Takdir Cinta Biru

Takdir Cinta Biru
Kemarahan Dylan Di Kantor


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak malam mereka menghabiskan waktu bersama. Dylan tidak pernah muncul atau menelpon Biru lagi.


Biru kembali ke apartemen seperti biasanya. Semua yang dia tahu bahwa Dylan sangat sibuk.


'Terlambat... terlambat... terlambat...'


Kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran Biru. Dia dengan cepat berjalan masuk ke dalam lift.


Sebuah suara memanggil Biru saat dia berjalan masuk ke dalam lift dan dia pun berbalik. Biru menekan tombol lift saat dia sudah ada di dalam lift. Seorang wanita berjalan masuk. Biru melepaskan tangannya dari tombol lift dan pintu lift pun tertutup.


"Terima kasih." Ucap wanita itu kepada Biru karena mau menunggunya tadi.


Setelah tiba di lantainya, Biru dengan cepat berjalan keluar dari dalam lift dan berjalan menuju mejanya. Teman-temannya yang lain melihat ke arahnya.


"Apa yang terjadi? Kau terlambat hampir satu jam. Pak Dylan sudah tiba di kantor sejak pagi tadi dan dia terlihat tidak senang. Berati-hatilah." Ucap Maria kepada Biru.


Biru mengangguk dan berterima kasih kepada Maria dia dengan cepat duduk dan mulai bekerja ada senyuman di wajah Biru.


"Kau akhirnya kembali sayang." Ucap Biru perlahan.


Dia sangat merindukan Dylan, ini sudah satu minggu mereka tidak bertemu atau bicara satu sama lain.


Clara keluar dari ruangan CEO dan matanya mencari sosok Biru. Saat dia melihat Biru, dia memberikan sinyal kepada Biru untuk mengikutinya. Mereka berdua lalu pergi ke ruangan CEO.


"Pak..." Ucap Clara memanggil Dylan.


Dylan tidak mengangkat kepalanya. Dia hanya membuang beberapa kertas di atas mejanya.


Biru tampak terkejut.


"Apakah ini hasil pekerjaanmu? Aku tidak menyangka kau begitu tidak bertanggung jawab. Apakah kau sudah memeriksanya sebelum kau memberikan itu padaku?" Ucap Dylan.


Biru mengambil kertas yang berserakan dan mengumpulkannya satu persatu. Memang ada satu bagian yang menghilang.


"Tidak mungkin." Ucap Biru pelan.


Dia kembali memeriksanya beberapa kali. Dia pun bingung kemana satu kertas itu pergi.


"Apa kau tahu apa kesalahanmu sekarang? Apakah kau tahu bagaimana konsekuensi atas ketidakbecusan mu itu? Jika kau tidak mau serius bekerja, kau Lebih baik resign dibandingkan membuatku rugi. Aku tidak suka karyawan yang tidak serius dalam pekerjaan mereka. Kau lebih baik mengintrospeksi dirimu sendiri jika kau masih mau bekerja disini. Aku tidak suka ada kesalahan." Ucap Dylan penuh kemarahan.


Biru hanya terdiam.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau menjawab ku?" Ucap Dylan mengangkat kepalanya dan saat dia melihat bahwa orang yang dimarahinya itu adalah Biru, dia tampak terkejut.


Biru mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu. Biru tidak pernah melihat Dylan begitu marah dan wajahnya juga tampak dingin. Dylan terlihat menakutkan. Wajah Biru menjadi memucat.


"Saya minta maaf Pak. Tapi saya sudah memeriksanya beberapa kali dan saya yakin bahwa semuanya lengkap. Saya tidak tahu kenapa bisa ada yang menghilang." Ucap Biru.


Saat Dylan melihat wajah Biru yang pucat, dia mengutuk dirinya sendiri.


'Sial! Ternyata itu Biru, cintaku. Wanita yang sangat aku rindukan.' ucap Dylan dalam hati.


Dylan lupa jika Biru adalah sekretarisnya juga. Dia sudah menakuti Biru.


Suaranya mulai lembut.


"Apa kau yakin?" Ucap Dylan.


Biru mengangguk dan berkata, "saya sudah mengeceknya dan saya yakin bahwa semuanya lengkap."


"Baiklah, kalau begitu pergi dan perbaiki lalu bawa kembali. Kau bisa keluar sekarang." Ucap Dylan.


Biru dan di Clara menundukkan kepala mereka dan berjalan keluar. Clara menepuk pundak Biru.


"Sabarlah. Pak Dylan diketahui sebagai orang yang sangat disiplin dan kejam tentang pekerjaan. Pergi perbaiki itu dan berikan kepadaku. Aku akan memberikannya kepada Pak Dylan." Ucap Clara.


Biru mengusap air matanya dan mulai bekerja lagi. Untungnya dia menyimpan filenya di USB miliknya. Jika tidak, maka dia harus bekerja dua kali.


Setelah memeriksa pekerjaannya, Biru memberikannya kepada Clara.


Clara memeriksanya lagi, kemudian meminta Biru untuk mengantarnya kepada Dylan secara langsung, karena itu adalah perintah dari Dylan sendiri.


Biru lantas berjalan ke ruangan Dylan. Leo asisten Dylan tidak ada di mejanya. Jadi Biru langsung menuju pintu ruangan Dylan. Dia pun mengetuk pintu.


"Masuklah." Ucap Dylan.


Biru lalu membuka pintu dan berjalan masuk.


Saat Biru mengangkat kepalanya, dia melihat seorang wanita duduk di pegangan kursi Dylan dan salah satu tangannya berada di pundak Dylan. Sementara Dylan tampak tengah menandatangani dokumen dan kepalanya menunduk.


Wajah Biru memucat. Dia tahu bahwa wanita itu adalah Zoya.


"Ada apa Leo?" Tanya Dylan tanpa mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Biru kembali kepada kesadarannya. Dia mengepalkan tangannya dengan erat dan berjalan ke arah meja Dylan.


"Pak Dylan, ini dokumen yang anda inginkan. Saya sudah mengaturnya lagi." Ucap Biru dan menaruh dokumen di atas meja.


Dylan mengangkat kepalanya saat dia mendengar suara Biru. Dia tidak menyangka bahwa itu adalah Biru. Walaupun sebenarnya memang dia sendiri yang meminta Biru untuk membawa dokumen itu kepadanya secara langsung karena dia ingin bicara berdua dengan Biru. Tapi dia tidak menyangka bahwa Zoya akan datang dan semuanya menjadi kacau.


Sekarang semuanya menjadi lebih rumit. Dylan bisa melihat rasa sakit di mata Biru. Dia juga merasa terluka. Tapi dia harus bertingkah profesional. Dylan melihat ke arah dokumen itu dan melihatnya satu persatu.


"Apa kau sudah memeriksanya lagi? Tidak ada kesalahan lagi?" Tanya Dylan.


Biru mengangguk kepada Dylan dan berkata, "jangan khawatir Pak Dylan, saya sudah mengeceknya dua kali." Ucap Biru.


Dylan mengangguk dan berkata, "kalau begitu, kau boleh keluar."


Biru berjalan mundur dan berkata, "saya permisi Pak."


Biru lalu berbalik dan berjalan keluar.


Mata Dylan terus menatap pintu sampai Biru pergi. Dia lalu menatap meja. Dia berkata kepada Zoya untuk melepaskan tangannya dari pundaknya. Dia merasa kesal.


"Bisakah kau berpindah duduk di sofa? Tidakkah kau melihat aku sedang sibuk." Ucap Dylan kesal.


"Dylan, kau berjanji kepada Opa semalam bahwa kau akan membawaku makan malam hari ini." Ucap Zoya.


Dia masih duduk di pegangan kursi milik Dylan. Hati Dylan merasa kacau. Dia lalu memarahi Zoya.


Zoya lantas berdiri dan berjalan menuju sofa.


Sementara itu Biru berjalan masuk ke toilet. Dia merasa sakit di dalam dadanya. Dia mengingat beberapa hari yang lalu saat dia melihat sebuah tabloid yang terus memberitakan tentang Dylan dengan seorang wanita. Biru mengenal wanita itu adalah Zoya, teman masa kecil Dylan.


Mereka menghadiri sebuah pesta bersama dan mereka terlihat sangat serasi dan sekarang wanita itu muncul di ruangan kerja Dylan.


'Apa hubungan mereka? Apakah benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa Zoya akan menjadi tunangan Dylan? Lalu Bagaimana denganku sendiri? Apakah Dylan selalu bersamanya akhir-akhir ini ?' tanya Biru dalam hati.


Biru menepuk dadanya. Dia merasa tidak nyaman dan juga cemburu saat dia membayangkan mereka bersama. Matanya mulai berair. Dia lalu mengusap air matanya dan melihat ke arah cermin. Tapi tiba-tiba dia merasa terluka lagi.


Akhir-akhir ini dia sering sekali merasa sakit kepala.


'Apakah ini juga karena aku stress dan juga karena aku yang kurang tidur?' ucap Biru dalam hati.


Biru memegang wastafel seraya menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit kepalanya. Setelah rasa sakit itu pergi, dia membasuh wajahnya dengan air dan berjalan keluar menuju meja kerjanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2