
Siang harinya...
Dylan mengendarai mobilnya ke tempat dimana Biru bekerja sebelum dia kembali ke apartemennya sendiri. Dylan lalu kembali ke apartemennya dan berjalan menuju mejanya. Dia membuka laci dan mengambil sebuah foto.
Dia menatap ke arah foto itu untuk beberapa saat, kemudian dia berkata, "aku minta maaf."
Setelah itu Dylan pun kembali menaruh foto itu di dalam sebuah box kecil kemudian menaruhnya kembali ke dalam laci meja dan menguncinya.
Dylan menyadari bahwa dia sudah mencintai Biru. Dia merasa khawatir saat dia melihat wajah Biru yang pucat semalam. Dia merasa takut akan kehilangan Biru.
Sementara itu Biru yang tengah bekerja merasa bahwa dia tengah bermimpi. Dia tidak menyangka bahwa Dylan akan menciumnya.
Dia menyentuh bibirnya sendiri. Dylan sudah mengambil ciuman pertamanya.
Biru masih mengingat saat pertama kali Dylan mencium pipinya dan keningnya, saat itu jantungnya berdetak sangat kencang. Tapi kali ini dia merasa jauh lebih gugup dan dia merasa hatinya dipenuhi oleh bunga-bunga. Dia merasa bahagia tapi juga sedih dan takut disaat yang bersamaan.
Dia memikirkan apakah itu adalah tanda baik atau tidak baginya.
'Apakah Dylan hanya mempermainkan aku?' tanya Biru dalam hati.
__ADS_1
Ponsel Biru tiba-tiba berdering, membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat ternyata itu adalah sebuah panggilan yang berasal dari Dylan.
Dylan mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjemput Biru nanti. Kemudian setelah itu Biru tersenyum dan menaruh ponselnya kembali ke dalam sakunya dan melanjutkan pekerjaannya.
Sejak hari itu mereka kembali terlihat bersama lagi. Dylan bahkan jauh lebih perhatian kepada Biru.
Louis dan Morgan juga bahagia saat mereka melihat kedua pasangan itu menjadi lebih dekat lagi. Mereka kembali menyukai semua yang terbiasa mereka lakukan walaupun tidak lebih sering karena Biru membatasi dirinya. Karena itulah Biru tidak selalu ingin menaruh harapan dalam hubungan mereka. Apa yang lebih penting bagi Biru adalah pertemanan mereka.
Biru memiliki satu pertanyaan di dalam hatinya karena Dylan masih tidak memberikan konfirmasi apapun tentang hubungan mereka. Biru masih tidak tahu apa posisi dirinya di samping Dylan dan tentang ciuman mereka, Biru hanya menyimpan itu sebagai kenangan terindah dalam kepalanya.
Biru masih sering untuk mengikuti mereka pergi ke klub dan hangout bersama mereka.
Biru tengah bersama Sarah dan teman temannya saat Dylan menelepon dirinya. Biru pun lalu berjalan keluar dari kamar dan menjawab panggilan telepon itu.
Biru mengatakan kepada Dylan bahwa dia masih bersama Sarah.
"Dylan ada apa?" Tanya Biru.
"Malam ini Louis mengundang kita untuk makan malam. Aku akan menjemputmu di apartemen mu jam 06.30." Ucap Dylan.
__ADS_1
"Oh baiklah." Balas Biru.
Setelah itu seorang teman laki-laki memanggil Biru. Dylan Mendengar hal itu dan wajahnya terlihat tidak senang.
"Siapa itu?" Tanya Dylan.
"Salah seorang temanku." Balas Biru dan sebuah panggilan lainnya datang lagi.
Biru dengan cepat melihat ke arah teman-temannya dan berkata, "tunggu sebentar saja."
Kemudian Biru kembali bicara pada ponselnya.
"Dylan, apa ada yang lain? Temanku meneleponku. Aku harus pergi." Ucap Biru.
Tidak ada jawaban apapun dari Dylan. Biru pikir bahwa Dylan tidak punya apapun yang ingin dia katakan lagi. Jadi Biru melanjutkan ucapannya.
"Kalau begitu sampai ketemu nanti, oke." Ucap Biru lalu menutup ponselnya dan kembali ke dalam kamarnya.
Biru dan teman-temannya tengah melakukan briefing tentang rencana mereka untuk pergi liburan. Dylan yang panggilannya ditutup oleh Biru merasa marah. Wajahnya tampak murka. Dia benar-benar kesal. Dia tidak tahu kenapa Biru begitu sibuk akhir-akhir ini.
__ADS_1
Bersambung...