
Biru merasa lelah dengan semuanya. Dia sudah menunggu Dylan setiap hari, tapi Dylan tidak muncul dan sekarang Dylan mempertanyakan kesetiannya dan memarahinya seperti itu.
Dylan menarik tangan Biru dan membuat Biru menatap ke arahnya lagi. Biru mendorong Dylan menjauh darinya dan berjalan pergi. Tapi Dylan menarik Biru dari belakang ke dalam pelukannya. Dia memeluk Biru erat dengan satu tangannya dan satu tangan lainnya memegang leher Biru dan membuat wajah Biru menatap ke arahnya.
"Dylan apa sebenarnya yang kau inginkan?" Ucap Biru dengan tatapan mata yang dingin saat melihat Dylan.
Dylan merasa marah karena Biru berani bicara kepadanya seperti itu. Dia langsung menutup bibir Biru dengan erat menggunakan bibirnya sendiri. Dia lalu melepaskan ciuman mereka dan menggigit bibir Biru.
"Sejak kapan kau bicara denganku dengan sikap seperti ini? Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak diperbolehkan menggunakan pakaian seperti itu. Kau tidak diperbolehkan bertemu dengan pria lain. Tapi lihat, kau masih melakukan hal itu." Ucap Dylan.
Dia merasa kesal dengan perubahan sikap Biru.
Biru berusaha mendorong Dylan menjauh, tapi Dylan masih memegangnya dengan erat.
"Lepaskan aku. Memangnya kenapa jika aku keluar dengan Zayn? Dia adalah temanku Dylan. Aku juga orang biasa yang punya perasaan. Aku juga butuh teman. Aku bukan properti yang kau simpan di dalam apartemen mu. Setiap kali saat kau pergi melakukan perjalanan bisnis, aku harus berada di sini dan di apartemen mu sendirian untuk menunggumu kembali. Tapi apa kau tahu bagaimana perasaanku? Aku merasa kesepian. Aku bahkan tidak tahu kemana kau pergi. Kau tidak pernah membiarkan aku untuk tahu tentang dirimu. Kau tidak pernah membiarkan temanmu selain Morgan dan Louis ada di dekatku." Ucap Biru panjang lebar.
"Biru...." Teriak Dylan.
"Aku selalu berpikir semuanya baik-baik saja. Selama kau mencintai aku, maka aku akan baik-baik saja. Bagaimanapun kita sudah berkencan dengan waktu begitu lama. Aku juga tahu kau sibuk dengan pekerjaanmu dan aku tidak mau mengganggumu. Tapi saat aku melihatmu membawa dia ke tempat liburan, aku akhirnya menyadari bahwa mungkin kau tidak serius kepadaku atau mungkin kau merasa aku tidak cocok denganmu atau kau merasa malu untuk membawaku bertemu teman-temanmu yang lain. Kemudian aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, apa tujuan dari hubungan kita ini. Berapa lama lagi kita harus berlanjut seperti ini?" Ucap Biru semakin panjang lebar.
"Biru aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku sibuk dan aku pikir kau mengerti aku. Kau bukanlah wanita yang suka mengatur prianya seperti wanita lainnya. Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini dan aku pergi bersamanya karena itu masalah bisnis." Ucap Dylan mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak pernah membawaku bertemu dengan keluargamu atau temanmu yang lainnya?" Ucap Biru dengan nada yang keras.
Kemudian suara Dylan terdengar lembut. Dia mengusap wajah Biru saat dia menatap mata Biru.
"Hanya kau wanita satu-satunya yang aku cintai. Aku hanya butuh waktu. Aku...."
Biru memotong ucapan Dylan. Dia menertawai dirinya sendiri. Tapi kalimat yang diucapkan Biru selanjutnya membuat wajah Dylan marah.
"Aku apa Dylan? Apa kau yakin bahwa kau mencintai aku ini bukan karena aku adalah orang yang sabar, dan orang yang pengertian. Aku juga tidak pernah marah padamu. Bukankah itu lah alasan kenapa kau memilihku Dylan? Setiap kali kau lupa dengan janjimu, aku selalu memaafkan mu karena aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Dylan dan aku ingin yang terbaik untukmu dan..."
"Biru kau berubah. Kenapa? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apakah ini karena dia cinta pertamamu?" Ucap Dylan memotong ucapan Biru.
"Apa yang kau bicarakan Dylan? Ini bukan tentang dirinya. Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa dia hanya temanku. Ini tentang kita berdua, dan kau bilang aku berubah?" Ucap Biru seraya menggelengkan kepalanya.
"Kaulah yang berubah Dylan. Apa kau tahu hari apa 4 hari yang lalu? Kau pasti lupa bukan?" Ucap Biru.
Dylan mencoba mengingat hari apa itu. Wajahnya langsung memucat. Itu adalah hari ulang tahun Biru.
Biru melihat wajah pucat Dylan dan tertawa. Dia lalu berkata,
"kau melupakannya. Itu adalah hari ulang tahunku Dylan. Aku menunggumu sepanjang hari. Aku ingin merayakan ulang tahunku denganmu. Tapi di mana kau? Kau meninggalkan aku sendirian. Kau bahkan tidak mengirimkan satu pesan apapun kepadaku. Kau malah memilih untuk menghabiskan waktumu bersamanya di New York." Ucap Biru panjang lebar.
__ADS_1
Dylan menarik Biru ke dalam pelukannya. Dia memeluk Biru dengan erat. Biru berusaha dengan keras untuk melepaskan diri dari Dylan. Dia memukuli dada Dylan. Tapi Dylan tidak mau melepaskan Biru. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia sudah membuat kesalahan yang besar. Dia melupakan ulang tahun Biru.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf sayang. Ini semua kesalahanku." Ucap Dylan.
Biru mendorong Dylan menjauh dan menatapnya dengan tajam.
"Aku ingin sendirian." Ucap Biru.
Kemudian Biru berjalan masuk ke dalam kamarnya dan Dylan mengikuti Biru ke dalam kamarnya. Dia menarik Biru dan membuat Biru menatapnya lagi. Dia mencium Biru dengan agresif. Ciumannya begitu dalam dan penuh paksaan. Hal itu membuat Biru terus memukuli dada Dylan untuk menghentikan Dylan.
Dylan pun melepaskan pelukannya dan menyandarkan kening mereka bersama.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Dylan.
Dia memeluk Biru dengan erat dan membenamkan wajahnya di leher Biru. Dia menutup matanya, sementara Biru menangis. Dia lalu mengusap kepala Biru dan terus mengusap rambut Biru.
Biru menjadi lembut. Dia lalu menarik dirinya sendiri dari pelukan Dylan dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat, mereka berdua berbaring di atas tempat tidur. Biru tertidur dengan punggung yang menghadap Dylan.
Dylan memeluknya dari belakang. Dia membenamkan kepalanya di leher Biru dan dia membisikkan sesuatu di telinga Biru.
"Aku minta maaf Princess. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Ucap Dylan.
__ADS_1
Biru tidak menghiraukan ucapan Dylan. Air matanya terus turun ke pipinya saat dia mendengar ucapan Dylan. Dia merasa bahwa dia terlalu lemah. Hatinya merasa terluka. Semua ini karena dia terlalu mencintai Dylan. Sementara itu yang dipikirkan Dylan dalam hati nya adalah sebuah ketakutan tentang apakah dia akan kehilangan Biru kali ini.
Bersambung...