
"Ken..."
"Mama..."
Biru terbangun dan berteriak. Sarah yang duduk di sofa berlari ke arahnya. Sarah tidak jelas mendengar apa yang di teriakan Biru. Dia hanya begitu senang saat melihat Biru terbangun.
"Biru.... Oh terima kasih Tuhan, kau akhirnya bangun." Ucap Sarah.
Biru membuka matanya dan melihat Sarah. Dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa hari sudah cerah.
"Sarah...." Ucap Biru dengan air mata yang turun ke pipinya.
"Biru kau baik-baik saja sekarang, jangan khawatir." Ucap Sarah seraya memeluk Biru dan mengusap punggung Biru.
"Sarah jam berapa sekarang?" Tanya Biru.
Sarah mengatakan kepada Biru sudah jam berapa sekarang. Sarah meminta maaf karena membuat mereka melewati penerbangan mereka.
Mereka seharusnya kembali lebih cepat pagi ini karena mereka harus bekerja. Tapi karena Biru yang tidak sadarkan diri, mereka harus meminta kepada perusahaan untuk libur satu hari lagi.
"Sarah aku minta maaf karena memperlambat pekerjaanmu." Ucap Biru.
"Jangan berkata seperti itu Biru. Ini juga karena salahku." Ucap Sarah.
Di saat yang bersamaan, bel pintu berbunyi. Sarah pergi untuk membuka dan melihat ternyata itu adalah Brian.
__ADS_1
Brian pun masuk lalu memeriksa kondisi Biru dan dia mengatakan bahwa Biru sudah baik-baik saja sekarang.
Setelah mengemasi barang-barang mereka dan check out dari Hotel, Biru berterima kasih kepada Brian karena bantuannya dan dia juga meminta maaf karena sudah membuat masalah bagi Brian. Biru berjanji untuk mentraktir Brian jika dia datang ke kota mereka. Bryan lalu membawa mereka menuju bandara setelah makan siang bersama mereka.
...----------------...
Di dalam pesawat, Biru memikirkan tentang mimpinya saat dia berada di rumah sakit. Kali ini mimpi itu lebih spesifik dan Biru memiliki mimpi yang panjang. Biru memimpikan tentang dua gadis kecil yang bermain sebuah boneka. Dia melihat mereka bermain di samping kolam renang.
"Aku senang bermain denganmu." Ucap anak perempuan itu.
"Ella aku juga menyukaimu dan aku senang bermain denganmu juga." Balas gadis kecil lainnya yang merupakan sosok Biru saat masih kecil.
Kemudian Biru melihat gadis kecil yang disebut Ella itu terjatuh ke dalam kolam renang dan tenggelam. Biru merasa panik kemudian seorang wanita paruh baya berjalan ke arah Biru kecil dan menyebutnya sebagai pembunuh. Biru kecil juga ketakutan dan dia pun berteriak. Setelah itu dia jatuh pingsan.
"Biru.... Biru... Apa kau baik-baik saja?" Ucap Sarah memanggil Biru.
Dia mengusap air matanya dan berkata, "aku baik-baik saja Sarah."
"Aku minta maaf. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi." Ucap Sarah.
Dia berpikir bahwa Biru sedih karena apa yang terjadi di resort.
"Sarah, ini bukan kesalahanmu. Jangan merasa bersalah." Ucap Biru.
Setelah beberapa saat, pesawat pun mendarat di bandara.
__ADS_1
Di sisi lain, Dylan merasa kesal saat dia pergi ke perusahaan pagi ini. Sekretarisnya mengatakan bahwa Biru tidak datang bekerja, dan setelah melakukan meeting Dylan keluar ke depan kantor dan pergi ke apartemen Biru. Tapi dia tidak melihat Biru ada di sana. Dia pun menelepon nomor Biru beberapa kali, tapi ponsel Biru tidak aktif.
Kemudian dia kembali ke apartemennya sendiri dan menunggu Biru di sana. Tapi Biru belum juga kembali.
Sarah mengantar Biru ke apartemennya sendiri, kemudian dia kembali ke rumahnya.
Biru berjalan masuk ke apartemennya. Dia merasa kelelahan. Setelah mandi, Biru memesan makanan dan makan malam. Saat dia mencuci piring, kepalanya mulai sakit lagi. Dia memegang kepalanya dan memuntahkan semua makanan yang baru saja dia telan keluar lagi.
Sakit kepala yang menyerang Biru kali ini lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Mungkin ini karena Biru yang terlalu stress dengan pengalaman yang baru saja dia rasakan.
Biru menyeret kakinya menuju kamar tidur. Dia lalu mengambil obat. Itu sudah tengah malam dan Biru meminum obat itu kemudian dia berbaring di tempat tidurnya. Air matanya turun ke pipinya.
Di saat yang bersamaan, Dylan tiba di depan pintu gerbang gedung apartemen Biru. Dia melihat ke arah apartemen Biru dimana lampu apartemen Biru sudah menyala.
'Kelihatannya Biru sudah kembali.' ucap Dylan dalam hati.
Dylan lalu berjalan ke arah lift dan naik ke lantai atas. Dia menekan bel apartemen Biru beberapa kali. Tapi Biru tidak membuka pintu. Dylan menelepon Biru, tapi ponsel Biru tidak aktif.
Dylan lalu menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu dan berjalan masuk. Dia tidak melihat Biru di ruang tamu kemudian dia masuk ke dalam kamar Biru. Dia melihat Biru sudah tertidur. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Biru dan melihat wajah Biru yang sedikit pucat.
Setelah menutup tubuh Biru dengan selimut, Dylan berjalan ke arah ruang tamu lagi. Dia mematikan lampu di ruang tamu lalu kembali ke kamar Biru. Dia mendengar Biru yang menangis dalam tidurnya.
'Kelihatannya Biru mengalami mimpi buruk lagi.' ucap Dylan dalam hati.
Biru memang mulai bicara dalam mimpinya. Bayangan di mana gadis kecil yang tenggelam dan seseorang yang menyebutnya sebagai pembunuh terus ada dalam mimpinya. Kening Biru mulai berkeringat. Dia juga menangis. Dylan mengambil handuk kecil dan mengusap keringat Biru dan air matanya. Dia berbaring di samping Biru dan memeluk Biru.
__ADS_1
Setiap kali Biru mengalami mimpi buruk, Dylan juga merasakan sakit dalam dirinya.
Bersambung...