
Dylan merasa darahnya mendidih sampai ke kepalanya. Biru pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kepadanya. Dia lalu membawa Zoya ke kamarnya di lantai 20, kemudian dia pergi. Dia harus bertemu Biru. Dia butuh penjelasan dari Biru. Jadi dia mengendarai mobilnya menuju apartemen Biru.
Setelah menunggu beberapa saat, Biru tak kunjung kembali. Pikiran Dylan dipenuhi pertanyaan tentang siapa pria itu dan juga tentang gaun yang dikenakan Biru.
'Sejak kapan Biru berani mengenakan gaun seperti itu?' tanya Dylan dalam hati.
Biru terlihat sangat cantik, elegan dan juga mempesona. Tapi gaun itu terlalu terbuka.
Gaun itu mengekspos punggung Biru dan membuat kulit Biru yang halus dan putih tampak terlihat dengan jelas dan itu sangat menggoda bagi pria manapun yang melihatnya. Gaun itu juga membentuk lekuk tubuh Biru dengan jelas dan dengan gaun itu, semua pria bisa mengatakan bahwa Biru memiliki lekuk tubuh yang indah.
'Dari mana dia mendapatkan gaun itu?' tanya Dylan dalam hati.
Dylan tidak menyukainya. Dia yakin bahwa saat mata para pria yang melihat Biru dan temannya itu pasti akan menelan ludah.
Dylan baru saja pergi selama 2 bulan dan sekarang Biru sudah berubah. Biru juga memotong rambut panjangnya. Biru merubah gaya rambutnya. Biru terlihat lebih dewasa dengan rambutnya yang bergelombang seperti itu.
Semakin banyak Dylan memikirkan hal itu, semakin marah dirinya. Wajahnya menjadi murka. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Biru, tapi Biru tidak mau menjawab panggilan darinya. Dylan pun membanting ponselnya.
Sebenarnya Biru sudah berada di kamar hotel di mana Ruby menginap. Dia tengah mandi saat Dylan menelponnya. Jadi dia tidak mendengarnya.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Ruby mengatakan bahwa ponsel Biru berdering. Biru melihat ponselnya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Dylan.
__ADS_1
"Apakah kekasihmu menelepon mu?" Tanya Ruby.
Biru mengangguk. Dia kemudian menaruh kembali ponselnya di atas meja dan mengambil gaun malam milik Ruby untuk dia kenakan.
"Kenapa kau tidak meneleponnya balik?" Tanya Ruby.
Biru menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja." Balas Biru.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Ruby.
Saat Biru baru saja ingin menjawab, ponselnya berdering lagi. Dia melihat itu adalah Dylan yang meneleponnya. Biru menatap ponselnya beberapa saat, kemudian menjawabnya.
"Aku berada di tempat temanku." Balas Biru.
"Di mana alamatnya? Aku akan menjemputmu sekarang." Ucap Dylan.
"Tidak perlu. Aku akan menginap di sini, malam ini." Ucap Biru.
"Biru pulang sekarang juga. Di manapun kau berada katakan kepadaku di mana alamatnya. Aku akan pergi ke sana sekarang." Ucap Dylan bersikeras.
__ADS_1
"Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku akan menginap di sini malam ini. Kita akan bicara besok. Aku mengantuk." Ucap Biru.
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Dylan, Biru langsung menutup telepon itu. Dia masih marah kepada Dylan. Jadi dia malas dan dia tidak mau bicara terlalu banyak dengan Dylan.
Dylan Langsung melempar ponselnya karena marah. Dia marah karena Biru berani menutup teleponnya begitu saja. Dia mengambil nafas dalam, kemudian dia mengendarai mobilnya menjauh dari apartemen Biru.
'Tidak ada alasan untuk tetap berada disini, Jika Biru tidak pulang ke rumah.' ucap Dylan dalam hati.
Biru berdiri di samping jendela saat Ruby berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia mengambil botol minuman kemudian bertanya kepada Biru.
"Ada apa denganmu?" Tanya Ruby.
Biru mengalihkan pandangannya dan kemudian berjalan mendekat ke arah sofa dan duduk di samping Ruby.
"Mau berbagi?" Tanya Ruby.
Biru lalu mengatakan semuanya pada Ruby. Lalu setelah dia selesai, dia bertanya kepada Ruby.
"Apakah aku salah dengan bertingkah seperti ini? Maksudku apakah aku terlalu egois?" Tanya Biru.
"Orang bilang cinta itu egois." Balas Ruby.
__ADS_1
Kemudian Ruby mengatakan kepada Biru untuk bisa lebih santai. Mereka berdua pun minum dan kemudian tertidur dengan lelap.
Bersambung...