Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Kesal


__ADS_3

Tiba-tiba Biru melihat sebuah sapu tangan di depannya. Biru mengangkat kepalanya dan melihat Morgan.


"Apa kau baik-baik saja?" Ucap Morgan lalu duduk di samping Biru.


Biru mengambil sapu tangan itu dan mengusap air matanya. Dia melihat ke arah Morgan dan bertanya.


"Apa kau keluar untuk olahraga? Di mana wanita mu?" Tanya Biru.


"Iya aku hanya berlarian di sini. Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau begitu bersedih? Di mana Dylan? Apakah seseorang membully dirimu?" Tanya Morgan.


Biru tersenyum saat melihat ke arah Morgan.


"Kau bertanya terlalu banyak. Pertama, Dylan masih tertidur. Kedua, aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan sesuatu, jangan khawatir dan maaf karena membiarkanmu melihatku seperti ini." Ucap Biru.


Biru tahu teman-temannya selalu khawatir tentang dirinya dan dia merasa bersyukur akan hal itu.


Morgan melihat ke arah Biru.


"Sungguh?" Ucapnya.


Biru mengangguk. Morgan lalu memegang dagu Biru dan membuat Biru menatapnya. Morgan kemudian memegang pipi Biru dan mengusap air mata yang ada di pipinya.


"Jangan menangis, oke. Kau memiliki kami. Jangan biarkan wajahmu yang cantik dan matamu yang indah itu menjatuhkan air mata." Ucap Morgan.


"Aku minta maaf Morgan karena membiarkanmu khawatir. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku hanya mengingat keluargaku. Aku merindukan mereka." Ucap Biru.


Morgan lalu menarik Biru ke dalam pelukannya beberapa saat. Kemudian dia melepaskan Biru. Dia melihat ke arah mata Biru lagi.


"Kami akan selalu ada untukmu Biru." Ucap Morgan.

__ADS_1


"Aku tahu, terima kasih Morgan." Ucap Biru kemudian melanjutkan ucapannya. "Hei, kau benar-benar hebat dalam menggoda seorang wanita. Tidak heran mereka selalu jatuh cinta padamu." Ucap Biru.


Morgan tertawa, dia pun bertanya lagi.


"Apa kau memujiku atau kau mengejekku?"


Biru juga tertawa kemudian dia menjawab, "keduanya." dan Biru kembali melanjutkan ucapannya, "tapi sungguh Morgan, terima kasih."


Morgan melihat ke arah Biru dan bertanya padanya.


"Biru, apa hobi mu?"


Biru melihat ke arah Morgan dan mengatakan kepadanya bahwa saat dia masih kecil, dia sebenarnya suka menggambar dan juga memanggang kue. Tapi dia tidak pernah punya waktu karena dia selalu membantu orang tuanya. Dia pun tidak melanjutkan hal itu lagi.


Morgan dan Biru lalu membicarakan tentang masa kecil mereka beberapa saat. Dari hal itu Biru tahu bahwa Dylan, Louis dan Morgan sahabat baik sejak saat lama. Setelah itu Biru berdiri dan berjalan kembali ke arah villa. Morgan mengikutinya dari belakang. Mereka berdua berjalan menuju villa seraya tertawa dan bercanda.


Dylan lalu berjalan menuju halaman belakang. Dia berdiri di sana dan melihat sekeliling. Saat dia mendengar Biru dan Morgan tertawa, kemudian dia melihat mereka berjalan bersama menuju villa. Ada perasaan tidak senang di dalam hatinya saat dia melihat mereka bersama.


"Hai selamat pagi." Ucap Morgan menepuk pundak Dylan dan berjalan menjauh.


Biru juga tersenyum kepada Dylan dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dylan mengikuti Biru dari belakang.


"Kau pergi ke mana?" Tanya Dylan dengan wajah yang tampak kesal.


"Hanya berjalan-jalan." Balas Biru tanpa melihat kearah Dylan.


Dia tengah mengeluarkan pakaiannya dan bersiap untuk mandi. Dylan bertanya lagi padanya.


"Dengan Morgan?"

__ADS_1


Biru berbalik dan menatap Dylan.


"Aku bertemu dengannya di pantai. Dia tengah berlari untuk olahraga. Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?" Tanya Biru.


Namun Biru tidak menunggu jawaban Dylan, dia langsung berbalik dan berjalan masuk ke kamar mandi. Dylan tidak senang dengan sikap Biru yang seperti itu. Saat Biru selesai mandi, dia melihat Dylan berdiri di dekat jendela. Dia mendekat ke arah Dylan kemudian menyentuh pundak Dylan.


"Dylan..." Ucap Biru.


Dylan berbalik dan memeluk Biru. Dia membenamkan wajahnya di pundak Biru.


"Aroma tubuhmu sangat wangi." Ucap Dylan.


Jantung Biru berdetak kencang.


'Apa yang salah dengan Dylan?' pikir Biru dalam hati.


Dylan kembali berdiri dan memberikan ciuman di kening Biru.


"Lain kali jangan keluar tanpa memberitahukan aku. Ayo kita sarapan."


Kemudian dia memegang tangan Biru dan berjalan keluar dari kamar mereka. Di meja makan seperti biasanya, Dylan akan mengambil makanan untuk Biru. Dia benar-benar sangat peduli dan perhatian kepada Biru. Hal itu membuat hati Biru tersentuh. Biru sendiri takut bahwa dia akan benar-benar jatuh cinta kepada Dylan suatu hari nanti.


Morgan melihat ke arah Biru dan Dylan.


'Mereka benar-benar seperti pasangan. Apakah mereka yakin bahwa mereka tidak berkencan atau mereka hanya membohongi aku dan Louis?' ucap Morgan dalam hati.


Tapi kapanpun Morgan atau Louis bertanya kepada Dylan tentang Biru, Dylan selalu mengatakan bahwa dia memperlakukan Biru seperti adiknya sendiri. Tapi sikap Dylan terhadap Biru lebih dari seorang kekasih dibandingkan dengan kakak. Morgan sangat yakin bahwa Dylan tidak menyadari perasaannya sendiri terhadap Biru atau mereka berdua benar-benar memiliki sebuah rahasia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2