
Saat Biru berjalan keluar dari kamar, Dylan sudah menyiapkan sarapan mereka. Dia melihat ke arah Biru rambut Biru yang panjang dan tampak sangat indah. Dia mengenakan pakaian berwarna putih dan rok berwarna biru yang membuatnya tampak sempurna. Biru tampak sangat menggoda dan cantik. Tiba-tiba Dylan merasa kesal dan dia tidak mau Biru keluar rumah dengan mengenakan pakaian seperti itu.
"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Tanya Biru yang merasakan tatapan Dylan yang melihat ke arahnya dengan intens sejak dia keluar dari dalam kamar.
Biru melihat dirinya sendiri. Dia berpikir mungkin ada yang salah dengan pakaiannya hari ini. Dylan berjalan mendekat ke arahnya dan memeluknya.
"Tidak. Tapi kau terlihat menakjubkan hari ini. Apa pakaian ini baru?" Tanya Dylan.
Biru pun mengangguk.
Tiba-tiba...
"Aku tidak mau kau keluar rumah. Aku ingin kau tetap ada di sini sepanjang waktu bersamaku." Ucap Dylan.
Biru menggelengkan kepalanya.
"Tidak... tidak... Bagaimana jika seseorang mengambil mu dariku?" Ucap Dylan lagi.
Biru melihat ke arah Dylan. Dia menggelengkan kepalanya dan membalas pelukan Dylan.
__ADS_1
"Tuan muda Dylan, kau terlalu berlebihan." Ucap Biru.
Dylan mencium leher Biru dan membuat tanda merah di sana. Biru tampak terkejut dan dia memukul dada Dylan.
"Dylan apa kau sudah gila..." Ucap Biru kesal.
"Apa? Tidak bisakah aku membuat tanda di tubuh kekasihku sendiri? Dengan ini tidak akan ada pria yang berani mendekat ke arahmu karena kau sudah punya pemilik." Ucap Dylan.
Biru tidak tahu harus mengatakan apa.
'Hebat. Sekarang ada tanda merah di leherku. Bagaimana aku bisa bertemu dengan orang-orang di kantor hari ini?' ucap Biru dalam hati.
Dylan mengangkat kepala Biru. Dia menatap Biru kemudian memberikan ciuman kepada Biru.
"Kau sangat cantik." Ucap Dylan seraya mengusap wajah Biru dan mencium keningnya.
Dylan menggendong Biru dan menaruhnya di atas kursi di ruang makan. Mereka berdua pun mulai sarapan. Dylan menyuapi Biru dan mengusap bibir Biru dan memperlakukan Biru seperti seorang putri.
Setelah menaruh piring di wastafel dan membersihkannya Dylan berjalan ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Kemudian dia berjalan keluar dengan membawa tasnya dan jaket, serta mantel panjang. Dia melihat Biru menaruh syal di lehernya. Dia mengambil syal itu dan memberikan sebuah mantel pada Biru.
__ADS_1
"Gunakan ini. Rok mu membuatmu terlihat terlalu seksi. Itu menunjukkan lekuk tubuhmu. Jangan pernah berani melepaskan mantel ini, mengerti." Ucap Dylan.
Biru tidak tahu harus mengatakan apa. Mantel itu malah akan merusak gayanya. Tapi Biru tidak mau berdebat dengan Dylan. Jadi dia pun mengikuti ucapan Dylan.
"Aku tidak mau mereka menatapmu sepanjang hari. Aku tidak selalu ada di sisimu. Aku akan melakukan beberapa meeting. Kau harus menjaga dirimu sendiri, jangan biarkan mereka dekat denganmu." Ucap Dylan.
Biru tidak mengatakan apapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya seperti biasanya. Dylan mengantar Biru sampai dekat dengan halte bis. Biru keluar dari dalam mobil Dylan kemudian berjalan menuju kantor.
Hari ini Dylan harus pergi ke kantor utama. Jadi dia dengan segera pergi. Saat dia melihat Biru masuk ke dalam gedung perusahaan, dia mengeluarkan ponselnya kemudian menelpon nomor Leo.
"Siapkan semuanya." Ucap Dylan.
Saat dia berada di dalam ruangan meeting, kadang-kadang matanya melihat ke arah ponselnya. Dia melihat rekaman CCTV yang ada di ruangan lainnya. Dylan tengah memonitor pergerakan Biru di kantor.
Saat makan siang, dia meminta Leo mengirim makan siang untuk Biru. Tapi Biru sudah meninggalkan kantor.
Dylan sendiri tengah makan siang dengan kliennya di sebuah restoran dan dia tidak tahu akan hal itu.
Bersambung...
__ADS_1