
Satu bulan kemudian...
Dylan begitu sibuk selama 1 minggu dengan bisnisnya dan Biru memutuskan untuk kembali ke apartemennya sendiri. Hari ini Biru hampir terlambat karena dia mengobrol dengan Sarah dan Ruby sepanjang malam.
Biru melihat dirinya sendiri di cermin dan memperbaiki penampilannya. Hari ini adalah hari yang besar. Dia ingin membuat kesan yang baik dengan bos barunya.
Dia sudah memanggil sebuah taksi dan langsung pergi ke perusahaannya. Biru berjalan masuk ke ruangannya. Hari ini CEO baru mereka akan datang dan mengunjungi mereka untuk pertama kalinya.
Biru mengenakan sebuah rok panjang yang ketat berwarna pink dengan blus berwarna putih dan blazer yang berwarna pink juga. Dia terlihat begitu menakjubkan dengan pakaian kerjanya.
Tampilan Biru memang selalu terlihat menarik dan banyak pria di kantor mencuri pandangan kepadanya. Biru semakin menarik setiap harinya, mungkin karena dia yang sudah jadi lebih dewasa.
Biru berdiri bersama sekretaris lainnya di depan ruangan CEO.
Tak lama pintu lift terbuka dan Pak Roby tampak berjalan keluar dengan seorang pria yang kemungkinan adalah Bos baru mereka. Biru mengalihkan kepalanya saat dia mendengar teman-temannya mengatakan sesuatu dan dia begitu terkejut melihat pria itu.
'Dylan...' ucap Biru dalam hati.
Saat menyebutkan nama itu, jantungnya berdetak kencang.
'Kenapa aku tidak pernah mendengar dari Dylan tentang hal itu? Apakah ini sebuah kejutan yang dibicarakan Dylan hari itu?' pikir Biru.
Dylan berjalan ke arah ruangan CEO sembari mengobrol dengan Roby dan matanya menatap ke arah Biru.
'Sial! Dia terlihat cantik dan seksi dengan pakaian kerjanya.' ucap Dylan dalam hati.
Hanya beberapa hari Dylan tidak melihat Biru dan sekarang Biru terlihat jauh lebih menarik.
'Apakah dia dengan sengaja berpakaian yang cantik untuk bertemu dengan bos barunya? Apakah dia mencoba untuk menggodanya?' pikir Dylan.
Dylan merasa begitu cemburu memikirkan tentang hal itu.
__ADS_1
'Bagaimana jika bukan aku yang merupakan CEO baru? Apakah itu berarti Biru sengaja mengenakan pakaian yang seksi untuk pria lain?' pikir Dylan lagi.
Memikirkan hal itu membuat Dylan kesal dan marah. Asistennya Leo berbisik di telinganya dan membuat Dylan kembali pada kesadarannya. Dylan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Roby.
Mereka lalu berjalan masuk ke ruangan CEO.
Biru masih saja terdiam dengan kejutan yang baru saja terjadi di hadapannya. Dia tidak menyangka bahwa Dylan adalah Bos baru mereka. Tidak lama setelah itu Roby memanggil mereka masuk ke dalam ruangan CEO. Dia memperkenalkan semua sekretarisnya itu kepada Dylan.
Kepala sekretarisnya adalah Clara. Dia berusia 30-an tahun dan sudah bekerja dengan Roby dalam waktu yang lama dan yang lainnya adalah Kalina dan Maria. Dua wanita muda yang juga menarik dan seksi. Mereka berdua berusia sama dengan Biru.
Mereka berdua sangat senang saat melihat Dylan. Biru berdiri di samping mereka. Dylan berpura-pura tidak mengenal Biru.
Biru melihat ke arah Dylan dan mengangguk. Setelah memperkenalkan diri, mereka kembali ke tempat kerja masing-masing.
Biru dan yang lainnya kembali bekerja seperti biasanya. Biru masih merasa jantungnya berdetak kencang. Dia tidak menyangka akan bertemu Dylan di sini.
Saat makan siang, Clara dan Maria juga Biru pergi ke kantin perusahaan. Di sana mereka mendengar beberapa karyawan bergosip tentang bos baru mereka.
Mereka semua mengagumi Dylan. Biru merasa cemburu. Biru kehilangan selera makannya dan dia hanya mengaduk makanannya. Tiba-tiba seseorang mengambil sebuah kursi dan duduk di sampingnya.
Biru melihat ke arah pria itu. Dia adalah David, seorang staf dari bagian finansial.
Biru hanya tersenyum kepada David. Dia sedang tidak ingin mengobrol dengannya.
"Mau terlihat lebih cantik hari ini." Ucap David.
Biru hanya berterima kasih atas pujian David. Clara dan Maria menggoda Biru tentang David yang menyukai dirinya.
Tiba-tiba suasana kantin kantor terasa sunyi.
"Oh ya Tuhan dia di sini." Bisik Maria kepada mereka.
__ADS_1
Biru memutar kepalanya dan melihat Dylan yang berjalan masuk ke dalam kantin dengan Roby dan mereka diikuti oleh asisten mereka.
Biru menatap wajah Dylan. Mata Dylan terlihat dingin dan marah. Dylan menatap Biru dengan tatapan mata yang dingin. Biru merasa gemetar saat dia melihat Dylan.
Dylan mengatakan kepada Roby bahwa dia ingin melihat kantin perusahaan karena dia tahu bahwa Biru pasti ada di sana. Tapi saat dia memasuki kantin, dia melihat Biru duduk di samping seorang pria dan kemarahannya pun muncul dan naik sampai ke kepalanya.
Dylan mengalihkan tatapannya kepada orang lain saat dia melihat Biru berbalik untuk menatapnya. Dia mencoba untuk menahan amarahnya saat dia melihat pria yang duduk disamping Biru itu mengambil sesuatu dari rambut Biru. Dia tidak suka melihat Biru didekati pria manapun karena Biru adalah miliknya.
Setelah Dylan meninggalkan kantin, dia langsung meninggalkan perusahaan itu karena ada meeting penting di perusahaannya sendiri.
Dalam meeting itu perasaan Dylan semakin buruk dan dia melampiaskan kemarahannya kepada semua karyawan yang ada dalam meeting itu. Hal itu membuat para karyawannya ketakutan.
Sementara itu setelah bekerja seharian, Biru kembali ke apartemen Dylan. Dia memasak makan malam untuk menyambut kedatangan Dylan. Tapi sampai jam 09.00 malam Biru menunggu, Dylan tidak juga kembali. Biru menelpon Dylan beberapa kali, tapi Dylan tidak menjawab panggilan Biru.
Biru melihat ke arah makanan yang sudah dia masak. Dia terus menunggu kedatangan Dylan, sampai akhirnya dia tertidur.
Saat dia terbangun, dia melihat sudah hampir tengah malam. Kemudian Dia memutuskan untuk menaruh makanan di lemari pendingin. Dia mengganti pakaiannya mengenakan piyama kemudian tertidur.
Beberapa saat kemudian, Dylan berjalan masuk ke apartemen. Dia pergi menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman. Saat dia membukanya, dia melihat beberapa makanan.
'Biru pasti ada di sini.' pikir Dylan.
Saat dia berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Biru sudah tertidur di atas tempat tidur dengan pulas. Dia berjalan perlahan mendekat ke arah Biru. Dia duduk di samping Biru kemudian mengusap rambut Biru.
Biru terlihat sangat menggemaskan saat tidur.
'Biru pasti kelelahan menyiapkan makanan untukku.' pikir Dylan.
Tiba-tiba Dylan merasa bersalah karena keegoisannya yang membuatnya tidak mau menjawab panggilan dari Biru. Dia malah memilih pergi ke sebuah klub. Dia lalu mencium kening Biru kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mandi, dia berbaring di samping Biru dan menarik Biru ke dalam pelukannya.
__ADS_1
'Maaf, aku kembali membuatmu terluka.' ucap Dylan dalam hati.
Bersambung...