Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Di Kantor


__ADS_3

Biru bangun dan melihat Dylan sudah mengganti pakaiannya menggunakan jas kerjanya.


Dylan berjalan mendekat ke arah Biru dan mencium kening Biru.


Biru melihat jam dinding dan dia hampir terlambat untuk pergi bekerja. Dia dengan cepat berjalan menuju kamar mandi. Dylan hanya menatap ke arah Biru. Dia sudah menyiapkan sarapan mereka.


Biru berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah mengganti pakaiannya saat Dylan melihat ke arahnya. Dia berjalan ke arah Biru dan mencium pipi Biru.


Biru hanya tersenyum kepada Dylan.


Dylan mengantar Biru pergi ke tempat kerja. Sepanjang jalan mereka terus terdiam. Dylan melihat ke arah Biru tapi mata Biru selalu menatap ke arah lainnya.


'Ada apa dengannya? Kenapa perasaannya berubah dengan cepat?' tanya Dylan dalam hati seraya terus melihat ke arah Biru.


Dylan menarik tangan Biru dan menggenggam tangannya sementara tangan lainnya memegang ponselnya.


Sebelum mereka tiba di kantor, Biru meminta Riko untuk berhenti dan dia keluar dari dalam mobil.


Dylan akan melakukan meeting. Saat dia tiba di kantor, dia langsung menuju ruangannya. Leo mengikuti dirinya masuk ke dalam. Dia mulai memberikan laporan finansial kepada Dylan.


Biru tiba di kantor 5 menit setelah Dylan datang. Para teman-temannya mengatakan kepadanya bahwa Dylan sudah sampai lebih dulu dibandingkan dirinya. Biru lalu duduk dan dengan cepat mulai bekerja.


Biru menyumpahi Dylan dalam hatinya. Ini semua karena Dylan yang membuat dia terlambat. Dylan tidak membangunkan dirinya lebih cepat. Dia malah membiarkan Biru tidur lebih lama.


Dylan berjalan keluar dari dalam ruangannya. Dia menatap Biru. Saat Biru mengalihkan kepalanya mata mereka pun bertemu. Kemudian Dylan berjalan masuk ke dalam ruangan meeting diikuti oleh Leo.


Setelah 2 jam meeting, Dylan kembali ke ruangannya. Dia lalu mengirim pesan kepada Biru dan meminta Biru untuk datang ke ruangannya.


Biru tidak membaca pesan dari Dylan karena dia sudah duduk di kafe yang ada di dekat kantor bersama teman-temannya.


Salah seorang teman kantor pria mereka dari departemen lain bernama Jason datang dan duduk di samping Biru. Mereka mengobrol sambil menikmati makan siang mereka.


Dylan menunggu Biru sebentar dan dia tidak menerima pesan balasan dari Biru. Dia meminta Leo untuk pergi mencari Biru. Tapi Leo kembali dengan laporannya bawa Biru sudah pergi makan siang bersama teman-temannya.


Wajah Dylan tampak marah. Dia menaruh dokumennya dan mengetuk meja dengan jemarinya dan melihat ke arah jam di tangannya.


Dia masih ada jadwal makan siang dengan seorang klien. Dia lalu mengambil mantelnya kemudian berjalan keluar dari dalam ruangannya. Dia hanya melihat satu sekretarisnya yang tetap berada di kantor.

__ADS_1


Saat mobil Dylan melewati cafe di mana Biru dan teman-temannya berada, mata Dylan menangkap sosok Biru yang tampak duduk di samping seorang pria.


Mereka berdua duduk sangat dekat bersama dan Biru tampak tengah melihat ke arah ponsel yang dipegang oleh pria itu. Biru tersenyum dan tertawa dengan ceria.


Melihat Biru yang dekat dengan pria lain, sorot mata Dylan berubah menjadi dingin. Biru terus terdiam sejak pagi tadi, tapi sekarang Biru bertingkah manis dengan pria lain.


Mobil yang ditumpangi Dylan pun melaju pergi saat lampu merah berubah menjadi hijau.


Beberapa saat kemudian, Dylan kembali ke kantornya. Saat dia tiba, dia melihat Biru berjalan dengan pria itu lagi. Biru berjalan berdampingan dengan pria itu. Mereka tampak mengobrol. Mata Dylan melihat ke arah mereka dengan tajam dan dingin.


Saat Jason dan Biru mengalihkan wajah mereka, keduanya melihat tatapan dingin Dylan ke arah mereka. Mereka mengangguk ke arah Dylan kemudian berjalan menuju lift. Mereka berdiri di sana menunggu pintu lift terbuka.


Dylan berjalan melewati mereka. Tatapannya yang dingin terus menatap mereka sampai dia melewati mereka menuju lift pribadinya. Saat dia masuk ke dalam liftnya, dia mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap keringat dinginnya yang ada di keningnya.


Jason tidak tahu kenapa Dylan melihat ke arahnya seperti itu. Jika tatapan dingin bisa membunuh seseorang, maka dia merasa bahwa dia sudah bisa mati saat itu juga.


Biru juga melihat tatapan dingin Dylan tadi dan itu membuatnya sedikit takut.


...----------------...


Biru mengeluarkan dokumen yang diinginkan Dylan dan berjalan masuk ke dalam ruangan Dylan. Sekretaris lainnya berpikir mungkin Biru melakukan kesalahan lagi. Jadi mereka berharap yang terbaik untuk Biru.


Biru sangat terkejut jantungnya berdetak kencang. Dia takut jika orang lain akan melihat mereka seperti itu. Dia mencoba untuk mendorong Dylan menjauh darinya.


Walaupun Biru tahu bahwa ruangan Dylan berlokasi di sudut lainnya dan ruangan sekretaris ada di sisi lain dan hanya ada satu orang yang ruangannya berada dekat dengan ruangan Dylan dan itu Leo.


Leo sendiri tahu bahwa Biru adalah kekasih Dylan, tapi Biru tetap saja takut.


Dylan memegang Biru erat dengan menggendong Biru menuju sofa. Dia lalu duduk di sana dan membuat Biru duduk di pangkuannya. Dia mencubit pipi Biru.


"Aduh sakit. Kenapa kau mencubit ku?" Ucap Biru mengusap pipinya.


"Kau tahu itu sakit. Itu adalah hukuman bagimu. Beraninya kau tidak menghiraukan pesan dariku dan kau malah pergi makan siang dengan pria lain." Ucap Dylan. "Kau pergi ke mana tadi? Apakah menyenangkan?" Tanya Dylan lagi.


"Tentu saja." Balas Biru.


"Apa? Jadi kau memilih untuk makan dengannya dan hanya berduaan dengannya?" Ucap Dylan mulai marah.

__ADS_1


"Tentu saja dengan teman yang lainnya juga." Ucap Biru yang tahu bahwa Dylan adalah orang yang sangat cemburuan, jadi dia melanjutkan ucapannya. "Oh iya, di samping itu aku tidak tahu bahwa kau mengirim pesan kepadaku." Ucap Biru.


"Lain kali menjauhlah darinya. Aku tidak menyukainya." Ucap Dylan seraya mengusap rambut Biru.


"Bisakah kau melepaskan aku. Ini tidak baik dilakukan saat kita di kantor." Ucap Biru.


"Siapa yang berani berkomentar? Ini adalah ruangan ku." Ucap Dylan kemudian mencium tangan Biru dengan lembut, dan dia kembali mengatakan, "Morgan, sudah kembali. Dia mengundang kita ke pesta ulang tahunnya akhir pekan ini." Ucap Dylan.


"Benarkah? Dia akhirnya kembali." Ucap Biru tampak senang.


"Kenapa kau terlihat sangat senang saat kau mendengar Morgan sudah kembali. Apakah kau sebahagia itu juga saat kau mendengar aku kembali? Tidak... tidak... kau seharusnya jauh lebih bahagia." Ucap Dylan.


Biru memutar matanya malas saat mendengar ucapan Dylan.


'Benar-benar pria yang sangat cemburuan.' ucap Biru dalam hati.


Kemudian Dylan memegang dagu Biru dan mencium bibir Biru lagi dengan penuh hasrat. Ciuman Dylan menjadi lebih dalam dan lebih penuh hasrat lagi. Dia lalu mengangkat rok yang dikenakan Biru dan mulai mengusap kulit Biru yang lembut.


"Jangan..." Ucap Biru memegang tangan Dylan untuk menghentikan Dylan melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Biru tampak merona. Mereka sedang berada di kantor. Jadi bagaimana bisa mereka melakukan hal itu di sana. Tapi Dylan tidak menghiraukan Biru. Bibirnya terus mencium Biru ke arah lehernya dan membuat Biru gemetar. Tangannya terus menjamah tubuh Biru.


"Dylan hentikan. Ini masih jam kerja aku tidak mau..."


Sebelum Biru bisa menyelesaikan kalimatnya, Dylan sudah menciumnya lagi. Tiba-tiba ada sebuah ketukan di pintu. Biru sontak tampak panik. Dia dengan cepat berdiri dan memperbaiki pakaiannya dan mengambil beberapa kertas dan duduk di sisi lain.


Dylan tersenyum melihat sikap Biru. Dia lalu berjalan ke arah kursinya setelah memperbaiki dasinya. Dengan menggunakan ponselnya dia membuka kunci pintu.


Leo berjalan masuk setelah mendengar suara Dylan memintanya masuk. Seorang eksekutif senior mengikuti Leo masuk. Mereka melihat ke arah Biru yang duduk di sofa dengan kepala yang tertunduk dan fokus kepada dokumen di tangannya. Semuanya terlihat normal.


Wajah Biru sebenarnya merona. Dia merasa malu. Dia menatap Dylan dengan marah. Dylan melihat ke arah Biru dan sebuah senyuman muncul di wajahnya. Dia hanya ingin menggoda Biru karena kemarahan Biru terlihat menggemaskan dan mempesona baginya.


Sebenarnya Dylan tadinya marah. Tapi setelah melihat Biru seperti itu, kemarahannya itu menghilang begitu saja.


"Kau bisa kembali dan berikan kepadaku dokumennya besok." Ucap Dylan kepada Biru.


Biru mengangkat kepalanya dan mengangguk lalu berdiri. Setelah itu Biru berjalan keluar dari dalam ruangan Dylan. Dia pun menghela nafas lega.

__ADS_1


'Sialan Dylan, ini terasa sangat aneh.' ucap Biru dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2