
Biru memilih sebuah tempat, kemudian dia duduk. Setelah itu dia membuka kaleng minumannya dan menyesap minumannya. Kemudian dia mulai makan makanan yang dia beli.
Kadang-kadang dia tertawa seorang diri melihat tingkah beberapa anak muda yang ada di sana.
Setelah menghabiskan makanannya dan dua kaleng minuman, Biru lalu berdiri. Dia mendengar suara seseorang tengah. Bernyanyi. Dia lalu berjalan ke arah suara itu dan ternyata itu adalah sebuah grup dari anak muda yang tengah menyanyi di sana. Biru lalu bergabung bersama penonton lainnya dan mulai menikmati pertunjukan itu.
Saat lagu berakhir, semua orang bertepuk tangan kemudian para pemuda itu mulai memainkan lagu lainnya, dan lagu itu merupakan lagu favorit Biru. Biru pun ikut bernyanyi. Saat seorang anggota dari para penyanyi itu melihat Biru yang bernyanyi, dia berjalan mendekat ke arah Biru dan menarik Biru dari kerumunan orang-orang.
Dia memberikan pengeras suara kepada Biru dan meminta Biru untuk bernyanyi. Biru pun mulai menyanyi. Setelah menyanyi dua lagu, Biru berterima kasih kepada mereka semua dan kemudian dia pergi dari sana.
Biru lalu berjalan ke sisi sungai dan dia kemudian berdiri di sana. Dia lalu mengeluarkan kaleng minuman terakhirnya, membukanya dan mulai meminumnya.
"Apa kau terbiasa menghabiskan waktu malam tahun barumu hanya dengan minum sendirian?" Ucap seseorang.
Biru mengalihkan kepalanya dan melihat sosok Dylan yang berdiri tidak jauh darinya. Sebenarnya Dylan sudah mengikuti dirinya sejak dia meninggalkan cafe. Dylan begitu terkejut saat melihat Biru menyanyi. Biru terlihat begitu menikmati semuanya dan suaranya juga sangat bagus.
Dylan tidak pernah tahu bahwa Biru sangat hebat dalam hal bernyanyi.
Mata Biru tampak berair melihat sosok Dylan.
Dylan lalu membuka kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa kau merindukan aku?" Tanya Dylan.
Biru ingin berlari ke dalam pelukan Dylan. Tapi saat dia mengambil sebuah langkah, dia mengingat bahwa Dylan tidak pernah menelpon atau mengirimkan pesan kepadanya selama satu minggu ini. Dia pun berhenti melangkah dan kemudian berbalik ke sisi lain dan berjalan menjauh dari Dylan.
Melihat Biru yang berjalan menjauh darinya, Dylan menutup tangannya dan mulai mengejar Biru. Dia menarik lengan Biru dan membawanya ke dalam pelukannya. Dylan tahu bahwa Biru marah dan kesal kepadanya. Dia lalu mencium kepala Biru.
"Hai Princess." Ucap Dylan.
Biru mencoba untuk mendorong dan menjauh dari Dylan. Tapi pelukan Dylan sangat erat di tubuhnya. Akhirnya Biru membiarkan Dylan memeluknya.
"Tidakkah kau merindukan aku?" Ucap Dylan.
Biru mulai menangis. Dylan melepaskan pelukannya dan mengangkat kepala Biru. Dia melihat air mata Biru yang terjatuh ke pipinya. Dia pun mengusap air mata Biru dan mencium kening Biru.
"Kau.....!!! Lepaskan aku." Ucap Biru seraya memukuli dada Dylan. "Dylan, kau brengsek. Lepaskan aku. Kenapa kau kembali?" Ucap Biru lagi. "Kenapa kau membuatku merasa seperti ini? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku berpikir bahwa sesuatu yang buruk sudah terjadi padamu. Kenapa kau tidak membalas pesan dariku?" Ucap Biru lagi kembali mendorong Dylan lagi. "Kau pergilah dan kau tidak perlu untuk kembali. Aku tidak mau melihatmu lagi." Ucap Biru panjang lebar.
Dylan menarik Biru lagi dalam pelukannya dan memegang pipi Biru, kemudian menaruh keningnya di kening Biru.
Dylan berkata, "jangan mengatakan hal itu. Aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah membuatmu merasakan hal seperti itu Biru."
Dylan dengan sengaja melakukan hal itu kepada Biru. Dia memang dengan sengaja tidak menghubungi Biru karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan dia hanya ingin agas bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya dan kembali kepada Biru.
__ADS_1
Kemudian Dylan memegang dagu Biru dan mencium bibir Biru.
"Princess, aku mencintaimu." Ucap Dylan seraya mencium Biru.
Beberapa saat kemudian dia melepaskan Biru. Biru tampak terkejut saat dia mendengar pengakuan dari mulut Dylan.
"Aku merindukanmu Biru. Aku mencintaimu Biru." Ucap Dylan, kemudian dia mencium Biru lagi.
Kali ini air mata Biru terjatuh ke pipinya.
Dylan mengakhiri ciumannya, kemudian dia menatap ke mata Biru dan mencium kedua mata Biru.
"Jangan menangis." Ucap Dylan, kemudian dia mencium Biru lagi. "Aku mencintaimu Biru. Aku benar-benar mencintaimu. Aku benar-benar merasa gila karena aku merindukanmu. Tapi pekerjaanku harus aku selesaikan lebih dulu. Biru, maukah kau menjadi kekasihku?" Tanya Dylan.
Mereka menatap satu sama lain. Biru mencoba untuk menemukan kejujuran di dalam mata Dylan. Biru takut bahwa semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah mimpi.
Setelah beberapa saat berpikir, dia pun menganggukkan kepalanya dan memeluk Dylan.
Biru kemudian berkata, "aku juga mencintaimu Dylan."
Dylan tersenyum bahagia saat dia mendengar Biru mengatakan hal itu. Dia mengusap rambut Biru dan mencium kening Biru. mereka berdua tersenyum bahagia.
__ADS_1
Bersambung....