinggi membuat dirinya ogah untuk meminta maaf kepada Yunita.
padahal di dalam lubuk hati terdalam milik Andhika dia berniat untuk meminta maaf kepada sang mantan, dia sangat ingin dirinya dan Yunita menjalin kasih kembali walaupun kemungkinannya sangat kecil untuk Yunita memaafkan kesalahannya tetapi mungkin Andhika akan mencoba untuk membujuk cewek berhati es itu.
kepala yang di balut helm berwarna merah itu menoleh kesamping menatap kedua sahabatnya Juno dan Husen yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh membicarakan dirinya.
"kalo kalian ngebacot terus gw tinggal nih" ucapnya menatap datar kedua sahabatnya.
Juno dan Husen seketika berhenti berdebat, mereka menoleh ke samping melihat Andhika yang tengah menatap mereka datar.
"emangnya Lo mau kemana dhik??" tanya Juno laki-laki berambut Gunawan (gundul tapi menawan).
"balik"
Andhika langsung menyalakan motornya dan pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah mengumpat kepadanya karena telah meninggalkan mereka.
"s****n si Andhika mah!"
"udahlah susul aja dia... sekalian kita minta makan di rumahnya si Andhika "
"di otak Lo emang selain makan ngga ada ya sen??"
"udahlah jangan ngebacot Mulu ntar kita ngga jadi kerumahnya Andhika kan rugi"
"ya ya...."
mereka berdua pun menyusul Andhika.
jangan lupa untuk like share and coment cerita ini ya guys dan jangan lupa untuk mengklik tombol favorit untuk mengetahui update terbaru dari cerita ini.
__ADS_1