
Beberapa hari kemudian Biru mendapat sebuah panggilan dari Zoya. Mereka bertemu di sebuah cafe.
Saat Zoya melihat Biru berjalan masuk ke dalam cafe, dia menyeringai. Dia melihat ke arah Biru dengan kebencian dan tatapan yang penuh dengan kecemburuan. Dia terus melakukan yang terbaik untuk menggoda Dylan, tapi Dylan hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.
Biru tampak berjalan ke arah Zoya.
Zoya memberikan senyuman ramah di wajahnya. Mereka berdua duduk dan Zoya mengatakan kepada Biru tentang masa kecil mereka. Tapi tidak semuanya. Dia mengatakan kepada Biru bahwa dia tidak tahu orang tua Biru. Harapan Biru pun menghilang begitu saja. Kemudian Zoya mengatakan kepada Biru untuk menanyakan hal itu kepada Dylan. Dia mengatakan mungkin Dylan tahu akan hal itu. Mama Dylan dan Mama Biru juga berteman.
Setelah beberapa saat, Biru berjalan keluar. Dia pergi ke sebuah supermarket dan membeli beberapa bahan makanan. Saat dia berjalan keluar dari supermarket, dia melihat seorang pria tua duduk di sebuah bangku. Pria itu terlihat kelelahan Biru berjalan ke arah pria itu dan menawarkan sebotol air mineral.
Saat pria itu melihat ke arah Biru, dia tampak terkejut saat menatap wajah Biru yang terlihat mirip seperti cucunya.
Mereka mengobrol beberapa saat. Kemudian sopir pria tua itu datang dan mereka pun terpisah.
Biru kembali ke apartemen Dylan. Dia ingin menyiapkan makan malam untuk mereka. Tapi Dylan menelpon dan mengatakan kepada Biru bahwa dia masih ada meeting dengan klien dan mungkin dia akan makan malam dengan mereka. Biru lalu menaruh bahan-bahan makanan di lemari pendingin. Dia mengambil satu cup mie instan. Saat dia ingin memasaknya, Sarah meneleponnya dan meminta dia untuk menemaninya. Biru pun dengan cepat setuju.
Biru mengganti pakaiannya dengan sebuah dress kemudian berjalan keluar dan menunggu Sarah datang.
Mereka berdua pergi ke sebuah restoran. Teman Sarah akan merayakan makan malam ulang tahun. Sebenarnya Sarah akan mengajak Kenzo, tapi Kenzo sudah kembali ke Swiss.
Awalnya Sarah tidak mau menghadiri makan malam itu, tapi temannya memaksa dirinya. Jadi dia pun menelpon Biru meminta Biru untuk menemani dirinya.
Setelah beberapa saat, Biru pergi ke kamar mandi. Saat dia kembali dari kamar mandi, dia melihat Zoya berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan. Biru berjalan melewati ruangan itu. Ruangan itu tidak tertutup, Biru melihat Dylan juga ada di sana.
'Bukankah dia bersama kliennya? Kenapa Zoya juga ada di sini?' tanya Biru dalam hati.
__ADS_1
Saat Biru melihat ke arah mereka, dia melihat Zoya mencoba untuk memeluk dan mencium Dylan. Tapi Dylan tampak tidak menyukai hal itu. Dia melepaskan Zoya dari pelukannya dan mendorong Zoya menjauh darinya.
"Kenapa... Kenapa Dylan? Kau tahu aku mencintaimu sejak kita masih kecil. Tapi kenapa kau tidak pernah melihat aku. Apakah aku tidak baik untukmu?" Tanya Zoya.
"Zoya sudah aku katakan kepadamu. Aku hanya menganggap mu sebagai temanku." Ucap Dylan.
"Apa ini karena dia... Biru..." Ucap Zoya.
Jantung Biru berdetak sangat kencang saat dia mendengar Zoya menyebutkan namanya. Kemudian Zoya tertawa.
"Apakah kau sudah lupa siapa dia? Apa kau yakin keluargamu akan menerima dia. Dia adalah..."
Dylan memotong ucapan Zoya.
"Zoya, kau mabuk. Aku akan menelpon Leo untuk mengantarmu pulang ke rumah." Ucap Dylan.
"Biru... Di mana kau? Hei apa yang kau lakukan di sana? Ruangan kita di sini." Ucap Sarah.
Sarah berpikir bahwa Biru mungkin mabuk dan lupa ruangan mereka.
Biru tersadar dari lamunannya dan dia dengan cepat berjalan menjauh dari ruangan di mana Dylan berada. Dia berjalan mendekat ke arah Sarah.
Dylan yang berada di dalam ruangan itu, mendengar seseorang menyebut nama Biru. Dia dengan cepat berjalan keluar setelah mendorong Zoya menjauh darinya. Jantungnya berdetak kencang.
'Biru? Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah dia ada di apartemen?' tanya Dylan dalam hati.
__ADS_1
Saat Dylan keluar, dia hanya melihat dua bayangan wanita memasuki sebuah ruangan. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Biru.
Di dalam ruangan lainnya, tangan Biru gemetar. Saat dia melihat ponselnya bergetar, dia dengan cepat mematikan ponselnya itu. Pikirannya penuh dengan pertanyaan.
'Siapa aku sebenarnya? Apa maksud Zoya dengan mengatakan hal itu? Apa yang terjadi di antara kami? Apa yang sudah aku lakukan kepada keluarga Dylan hingga membuat mereka menolak ku? Apakah ini alasan kenapa Dylan tidak pernah membawaku menemui keluarganya dan tidak pernah memikirkan tentang menikahi ku? Sepertinya ada sebuah rahasia diantara kami dan Apa rahasia itu?' tanya Biru dalam hati.
Biru merasa rahasia itu berhubungan dengan dirinya. Semua pertanyaan itu bermain di dalam pikirannya. Dia perlu menemukan apa hubungan dari semua itu sebenarnya dengan cepat.
Biru merasa kepalanya mulai sakit dan wajahnya menjadi pucat dan juga keringat mulai mengucur deras dari keningnya.
Sarah melihat wajah pucat Biru. Dia berpikir bahwa Biru merasa tidak nyaman dengan teman-temannya, kemudian dia melihat keringat Biru. Dia bertanya kepada Biru dan Biru mengatakan dia merasa sedikit tidak enak badan.
Sarah dengan cepat memberitahukan teman-temannya bahwa mereka harus kembali. Kemudian mereka pun kembali ke rumah. Sarah masih merasa khawatir tentang kesehatan Biru, tapi Biru mengatakan bahwa dia hanya sakit kepala saja.
Biru tiba di apartemen Dylan dan Sarah yang mengantarnya pulang ke sana.
...----------------...
Saat Biru tiba di apartemen, Dylan sudah ada disana. Biru lalu berjalan ke arah kamar dan Dylan mengikuti dia ke dalam kamar.
Dylan bertanya kepada Biru ke mana dia pergi. Biru hanya mengatakan kepada Dylan bahwa dia pergi makan malam dengan Sarah. Dia tidak mengatakan kepada Dylan di mana mereka makan malam.
Dylan melihat wajah Biru yang pucat dan Biru mengatakan kepada Dylan bahwa dia hanya sakit kepala.
Dylan memeluk Biru dan menaruh kepala Biru di pundaknya. Dia juga tidak mau tahu di mana Biru makan malam karena dia juga takut dengan jawaban Biru.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, mereka berdua berbaring di atas tempat tidur. Dylan memeluk Biru dengan erat dalam pelukannya. Mereka berdua tertidur dengan pikiran mereka masing-masing.
Bersambung...