
Setelah beberapa saat, pembawa acara berjalan menuju panggung dan mulai bicara memberikan pidatonya diikuti oleh Dylan, kemudian makan malam disajikan. Mereka semua mulai menikmati makanan. Dylan memotong daging dan memberikannya kepada Biru.
Zoya dan yang lainnya melihat ke arah Biru dari meja mereka. Mata mereka dipenuhi kecemburuan.
"Wow Tuan Muda Dylan sangat gentlemen. Dia bahkan memotong daging dan memberikannya kepada kekasihnya."
"Iya, aku benar-benar iri."
"Aku tidak pernah melihat seorang pria yang begitu lembut pada seorang wanita."
"Wanita itu benar-benar beruntung."
"Iya Tuan Muda Dylan pasti sangat mencintainya."
Biru merasa sedikit malu saat dia melihat Opa dan Papa Dylan menatapnya. Dia tidak mau menjadi wanita yang manja. Dia mengatakan kepada Dylan bahwa dia bisa melakukan itu sendiri, tapi Dylan memaksa Biru.
Papa Dylan melihat sikap Dylan kepada Biru. Dia melihat wajah Biru yang merah. Dia tersenyum sementara Mama Zoya dan Zoya sendiri melihat ke arah mereka dan dengan penuh kebencian.
Zoya mengepalkan tangannya saat dia mendengar bisikan dari meja lainnya. Matanya dipenuhi kebencian dan rasa cemburu.
Sementara Papa Zoya tidak mengatakan apapun dia mengagumi kecantikan Biru wajah Biru mengingatkannya kepada seseorang.
Mama Zoya melihat mata suaminya yang terus menatap Biru. Dia merasa marah. Melihat cucunya memperlakukan Biru dengan begitu spesial, Opa Dylan sudah menebak bahwa Biru mungkin adalah wanita yang dicintai oleh cucunya. Dia tidak pernah melihat Dylan tersenyum dan memperlakukan wanita manapun dengan lembut selain adik dan mamanya yang sudah meninggal.
Zoya tidak pernah menyangka bahwa Dylan berani untuk membawa Biru pergi ke pesta dan memperkenalkannya kepada keluarganya dan dia juga terkejut melihat respon keluarga Dylan kepada Biru. Tidak ada kebencian dalam mata mereka.
Setelah makan malam, semua orang berjalan ke arah Dylan dan mengucapkan selamat kepadanya. Biru berdiri di sisinya, mereka berkumpul bersama dengan Louis Morgan dan Emily.
Morgan kembali memuji kecantikan Biru. Dylan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Biru dengan begitu posesif. Morgan tersenyum. Leo datang dan bicara dengan Dylan. Kemudian Dylan membisikkan sesuatu di telinga Biru lalu dia pun pergi.
__ADS_1
Biru tetap di sana bersama Morgan dan yang lainnya. Louis dan Morgan juga berjalan menjauh untuk bergabung dengan teman-teman mereka. Biru dan Emily menemukan sebuah meja dan bicara di sana. Mereka sudah lama tidak bertemu.
Setelah beberapa saat, Biru mengatakan kepada Emily bahwa dia harus pergi ke toilet.
Di dalam toilet wanita...
Saat Biru berada di dalam salah satu ruangan toilet itu, dia mendengar beberapa orang bicara di dalam dan mereka tengah bicara di sana. Saat dia hendak keluar dia mendengar seseorang menyebutkan namanya.
"Oh, apa kau melihat itu? Tuan Dylan sangat tampan. Dia sangat baik dan lembut kepada wanitanya." Ucap seorang wanita.
"Iya, dia membuat hatiku menjadi luluh." Ucap wanita lainnya.
"Wanita itu sangat beruntung. Dia membuatku iri." Ucap wanita pertama lagi.
"Beruntung? Aku rasa dia memalukan. Dia merebut Tuan Dylan dari Nona Zoya dan aku dengar bahwa dia bukanlah wanita yang sederhana." Ucap wanita ketiga.
"Oh jadi maksudnya dia itu seperti ular yang sangat hebat dalam hal menggoda?" Tanya wanita pertama.
"Tapi dia sangat cantik. Dia memiliki tubuh yang indah." Ucap wanita kedua.
"Aku pikir dia pasti melakukan operasi." Ucap wanita keempat.
"Dia hanya wanita ******. Aku dengar dia hebat dalam hal menggoda para pria. Dia membuat Tuan Muda Dylan dan Morgan jatuh cinta kepadanya." Ucap wanita ketiga.
"Aku juga mendengar hal itu. Apakah kau lihat bagaimana cara Tuan Muda Morgan melihat ke arahnya?" Ucap wanita keempat.
"Iya sangat baik Tuan Muda Louis bisa menahan diri dan kabur dari wanita itu dan menemukan wanitanya sendiri." Balas wanita ketiga.
"Memangnya dia pikir siapa dia itu? Aku dengar dia hanyalah seorang anak yang diadopsi dari keluarga miskin. Apakah dia berpikir bahwa dia pantas untuk bersama mereka?" Ucap wanita keempat lagi.
__ADS_1
"Tapi kita harus mengakui bahwa dia sangat cantik. Tidak kah kau lihat saat dia berjalan masuk ke dalam, banyak mata yang terus menetap ke arahnya." Ucap wanita pertama.
"Memangnya kenapa? Dia hanyalah seorang wanita ******. Dia tidak pantas untuk Tuan Muda Dylan." Ucap wanita ketiga.
"Kasihan sekali Nona Zoya. Dia seharusnya yang menjadi pasangan Tuan Muda Dylan malam ini. Tapi wanita itu merebutnya dari Nona Zoya." Ucap wanita keempat.
"Dia benar-benar memalukan." Balas wanita ketiga.
"Dia seharusnya melihat dirinya dengan baik di cermin." Ucap wanita keempat.
"Hahaha... benar-benar wanita ******. " Ucap wanita ketiga.
Mereka terus membicarakan hal buruk tentang Biru.
"Ehemmm..." Ucap seseorang secara tiba-tiba.
"Zoya, tidakkah kau membencinya. Jika aku adalah dirimu, aku akan menarik rambutnya dan menampar wajahnya. Beraninya dia mencuri pria milikmu." Ucap wanita ketiga.
"Iya, kau begitu sabar Zoya. Kau pantas bersama Tuan Muda Dylan dibandingkan dia. Dia hanyalah wanita dari kelas rendahan." Ucap wanita keempat.
"Jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun dia tetap teman masa kecilku." Ucap Zoya.
"Kau sangat baik." Ucap wanita pertama.
Kemudian mereka semua berjalan keluar dari dalam toilet. Biru tetap terdiam di dalam toilet itu. Dia menahan nafasnya. Wajahnya tampak pucat.
Saat dia yakin bahwa tidak ada orang lagi di sana, dia berjalan keluar. Dia berdiri di depan cermin dan melihat dirinya sendiri. Dia pikir bahwa dia tidak seharusnya ada di sana. Pesta itu bukanlah tempatnya. Dia mengusap air matanya dan memperbaiki semua riasannya dan kemudian berjalan keluar.
Bersambung...
__ADS_1