
Seperti yang dikatakan manajer kepada Biru dan teman-temannya bahwa mereka akan sangat sibuk dan itu memang benar terjadi. Sejak kemarin dan hari ini, cafe mereka sangat sibuk karena event yang diadakan.
Biru dan semua staf lainnya sangat sibuk. Tapi mereka semua sangat senang terutama karena manajer mereka menjanjikan bonus kepada mereka, dan pagi ini manajer mereka mengatakan kepada mereka bahwa pemilik cafe tempat mereka bekerja akan datang untuk memonitor pekerjaan mereka.
Pemilik cafe itu juga mengundang temannya untuk makan malam di cafe mereka itu dan semua staf diharapkan untuk bisa lebih fokus dan berhati-hati dalam bekerja.
Pukul 05.00 sore, seorang pemuda berjalan masuk. Manager cafe itu dengan cepat menyapa pria itu. Setelah itu mereka pun berjalan masuk ke dalam cafe.
Lia yang merupakan teman bekerja Biru mendekat ke arahnya.
"Wow, aku baru saja menyadari ternyata bos kita sangat tampan. Apa kau melihatnya? Itu dia yang mengenakan jas berwarna abu-abu." Ucap Lia yang juga sama seperti Biru tidak pernah melihat pemilik cafe itu.
"Dia jarang datang ke sini." Ucap Nino.
Dia adalah staf yang paling dewasa di cafe itu. Dia sudah bertemu dengan pemilik cafe itu beberapa kali. Kemudian Nino berbalik menatap Biru.
"Bos kita itu masih kuliah dan namanya adalah Kenzo. Mami biasa memanggilnya dengan sebutan Bos Ken. Dia sangat baik dan jika aku tidak salah, dia berkuliah di kampus yang sama denganmu. Mungkin 1 tahun lebih atas dibandingkan dengan dirimu." Ucap Nino kepada Biru.
Biru melihat ke arah Nino dengan tatapan bingung. Dia tidak bisa melihat wajah Bosnya itu tadi dengan jelas. Dia hanya melihat punggung bosnya. Jadi kemudian dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah melihatnya. Mungkin kami di fakultas yang berbeda." Ucap Biru.
Kemudian setelah itu mereka semua pun melanjutkan pekerjaan mereka.
Setelah beberapa saat, 2 orang tamu datang dan Nino membawa mereka untuk menuju sebuah ruangan pribadi. Nino mengatakan kepada Biru dan Lia bahwa kedua orang itu adalah teman dari Bos Ken.
Biru diminta untuk mengantar makanan ke ruangan privasi dimana bos mereka dan temannya berada. Saat Biru masuk ke dalam ruangan itu dengan dua temannya, dia memberi salam dan langsung menyajikan makanan di atas meja. Setelah itu dia pun segera pergi.
Saat mereka kembali di dapur Lia tampak tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Biru, apa kau melihat mereka tadi? Wah, mereka semua terlihat sangat tampan, terutama bos kita itu."
Biru hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berjalan pergi untuk mengambil pesanan dari meja lainnya.
Setelah beberapa saat Biru mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia harus pergi untuk beberapa saat dan akan segera kembali. Kemudian Biru berjalan ke ruangan istirahat, lalu beralih menuju toilet. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan dari Morgan yang menanyakan kepadanya jam berapa dia akan selesai bekerja karena dia ingin makan malam bersama dengan Biru.
Biru melihat ke arah arlojinya dan membalas pesan dari Morgan.
[Maaf Morgan, aku rasa aku tidak bisa bergabung denganmu. Aku punya pekerjaan lembur.]
Setelah itu Biru menaruh ponselnya di dalam sakunya dan membuat ponselnya itu dalam mode silent. Kemudian dia merapikan pakaiannya dan rambutnya. Setelah itu dia berjalan keluar dari dalam toilet.
Di saat yang bersamaan, seorang pria juga berjalan keluar dari toilet pria. Mereka pun secara tidak sengaja menabrak satu sama lain dan Biru hampir saja terjatuh jika saja pria itu tidak menangkapnya dengan cepat.
"Maaf. Apa kau baik-baik saja?" Tanya pria itu.
Biru lantas berdiri dan mengangguk. Dia juga meminta maaf pada pria itu.
"Aku juga minta maaf. Ini salahku karena tidak melihatmu. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Biru.
Biru mengangkat kepalanya dan melihat pria yang dia tabrak itu. Sosok pria itu adalah pria yang tampan. Pria itu mengangkat tangannya ke arah kepala Biru.
Biru merasa terkejut dan mulai berjalan mundur.
"Ssttt..." Ucap pria itu.
Pria itu memegang tangan Biru dan membuat Biru terdiam di tempatnya. Kemudian dia mengambil sesuatu di rambut Biru dan menunjukkannya ke arah Biru. Sebenarnya ada sedikit kotoran di atas rambut Biru. Hal itu membuat Biru merasa malu dan wajahnya merona. Kemudian dia dengan cepat mengucapkan terima kasih kepada pria itu dan kembali ke tempatnya bekerja.
Pria itu tampak terdiam saat dia melihat mata Biru.
__ADS_1
"Mata itu....!" Ucap pria itu kepada dirinya sendiri.
Kemudian dia berjalan ke arah ruangan dimana temannya berada.
Setelah beberapa saat, Biru melihat ke arah arlojinya yang menunjukkan sudah hampir pukul 09.00 malam. Lia datang mendekat ke arah Biru dengan wajah yang tampak mengantuk. Lia mengatakan kepada Biru bahwa Bos mereka sudah pergi bersama teman-temannya. Biru hanya merespon dengan sebuah senyuman.
Setelah bekerja sepanjang hari, mereka merasa begitu kelelahan dan akhirnya restoran pun ditutup. Mereka semua mulai beres-beres. Dan saat mereka berjalan keluar dari dalam restoran, seorang pria mendekat ke arah mereka. Manajer mereka melihat pria itu dan mengangguk.
"Pak Ken, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya manajer.
Mereka semua tidak menyangka bahwa Bos mereka akan kembali ke restoran dan saat itulah Biru melihat wajah Bos mereka dengan jelas dan ternyata pria itu adalah yang ditabrak oleh Biru saat berada di depan toilet tadi.
Ken melihat ke arah para karyawannya dan berkata, "tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengambil sesuatu di ruangan ku. Ini sudah larut sekarang. Kalian semua bisa pulang ke rumah kalian."
"Selamat malam Bos." Ucap mereka semua kepada Ken.
Ken membalikan kepalanya dan dia melihat ke arah Biru. Saat itu, Biru juga melihat ke arahnya. Mata mereka berdua bertemu. Biru dengan cepat menundukkan kepalanya dan tersenyum ke arah para karyawannya.
Ken kembali bicara, "terima kasih untuk kerja keras kalian. Selamat malam."
Mereka semua mengucapkan selamat tinggal pada satu sama lain. Biru, Leo dan Nino berjalan ke arah halte bus. Lia dan Nino naik ke bus mereka lebih dulu, sementara Biru harus menunggu lagi.
Biru pun duduk di bangku yang ada di halte bus menunggu untuk bus yang akan dia tumpangi datang. Namun setelah hampir 15 menit, tidak ada satu bus pun yang lewat. Biru melihat ke arah arloji di tangannya yang sudah jam 09.30 malam. Biru mengeluarkan ponselnya dan melihat ada dua panggilan tak terjawab dari Dylan.
Saat dia hendak menelpon Dylan, tiba-tiba hujan turun.
"Bagus, sekarang akan lebih sulit bagiku mendapatkan sebuah bus." Ucap Biru pada dirinya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1