
Saat Biru bangun tidur, dia merasa kepala dan tubuhnya begitu sakit. Dia memaksa dirinya sendiri untuk pergi mandi kemudian setelah itu dia membuat sarapan untuk dirinya sendiri lalu dia mengambil tasnya dan pergi ke kampus.
Di dalam kelas Sarah melihat wajah Biru yang tampak memerah. Sarah pun bertanya kepadanya.
"Biru, apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sarah memegang tubuh Biru. "Kau sakit, tubuhmu sangat panas." Ucap Sarah.
Biru hanya tersenyum kepada Sarah dan berkata bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya sedikit demam dan dia sudah meminum obat.
Tapi sebelum mata perkuliahan dimulai, Biru merasakan tubuhnya semakin lebih tidak nyaman lagi. Sarah melihat Biru dan mengatakan kepada Biru untuk pulang ke rumah. Biru pun menganggukkan kepalanya kemudian dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
Tiba di apartemennya, Biru dengan cepat berbaring di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kepalanya terasa begitu sakit seolah dia merasa bahwa kepalanya akan pecah. Biru lalu mencoba untuk tidur siang setelah meminum obat.
Sementara itu di kampus, Morgan tengah mencari keberadaan Biru. Dia sudah berjanji untuk mentraktir Biru makanan.
Morgan tengah melihat sekeliling tapi dia tidak melihat keberadaan Biru. Kemudian dia melihat Sarah, dan dia pun memanggil Sarah.
"Mmmm apa kau melihat Biru?" Tanya Morgan.
"Oo... Biru, dia sudah pulang ke rumah karena sakit." Balas Sarah.
"Dia sakit?" Tanya Morgan.
__ADS_1
"Iya, dia sedang demam." Balas Sarah lagi.
"Baik terima kasih." Ucap Morgan.
Setelah itu, Morgan lalu dengan cepat berjalan menjauh. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Biru. Setelah beberapa kali dia menelpon, Biru pun akhirnya mengangkat panggilan darinya.
Suara Biru terdengar sangat lemah.
"Halo...." Ucap Biru.
"Biru ini aku Morgan." Balas pria yang terus saja panik itu.
"Apa kau baik-baik saja? Aku dengar bahwa kau sakit." Ucap Morgan lagi.
"Aku baik-baik saja aku hanya sedikit demam mungkin karena semalam aku terkena hujan." Ucap Biru.
Suara Biru terdengar semakin lemah. Hal itu membuat Morgan menjadi semakin khawatir padanya.
"Biru.... Biru.... apa kau di sana?" Ucap Morgan panik.
Tapi tidak ada yang menjawab. Morgan dengan cepat menutup sambungan teleponnya dan berlari ke area parkir. Dia bergegas mengambil mobilnya dan menuju apartemen Biru.
__ADS_1
Di sepanjang jalan, dia mencoba untuk menelpon Dylan tapi ponsel Dylan tidak aktif.
Morgan tiba di pintu apartemen Biru. Tapi dia tidak bisa masuk karena dia tidak punya kuncinya. Dia lalu memencet bel pintu apartemn Biru beberapa kali.
Biru yang berbaring di tempat tidur perlahan bangun dan berjalan menuju pintu. Dia pun membuka pintu dan melihat Morgan.
"Oh ternyata kau Morgan. Kenapa kau di sini?" Tanya Biru.
Morgan melihat wajah Biru memerah.
"Biru, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Morgan.
Biru tersenyum dan berkata, "aku baik. Aku hanya sedikit...."
Tapi sebelum Biru menyelesaikan kalimatnya, dia sudah tidak sadarkan diri. Morgan dengan cepat mengangkat tubuh Biru dan saat dia menyentuh tubuh Biru, dia merasa jika tubuh Biru sangat panas.
"Biru... Biru..."
Morgan dengan perlahan mengusap pipi Biru. Dia lalu dengan cepat mengangkat tubuh Biru membawanya ke atas tempat tidur. Biru pun lalu membuka matanya.
Bersambung...
__ADS_1