
Biru terbangun dan mendapati Dylan masih tertidur di tempat tidurnya. Dylan memeluknya dengan sangat erat. Biru perlahan bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu dia mulai menyiapkan sarapan.
Dylan yang baru saja bangun, merasakan ketakutan di dalam hatinya saat dia tidak menemukan Biru di sampingnya. Dia dengan cepat berjalan keluar dari dalam kamar. Saat dia melihat Biru yang tengah memasak di dapur, dia berjalan mendekat ke arah Biru. Dia lalu memeluk Biru dari belakang.
Biru merasakan sebuah tangan di pinggangnya. Biru terdiam beberapa saat, kemudian dia mencoba untuk melepaskan pelukan Dylan.
Bagaimanapun Dylan terus memeluk Biru dari belakang. Biru lalu mematikan kompor dengan segera dan memindahkan makanan ke arah piring. Saat dia hendak berjalan, Dylan memegang tangan Biru.
Kedua tangannya memegang Biru dan membuat Biru terhimpit di tembok.
"Menjauhlah." Ucap Biru.
Dylan mengusap kulit pipi Biru yang lembut dan bersandar ke arah Biru kemudian mencium pipi Biru. Dia melihat ke arah mata Biru. Masih ada kesedihan di dalam mata Biru.
"Aku minta maaf Biru." Ucap Dylan dengan tangan yang terus mengusap rambut Biru.
Dia mendekat ke arah Biru dan mencium bibir Biru. Setelah beberapa saat dia melepaskan ciumannya. Dia lalu memeluk Biru dengan erat.
Biru melihat ke arah Dylan saat Dylan menggendong Biru menuju meja makan. Dylan menaruh Biru di kursi kemudian dia mengambil makanan yang Biru siapkan. Mereka pun sarapan bersama, tapi Biru tetap terdiam.
Setelah sarapan, Dylan mandi kemudian berganti pakaian. Dia mengatakan bahwa dia akan melakukan sesuatu. Kemudian dia keluar setelah mengatakan kepada Biru bahwa dia akan membawa Biru pergi makan malam nanti.
Biru tidak pergi bekerja karena ini hari sabtu, jadi dia tetap berada di rumah.
Biru memikirkan semuanya. Dia ingin memberikan satu kesempatan untuk hubungan mereka. Bagaimanapun dia terlalu mencintai Dylan. Dia juga tidak mau kehilangan Dylan.
Sebuah ketukan di pintu apartemen menyadarkan Biru dari lamunannya. Dia bergegas membuka pintu dan menemukan bahwa itu adalah Leo yang datang memberikannya sebuah kotak.
Leo mengatakan bahwa Dylan yang memberikan itu kepadanya. Biru membuka kotak itu dan mendapati sebuah gaun berwarna blue navy. Gaun itu sangat indah dan ada catatan dari Dylan disana. Dylan ingin Biru mengenakan gaun itu untuk makan malam nanti.
Sudah cukup lama mereka tidak makan malam di luar bersama. Tentu saja Biru merasa bahagia. Dia berpikir untuk memberikan kesempatan kepada Dylan untuk membuktikan dirinya sendiri. Biru mengingat bahwa saat mereka berada di masa kuliah dulu, Dylan selalu melindungi Biru.
__ADS_1
Biru pun merasakan kehangatan di dalam hatinya. Tapi sekarang semuanya begitu berubah diantara mereka.
Siapa sebenarnya yang berubah?
Biru hanya tersenyum samar karena mereka berdua lah yang berubah.
Biru berdiri di depan cermin memegang gaun itu yang tampak sangat indah. Tentu saja pilihan Dylan selalu yang terbaik. Biru pun tersenyum.
Tiba-tiba Biru merasakan sakit di kepalanya. Dia melepaskan gaun itu dan memegang kepalanya. Dia benar-benar kesakitan selama beberapa saat kemudian dia mengambil gaun itu dari lantai dan menaruhnya di atas tempat tidur.
Dia berjalan menuju laci dan mengambil obat penghilang rasa sakit dan dia berjalan menuju dapur menuangkan segelas air hangat ke dalam gelas dan meminumnya dengan cepat.
Setelah itu Biru menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju sofa dan duduk.
'Apa yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini? Aku jadi sering merasa sakit kepala dan sakit itu tidak pergi dengan cepat. Mungkin aku harus pergi ke rumah sakit dan mencoba berkonsultasi dengan dokter.' ucap Biru dalam hati.
Biru merasa mengantuk lalu dia tertidur di sofa selama beberapa saat.
Biru terlihat sangat cantik.
Dylan datang dan melihat Biru dari atas ke bawah. Tentu saja Biru adalah wanita yang cantik. Dengan gaya rambut seperti itu, membuat Biru terlihat elegan dan seksi. Leher jenjang Biru yang tampak jelas, membuat Dylan ingin menaruh tanda merah di sana.
Dylan tiba-tiba merasa dia tidak ingin membawa Biru keluar dan membagi Biru dengan orang lainnya. Dia ingin membuat Biru menjadi miliknya sendiri. Tapi dia tidak mau membuat Biru kecewa lagi. Dia sudah berjanji kepada Biru untuk membawanya keluar makan malam.
Dia sudah melupakan ulang tahun Biru. Jadi sekarang dia mencoba untuk minta maaf kepada Biru dan mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka lagi.
Dylan mendekat ke arah Biru dan memeluk Biru.
"Kau terlihat sangat cantik princess." Ucap Dylan.
Wajah Biru merona.
__ADS_1
"Terima kasih." Balas Biru.
Dylan mengusap rambut Biru.
"Aku sangat mencintaimu Biru." Ucap Dylan lalu menunduk dan memberikan ciuman lembut di bibir Biru.
Ciuman itu semakin dalam dan mulai berhasrat. Dylan dengan cepat melepaskan ciumannya. Biru merona karena dia bisa merasakan panas dari dalam diri Dylan.
"Dylan..." Bisik Biru di telinga Dylan.
Dylan melihat ke arah Biru dengan penuh hasrat.
"Lihat apa yang kau lakukan kepadaku." Ucap Dylan.
Wajah Biru semakin memerah karena dia mengerti apa yang dimaksud oleh Dylan.
Dylan menarik Biru ke pelukannya dan satu tangannya mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sakunya. Dia lalu memakaikan kalung itu di leher Biru.
"Happy birthday Biru ku sayang dan aku minta maaf." Ucap Dylan.
Biru melihat ke arah kalung itu. Bahkan walaupun sebenarnya Biru sedikit kecewa, tapi dia tetap berterima kasih kepada Dylan. Biru berharap Dylan akan melamarnya, tapi Biru berpikir mungkin saja itu tidak akan pernah terjadi.
Biru mencoba untuk tersenyum. Dia mengabaikan pandangan Dylan. Dia tidak mau Dylan melihat kekecewaan di matanya.
Dylan lalu menarik Biru dan membawa Biru berjalan melewati pintu.
"Ayo kita pergi sekarang. Jika tidak, mungkin kita tidak akan berakhir dengan makan malam." Ucap Dylan.
Biru hanya tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1