
Biru berjalan keluar dan menemukan Zoya tengah berdiri di luar toilet. Zoya tengah menunggu dirinya.
"Haruskah aku mengucapkan selamat kepadamu teman terbaikku?" Ucap Zoya.
Biru tidak menghiraukan Zoya dan berjalan melewatinya begitu saja. Zoya begitu marah karena tidak dihiraukan. Dia kembali berkata kepada Biru.
"Jangan cepat-cepat merasa bahagia. Apa kau pikir kau bisa bersamanya? Kau tidak pantas mendapatkan itu." Ucap Zoya lagi.
"Itu bukan urusanmu." Balas Biru.
"Jika Opa mengetahui siapa dirimu, apa kau pikir dia akan setuju dengan hubunganmu dan Dylan?" Ucap Zoya.
Saat Biru mendengar hal itu, ada sesuatu di dalam hatinya. Tangannya mulai gemetar. Saat melihat hal itu, Zoya merasa bahagia.
"Apa kau pikir dia akan mengizinkan seorang pembunuh yang sudah membunuh cucu perempuan dan putrinya untuk berada dalam keluarganya?" Ucap Zoya.
Biru berbalik dan bertanya kepada Zoya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tinggalkan Dylan atau aku akan mengatakan kepada Opa siapa dirimu sebenarnya." Ucap Zoya.
"Kenapa aku harus mendengarkan mu? Apa kau punya bukti?" Tanya Biru.
"Aku tidak butuh bukti karena aku ah saksinya." Ucap Zoya.
"Apa maksudmu?" Tanya Biru bingung.
"Aku ada di sana saat kau mendorong Ella masuk ke dalam kolam renang. Aku melihat semuanya." Ucap Zoya.
__ADS_1
Wajah Biru memucat. Dia menggigit bibirnya dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia mengepalkan tangannya untuk memberikan dirinya sendiri ke keberanian. Zoya begitu puas saat dia melihat wajah Biru. Dia berjalan menjauh dari sana dengan tersenyum.
Saat Biru berbalik dia melihat Dylan tengah bicara dengan seseorang. Biru tidak mau mendekati Dylan. Morgan melihat Biru dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa kau baik-baik saja? Apakah sesuatu terjadi padamu? Kau terlihat pucat." Ucap Morgan.
Biru tersenyum dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Aku baik-baik saja." Ucap Biru.
"Benarkah?" Tanya Morgan.
Dia sangat mengenal Biru. Dia melihat Biru yang gemetar dan matanya tampak gugup dan Morgan merasa bahwa sesuatu pasti terjadi kepada Biru.
Biru melihat ke arah Morgan. Dia tahu kepedulian Morgan kepadanya. Dia pun tertawa.
"Aku benar-benar baik-baik saja." Ucap Biru.
Mata Dylan melihat ke arah mereka. Dia lalu pergi dari tamunya dan berjalan ke arah mereka. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Biru dengan posesif. Morgan menggelengkan kepalanya. Louis dan Emily juga bergabung bersama mereka.
Setelah beberapa saat ada musik yang dimainkan. Beberapa tamu mulai berdansa dengan pasangan mereka. Dylan membawa Biru untuk berdansa. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Biru. Tangan Biru berada di leher Dylan. Mereka tanpa begitu intim.
Dylan menundukkan kepalanya dan menggigit bibir Biru. Dia melakukan hal itu untuk menghukum Biru. Kemudian mereka terus berdansa sambil menggoda satu sama lain.
Mata Zoya melihat ke arah mereka. Dia melihat ke arah Biru dengan kebencian yang besar. Dia benar-benar ingin membunuh Biru.
Dylan tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Dia sudah mencoba untuk menggoda Dylan selama ini. Tapi dia tidak pernah berhasil. Dylan selalu bersikap dingin padanya. Dylan hanya memperlakukan Zoya seperti seorang teman atau adik. Dylan tidak pernah memiliki perasaan kepada dirinya. Itulah kenapa Zoya begitu cemburu melihat ketertarikan Dylan kepada Biru.
Saat Opa Dylan sudah pulang ke rumah dengan asistennya, Papa Dylan bicara dengan teman-temannya. Mereka mengagumi kecantikan Biru. Papa Dylan mengakui hal itu. Biru memang benar-benar wanita yang cantik dan dia menyukainya.
__ADS_1
Saat pesta berakhir, Dylan membawa Biru masuk ke dalam mobil. Saat mereka ada di dalam mobil, Dylan menarik Biru ke arahnya dan menciumnya.
Biru tampak merona saat dia mengingat bahwa Leo dan sopir juga ada di dalam mobil. Biru mencoba untuk mendorong Dylan.
"Dylan..." Ucap Biru.
Melihat Biru yang gugup, Dylan menekan tombol dan membuat ada sekat di antara kursi belakang dan kursi depan kemudian dia mulai mencium Biru lagi. Ciumannya benar-benar membuat Biru terlena.
Dia benar-benar mencium Biru dengan penuh perasaan. Dia juga ingin menghukum Biru karena membuatnya cemburu. Biru memukul pundak Dylan.
Dylan lalu melepaskan Biru kemudian menggigit leher Biru dan memberikan tanda ciumannya.
Saat mereka tiba di apartemen, Dylan menarik Biru ke dalam pelukannya. Dia tahu Biru kesal.
"Aku minta maaf." Ucap Dylan meminta maaf kepada Biru karena tindakannya.
Biru membenamkan wajahnya di dada Dylan. Saat mereka berada di pesta sebelumnya, ada banyak pasang mata pria yang menatap ke arah Biru saat mereka berjalan masuk ke dalam ballroom hotel.
Ada keheningan sebelum Dylan bicara lagi.
"Aku minta maaf Biru. Aku hanya mau dirimu untuk diriku sendiri. Iya, aku tidak mau membaginya dengan orang lain. Aku hanya begitu cemburu melihat pria lain mengarahkan mata mereka kepada dirimu. Aku benci melihatmu mengobrol dan tertawa dengan Morgan dan yang lainnya. Aku cemburu Biru. Setiap kali aku melihat pria yang melihat ke arahmu dengan mulut mereka yang menganga, aku merasa marah. Aku ingin meninju mereka.
Mendengar pengakuan Dylan, membuat Biru tidak dapat berkata apa-apa. Dylan benar-benar posesif kepadanya.
Walaupun sebenarnya Biru merasa tenang dalam hatinya, tapi dia juga bingung. Apa yang harus dia lakukan saat dia mengingat kondisinya sendiri. Dylan melihat ke arah mata Biru. Dylan selalu merasa ada sesuatu yang salah pada diri Biru.
Dia merasa dalam hatinya tidak tenang. Dia merasa takut. Tapi dia tidak tahu apa itu sebenarnya. Dia tahu dalam hatinya bahwa ketakutannya itu berhubungan dengan Biru. Dia merasa seolah Biru akan meninggalkan dirinya.
Itulah juga salah satu alasan Dylan membawa Biru pergi ke pesta sebagai pasangannya. Bahkan walaupun dia tidak secara resmi mengumumkan siapa Biru pada semua orang. Tapi dia tahu dengan sikapnya di pesta tadi semua orang akan tahu bahwa Biru adalah miliknya.
__ADS_1
Dia juga ingin melihat Papanya dan reaksi Papanya dan Opanya terhadap Biru. Dia merasa lega saat dia melihat sikap Papanya kepada Biru. Kelihatannya Papanya tidak keberatan dengan hubungannya dan Biru. Sementara untuk Opa nya, Dylan akan berbicara dengannya lain kali.
Bersambung....