
Biru mengenakan blouse berwarna putih dengan celana panjang warna krem. Dia baru saja masuk ke dalam toko pakaian. Dia ia ingin membeli pakaian untuk Dylan. Saat dia memilih pakaian, dia mendengar obrolan dari dua orang dan dia merasa familiar dengan suara seorang dari dua wanita itu, yaitu Zoya.
"Kakak, aku sangat bingung dengan Kak Dylan. Apa yang begitu baik dari wanita ****** itu, si Biru yang tidak mau dia lepaskan itu. Bukankah kau yang mengatakan bahwa dialah orang yang menyebabkan kematian dari adiknya Ella dan Mamanya. Dia tahu itu bukan? Kenapa dia masih bersama Biru?" Ucap seorang wanita.
Mata wanita itu terlihat sangat marah saat dia mengatakan tentang hal itu, kemudian dia melanjutkan bicaranya.
"Keajaiban apa yang dilakukan wanita ****** itu kepada Kak Dylan? Kak Dylan seharusnya membenci Biru bukan?" Lanjut wanita itu.
Biru menatap ke arah kedua wanita itu. Tapi mereka berdua tidak menyadari kehadiran Biru karena dia tertutup oleh rak pakaian.
"Kau benar. Dia mengetahuinya, tapi dia tetap membuat wanita itu ada di sampingnya." Balas Zoya.
"Ada apa dengannya Kak Zoya? Bagaimana dengan wanita itu, apakah dia tahu hal itu?" Tanya wanita lainnya.
Zoya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia kehilangan ingatannya." Ucap Zoya.
"Tidak heran. Tapi kenapa kau tidak mengatakan kepadanya tentang hal ini?" Ucap wanita lainnya lagi.
"Aku ingin mengatakannya. Tapi Dylan tidak mengizinkan aku." Ucap Zoya.
"Kenapa? Apakah dia ingin melindungi wanita itu atau mungkin Kak Dylan ingin membalas dendam padanya?" Ucap wanita itu lagi.
"Apa kau berpikir seperti itu?" Tanya Zoya.
"Jika tidak, kenapa Kak Dylan tidak pernah mengumumkan wanita itu sebagai kekasihnya kepada publik atau kau pikir Kak Dylan sangat mencintainya. Tapi dari yang aku lihat, Kak Dylan tidak pernah membawanya pergi ke acara penting atau memperkenalkannya kepada publik. Mungkin Kak Dylan hanya mempermainkannya. Aku rasa Kak Dylan tidak menganggap hubungannya dengan wanita itu serius." Ucap wanita itu lagi.
"Aku rasa Dylan ingin melindunginya. Dia tahu bahwa keluarganya membenci wanita itu. Keluarga Dylan tidak akan pernah mengizinkan wanita itu masuk ke dalam keluarga mereka, karena dia seorang pembunuh." Ucap Zoya mengepalkan tangannya kemudian dia melanjutkan bicaranya, "itulah kenapa aku sangat membencinya. Dylan sangat protektif kepadanya."
__ADS_1
Saat Biru mendengar kata pembunuh, ada rasa sakit di dalam hatinya.
Tiba-tiba bayangan seorang wanita paruh baya muncul dan menyebutnya sebagai pembunuh.
Biru memegang dadanya yang terasa sakit.
'Siapa sebenarnya wanita itu?' ucap Biru dalam hati mencoba untuk mengingat wanita itu, tapi dia merasakan sakit di kepalanya juga.
"Aku sangat membencinya." Lanjut Zoya lagi. "Dia hanya wanita tidak tahu malu. Aku sudah membencinya sejak kami berusia 5 tahun." Lanjut Zoya lagi.
"Iya, dia hanya wanita murahan. Tidak hanya menggoda Kak Dylan bahkan Kak Morgan dan Kak Louis juga menyukainya. Aku dengar dari kakak teman-temanku, mereka mengatakan bahwa saat mereka masih kuliah dulu, selain menggoda Kak Dylan, si Biru itu juga dekat dengan Kak Morgan, Kak Louis dan beberapa pria kaya lainnya. Dasar wanita tidak tahu malu." Ucap wanita itu kemudian kembali bicara, "Kakak, karena Kak Dylan tidak mau memberitahu Opa tentang wanita itu, bagaimana kalau kita membiarkan Opa mengetahui tentang dirinya? Opa bisa membantu kita secara langsung jika dia tahu tentang Biru. Dia akan membenci Biru dan memaksa Biru menjauh dari sisi Dylan." Ucap wanita itu lagi.
Mereka berdua mengangguk sebagai tanda setuju kemudian. Kemudian wanita yang tidak lain adalah Alisa itu melihat ke arah Zoya lagi dan bertanya.
"Ngomong-ngomong Kak Zoya, apa kakak sudah menyiapkan gaun untuk pesta nanti?" Tanya Alisa.
"Tentu saja." Balas Zoya.
"Aku rasa tidak, karena Opa akan hadir di sana. Dylan tidak akan membawa Biru dan ingatlah, Opa hanay ingin aku yang menjadi pasangan Dylan." Ucap Zoya.
"Kalau begitu Kakak harus mengenakan gaun yang sangat cantik." Ucap Alisa kemudian mereka berdua pergi dari sana.
Biru berdiri di sana ada banyak perasaan yang menyatu di dalam pikirannya. Apakah dia benar-benar orang yang menyebabkan kematian dari adik dan mama Dylan?
Bagaimana dan kapan?
Biru mencoba untuk mengingat semuanya, tapi itu hanya membuat kepalanya terasa lebih sakit. Wajahnya mulai pucat dan keningnya mulai berkeringat. Seorang karyawan butik datang dan melihat Biru. Dia dengan cepat membantu Biru duduk di sebuah kursi. Dia memberikan segelas air minum kepada Biru.
Setelah meminum itu dan berterima kasih kepadanya, Biru beristirahat sejenak kemudian dia berjalan keluar dari butik itu.
__ADS_1
Saat Biru keluar dari dalam mall, pikirannya begitu kosong. Dia menemukan sebuah bangku di samping jalanan dan duduk di sana.
'Apakah yang mereka katakan ada hubungannya dengan semua mimpiku selama ini?' tanya Biru dalam hati.
Dia menutup matanya dan ada bayangan seorang gadis kecil memanggilnya. Dia mengenali gadis kecil itu. Dia adalah Ella dan bayangan dari Ella yang terjatuh di dalam kolam renang lagi.
'Apakah memang aku yang melakukannya pada Ella?' tanya Biru dalam hati lagi.
Biru memukuli kepalanya dan berpikir kenapa ingatannya hanya sedikit saja tentang masa lalunya. Kepalanya masih terasa sakit, tiba-tiba ponselnya berdering dan dia melihat siapa yang menelponnya.
"Sayang, kau ada di mana? Apakah kau sudah pulang ke rumah?" Tanya Dylan.
"Aku masih ada di luar." Balas Biru.
"Aku minta maaf. Aku tidak punya waktu menelponmu sejak tadi. Di mana kau sekarang? Aku akan menjemputmu." Balas Dylan.
"Aku berada di depan mall dekat dengan stasiun Kereta Api." Ucap Biru.
"Baiklah, kau tunggulah di sana. Aku akan ada di sana secepatnya." Ucap Dylan.
"Baiklah apa kau mengendarai mobil sendiri? Kalau begitu hati-hati jangan terburu-buru." Ucap Biru.
"Baiklah Princess, ngomong-ngomong kenapa suaramu sedikit aneh. Apakah kau menangis? Apa kau sakit?" Tanya Dylan.
"Tidak... tidak.. aku baik-baik saja hanya saja hidungku sedikit gatal. Mungkin karena debu. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Berkendaralah dengan hati-hati." Ucap Biru lagi.
"Baiklah." Balas Dylan.
Saat sambungan telepon terputus, Biru dengan cepat mengusap air matanya dan mengambil obat pereda rasa sakit dan meminumnya. Dia tidak mau Dylan melihatnya dengan kondisi seperti itu. Dia menenangkan dirinya, kemudian duduk di sana menunggu kedatangan Dylan.
__ADS_1
Bersambung...